
Patah tumbuh, hilang berganti. Setiap kehilangan akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Semua yang kita miliki hanyalah sebuah titipan. Amanah yang suatu saat akan diambil jua oleh pemiliknya. Merasa memiliki, padahal tidak sama sekali.
*****
Sore itu, paman Harits berkemas. Nadia hanya duduk di ranjangnya sambil menggendong bayi Zahira. Ia melirik suaminya yang sedang berkemas, Winda dan Rima membantu, sedangkan Ibu menemaninya menonton.
"Kita akan pulang ke rumah, sayang. Kamu akan bertemu Kakak-kakak di sana," gumam Nadia sembari menyentuh pipi lembut anaknya.
Ibu ikut mengusap kepala si bayi, tersenyum bahagia. Cucu yang hilang kini diganti Allah dengan yang lebih baik.
"Mbak, katanya Ruby mau ke rumah saja nanti nengoknya," lapor Winda usai mengemas barang-barang bersama Rima dan paman Harits.
"Iya, tidak apa-apa. Sudah selesai?" Gadis itu mengangguk. Paman Harits menghampiri, ia membantu Nadia untuk turun dari ranjangnya. Setelah mendapat izin dari dokter, Nadia tak ingin berlama-lama di rumah sakit.
Ia muak dengan semua keadaan di sana. Bosan berlama-lama di dalam gedung yang khas dengan cat putih itu. Ia rindu rumah, padahal hanya sehari saja berada di rumah sakit.
Nadia menghirup dalam-dalam aroma pekarangan rumahnya. Udara sejuk yang dihadirkan dari berbagai macam pepohonan yang tumbuh, menyegarkan paru-parunya. Bebungaan yang masih nampak mekar, menyambut kedatangannya. Di teras rumahnya, berdiri Ibu pengasuh dan anak-anak angkatnya.
Senyum-senyum di wajah mereka nampak merekah dan cerah menyambut kedatangan anggota baru dalam keluarga mereka. Nadia menyalami Ibu pengasuh.
"Selamat, Mbak. Apa yang Mbak impikan selama ini akhirnya dijawab Allah. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang membanggakan kedua orangtuanya."
"Aamiin!" Doa yang diucapkan Ibu pengasuh, diaminkan keras-keras oleh anak-anak itu. Doa mereka didengar, diijabah, dan tembus sampai langit ke tujuh.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Terima kasih, anak-anak." Mereka duduk berkumpul di ruang tamu, Bibi sigap menghidangkan minuman untuk mereka. Bertambah anggota baru, bertambah pula kebahagiaan.
"Bunda! Bunda tidak akan membuang kami, bukan? Bunda akan selalu sayang pada kami, bukan?" celetuk salah satu anak dengan wajah hampir menangis. Ada ketakutan dalam diri mereka tentang itu karena bagaimanapun mereka hanyalah anak-anak yang dipungut Nadia dari jalanan. Bukan seperti Zahira, yang dilahirkan langsung oleh wanita yang selama ini mereka anggap Ibu itu.
"Kenapa kalian berbicara begitu? Apa yang kalian takuti? Bunda tetap akan di sini bersama kalian. Akan tetap menyayangi karena kalian semua adalah anak-anak Bunda. Anak-anak pertama Bunda. Benar, 'kan, Ayah?" ucap Nadia yang menjatuhkan lirikan pada suaminya setelah berucap.
Paman Harits beranjak turun dari sofa, duduk di lantai bersama anak-anak dan memangku anak yang tadi berucap.
"Benar sekali. Ayah dan Bunda akan tetap menyayangi kalian sama seperti kemarin-kemarin. Hanya do'akan selalu, semoga Ayah dan Bunda juga yang lainnya diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah supaya terus bisa memberikan kebahagiaan untuk kalian." Paman Harits mendekap anak itu dan mencium kepalanya.
"Aamiin!" Serempak semua yang ada mengaminkan. Anak-anak itu berhambur memeluk paman Harits. Mereka senang memiliki orang tua seperti keduanya meskipun hanya berstatus angkat. Karena sejatinya, bagaimanapun status anak, mereka tetaplah amanah yang harus dijaga, dirawat, diasuh dengan benar. Mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lainnya.
Dalam hati putih bersih mereka berjanji akan menyayangi dan melindungi adik mereka yang baru saja hadir itu.
Waktu sebentar saja terus berganti. Jelaga malam menurunkan gulitanya menyembunyikan sang mentari di peraduannya.
Wanita itu melirik suaminya, ia mengangguk. "Itu resep dari Ibu. Tidak apa-apa, jamu itu akan membuat tubuhmu tidak mudah lelah," ucap paman Harits menjawab keraguan di manik istrinya.
Nadia melempar kembali pandangannya pada gelas di tangan Bibi. "Apa harus diminum sebelum makan, ya, Bi?" tanya Nadia karena nasi masih teronggok di atas nakas belum dia makan.
"Ini baik dan tidak masalah diminum sebelum makan." Nadia menerima uluran jamu itu dengan ragu. Lirikannya berputar pada paman Harits sebelum ia meneguk ramuan itu.
Dahinya mengernyit, matanya terpejam, begitu tetesan air jamu itu mulai menari di atas lidah. Namun, ekspresinya berganti saat ia mengaliri tenggorokan. Tak ada enek, tak ada sepat dan pahit seperti jamu yang pernah diminumnya.
__ADS_1
Rasanya enak dan bau yang menyegarkan. Nadia menghabiskan ramuan itu, dan memandang gelas kosong di tangannya. Ia melirik Bibi, wajah penasaran tercetak jelas.
"Ini jamu apa, Bi?" Bertanya ingin tahu.
"Itu cuma kunyit, sama kencur dan beberapa bahan lainnya yang ditumbuk lalu diberi garam. Bagaimana rasanya, Nona? Menyegarkan, bukan?" ucap Bibi sambil menerima gelas itu dari tangan Nadia.
"Enak, aku suka." Nadia menganggukkan kepala, "apa aku akan terus meminumnya?" tanya Nadia.
"Iya, Nona. Sampai empat puluh hari selama Anda dalam masa nifas, Nona," jawab Bibi yang sebentar saja membuat Nadia terhenyak, tapi lalu mengangguk.
Bibi undur diri meninggalkan kamar Tuannya, mengembalikan waktu mereka berdua. Untuk sementara selama nifas, Nadia dan paman Harits menempati kamar kosong di lantai satu.
"Mas harus puasa, ya, selama kamu nifas?" keluh paman Harits yang duduk bersandar di kepala ranjang. Nadia mendongak, di dadanya Zahira tengah menyusu. ASI-nya melimpah setelah ia mengkonsumsi sayuran yang membantu memperbanyak ASI juga ramuan jamu tadi.
"Iya, Mas. Mas bisa sabar, 'kan? Cuma empat puluh hari, lho. Jangan ditabrak garis merahnya," sambut Nadia tersenyum puas saat melihat wajah lesu suaminya. Ia melorot, menyamakan kepalanya dengan sang istri.
Matanya melirik bayi di dada Nadia, kelopak matanya terpejam, tapi bibirnya masih bergerak-gerak menyedot ASI dari Ibunya.
"Aku janji, kalau Mas sabar aku akan berikan Mas service yang spesial bila sudah saatnya nanti." Nadia tersenyum meyakinkan ketika kepala laki-laki itu mendongak antuasias.
"Janji, ya?" katanya tersenyum lebar pada Nadia. Wanita itu mengangguk memberi kepastian.
"Bagaimana kalau kamu jangan ikut program KB? Mas ingin punya banyak anak ... ya, minimal tiga," celetuk paman Harits sambil mengusap-usap rambut anaknya menggunakan dari telunjuk.
__ADS_1
"Tunggu Zahira cukup umur, Mas, atau saat dia sudah tidak menyusu lagi. Dua tahun, ya?" sahut Nadia karena ia ingin menyempurnakan susuan seperti yang tertuang dalam Al-Qur'an. Dua tahun.
"Baiklah!" Pasrah menerima. Dia, sih, enak saja tinggal buat. Yang harus bersusah payah mengandung selama sembilan bulan dan berjuang melahirkan, adalah istrinya. Itulah kenapa derajat seorang Ibu tiga tingkat dibanding Ayah.