Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Lagi-lagi


__ADS_3

Berbagi, selalu meninggalkan jejak ketenangan pada jiwa dan hati karena-nya, apa yang didapat menjadi suci dan penuh berkah.


Ibu yang antusias menyambut kedatangan sang cucu, ia ingin doa-doa terbaik dihaturkan semua orang yang dekat dengan lingkungan mereka. Para tetangga, para pemuka agama, juga tak lupa mereka yang hidup di jalanan atau di sebuah yayasan sosial.


Hari itu, hari bertabur kebahagiaan untuk mereka yang jarang sekali tersenyum. Hari yang membuat perut mereka dapat merasakan makanan yang layak, nikmat dan bersih tentu saja.


Ibu dan Bibi mengatur para tetangga terdekat untuk saling bahu-membahu membantu menyiapkan segalanya. Memasak hidangan pembuka, hidangan utama, juga hidangan penutup.


Nadia duduk berkumpul bersama beberapa tetangga yang dengan rela mengulurkan tangan membantu jalannya acara. Sesuai instruksi yang ada.


"Ini yang namanya rujak bebek (tumbuk, baca 'eu'. Bukan baca 'e')?" Nadia bertanya sambil memperhatikan berbagai macam buah yang akan ditumbuk dalam satu wadah.


"Iya, Nyonya. Ini namanya rujak bebek, atau kami di sini menyebut rujak tumbuk. Semua buah akan ditumbuk dan dicampur jadi satu. Rasanya enak dan segar."


Nadia manggut-manggut, air liurnya tiba-tiba berkumpul saat mencium aroma khas dari rujak tumbuk tersebut.


"Boleh saya cicipi?" tanyanya.


"Boleh, sebentar. Makan di daun saja, ya. Menurut mitos di daerah saya, Ibu hamil baiknya makan di daun. Langsung dibuang begitu saja. Tidak disimpan atau dibiarkan kotor," kata tetangga yang mengepalai pembuatan rujak tersebut.


Nadia menerima sebuah bungkusan daun pisang, ia mencomot sedikit demi sedikit dan meresapi rasanya. Manis, asin, pedas, juga gurih dari terasi berbaur jadi satu memberikan sensasi rasa yang nano-nano di lidah.


"Enak!" katanya puas.


"Sayang, makan apa?" Paman Harits berdiri tak jauh dari kumpulan itu. Nadia melambai meminta suaminya itu untuk mendekat.


"Ide siapa buat rujak semacam ini?" tanya paman Harits setelah duduk di samping Nadia dan melihat segala buah yang sedang ditumbuk.


"Ini Nyonya yang minta, Tuan. Katanya beliau ingin acara tujuh bulanan ini seperti adat yang ada." Paman Harits manggut-manggut mengerti.


"Mas, enak, lho. Coba, deh!" Nadia menjumput rujak dengan tangannya, ia mendekatkan tangan tersebut ke dekat mulut suaminya.


Walaupun ragu, paman Harits tetap mencoba untuk mencicipi. Ia mengunyah, mengunyah, dan menelannya. Mereka semua menegang menunggu komentar sang pemilik hajat.


"Mmm ... enak, rasanya segar. Aku suka!" katanya. Mereka bernapas lega juga.


"Tuan dan Nyonya, tahu tidak? Katanya, kalau rasanya itu enak ada yang bilang anaknya nanti perempuan-"


"Tapi ada juga yang bilang kebalikannya, dan percaya tidak percaya mitos itu memang sering jadi kenyataan."

__ADS_1


"Benar, Tuan, Nyonya. Ada juga yang bilang kalau rasanya enak, tapi pedas itu anaknya laki-laki. Kalau rasanya enak, tapi kurang pedas itu anaknya perempuan."


Satu per satu celoteh tetangga itu mengisi percakapan. Paman Harits dan Nadia tidak menyangkal karena bagaimanapun, mitos itu adalah hal-hal yang diberitahukan secara turun-temurun dan dari mulut ke mulut orang-orang tua dulu dengan tujuan tertentu dan makna yang tersembunyi.


Tuan rumah itu hanya mengangguk mendengarkan dengan antusias mitos-mitos dari adat yang sebagian masyarakat masih menjalaninya. Bagi mereka tidak apa-apa, asal jangan sampai merusak akidah saja. Kalau hal-hal tersebut sampai merusak akidah, maka sebaiknya ditinggalkan atau dibenahi.


"Ini akan diapakan nantinya?" tanya paman Harits melihat cup-cup kecil yang siap diisi rujak. Ada benda-benda lain juga di sana yang ia tak tahu apa kegunaannya.


"Ini akan dijual pada masyarakat, Tuan-"


"Kenapa tidak dibagikan saja?" Paman Harits memotong ucapan tetangganya itu.


"Memang akan dibagikan pada masyarakat, tapi biasanya ada di antara mereka yang membelinya dengan harga seikhlasnya, Tuan." Paman Harits manggut-manggut lagi mengerti. Yah ... begitulah yang namanya adat tidak mudah untuk dirubah apa lagi dihilangkan.


"Jangan terlalu banyak makan ini, sayang. Perut kamu itu belum diisi nasi," cegah paman Harits saat tangan Nadia hendak mengambil rujak itu lagi.


Wanita itu cemberut, rasanya yang enak lagi segar membuat lidahnya tak mau berhenti untuk terus memakannya.


"Ya sudah, sedikit lagi saja." Nadia tersenyum saat suaminya itu mengizinkan dia untuk memakannya lagi.


"Terima kasih banyak sekali lagi, Bu, sudah berkenan membantu di rumah kami," tutur Nadia sambil beranjak berdiri.


"Kami senang bisa membantu di rumah Anda, Nyonya. Kami merasa diakui sebagai tetangga oleh keluarga ini," sahut salah satu dari mereka yang diangguki yang lain.


Paman Harits mengajaknya ke ruang tamu, menemui rekannya yang berkunjung ke rumah. Berbicara ringan saja sesekali membahas bisnis yang sedang mereka jalankan.


*****


Sore hari, para tetangga yang membantu satu per satu mulai berpamitan setelah semua pekerjaan selesai. Nasi-nasi dan lauk-pauknya sudah berada dalam kotak dan siap dibagikan.


Tak lupa mereka juga membawa bekal untuk disantap bersama keluarga mereka. Masyarakat merasa senang masih ada orang kaya di lingkungan mereka yang tak segan menerima uluran tangan mereka.


Keluarga itu hangat dan menyenangkan. Yang pasti tidak sombong seperti kebanyakan orang yang tinggal di dalam gedung mewah.


"Mas, pengen rujak tumbuk itu lagi," rengek Nadia menunjuk bungkusan yang disiapkan untuk para tamu nanti malam.


"Tidak boleh! Kamu sudah makan terlalu banyak, sayang," sergah paman Harits menahan tangan sang istri agar tidak mengambil bungkusan itu.


"Tapi aku pengen rujak tumbuk itu, Mas!" Masih merengek dengan jari yang menunjuk bungkusan.

__ADS_1


"Biar Mas tumbuk saja kamu nanti malam. Rasanya tak kalah segar dan nikmat, dan kita bisa merasakannya bersama-sama." Paman Harits memainkan alisnya saat Nadia menoleh cepat ke arahnya.


"Kenapa? Kamu tidak mau Mas tumbuk? Yah ... walaupun kamu tidak mau, Mas akan tetap menumbuk kamu." Ia tersenyum mesum, menggoda Nadia yang sudah memerah kedua pipi hingga ke daun telinganya jika saja tidak tertutupi.


"Mas apa-apaan, sih? Malu tahu!" Ia mencebik, memalingkan wajah dari suaminya, malu.


"Malu pada siapa?"


"Ekhem!" Suara Ibu semakin membuat rona di pipi Nadia terlihat jelas. Ia melengos pergi meninggalkan Ibu dan paman Harits. Paman Harits mengangkat bahu, dan ikut berlalu ke arah Nadia pergi.


Acara dzikir dan doa berjalan dengan baik, tak ada hambatan apa pun sampai semua tamu yang diundang membubarkan diri setelah acara selesai. Sengaja mereka mengundang para tetangga dan ustadz di kompleks tersebut.


Ibu, paman Harits, dan Nadia duduk di ruang keluarga melepas lelah. Sementara Winda dan Rima beristirahat di kamar mereka. Dua gadis itu pun sama sibuknya tadi siang.


"Alhamdulillah, acaranya berjalan lancar," syukur Ibu dengan helaan napas lega yang ia keluarkan.


"Ide dari mana Ibu melibatkan tetangga kita?" tanya paman Harits menoleh pada Ibunya.


"Bibi dan Ibu pengasuh anak-anak yang menyarankan untuk melibatkan para tetangga. Kita harus mulai membuka diri dengan mereka. Bermasyarakat itu tidak salah, dan bukan hal yang keliru. Justru itu baik, mengikat tali silaturahmi dengan orang-orang di sekitar kita," ungkap Ibu yang dibenarkan Nadia.


"Benar, Mas. Jangan menutup diri dari lingkungan sekitar. Sebagai makhluk sosial, kita saling membutuhkan satu sama lain." Nadia ikut menimpali nasihat Ibu mertuanya.


Paman Harits memutar pandangan, menatap bergantian Ibu dan istrinya yang kompak berbicara.


"Wah ... kalian kompak sekali menasihati aku, apa ini sudah direncanakan?" katanya dengan alis yang terangkat sambil tersenyum.


Nadia terkekeh, Ibu tersenyum.


"Kebetulan saja, Mas."


"Baiklah ... baiklah, aku senang. Sekarang ada dua orang yang akan selalu menasihati aku saat aku keliru. Aku sangat bersyukur. Terima kasih." Paman Harits merengkuh tubuh Nadia dan mengecup ubun-ubunnya.


Hari ini dia belajar lagi, berkat Nadia dan juga Ibu, paman Harits tak pernah kehilangan senyum lagi. Obrolan masih berlanjut dengan perkara ringan saja. Masalah kehamilan Nadia yang hanya dua bulan lagi menunggu waktu kelahiran. Persiapan untuk si jabang bayi yang akan lahir, Winda dan Rima berlomba membuat desain pakaian dan apa saja untuk keponakan mereka nanti.


Tok ... tok ... tok!


"Tuan! Nyonya! Tolong buka pintunya!" Suara teriakan dari luar menjeda obrolan mereka. Ketiganya beranjak, dan menemui penjaga gerbang yang mengetuk pintu rumah.


"Ada apa?" Paman Harits langsung bertanya begitu membukakan pintu, "Pak RT?" lanjutnya saat melihat ketua Rukun Tetangga itu ada bersama penjaga gerbangnya dengan wajah yang pucat.

__ADS_1


"Ada apa, Pak? Kenapa wajah Bapak pucat sekali?" tanya paman Harits bingung.


"Anu ... Tuan, Nyonya, Anda harus melihat ke sana! Mari, Tuan, Nyonya, sebelum terlambat!"


__ADS_2