
Ikatan persaudaraan tak perlu adanya aliran darah, bahkan mereka yang awalnya asing pun bisa terikat dalam satu kata itu. Eratnya jalinan hubungan yang mereka bina, tak ubahnya saudara kandung sedarah.
Nadia terisak dalam pelukan adiknya. Meluapkan emosi yang sejak tadi membuncah meminta dimuntahkan. Paman Harits tersenyum, apa yang dia khawatirkan tidak terjadi.
"Katakan sama Mbak, kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu memberikan ginjal kamu pada Mbak? Katakan, Rima, kenapa?" cecar Nadia masih mempertanyakan hal sama pada gadis dalam pelukannya.
Winda menyusut air matanya, terharu melihat Nadia dan Rima yang saling menumpahkan segala emosi.
"Maaf, Mbak. Maafkan aku. Tolong jangan marah padaku, Mbak. Jangan benci aku," pinta Rima tak berani melepas pelukan lebih tepatnya tidak berani bertatapan mata dengan kakaknya itu.
Nadia menggeleng, tak sanggup menyahut perkataan Rima. Apanya yang marah? Memangnya siapa yang marah? Apa lagi membenci. Apa itu? Kenapa dia harus melakukan itu semua?
"Mbak marah karena kamu tidak membicarakannya dengan Mbak. Tidak mungkin Mbak membenci kamu, Rima. Itu sebabnya selama ini kamu terlihat mudah lelah? Karena kamu hanya memiliki satu ginjal sama seperti Mbak." Rima mengangguk untuk ucapan Nadia.
Semakin membenam wajahnya di pundak gadis itu. Selama ini dia tidak menyadari itu, dia pikir karena Rima memang terlalu lelah di butik. Itu saja.
"Kalau aku bilang sama Mbak, sudah pasti Mbak tidak akan mengizinkan. Sama seperti Ibu, yang melarang keras kami untuk melakukannya." Terus terang Rima mengucapkannya.
Nadia melepas pelukan, menatap manik basah adiknya yang sesenggukan. Ia jatuhkan lirikan pada Winda yang mematung di sisi mereka. Mencerna apa maksud dari ucapan Rima barusan.
"Jadi, kalian berdua ...." Jari telunjuknya menunjuk bergantian kedua gadis itu. Winda menggeleng, menepis apa yang ada di pikiran Nadia.
"Sayang, sebaiknya kalian duduk dulu. Baru setelah itu bicara lagi," sela paman Harits yang telah lebih dulu mendaratkan bokong di sofa. Ia menepuk sofa di sebelahnya ketika istrinya itu menoleh.
__ADS_1
Nadia menuntun Rima, tak lupa menggandeng Winda untuk mengikuti saran suaminya. Ia mendaratkan tubuh di sisi lelaki itu, sedangkan kedua gadis itu duduk di depannya. Paman Harits mengusap pipi Nadia sebelum menaruh tangannya di belakang tubuh wanita itu. Mengusap-usap pundaknya lembut.
"Sekarang jelaskan, apa yang ingin kalian jelaskan?" ucap paman Harits pelan, tapi menuntut. Pandangannya terpatri pada dua pasang manik di hadapan yang bergulir saling melirik.
"Mmm ... maaf, sebelumnya ... dari mana Kakak dan Mbak tahu soal itu? Aku saja baru tahu tadi sore," tanya Winda penasaran ingin tahu. Pasalnya, saat di makam tadi ia tak melihat siapa pun. Apa mungkin dia tidak sadar bukannya tidak melihat.
"Kami tadi mau mengunjungi Ibu dan Ayah, tak sengaja melihat Rima yang sedang menangis sambil bercerita. Jadi, aku membawa Mbak kalian pulang karena di sana dia hampir mengamuk-"
"Aw!" Paman Harits mengaduh saat tangan Nadia mencubit pinggangnya. Ia lalu tertawa dan menarik kepala istrinya dalam dekapan.
Tersenyum Rima dan Winda melihat bibir wanita itu membentuk garis lengkung ke atas.
"Dulu, ketika Ibu masih hidup kami selalu meminta Ibu untuk mengizinkan salah satu dari kami memberikan ginjal pada Mbak, tapi Ibu selalu menolak. Katanya, Ibu tidak bisa merelakan salah satu dari kalian berkorban karena itu akan menyalahi tanggung jawab Ibu sebagai Ibu kalian." Rima melirik pada Winda yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Kenapa aku tidak tahu soal itu?" Nadia amat menyesalinya. Ia menyusupkan kepala di ketiak suaminya, menyembunyikan tangisan.
"Karena kami memang merahasiakan itu semua dari Mbak," sahut Winda, "aku saja baru tahu kalau Rima-lah yang mendonorkan ginjalnya untuk Mbak. Pantas saja, di hari Mbak operasi dia tidak ada bersama kita. Kukira dia pergi karena urusan butik, ternyata dia di ruang operasi bersama Mbak." Rima menunduk saat Winda melirik ke arahnya.
Paman Harits menganggukkan kepala. Lintasan waktu membawanya pada hari di mana Nadia sekarat dan harus secepatnya mendapatkan donor darah. Di saat itu pihak rumah sakit mengabarinya dan tanpa bertanya lebih detail, ia menyetujui.
"Pantas saja waktu itu dokter menolak uang yang ingin aku berikan pada si pendonor. Rupanya orang itu kamu, Rima. Aku sebagai perwakilan dari Nadia juga kedua orang tuanya, berterimakasih padamu, dan mohon maaf karena selama ini kami tidak tahu soal itu. Terima kasih, Rima, Winda, kalian memang tidak ada ikatan darah, tapi persaudaraan kalian sangatlah kuat."
Paman Harits menghela napas, ia melirik Nadia yang masih membenamkan wajah di dadanya. Mengusap kepalanya pelan-pelan. Lalu, kembali melirik pada kedua gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Aku harap kalian akan tetap seperti ini. Saling mendukung dan menyokong, juga saling berbagi kesedihan dan kesenangan. Kita semua keluarga, jangan ada lagi yang ditutupi. Apa kalian mengerti?" papar paman Harits panjang kali lebar.
Winda dan Rima sama-sama mengangguk mengerti. Nadia mengangkat wajahnya, ia merentangkan tangan meminta keduanya memeluk.
Winda dan Rima berhambur ke dalam pelukan kakaknya itu. Menangis haru penuh kebahagiaan.
"Kalian memang adik Mbak. Terima kasih untuk hidup yang kalian berikan. Mbak tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya hamil dan melahirkan jika saja Rima tak memberikan ginjalnya untuk Mbak. Kalian jangan pernah sungkan untuk berkeluh kesah pada Mbak. Jangan menyembunyikan apa pun lagi dari Mbak. Kalian harus berjanji," ungkap Nadia bercampur dengan tangis keharuan memiliki adik seperti mereka berdua.
"Mbak juga jangan pernah memendam kesakitan sendirian. Kami berdua merasa tak berguna sebagai adik karena Mbak tidak pernah membagi rasa sakit bersama kami." Rima berucap lirih.
Paman Harits tersenyum, akhir yang bahagia. Semuanya terasa indah jika datang di saat yang tepat. Saling menerima, memaafkan, dan mendukung.
Nadia mengurai pelukan, mengusap pipi kedua adiknya dan menciumnya bergantian. Ketiganya tersenyum, dan saling berjanji untuk saling menjaga satu sama lain.
"Oya, apa Mbak dapat undangan?" Winda secara tiba-tiba teringat akan surat undangan yang diterimanya siang tadi di butik.
"Kalian juga mendapatkannya?" Winda dan Rima mengangguk untuk pertanyaan Nadia.
"Aku tidak menyangka, Ruby akan menikah ... tapi yang paling membuatku tidak percaya calon suaminya itu ...." Ucapan Winda menggantung pada nama laki-laki yang menjadi calon suami Ruby.
"Tidak usah dipikirkan, mungkin mereka memang sudah jodoh. Kenapa kalian yang kebakaran jenggot?" Paman Harits melemparkan tatapan pada ketiga wanita di sekitarnya.
Mereka hanya terkekeh, dilanjutkan dengan bincang-bincang ringan kembali seperti semula.
__ADS_1