
Di malam saat Nadia keluar rumah dan bertemu Rai di Balong, di saat itulah rumahnya didatangi sekelompok orang berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala.
Ibu pekerja dan keluarganya sedang menonton televisi acara kesukaan mereka. Tertawa riang, tanpa beban berarti. Keempat orang itu meramaikan rumah Nadia yang sepi.
Sungguh mereka tak pernah menduga, jika malam itu adalah malam naas untuk mereka. Lima orang penjahat tiba-tiba menodongkan senjata tajam pada leher sang anak bungsu.
"Jangan bergerak! Atau anak kalian ini aku gorok lehernya?" ancam penjahat itu. Sebuah mata pisau berkilat di leher anak tersebut saat terkena terpaan sinar lampu. Air matanya merembes membasahi pipi.
Ia ketakutan, tubuhnya menggigil hebat. Kakinya gemetar lemas.
"I-ibu!" gumamnya dengan suara yang lirih hampir tak terdengar.
"Jangan apa-apakan anakku!" Laki-laki tua yang tak lain ayah mereka merangsek mendekat.
Bugh!
Sebuah kepalan tangan melayang menghantam pipinya. Darah segar merembes dari sudut bibirnya yang robek. Ia jatuh tersungkur membentur lantai. Meringis kesakitan.
"Bapak!" jerit ketiga wanita itu. Ibu dan anak sulungnya mendekati bapak mereka dan membantunya beranjak.
"Di mana Nona Nadia?!" hardik mereka sembari mengeratkan rangkulannya di leher anak yang ia sandera.
Hening. Tak ada yang menyahut, sandera itu bahkan menggeleng meminta pada mereka untuk tidak memberitahu keberadaan Nadia.
"Geledah rumah ini! Kurasa Nona itu tidak ada di rumah," titahnya menyeringai kejam pada empat orang lainnya yang bungkam.
Empat orang sisanya itu pun bergerak mencari sosok Nadia di setiap sudut rumahnya. Sementara yang satu masih mengancam ketiga orang lainnya dengan menempelkan pisau di leher anak bungsu mereka.
"Tidak ada, Bos!" lapor mereka yang mencari Nadia.
__ADS_1
"Hmm ... mungkin benar dugaanku, dia sedang bermain di luar. Sekarang, ikat mereka dan letakkan di gudang bagian belakang agar semua orang tidak tahu apa yang terjadi pada mereka," titahnya lagi yang dikerjakan dengan sigap oleh para anak buahnya.
Keempat orang itu diikat dalam satu ruangan yang tak lagi digunakan Nadia. Mereka bahkan menyumpal mulut keluarga itu. Mereka ditinggalkan begitu saja.
Sementara mereka kembali ke rumah utama menunggu Nadia. Duduk santai di ruang keluarga sembari menikmati camilan yang tadi dinikmati Ibu dan keluarganya.
Tak lama Nadia pulang. Ia yang terlalu lelah tidak bertegur sapa dengan mereka yang berada di ruang keluarga tersebut. Ia pikir itu Ibu dan keluarganya karena memang sudah terbiasa dengan pemandangan itu.
Ia langsung menuju kamarnya untuk merebahkan diri dan meluruskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku akhir-akhir ini. Dalam keadaan yang gelap itu, Nadia tidak tahu ada beberapa pasang mata yang bersiap membawanya pergi.
Hup!
Salah satu dari mereka membekap mulut Nadia dengan sebuah sapu tangan yang telah diberi obat bius sebelumnya. Nadia membelalak sebelum jatuh tak sadarkan diri. Kelima orang itu membawa tubuh Nadia keluar melalui jalan lain yang tidak biasa dilalui.
Di perjalanan, mereka melihat cincin Nadia yang mencurigakan. Salah satunya mengambil cincin tersebut dan menelitinya.
"Hmm ... hanya mainan anak-anak, mereka ingin bermain-main denganku rupanya!" geram orang tersebut sembari menggenggam cincin milik Nadia. Tak berapa lama, ia membuang cincin tersebut ke sembarang arah.
Sebuah villa di tengah gunung yang tak akan terlihat jika tidak didatangi. Bangunan itu tertutup pepohonan besar yang tumbuh tinggi menjulang.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil?" Seseorang menghubungi mereka lewat sambungan telepon. Seseorang yang menjadi dalang penculikan Nadia dan penyekapan terhadap keluarga pekerjanya.
"Beres, Bos! Wanita yang Anda inginkan sedang bersama kami, Bos!" lapor orang yang menjadi pemimpin dari misi malam itu.
"Hati-hati! Jangan sampai jari-jari kalian menyentuhnya! Aku tidak akan pernah mengampuni kalian untuk kesalahan itu!" ancamnya tidak main-main. Mereka saling memandang satu sama lain. Bergidik ngeri saat membayangkan hukuman yang akan mereka terima jika saja melanggar aturannya.
"Ba-baik, Bos! Kami tidak berani!" Ia mengusap keringat di dahi, gugup dengan cepat melanda hatinya.
"Bagus! Bawa dia sesuai permintaanku! Tunggu dan jaga dengan ketat. Jangan sampai dia bisa meloloskan diri!" perintah lanjutan darinya menjadi akhir percakapan itu.
__ADS_1
Mereka memandangi wajah Nadia yang damai dan terlelap. Sungguh cantik meskipun dibalut dengan busana penuh yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Namun, saat ingat ancaman dari bos mereka, cepat-cepat memutar kepala dan mengalihkan pandangan pada sekitar tempat tersebut.
"Jaga dengan ketat! Tetap waspada kalian harus ingat siapa lawan kita!" titah pemimpin kelompok saat berada di pintu gerbang villa.
"Siap!" Mobil memasuki halaman villa. Mereka membawa Nadia ke sebuah ruangan di lantai dua. Meletakkannya di atas ranjang dengan posisi terlentang. Kedua tangan dan kakinya diikat tali hingga Nadia tak dapat melarikan diri.
Mereka mengunci ruangan itu, meninggalkan Nadia dalam keadaan masih tidak sadarkan diri.
"Perketat penjagaan! Tambah personil di gerbang utama villa! Pastikan kalian membawa senjata untuk melindungi diri kalian sendiri! Cepat!" perintah pemimpin kelompok tersebut pada semua yang berjaga di villa.
Mereka semua sibuk mencari senjata untuk menghadapi musuh yang datang. Penjagaan di pintu utama diperketat. Mereka tidak boleh tidur dan tidak boleh mengantuk.
Tak ada celah untuk paman Harits masuk ke tempat tersebut, kecuali dia memang benar-benar jenius maka, akan dengan mudah menerobos masuk.
Nadia mulai sadar, pengaruh obat bius mulai hilang sedikit demi sedikit. Nadia meringis, ia melenguh pendek bersamaan dengan kelopak matanya yang terbuka secara perlahan.
"Egrh! Kenapa ini?" Nadia melirik tangannya yang terikat tali kanan dan kiri. Ia juga mengangkat kepala untuk dapat melihat kakinya yang tak dapat bergerak. Nadia mulai panik dan menangis.
"Ya Allah ... kenapa ini? Di mana aku? Kenapa aku terikat seperti ini?" gumamnya terus-menerus sembari menggerakkan kedua tangannya berharap tali yang mengikat akan terlepas.
"Ya Allah ...!" Nadia menangis terisak, "Kakak, tolong aku! Tolong selamatkan aku, Kak!" lanjutnya berharap pada Harits yang selalu tahu keadaannya dan di mana pun dia berada.
"Ya Allah ... lindungi aku dari segala kejahatan makhluk-Mu!" mohon Nadia dengan laju tangis yang semakin menjadi. Air matanya merembes mengenai kasur tempat di mana dirinya berada.
Suara langkah yang mendekat membuat Nadia semakin panik. Ia menarik-narik tangannya yang diikat mencoba melepas ikatan yang membelenggunya. Sayang, simpul itu terlalu kuat hanya membuat pergelangan tangannya terasa sakit dan perih tanpa melonggarkan ikatan.
Jantung Nadia semakin berdegup tatkala pintu mulai terbuka secara perlahan. Ia menunggu dengan cemas siapa yang berada di balik pintu kayu tersebut.
Seseorang dengan seringai jahatnya muncul, ia menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
"Hallo, sayang!"
Antara senang dan takut, Nadia memandangi sosok di depannya.