
"Bunda!" lirih sebuah suara memanggil-manggil seorang wanita yang terbaring di atas sebuah ranjang bernuansa putih bersih. Tusukan-tusukan di pipi terasa menggelitik alam kesadarannya. Tanpa sadar tersenyum bibir itu.
Gelak tawa seorang gadis kecil pun ikut menjejali indera rungunya. Menyengat hingga meresap ke dalam otaknya. "Hentikan itu, sayang!" Bergumam pelan meracau dalam tidurnya.
Tawa renyah itu kembali mengusik gendang telinga, ia menggeliat. Berbalik memunggungi, dan menggelung tubuh dengan selimut.
"Bunda! Ayo, main. Ajak adik juga, aku mau bermain dengan Adik." Sebuah guncangan lembut ia rasakan di bagian lengan atasnya. Tangan kecil itu meraba hingga memeluk tubuhnya. Berbisik di telinga wanita yang enggan membuka mata.
"Bunda, ayo main! Aku mau bermain bersama Adik." Tak henti suara bisikannya mengusik ketenangan dalam tidur. Disibaknya selimut tersebut dengan pelan, sebuah kecupan mendarat di pelipis meninggalkan jejak basah di sana.
"Kalau kamu mau main, main saja. Bunda masih ingin tidur." Meracau masih enggan membuka matanya.
Tangan gadis kecil itu mengerat di tubuhnya. Diletakkannya kepala di atas pipi wanita yang ia panggil Bunda itu.
"Bunda harus bahagia. Sekarang sudah ada Adik yang akan menemani Bunda bermain. Bunda tidak akan kesepian lagi. Terus tersenyum, Bunda. Jangan pernah sedih lagi." Gumaman itu membuat bibir si wanita membentuk senyuman. Namun, dahinya mengerut dalam.
Ia rangkul tubuh kecil itu menggunakan sebelah tangan. Berat terasa kelopak matanya untuk terbuka. Terpejam seperti sekarang ini, terasa lebih menenangkan.
"Berjanjilah padaku bahwa Bunda akan bahagia mulai hari ini." Kepala wanita itu mengangguk. Tangannya naik-turun mengusap punggung gadis kecil.
"Bunda, Adik menangis! Apa Bunda tidak mendengarnya?" Ia memberitahu lewat bisikan di telinganya.
"Biarkan saja, ada Ayah di sana. Bunda masih ingin memeluk kamu." Ia meracau tak sadar. Kenapa kelopak itu sulit sekali terbuka. Kerutan di dahinya semakin dalam terlihat. Ia sendiri tidak tahu kenapa, enggan sekali membuka mata.
"Bunda, mereka memanggil-manggil Bunda. Apa Bunda masih tidak ingin bangun?" bisiknya lagi semakin berisik. Wanita itu mengeratkan pelukan pada tubuh kecilnya. Ia mengecup dahi gadis kecil meskipun matanya masih terpejam.
"Bunda masih ingin tidur bersama Nafisah, biar saja dulu." Tak ada sahutan dari gadis kecil itu. Jari telunjuknya yang mungil bermain di pipi Bundanya. Terkadang menusuk, terkadang menorehkan tulisan abstrak yang tak terbaca.
"Nadia!"
__ADS_1
"Sayang!"
"Mbak!"
"Bunda!"
Panggilan-panggilan itu mulai bermunculan merasuki gendang telinganya. Berbaur dengan tangisan bayi yang tak kunjung reda. Mengernyit dahi wanita itu, tak mengerti akan situasi yang sedang dihadapinya.
"Bunda, aku harus pergi sekarang. Kita sudah tidak bisa bersama-sama lagi. Bunda harus kembali sekarang," ucap Nafisah tetap seperti bisikan di telinga Nadia.
Bagaimana menjelaskannya? Nadia justru menggeleng dan mempererat pelukannya. Senyum di bibir, tapi air mata jatuh tanpa sadar.
"Jangan pergi ke mana pun, Bunda masih ingin memeluk Nafisah." Gemetar nada itu, isak tangis pun sudah terdengar darinya. Namun, matanya masih saja tertutup.
Suara panggilan-panggilan itu terus berdengung di telinganya, tangis bayi pun makin kuat menggema. Peluh merembes dari pori-pori kulitnya membasahi sekujur tubuh Nadia.
"Ingat! Bunda harus bahagia. Ada Adik yang akan menghibur Bunda sekarang. Aku sudah tidak ada lagi, aku harus pergi. Aku sayang Bunda." Belaian lembut, kecupan basah di pipi, semakin membuat enggan Nadia berpisah dengannya.
"Tidak! Tidak! Tidak!" Mulai sadar dengan situasi yang ada. Tangisnya gemetar pilu. Tangannya meraba-raba sosok Nafisah yang menghilang dalam dekapan.
"Tidak! Jangan pergi!" ucapnya pelan bergetar. Tangannya masih meraba-raba, hanya udara kosong yang ada.
"Sayang! Bangun, buka matamu!" Sebuah suara nyata terdengar. Ia mengingat dan berusaha membuka kelopak matanya untuk terjaga.
"Mbak, Zahira mencari Ibunya. Buka mata Mbak!" Suara lain menyeruak ikut memenuhi gendang telinganya. Peluh semakin deras bercampur dengan air mata yang sudah merembes.
"Sayang, Nadia!"
"Nafisah!" Terbuka matanya, ditatapnya sekitar dengan bingung. Wajahnya menunduk menatap tangannya sendiri. Ia meraba-raba perut dan dadanya seolah-olah mencari sesuatu.
__ADS_1
"Mas! Di mana Nafisah? Tadi dia ada memeluk aku, Mas." Tanpa mengangkat pandangan ia berucap. Tangis semua orang pecah melihat Nadia yang masih belum bisa menerima Nafisah pergi.
Paman Harits memeluknya, ia pegangi kedua tangan Nadia yang masih saja mencari-cari sosok Nafisah dalam pelukannya.
"Nafisah, Mas. Tadi Nafisah ada, dia memelukku. Kenapa tiba-tiba menghilang?" racau Nadia lagi membuat pilu semua orang. Ain tak kuasa melihat itu, ia menangis tergugu dalam pelukan Ikram.
Kini ia begitu yakin, selama lima tahun lebih itu Nadia benar-benar menjadi Ibu untuk ketiga anaknya. Terlebih untuk si bungsu Nafisah yang tak ia perhatikan hadirnya. Bilal memeluk Ruby, menangis tak tega melihat Nadia yang terus meracau tentang Nafisah.
Zahira masih terus menangis dalam gendongan Ibu mencari Ibunya. Namun, wanita itu masih mengigau belum sadar sepenuhnya.
"Nadia, Nafisah sudah pergi, sayang. Dia sudah pergi," ucap paman Harits mengeratkan pelukannya di tubuh Nadia. Wanita dalam pelukan itu mematung mendengar ucapan suaminya. Otaknya berpikir, mencerna maksud dari kalimatnya.
"Nafisah sudah pergi, sayang. Dia sudah tidak ada, kamu harus kuat." Menangis lelaki itu. Kasih sayang Nadia bukan main-main semata. Nadia menggeleng, menolak kenyataan yang sudah didengarnya berulang-ulang itu.
"Tidak, Mas. Dia tadi di sini, memeluk aku. Karena mataku tak bisa terbuka, mungkin dia pergi keluar," tolak Nadia masih pada pemikirannya. Hatinya menolak, tapi tubuhnya merespon kebenaran. Tangisnya yang semakin menjadi, pilu terdengar.
Ain melepaskan diri dari Ikram, ia berjalan pelan dan berjongkok di bawah Nadia. Diusapnya dengan lembut betis wanita itu, air matanya pun tak kalah deras mengalir.
"Nadia, kamu harus ikhlas. Nafisah sudah pergi meninggalkan kita semua. Dia sudah tidak ada lagi, kamu harus kuat, Nadia." Bergetar kalimat yang diucapkan Ain, memporak porandakan keyakinan Nadia. Wajah itu menoleh perlahan, menghujam maniknya yang basah.
"Bohong! Kenapa kalian membohongiku? Nafisah pasti ada di luar, aku akan mencarinya sendiri." Ia melepaskan pelukan suaminya, bangkit dan berlari sambil berteriak memanggil nama Nafisah. Paman Harits gegas mengejar istrinya.
"Nafisah!" Suara Nadia menggema ke setiap sudut rumah. Paman Harits menarik tangannya, Nadia ambruk dalam pelukannya dengan lelehan air mata yang tak ada tanda-tanda akan berhenti.
"Sayang! Sadarlah, tidak ada yang berbohong. Nafisah sudah pergi, dia sudah tidak ada lagi!" ucap paman Harits sedikit menekan nada bicaranya agar Nadia sadar.
Kedua lengan Nadia dicengkeram erat laki-laki itu. Pandangannya tepat menusuk, Nadia bergeming.
"Kamu menakutiku, Mas." Lirih dan bergetar Nadia berucap. Paman Harits melunakkan hatinya, mengalah. Ia memeluk tubuh Nadia dan memberinya pengertian lagi.
__ADS_1
"Kamu dengar, bukan? Nafisah sudah diambil pemilik-Nya. Dia sudah tenang berada di tempatnya. Ini kenyataan, Nadia, bukan cerita belaka. Kita semua juga tidak bisa menerima, tapi umur tidak ada yang tahu. Semua yang kita miliki hanyalah titipan semata yang suatu saat akan diambil pemilik-Nya. Kamu mengerti?"
Paman Harits melepas pelukan, membelai pipi basah istrinya itu sambil memperdalam pandangan. Nadia mematung, ia harus kuat menerima semua ini. Menangis lagi sambil memeluk tubuh suaminya.