
"Bilal! Nafisah! Pulang, Nak! Sudah mau Maghrib, tidak baik masih di luar rumah," panggil Ain dari ambang pintu rumahnya.
Kedua anak itu masih berada di luar, di aula yayasan. Bilal menemani Nafisah yang tak ingin beranjak dari tempat tersebut. Gadis kecil itu tertunduk tak berani mengangkat wajahnya.
"Dek, Umi panggil. Ayo, kita pulang. Sudah mau Maghrib sebentar lagi kak Ruby pasti pulang," ajak Bilal sambil mengusap kepala Nafisah yang terus tertunduk.
Nafisah menggeleng, tangannya menunjuk tempat yang sama.
"Aku takut dia, Kak. Dia terus menatapku dan memanggil namaku. Nafisah! Nafisah! Begitu, Kak," katanya masih tak mau mengangkat wajah.
Bilal mengerutkan kening saat melihat arah yang ditunjuk Nafisah. Tak ada apa pun di sana. Benar-benar tidak ada apa pun dan siapa pun jua. Namun, adiknya itu terus menerus mengatakan seseorang berdiri di sana dan mengawasi mereka.
"Tidak ada apa pun, Dek. Mungkin cuma hayalan kamu saja karena mau bertemu Bunda. Sudah, kita masuk, yuk!" ucap Bilal lagi merayu sang adik.
Kepala gadis kecil itu lagi-lagi menggeleng. Ia menggeser duduknya semakin menempel pada Bilal, tangannya memeluk tubuh anak laki-laki itu dengan erat.
"Kamu tahu tidak, Dek? Umi dan Abi selalu cerita kalau mau menjelang Maghrib sudah ada tamu ke rumah. Dia mengganggu anak-anak dan menakuti mereka. Umu Sibyan namanya, ingat tidak?" tanya Bilal hati-hati.
Nafisah mengangguk, ia mengangkat wajah memandang Bilal yang tersenyum padanya.
"Mungkin saja yang dilihat Adek itu salah satu wujud dari jin yang namanya Umu Sibyan. Dia suka menganggu, kita harus pulang sekarang. Kakak tidak mau adik Kakak yang cantik diganggu jin jelek seperti itu," katanya lagi sambil mengusap rambut Nafisah dengan lembut.
Ia beranjak berdiri, menarik tangan adiknya agar ikut beranjak bersamanya. Perlahan Nafisah mulai mengangkat tubuh, ia sempat menjatuhkan lirikan pada tempat di mana ia melihat sosok misterius tersebut.
Nafisah kembali menoleh pada Bilal saat anak laki-laki itu menarik tangannya. Keduanya pulang ke rumah, Ain masih berdiri di pintu menunggu kedua anaknya datang.
Deru suara motor menghentikan langkah kecil keduanya. Bilal dan Nafisah berbalik, suara motor milik Ikram. Ia datang bersama Ruby.
Empat orang itu sama-sama memasuki rumah, saling merangkul dan bergandengan tangan. Keluarga yang hangat dan harmonis yang didambakan semua orang.
Hidangan makan malam disiapkan Ain bersama Ruby. Mereka telah berkumpul kecuali si kecil Nafisah.
"Di mana adik kalian?" tanya Ain saat ia hendak mendaratkan bokong di kursinya.
"Aku lihat!" Ruby beranjak ke kamar adiknya itu.
__ADS_1
"Umi, Abi, ada yang aneh dengan Nafisah," lapor Bilal setelah Ruby menghilang di balik pintu kamarnya.
"Aneh bagaimana?"
"Dia tanya seperti apa rasanya mati? Apa sakit? Nafisah juga mengatakan ada seseorang yang berdiri di dekat kamar kami di luar. Dia memanggil-manggil nama Nafisah. Kenapa firasatku jadi tidak enak?" ungkap Bilal sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang.
Ain dan Ikram saling melempar pandangan, ada getir dalam hati keduanya setelah mendengar cerita anaknya itu. Ain terduduk lemas di kursi, ia pun memegangi dadanya yang berdebar-debar tak karuan.
Ikram gegas menyusul Ruby ke kamarnya, ia urung masuk ke dalam saat terdengar suara mereka berdua dari dalam.
"Nafisah, kenapa, sayang? Kenapa tidak mau makan?" tanya Ruby sambil mengusap-usap rambut adik bungsunya.
"Aku mau bertemu Bunda," sahutnya lirih. Ruby mengecup rambut sang adik, ia pun sama rasanya ingin sekali bertemu dengan Nadia. Sejak mereka berpisah, tak sekali pun ia menghubungi wanita itu.
Terlalu malu rasanya setelah semua yang terjadi. Ia segan, jadilah ia hanya menahan rindu sampai waktu yang dia rencanakan tiba.
"Sabar, ya. Kakak juga mau ke rumah Bunda. Kamu tahu tidak kalau Bunda sedang hamil? Sebentar lagi akan adik baru dari Bunda. Mmm ... laki-laki atau perempuan, ya?" Ruby mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin adiknya itu terus murung karena memikirkan Nadia. Berhasil.
Ikram terenyuh, ia menyandarkan kepala pada dinding. Teringat pernikahan yang dijalaninya bersama Nadia selama lima tahun lebih, wanita itu amat mendamba seorang anak darinya. Sayangnya, ia tak pernah tahu soal penyakit Nadia. Bodoh memang!
Nafisah kembali bermain seperti biasa, tapi malam itu ia terlihat lebih bersinar. Senyumnya nampak damai, lebih ceria dan manja. Ia bergelayut manja di pangkuan Ruby sambil memainkan boneka kesayangannya. Pemberian Nadia.
"Ruby, ponsel kamu, Nak!" Ain memberitahu Ruby saat gawai miliknya menyala.
Gadis itu menurunkan Nafisah, ia beranjak mengambil gawai yang ia letakkan di atas meja. Dahinya mengernyit, tapi bibirnya membentuk senyuman. Hanya sebentar saja, ia lekas kembali berkumpul.
"Siapa?" tanya Ikram curiga.
"Bunda."
"Bunda!"
"Kenapa Kakak tidak bilang kalau itu dari Bunda!" Nafisah merajuk.
"Tidak enak, Bunda sedang bersama suaminya." Ruby menimpali.
__ADS_1
"Ada apa?" Ain bertanya.
"Bunda minta malam ini juga kita ke rumahnya, tapi aku capek. Jadi aku bilang besok saja. Ya sudah," jawabnya.
Ain hanya membulatkan bibir, sedangkan Ikram diam seribu bahasa.
Malam semakin larut, ketiganya beranjak ke kamar untuk beristirahat. Nafisah menghampiri Ikram dan Ain, ia memeluk keduanya bergantian bahkan mencium kedua pipi mereka.
"Umi, Abi, Nafisah sayang kalian. Jangan pernah bertengkar lagi. Umi dan Abi harus janji pada Nafisah akan selalu menyayangi selamanya. Nafisah sayang Umi dan Abi. Maaf kalau selama ini Nafisah selalu merepotkan dan nakal." Ia kembali memeluk keduanya. Terasa lebih hangat dari biasanya.
"Umi juga sayang Nafisah. Sayang sekali, anak Umi tidak pernah merepotkan. Tidak pernah sama sekali."
"Abi juga sangat menyayangi putri bungsu Abi, jadilah anak yang sholehah." Keduanya saling mencium sisi kanan dan kiri dari wajah Nafisah.
Nafisah melepas pelukan, ia tersenyum. Berjalan menuju kamarnya sambil mendekap boneka kesayangan. Nafisah berbalik, tangannya melambai pada kedua orang tua yang duduk di kursi berhadapan dengan kamarnya. Senyumnya menenangkan hati Ikram dan Ain.
Gadis kecil itu menutup pintu dan hilang ditelan ruangan tersebut. Ain merasa lega, ia menjatuhkan kepala pada bahu Ikram. Dalam hati saling berjanji akan menjaga hubungan seperti yang diinginkan putri bungsu mereka.
Namun, ada yang salah. Di tengah ketenangan hati mereka, ada gelisah yang datang menyelinap dan mengusik hatinya. Ikram merenungi apa yang dia lakukan sepanjang hari ini.
Merasa tak menemukan apa pun, ia mengajak Ain untuk tidur. Hening. Suasana malam itu terasa berbeda. Angin berhembus dengan lembut, tapi lebih dingin terasa.
"Bunda!" Nafisah mengigau. Ruby yang terusik membuka matanya dan melihat Nafisah yang gelisah dalam tidurnya.
"Dek! Bangun, Dek! Ada apa? Kamu mimpi apa?" Ruby menggoyang-goyangkan tubuh mungil itu, tapi Nafisah tetap terpejam.
Beberapa saat, ia kembali tenang. Ruby memastikan adiknya telah kembali terlelap. Ia yang haus, beranjak keluar untuk sekedar mengambil air. Ruby memilih berbaring di sofa sambil menonton televisi, rasa kantuknya tiba-tiba saja lenyap.
Lambat laun, matanya terpejam dan terlelap di sofa. Malam semakin mencekam, desiran angin membawa peringatan pada semua orang untuk siaga meski dalam tidur sekalipun.
Teriakan demi teriakan menggema, mengusik tidur mereka.
"KEBAKARAN!"
"KEBAKARAN!"
__ADS_1
"KEBAKARAN!"