
Satu Minggu berlalu, desas-desus mulai menyebar dari mulut ke mulut hingga terdengar ke seluruh penjuru pondok. Kabar Yuni hamil sungguh menggemparkan seisi pesantren Al-Masthur. Bukan hanya penghuni pondok, para jamaah yang pengajian pun tidak tertinggal berita hangat ini.
Di antara mereka ada yang menganggapnya sebagai keberuntungan. Ain yang memanas beberapa hari ini, sontak saja kembali sumringah setelah berita itu tersebar ke semua telinga.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau sedang hamil? Tahu begitu, aku tidak akan berselisih dengan kamu," ucap Ain yang tersenyum senang bersama Yuni.
"Makanya, kalau cemburu lihat-lihat. Bukannya ini yang kamu mau? Aku hamil dan madu kamu itu menderita, menangis seorang diri karena sampai saat ini pun dia belum bisa hamil juga. Sedangkan aku, baru dua bulan menikah langsung tokcer," sahut Yuni sembari tersenyum mencibir Nadia meskipun yang mereka bicarakan tak ada di tempat.
"Iya, memang ini yang aku mau. Kabar kehamilan kamu ini pasti membuat Nadia bersedih. Dia akan murung dan terus menangis setiap hari," timpal Ain lagi dengan tawa riang gembira.
Ia tidak tahu bahwa Nadia sudah lebih dulu tahu sebelum berita itu tersebar. Ia pikir kabar kehamilan Yuni akan membuat Nadia menderita. Kita tidak tahu saja reaksi apa yang diberikan Nadia saat Ain memanas-manasi hatinya.
"Tapi aku akan lebih banyak kebutuhan dengan kehamilan ini, bagaimana kamu bisa memenuhi kebutuhanku nantinya. Ikram saja masih terlihat lesu, sampai saat ini pun ia belum lagi memberi kita uang dari hari itu," ucap Yuni mulai mengeluh.
Ain menghela napas, benar apa yang dikatakan Yuni. Keuangan mereka belumlah stabil. Kini, dia harus mencari cara bagaimana supaya mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Benar juga, tapi kamu tenang saja. Aku akan mencari cara bagaimana supaya kita bisa mempunyai uang," ucap Ain dengan yakin. Ia ingat sesuatu dan akan memanfaatkan itu.
Sudah lama sebenarnya Ain ingin menggunakan senjata pamungkasnya itu, da ia merasa sekaranglah saatnya. Ain akan memakai itu untuk mendapatkan uang.
"Ngomong-ngomong, kenapa Ikram lama sekali? Perutku sudah berbunyi minta diisi." Yuni mengelus perutnya, sedikit membuncit menyembul terlihat.
"Mungkin sedang di jalan, tunggu saja," sahut Ain yang mengambil satu majalah dan membacanya.
Ia membolak-balik majalah tersebut, membacanya satu demi satu mengusir bosan yang mendera.
Sementara di rumah Nadia, kedua anak Ain sedang bermain bersama wanita itu. Belajar sambil bernyanyi membuat mereka mudah sekali menghafal. Ruby bergabung bersama anak-anak yayasan membuat kerajinan tangan.
"Bunda, apa Bunda sudah mendengar kalau tante itu sedang hamil?" tanya Bilal yang menjeda tangannya dari mewarnai gambar.
__ADS_1
"Sudah, memangnya kenapa? Bagus, dong. Jadi kalian bisa punya adik kecil nantinya," jawab Nadia sambil tersenyum tanpa luka.
Bilal terdiam, meneliti wajah cantik di hadapannya yang tak pernah terlintas murung.
"Kenapa Bunda malah senang? Bukanya bersedih?" tanya Bilal lagi.
"Kenapa Bunda harus bersedih? Tidak ada alasan untuk Bunda bersedih, itu rezeki yang harus kita syukuri," sahut Nadia dengan lapang dada.
Ia kembali tersenyum manakala Bilal tak berkedip menatapnya. Nadia mengacak rambutnya sambil tertawa.
"Sudah, cepat warnai! Lihat, Nafisah sudah mau selesai. Siapa yang selesai lebih dulu, Bunda akan membelikan es krim yang paling besar." Nafisah bersorak, Bilal tak mau kalah.
Keceriaan, tawa bahagia, celotehan asal, memenuhi seisi rumah Nadia. Orang yang mereka kira akan menangis di sudut kamar setiap hari, nyatanya ia tidak begitu peduli pada hal itu.
Sekali lagi, setiap kali Ain mencoba menyakiti hatinya, Nadia selalu memiliki cara untuk mengobatinya.
Usai menggambar, ketiganya merebahkan diri di depan televisi. Menonton acara anak-anak yang sedikit menghibur.
"Bun, mang Sarif?" bisik Bilal pelan. Nadia beranjak dan membukakan pintu rumahnya.
"Wa'alaikumussalaam, Mang Sarif?" jawab Nadia.
"Ada yang titip ini untuk Mbak, tapi orangnya tidak mau ke sini," ucap mang Sarif sembari memberikan satu buah dus pada Nadia.
"Teirma kasih, Mang. Ini untuk Mamang-"
"Jangan menolak, ambil saja," ucap Nadia yang sempat terjeda sebentar karena mang Sarif enggan menerima pemberiannya.
"Terima kasih, Mbak. Semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat ganda." Nadia mengangguk. Ia menatap punggung Sarif yang menjauh.
__ADS_1
"Anak-anak! Ayo, kita bagikan ini kepada semuanya!" panggil Nadia yang dengan cepat disambut Bilal dan Nafisah berlarian menuju aula yayasan di mana semua anak sedang berkumpul.
Di saat yang sama Ikram datang membawa dua bungkus makanan. Niat hati ingin memanasi Nadia, tapi Yuni dan Ain yang justru kepanasan melihat Nadia yang tertawa dan bercanda bersama semua anak-anak asuhnya.
Ia membagi-bagikan es krim pada semua anak di sana. Sorak-sorai anak-anak semakin menyulut emosi mereka. Namun, tidak dengan Yuni. Ia menginginkan es krim itu. Air liurnya berkumpul dengan tangan yang tak henti mengusap perut. Mereka bertiga berdiri di teras rumah. Bersama-sama menatap ke arah aula saat suara riuh anak-anak terdengar.
Nadia tersenyum ketika matanya menangkap ketiga sosok yang memandangi mereka. Ia beranjak dengan membawa sisa es krim di tangannya. Berjalan semakin mendekat ke tempat tiga orang yang tak henti memandang itu.
"Mas, Kak, Yuni, ini ada es krim untuk kalian. Terutama untuk Yuni, aku tahu seperti apa orang hamil meskipun aku belum pernah merasakannya. Ambillah, kata orang nanti anaknya ecesan kalau mau sesuatu saat ngidam tidak kesampaian," ucap Nadia menyodorkan dus es krim yang berisi beberapa bungkus.
Ikram menyambar salah satunya, diikuti Yuni yang tersenyum saat mendapatkan apa yang dia inginkan. Kecuali Ain, ia masih termangu menatap Nadia. Kenapa wanita itu tidak terlihat sedih. Dia memang aktris yang hebat, pandai berakting dan berpura-pura tidak bersedih. Ain yakin dalam hatinya wanita itu pasti sedang menangis.
"Kak, apa Kakak tidak mau mengambilnya?" Suara Nadia menyentak lamunan Ain. Ia segera tersenyum dan mengambil satu juga es krim. Nadia pun ikut tersenyum menatap ketiga tangan yang memegang es krim pemberiannya.
"Ada yang mau lagi? Jika tidak aku akan membawanya kembali pada anak-anak," ucap Nadia lagi memperhatikan ketiga orang di depannya itu.
Mereka kompak menggeleng, Nadia kembali pada anak-anak dan mereka pun masuk ke rumah dengan perasaan yang serba salah.
Ikram sama sekali tidak peduli pada kabar kehamilan Yuni. Ia bersikap biasa saja membuat Yuni merasa tak diinginkan.
"Mas, malam ini bisa tidak kamu temani aku tidur. Rasanya aku ingin ditemani malam ini, Mas," pinta Yuni sembari menatap Ikram dengan mengiba.
"Tidak bisa, Yun. Malam ini Abi akan tidur bersamaku, bukannya kamu sudah mendapat giliran? Kenapa mau lagi? Harus adil, dong," ketus Ain tak suka. Enak saja ingin terus-menerus bersama Ikram.
"Tapi, Kak, aku ini sedang hamil. Jadi wajar saja ingin dimanja oleh suami kita, aku butuh perhatian lebih saat ini dari istri mana pun. Sebaiknya Kakak mengalah dulu untuk malam ini," pinta Yuni lagi dengan nada lembut memohon. Ia melirik Ikram yang belum bereaksi apa pun untuk menanggapi permintaan keduanya.
"Tetap tidak bisa, Yun. Kamu juga harus ngerti, bukan cuma kamu yang butuh suami, tapi aku juga sama membutuhkannya untuk menemani tidurku. Mengertilah! Kita sama-sama wanita dan sama-sama menginginkan suami kita. Giliran saja, jangan serakah!" tegas Ain dengan nada tak ingin dibantah.
Jika saja Nadia mendengar, ia pasti akan tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Ikram mendesah, pasrah pada hidupnya seperti buih di lautan yang rela diombang-ambing ombak ke sana ke mari. Tak memiliki pendirian. Tidak sadar bahwa masih ada satu istri yang harus dia nafkahi juga secara lahir dan batin. Perdebatan pun tak terelakan, membuat Ikram jengah dan memutuskan untuk tidur sendiri saja.