
Mobil paman Harits memasuki gerbang kota Rangkasbitung. Hatinya semakin berdegup tak karuan. Entahlah, ada apa dengan hatinya. Ia terus melaju menuju tempat perbukitan di mana rumah Nadia berada.
Semakin mendekat, semakin jantungnya tak karuan. Paman Harits menepuk-nepuk dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Ada apa ini?" kesalnya sembari mempercepat laju mobil.
Waktu terus merangkak mendekati puncaknya. Mobil paman Harits pun melesat tanpa hambatan.
Perasaan lega ia rasakan saat melihat orang-orang yang disuruhnya berjaga di sekitar rumah Nadia. Keadaan rumah Nadia pun nampak biasa saja. Tak ada yang aneh apa lagi mencurigakan.
Alih-alih mendatangi Nadia, paman Harits lebih memilih menemui orang-orang suruhannya. Mereka berjaga bergantian berkumpul untuk beristirahat di sebuah gardu yang terbuat dari bambu.
Melihat mobil paman Harits orang-orang yang berada di gardu menghentikan kegiatan mereka bermain kartu dan bergegas berdiri. Paman Harits turun dari mobil ia bangga melihat mereka yang bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab.
"Bos? Apa ada masalah? Kenapa larut malam begini Bos datang?" tanya ketua mereka sedikit bingung.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh datang ke sini.'" paman Harits duduk di gardu, ia meminta yang lain untuk duduk bersamanya. Mendengarkan laporan.
"Katakan! Informasi apa yang kalian dapatkan tentang anak itu?" pinta paman Harits begitu mereka semua duduk.
Satu orang bertugas menyampaikan apa yang telah didapatkan mereka tentang sebuah informasi.
Mata laki-laki itu menajam tatkala mendengar apa yang disampaikan orang suruhannya. Ia memicingkan mata menatap nyalang udara kosong di sekitarnya.
"Bagaimana dengan Nadia? Apa kalian sudah memastikan dia berada di rumah?" tanya paman Harits lagi mulai cemas.
"Sudah, Bos. Kami mengawalnya pulang dan memastikan Nona sampai dengan selamat hingga masuk ke dalam rumah," lapornya dengan yakin.
Namun, mendengar laporan itu pun bukanya hati tenang. Gelisah itu masih menguasai bahkan semakin resah terasa.
Apa aku harus memastikannya saja ke rumah? Ah ... tapi dia pasti berpikir aku terlalu ikut campur dengan urusannya hingga tidak mempercayainya.
__ADS_1
Paman Harits bergumam, bingung dan gelisah menjadi satu. Ia pandangi rumah Nadia dari tempatnya duduk. Nampak jelas bahkan jika ada orang lalu-lalang di dalamnya akan terlihat dengan jelas.
Paman Harits menarik napas panjang dan mengembuskannya. Mengurai sesak yang tiba-tiba meraja.
Aku tidak merasa tenang. Biarlah dia akan marah padaku, yang penting hatiku ini tenang setelah melihatnya baik-baik saja.
Paman Harits beranjak.
"Tetap waspada, aku punya firasat buruk bahwa sesuatu akan terjadi malam ini," titah paman Harits sebelum berbalik dan berjalan memasuki gerbang rumah Nadia. Degup jantungnya semakin tak karuan makalah ia membuka gerbang itu dengan mudah. Tidak terkunci.
Paman Harits berjalan menuju teras. Rumah Nadia selalu terlihat terang karena semua lampu dibiarkan menyala kecuali lampu kamar.
Tok ... tok ... tok!
Paman Harits mengetuk pintu, ia menyapa, "Nadia! Ini aku, Harits. Bisa kamu bukakan pintu?" Paman Harits menunggu sahutan dari dalam.
Namun, tak ada suara apa pun yang terdengar hanya deru napasnya sendiri yang tertangkap indera rungunya. Paman Harits memegang handle dan menariknya ke bawah.
Jantung paman Harits semakin tak karuan dibuatnya. Ia melebarkan kakinya memasuki rumah Nadia. Tanpa bersuara paman Harits berjalan mengendap. Pelan dan hati-hati. Ia menyalakan lampu ruang tengah, tak ada apa pun di sana.
Paman Harits gegas menaiki anak tangga menuju kamar yang ditempati Nadia. Ia membuka setiap ruangan satu demi satu tak ada yang terlewati.
"Nadia!" Ia mulai panik saat tidak menemukan sosok Nadia di mana pun. Lantai dua rumah itu kosong. Paman Harits tetap mencari, mengulang memeriksa satu demi satu kamar tersebut.
Tetap saja Nadia tidak ada di sana. Ke mana Nadia?
"Nadia!" panggil paman Harits cukup lantang. Tubuhnya basah karena keringat. Panik luar biasa. Ia menuruni tangga kembali, mencari Nadia di lantai satu. Hal yang sama ia lakukan pada lantai tersebut.
Satu demi satu ruangan yang ada di rumah itu tak luput dari pemeriksaan paman Harits.
"Nadia! Di mana kamu, sayang?" teriak paman Harits tak menyerah. Mendengar suara bos mereka yang berteriak, orang-orang yang berjaga di rumah Nadia pun berhamburan mendatangi rumah tersebut.
__ADS_1
"Ada apa, Bos?" tanya mereka pada paman Harits yang masih sibuk mencari-cari Nadia.
"Kalian geledah seluruh rumah ini. Jangan sampai ada yang tertinggal. Nadia tidak ada di rumah. Cepat!" perintah paman Harits yang langsung dilaksankan oleh mereka.
Kesepuluh orang tersebut berpencar ke segala penjuru rumah. Paman Harits sendiri tidak tinggal diam. Ia ikut mencari Nadia dan orang-orang yang menemaninya di rumah itu.
Hatinya kalut tatkala tak satu orang pun mereka temukan. Rumah itu kosong tak berpenghuni. Namun, pencarian tetap dilakukan. Mereka tidak menyerah karena bagaimanapun kesepuluh orang suruhan paman Harits itu tidak lengah sedetik pun.
Mereka yakin Nadia masuk ke dalam rumah dan tidak keluar lagi.
"Tidak mungkin Nona pergi? Kami bahkan sama sekali tidak mengedipkan mata saat menjaganya. Kami memastikan Nona di rumah karena kami melihat dengan mata kepala kami sendiri kalau Nona Nadia masuk ke dalam rumah dan tidak keluar lagi," lapor ketua yang memimpin menjaga keamanan rumah Nadia.
Paman Harits ingin marah, tapi ia tidak bisa melampiaskannya sembarangan. Ia menahan diri dan memerintahkan semua orang-orangnya untuk kembali menggeledah rumah besar tersebut. Pencarian pun kembali dilakukan.
Paman Harits menelepon pihak berwajib untuk membantunya menemukan Nadia. Tanpa menunggu dua puluh empat jam, polisi datang dan ikut menyusuri setiap sisi rumah Nadia. Bersama-sama mereka menyisir satu demi satu tempat tersebut.
"Sebelah sini!" teriak salah seorang polisi dari bagian samping rumah. Semuanya berhambur mendekati. Tak ada petunjuk yang berarti. Dia hanya menemukan jejak kaki tanpa alas di atas lantai bagian samping rumah tersebut.
"Jejak kaki!" gumam polisi. Mereka tidak tahu saja bahwa suami Ibu pekerja yang tak pernah memakai alas kaki.
Mereka menyusuri jejak itu dan membawa mereka ke bagian lain dari rumah tersebut. Masih ada ruangan lain di bagian itu, dan ruangan itu nampak mencurigakan di mata para polisi.
Pemimpin polisi memberikan aba-aba untuk berjalan mengendap-endap dan perlahan. Mereka mengepung tempat tersebut. Dari dalam sana terdengar suara-suara mencurigakan. Paman Harits mengikuti komandan pasukan polisi untuk diam-diam masuk ke ruangan tersebut.
Ruangan berdebu layak disebut gudang. Pintu berderit cukup keras. Sepertinya pintu itu tidak pernah lagi dibuka. Paman Harits dan komandan polisi juga dua orang anggotanya memasuki ruangan itu.
Suara-suara aneh itu kembali terdengar. Paman Harits terus maju ke depan hingga ke tempat berasalnya suara-suara tadi.
"Jangan bergerak!"
Paman Harits membelakak tatkala melihat apa yang ada di depan matanya.
__ADS_1