
"Ruby, sebaiknya kamu pulang, Nak. Khawatir kedua adikmu menunggu kamu pulang. Kasihan mereka," ucap Sarah sembari mengusap kepala Ruby yang duduk di ranjang Nadia.
"Mamah benar, sayang. Kamu sebaiknya pulang, biar Tante Winda yang antar. Kamu bisa minta tolong Tante Winda untuk menjemput kalau mau ke sini," timpal Nadia dengan suara yang lemah.
Ruby menurut, ia turun dari ranjang dan menyalami keduanya. Tak lupa memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri kedua wanita itu sebelum pergi.
"Besok aku mau ke sini lagi," katanya seraya berjalan keluar mengikuti Winda setelah Nadia dan Sarah mengangguk.
"Kamu lihat! Ruby sepertinya sayang sama kamu. Mendengar dari ceritanya kedua adiknya juga ingin bertemu kamu. Dari sini kamu harusnya sadar ada banyak orang yang menyayangi kamu. Kamu tidak sendirian, sayang," ucap Sarah selepas Ruby pergi.
"Iya, Mah. Aku sadar, untuk itu aku ingin segera sembuh dan cepat pulang bertemu mereka. Aku juga sudah rindu anak-anakku di yayasan," sahut Nadia tidak menyembunyikan kerinduan pada semua anak-anaknya.
"Iya, kamu harus mendengar kata dokter jika ingin cepat sembuh," ucap Sarah lagi yang diangguki Nadia.
Sementara di dalam mobil, Ruby belum berbicara sepatah kata pun. Ia memandang lurus ke depan sesekali akan berpaling pada jendela mencari suasana baru.
"Kalau kamu mau ke Rumah Sakit lagi, hubungi saja Tante. Akan Tante jemput kamu di pondok," ucap Winda memecah keheningan di dalam mobil.
Ruby berpaling, ia tersenyum sebelum menyahut, "Terima kasih, besok aku ingin ke sana lagi. Tante bisa menjemputku di pondok jam sepuluh pagi."
Winda menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan.
"Iya, nanti Tante jemput." Keduanya tak lagi bicara sampai mobil berhenti di depan gerbang.
"Terima kasih sekali lagi, Tante!" ucapnya sebelum turun dari mobil. Winda melajukan mobilnya setelah sosok Ruby memasuki gerbang.
Ikram yang merasa cemas karena sampai sore hari, Ruby belum juga terlihat. Ia berdiri menunggu kedatangannya di teras rumah tatkala melihat Ruby turun dari mobil. Putri sulungnya berjalan menunduk. Ikram yang berjalan berniat menyambut kedatangan putri sulungnya, tapi dia kalah cepat oleh kedua anaknya yang lain.
Bilal dan Nafisah yang sedari pagi menunggunya, menarik Ruby ke dalam gerbang yayasan dan membawanya ke aula. Ikram yang bingung pun, mengikuti mereka dari jalan lain. Ia bersembunyi menguping pembicaraan ketiga anaknya.
"Bagaimana, Kak? Apa Kakak bertemu dengan Bunda di sana?" tanya Bilal setelah mereka duduk di bagian aula yang tersembunyi. Ikram mengernyit.
__ADS_1
"Kakak sudah ke sana, tapi Bunda sedang keluar kota karena ada pekerjaan katanya," jawab Ruby sembari mengeluarkan beberapa bungkus roti dari dalam tasnya. Ia memberikan masing-masing dua pada Bilal dan Nafisah.
Ikram semakin mengernyit mendengar percakapan mereka.
"Apa Nadia tidak di rumah? Keluar kota? Tapi kenapa tidak pamit padaku?" gumam Ikram sendirian. Ia kembali fokus pada ketiga anaknya yang sedang memakan roti pemberian Winda itu. Ia terharu, ketiga anaknya terlihat saling menyayangi satu sama lain.
"Jadi Kakak tidak bertemu dengan Bunda?" tanya Bilal lagi yang mendapat anggukan kepala dari Ruby.
"Kakak, Bunda kapan pulang dari luar kota, Kak?" tanya Nafisah dengan mulut yang dipenuhi roti.
"Kalau mulut penuh tidak boleh bicara. Takut keselek, kunyah dulu, telan dulu, baru bicara," nasihat Ruby yang disambut senyuman lebar oleh adik bungsunya itu.
Nafisah mengunyah cepat dan menelannya.
"Lagi pula kalian ini seperti orang yang belum makan saja," lanjut Ruby sambil menggeleng. Ikram menempelkan tubuh pada tembok merasa miris dengan kondisi ketiga anaknya.
"Kami memang belum makan, Kak. Umi belum masak katanya tidak punya uang. Mau makan di yayasan aku malu karena itu bukan hak kita. Itu hak mereka yang tidak boleh kita campuri," jawab Bilal yang berhasil membuat Ruby membelalak mendengarnya. Ikram pun merasa sedih.
"Jadi, Kakak, kapan Bunda akan pulang?" Nafisah mengulangi pertanyaannya karena Ruby belum menjawab.
"Kakak tidak tahu kapan Bunda akan pulang. Yang jelas begitu pekerjaannya selesai, Bunda akan langsung pulang. Sekarang kalian bisa tenang, doakan saja semoga Bunda cepat pulang," ucap Ruby sembari memberikan sebotol air mineral pada mereka.
Ketiganya asik bercerita tanpa tahu Ikram yang menguping sedari awal. Laki-laki itu merasa berdosa.
"Ya Allah, aku pantas merasakan panasnya api neraka," gumam Ikram lagi dengan pilu.
Ia yang hendak menghampiri mereka, urung melangkah tatkala melihat Ain memasuki gerbang yayasan yang tak pernah ia masuki lagi sejak kedatangan Nadia.
Ketiga anak itu sedang asik bercerita, tertawa riang sebagai saudara yang saling membantu. Mereka berhenti bersuara saat mendengar Ain mengetuk pintu rumah Nadia sambil memanggil-manggil namanya.
Ikram mengernyit, ia tidak tahu apa tujuan Ain mencari istri keduanya itu. Ia sendiri pun belum berani mendatangi Nadia sejak kepulangannya.
__ADS_1
"Nadia! Apa kamu di rumah!" sapa Ain dengan nada ramah seperti biasanya. Ia berdiri di depan rumah Nadia mengetuk pintu rumah madunya itu.
Hening, tak ada sahutan apa pun dari dalam sana. Hanya desau angin yang sesekali menerpa gamis yang dikenakannya datang menyapa. Ain kembali mengetuk dan mengetuk, tapi tetap saja tak mendapat jawabnya. Ia mengintip lewat jendela. Tak ada apa pun di rumah itu. Gelap.
Ketiga orang di aula mengintip Ain sambil bersembunyi. Seingat mereka Ain belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di rumah Nadia. Namun, yang sekarang mereka lihat wanita itu berdiri di sana dengan gelisah. Ada apa dengan Ain? Mereka pun tidak tahu.
Bukan hanya mereka yang bingung, Ikram pun tahu kalau istri pertamanya itu tak pernah datang ke rumah Nadia. Ia memperhatikan dari tempatnya bersembunyi. Ada apa dengan Ain?
"Ke mana ini Nadia? Kenapa rumahnya sepi?" gumamnya seorang diri. Ia melihat ke arah yayasan, pemandangan yang sama ia dapatkan. Sepi. Tak satu pun ada anak yang bermain di luar. Ada apa ini?
Ain beranjak meninggalkan kediaman Nadia dengan perasaan kesal. Niat hati ingin menanyakan kepada wanita itu tentang kartu yang dia pakai tiba-tiba tak dapat dipakai lagi.
"Kak, tidak biasanya Umi ke rumah Bunda?" celetuk Bilal setelah Ain pergi. Ikram kembali fokus mendengarkan ketiga anaknya.
"Iya, Kakak juga tidak tahu. Sudahlah, kita pulang. Mungkin Umi sudah masak, kita makan nasi," ajak Ruby seraya beranjak diikuti dua adiknya. Mereka berbalik dan terhenyak saat mendapati Ikram yang berdiri di ujung aula.
"Abi?" Dahi Ruby mengkerut banyak. Ia mengajak adiknya mendekati Ikram dan menyalami laki-laki itu.
"Kenapa Abi berdiri di sini? Abi mau ke rumah Bunda, tapi Bunda sedang tidak ada di rumah," ucap Ruby memberitahu Ikram.
Laki-laki itu bergeming. Ikram sedikit berubah semenjak kepulangannya dari umrah. Ia yang selalu memerhatikan ketiga anaknya, kini seolah-olah tak peduli pada mereka.
"Ruby? Apa benar Bunda kalian ke luar kota?" tanya Ikram untuk pertama kalinya mengeluarkan suara setelah menginjakkan kaki di kediamannya itu.
"Benar, kata tante Winda Bunda ke luar kota ada pekerjaan. Kenapa, Bi? Apa Abi mau ketemu Bunda? Tapi Bunda tidak tahu kapan mau pulang," jawab Ruby memberitahu Ikram lagi.
"Bukan itu ... boleh Abi peluk kalian?" ucap Ikram dengan mata yang berkaca hendak menangis.
Ruby tertegun, detik kemudian ia berhambur memeluk Ikram diikuti kedua adiknya.
"Maafkan Abi, kalau mendiamkan kalian. Abi hanya sedang ingin menenangkan pikiran. Maafkan Abi anak-anak Abi," ucap Ikram sembari merengkuh ketiga anaknya.
__ADS_1
Ruby menangis bersama Ikram. Sedang kedua anak yang lain memeluk Ikram erat rindu pada sosok laki-laki itu.