Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Semua Telah Hilang


__ADS_3

"Kenapa ada tulisan dijual?" gumam Ruby sembari meraba sebuah papan pengumuman bahwa pabrik milik Nadia dijual. Haruskah dia percaya?


"Apa Nadia benar-benar akan pergi?" Ikram ikut bergumam berdiri di belakang Ruby dengan dahi berkerut bingung.


"Bi, apa Bunda tidak akan datang ke sini lagi?" tanya Ruby dengan lirih. Suaranya bergetar menahan tangis mengingat Nadia tak akan pernah kembali pada mereka.


"Abi tidak tahu," sahut Ikram pelan. Keduanya meninggalkan lokasi pabrik. Kembali menaiki motor butut Ikram menuju arah pulang. Kedua adiknya ia tinggal di rumah Nadia. Menyusuri jalanan biasa yang tidak begitu dipadati kendaraan.


Ruby memeluk Ikram dari belakang. Menjatuhkan kepala di punggung tegak abinya. Ia tak menampik ia rindu sosok Ikram yang selalu mengerti dirinya dan kedua adiknya. Ruby merindukan abinya itu.


Motor Ikram terus melaju memasuki area pasar. Tepat ketika mereka melewati rel kereta api, Ruby berteriak histeris meminta ikram berhenti.


"Abi! Stop!" Teriakan Ruby membuat Ikram tersentak kaget dan menekan rem sekaligus.


"Kenapa lagi?" Ikram mendesah sembari menengok ke belakang. Melihat keadaan Ruby yang tak berkedip menatap pada satu arah.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Ikram, Ruby gegas turun dari motor dan berlari arah stasiun.


"Ruby!" Ikram menepi, memarkirkan motornya sebelum ikut mengejar anak itu. Langkah kaki Ikram terhenti manakala melihat Ruby sedang berbicara dengan seseorang di pintu masuk stasiun. Ia melanjutkan langkah mendekati keduanya.


"Tante bagaimana kabar Bunda? Aku dengar dari dokter kalau Tante ikut Bunda pindah. Kalian pindah ke mana? Bisa aku tahu?" cecar Ruby pada sosok Winda yang dia lihat di kejauhan.

__ADS_1


"Maaf, sayang. Kami tidak tinggal di mana pun. Tante sedang menemani Bunda terapi. Bunda kalian baik-baik saja, dia sudah lebih baik dari terakhir kali kamu melihatnya. Kamu jangan khawatir, Bunda pasti datang ke sini menjenguk kalian," jawab Winda dengan senyum terulas di bibirnya.


Ruby tak menyahut, ia diam dan mencerna ucapan Winda tentang Nadia.


"Tante, apa Tante tahu kenapa pabrik Bunda mau dijual? Aku dari sana tadi, tapi melihat pengumuman itu di depan pintu pabrik. Kenapa Tante?" tanya Ruby lagi dengan perasaan yang campur aduk bergejolak dalam dadanya.


Ia menelisik wajah Winda yang beriak, ada sorot benci sekilas memancar dari bola matanya yang keabuan.


"Pabrik itu diambil paksa orang yang tidak bertanggungjawab, Ruby. Tante dengar bangkrut, dan akhirnya ingin menjualnya. Hah~ Tante tidak tahu lagi harus apa? Bagaimana mengatakan ini pada Bunda kalian nantinya," jawab Winda sedikit menekan rasa marah dalam dadanya. Ia menunduk sebelum kembali menatap Ruby.


Ruby menganga tak percaya, jadi selama ini pabrik itu dijalankan oleh orang lain. Ikram yang menguping di balik sebuah pilar stasiun tersebut pun rasanya tak ingin mempercayai apa yang ia dengar. Teganya ada orang yang memanfaatkan kondisi Nadia dengan merebut pabriknya, dan sekarang pabrik itu akan dijualnya. Benar-benar biadab!


"Ya sudah, sayang. Maafkan Tante, tapi kereta Tante akan segera berangkat. Salam untuk Bilal dan Nafisah, saat di sana nanti Tante akan bilang pada Bunda kalau kamu mencarinya-"


Nadia bahkan masih mengingat mereka meskipun sudah tak di sini lagi. Cinta dan kasih sayangnya untuk anak-anak itu teramat besar melebihi luasnya dunia ini.


Winda pamit, diiringi dengan air mata Ruby yang menetes tanpa sadar. Ikram pun sama terharunya dengan Ruby. Wanita yang berhati mulia itu sudah dia sia-siakan. Ingin dia merengkuhnya kembali, tapi Nadia sudah terlampau jauh darinya. Ruby berjalan gontai meninggalkan stasiun dengan amplop di tangan. Satu untuk Ibu dan satu untuknya juga adik-adik.


Ikram menarik Ruby dalam pelukan ketika anaknya itu melintas di depannya. Kembali menumpahkan rasa sesal yang mendalam di hatinya. Oh ... rasa itu sungguh-sungguh menyiksa dirinya. Ruby pun tenggelam dalam tangis kerinduan pada sosok wanita yang selama ini menjaga dan melindungi dirinya.


Keduanya pulang. Ikram lega karena niatnya yang akan mencari pinjaman uang untuk anak-anak di yayasan, rezeki mereka datang lewat seseorang yang sudah dia dzalimi. Ikram kembali ke rumah, kedua istrinya belum juga kembali dari luar. Entah apa yang sedang mereka lakukan di luar sana. Mengingat amplop dari pengadilan, Ikram merasa bodoh sendiri. Kenapa tadi dia tidak menanyakannya pada Winda perihal itu.

__ADS_1


Ikram merutuki dirinya sendiri yang kelewat bodoh. Sementara Ruby, menemui Ibu di yayasan. Ia memberinya uang yang dititipkan Winda padanya untuk anak-anak malang di yayasan.


"Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih, akhirnya anak-anakku bisa makan," ucap Ibu penuh syukur sembari mendekap amplop tersebut di dadanya.


"Bunda kalian manusia mulia, dalam keadaannya yang jauh seperti ini saja dia masih ingat pada anak-anaknya di sini. Bunda kalian tidak melupakan kalian, sayang. Dia tetap mencintai kalian walaupun jauh di mata," tutur Ibu yang disambut rengekan dari semua anak di yayasan. Mereka merindukan Nadia, mereka ingin bertemu dengan bunda mereka.


Bilal dan Nafisah pun turut membanggakan Nadia dalam hatinya. Dia berbeda dari wanita lain, dia tidak melupakan mereka. Dari jauh sana, Nadia selalu memantau keadaan anak-anak asuhnya di yayasan. Ia tak akan membiarkan mereka kelaparan.


"Kenapa Kakak tidak bertanya soal alamat Bunda yang di Jakarta?" tanya Bilal dengan kecewa yang kentara di matanya.


"Kakak sudah menanyakannya, tapi tante Winda tidak menjawab. Dia bilang Bunda tidak tinggal di mana pun, tante Winda sedang menemani Bunda terapi dan setelah sembuh akan menemui kita di sini," jawab Ruby lagi menjelaskan apa yang dikatakan Winda tadi.


Bilal tak lagi bertanya, memang semua ini salah laki-laki itu yang tidak bisa memperlakukan Nadia dengan baik. Padahal, dia istrinya juga seharusnya mendapat perhatian yang sama dengan istri lainnya.


"Untuk sekarang, kita doakan saja Bunda semoga cepat diberi kesembuhan. Diangkat penyakitnya agar bisa menemui kita di sini meskipun tak lagi menjadi bagian dari keluarga kita," ucap Ruby yang membuat Bilal bingung.


"Maksud Kakak?" Dahi kecilnya terlipat mendengar kalimat ambigu dari kakaknya.


"Bunda dan Abi bercerai, Bunda yang menggugat Abi. Sekarang, kita tidak bisa lagi tinggal bersama Bunda," jawab Ruby sembari menahan sebak di dada yang membuatnya sesak.


Bilal mengerti, hanya Nafisah yang masih polos dan belum tahu maksud pembicaraan kedua kakaknya. Ia hanya diam mendengarkan tanpa mengerti maksud dari itu semua.

__ADS_1


Nadia tahu kondisi mereka saat ini, ia juga tahu kalau tabungan yayasan tak lagi dapat digunakan. Dia terus memantau anak-anak itu meskipun tidak tinggal di kota itu lagi. Tak akan mudah untuk Nadia melepas mereka begitu saja. Ibu pengasuh malam itu, bisa memasakkan mereka makanan walaupun sederhana. Tak apa, yang penting anak-anak tidak merengek kelaparan lagi seperti tadi sebelum Ruby datang. Sungguh memprihatinkan.


__ADS_2