
"Mas tahu tidak? Apa yang terjadi pada Mas sore tadi?" tanya Nadia usai melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dan keduanya menghabiskan waktu bersama anak-anak di yayasan.
Ikram yang baru saja selesai mengajarinya mengaji menatap istrinya dengan bingung. Kerutan di dahi yang ia lakukan itu cukup menjawab pertanyaan Nadia kalau Ikram tidak tahu apa pun.
Nadia duduk di lantai aula yayasan, berhadapan dengan Ikram. Belajar membaca dan mengkaji sebuah ayat di sana.
"Memangnya kenapa?" tanya Ikram jelas ia ingin tahu sebabnya karena memang seumur hidup ia tak pernah merasakan itu.
"Ada yang menaruh sesuatu pada makanan atau minuman yang Mas konsumsi sore tadi. Semacam obat perangsang," jawab Nadia lagi dengan gaya memberitahu.
Ikram terhenyak, matanya mendelik mendengar itu. Ia ingat, sore tadi Yuni membuatkannya kopi. Apakah wanita itu? Licik!
"Dari mana kamu tahu?" selidik Ikram sembari menatap intens iris mempesona milik istri keduanya itu.
"Apa Mas lupa dengan masa lalu aku yang dulu pernah aku ceritakan? Hal-hal seperti itu tidak asing bagiku walaupun aku sendiri tidak pernah merasakannya. Aku sering melihat teman-temanku menggunakan itu sebelum mereka berhubungan intim. Jadi, aku tahu apa yang terjadi pada Mas sore tadi," jawab Nadia lagi tanpa ragu.
Yah ... selain pada Ain, Nadia juga sudah memberitahu Ikram perihal masa lalunya yang buruk. Bergaul bebas, berbaur dengan siapa saja, berpakaian seksi, dan sebagainya. Beruntungnya, ia tidak pernah menyentuh alkohol juga melakukan coba-coba hal-hal yang di luar kendali. Terbukti dengan masih gadisnya Nadia saat Ikram menunaikan malam pertama mereka.
Bercak darah di atas sprei putih sebagai saksi bisu Ikram merenggut kegadisannya walaupun diakhiri dengan perdebatan.
"Astaghfirullah! Kenapa dia sampai melakukan ini? Mas tidak tahu, benar-benar tidak tahu," ucap Ikram lagi sembari mengusap wajahnya sendiri.
"Tapi aku heran, kenapa Mas malah datang ke rumah? Biasanya orang-orang yang mengkonsumsi obat-obatan itu tak akan mengenal siapa yang dia tiduri. Yang terpenting untuknya adalah rasa dahaganya terobati," ungkap Nadia kembali memberitahu Ikram.
Laki-laki di depannya termenung, berpikir dan mengingat kembali kejadian sore tadi di masjid.
__ADS_1
"Seingat Mas waktu itu, Mas lihat wajah kamu di depan mata. Tersenyum, melambai, memanggil Mas dengan manja dan menggoda. Hanya bayangan kamu saja yang ada dalam pikiran Mas. Tidak, wanita itu berdiri di sana hampir saja Mas tertipu. Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan Mas dengan memperdengarkan suaranya. Mas sadar dan pergi meninggalkannya lalu ke rumah, tapi kamu waktu itu sedang mandi. Mas duduk di kasur menunggu kamu keluar," papar Ikram menjelaskan.
"Hmm ... aku sendiri tidak tahu ada Mas di kamar. Aku kira orang lain yang tiba-tiba memeluk, mau aku gibas tadinya." Nadia terkekeh saat mengingat yang terjadi sore tadi.
Ikram ikut tersenyum, membayangkan Nadia yang hanya mengenakan handuk saja sungguh sangat menggoda imannya.
"Tapi kamu tahu tidak? Sore tadi kamu benar-benar melemahkan iman Mas. Sampai-sampai terus membayang dalam pikiran tubuh kamu yang hanya dibalut handuk," bisik Ikram sembari menggigit daun telinga Nadia yang tersembunyi di balik mukena.
"Mas!" Nadia memekik langsung menatap sekitar khawatir ada yang melihat. Ikram terkekeh dengan kepanikan wanita di depannya. Nadia menunduk malu. Menyembunyikan rona merah di pipinya.
Ada beberapa pasang mata yang diam-diam memantau kejadian itu. Mereka terkekeh merasa gemas dengan pasangan di aula tersebut. Begitu pun dengan Ibu pengasuh yang mengintip dari balik jendela rumah. Ia ikut tersenyum, Nadia bukanlah orang jahat. Kesalahannya hanya satu mungkin, karena menjadi wanita kedua dalam hidup Ikram. Selebihnya, tak ada keburukan yang dia lakukan.
"Sudah isya. Ayo, ke masjid!" ajak Ikram sembari memberikan tangannya pada Nadia. Disambut dengan senang hati oleh tangan lembutnya. Berjalan bergandengan menuju masjid. Aduh, mesranya!
Sampai-sampai dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan, kebakaran jenggot melihatnya. Ain meradang hingga air matanya jatuh tak tertahan. Yuni mendengus sebal. Sekalipun ia mengidolakan Nadia, tetap saja melihatnya bermesraan dengan Ikram timbul cemburu di hatinya.
Ain menggeram, kedua tangannya mengepal, matanya memicing tajam mengancam dalam hati.
"Belum. Aku masih belum kalah. Aku masih unggul dari dia, sudah lima tahun menikah dengan Ikram sampai hari ini dia masih belum bisa hamil. Aku masih bisa menguasai Ikram karena ada anak-anak di sampingku," ucap Ain dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Yuni tersenyum, merasa terbakar semangatnya untuk kembali mengambil hati Ikram.
"Kamu benar, kita masih belum kalah." Keduanya menjelma menjadi sosok yang menakutkan.
Niat hati ingin membuat istri kedua menderita, tapi justru menjerumuskan diri sendiri dalam kubangan penderitaan yang tiada henti. Sementara dia, target sasarannya selalu tersenyum dan tak pernah terlihat menderita. Nadia selalu memperlihatkan kebahagian pada wajahnya, dan menyembunyikan kesedihannya dalam hati.
__ADS_1
Kata seorang ulama, "Almukminu bisyruhu fii wajhihi, wa huznuhu di qalbihi." Seorang mukmin akan menampakkan kebahagiaan di wajahnya, dan menyembunyikan kesedihan dalam hatinya. Seperti yang Nadia lakukan.
Sekalipun ribuan penderitaan didatangkan kepadanya, kepiluan dihantamkan pada hatinya, tetap saja wajahnya selalu nampak berseri enak dipandang mata. Sekali pun ia tak pernah bermuka masam.
Seharusnya Nadia menderita, bersedih, murung, dan terluka. Atau memutuskan pergi dan menyerah dari semua ini. Bukan malah tersenyum seolah memamerkan yang dia-nya baik-baik saja meskipun disakiti.
Kedua makhluk astral itu kembali menyusun rencana menghantui Nadia di siang hari. Kali ini harus berhasil. Pokoknya harus!
"Umi? Sedang apa di sana? Kenapa kalian berdua tidak pergi ke masjid?" seru Ruby yang tiba-tiba datang ke rumah dan mengernyit melihat kedua wanita yang berdiri di jendela samping rumah.
Ain tersentak begitu pun dengan Yuni. Keduanya menoleh dan mendapati Ruby yang memandang mereka dengan alis yang terangkat.
Ain tersenyum canggung, ia mendekati Ruby dan mengusap pipi putri sulungnya itu.
"Tidak apa-apa, sayang. Umi hanya sedang menunjukkan pada Tante Yuni bagaimana aktifis santri saat tiba waktu shalat seperti sekarang ini. Dan kenapa Umi tidak ke masjid? Umi sedang halangan," jawab Ain sembari terus tersenyum menatap manik Ruby.
Remaja itu menganggukkan kepalanya mengerti.
"Umi, aku mau makan masakan Umi. Sudah lama rasanya lidahku tidak merasakan gurihnya masakan Umi. Apa Umi memasak hari ini? Tidak beli online lagi, bukan? Karena memasak itu lebih hemat," ujar Ruby dengan senyum jenaka yang begitu dirindukan Ain.
Terharu sebagai Ibu, anaknya rindu masakan dia. Memang semenjak kedatangan Yuni, Ain jarang memasak. Selalu memesan online dan ia-nya selalu sibuk mengurusi diri sendiri.
"Sebentar, Umi masak dulu. Tidak apa-apa, 'kan, kalau Ruby menunggu sebentar?" sambut Ain dengan perasaan haru bercampur bahagia juga rasa bersalah. Ruby mengangguk, duduk menunggu di meja makan sembari memainkan ponsel.
Sementara Yuni lebih memilih kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Pantas saja anak-anakmu lebih betah di sana.