
Di saat yang sama, di mana Sarah dilarikan ke Rumah Sakit, Ruby pun mendatangi Rumah Sakit tersebut guna mencari Nadia. Ia hafal hari ini adalah jadwal Nadia melakukan cuci darah. Untuk itu dia yakin wanita itu pasti akan datang ke sana.
Ia berjalan memasuki area Rumah Sakit, tak sengaja matanya menangkap sosok Winda yang berjalan bolak-balik di depan ruang IGD. Ruby menghampirinya, ia tersenyum mengira dalam hati Winda sedang menunggu Nadia.
"Tante Winda!" panggil Ruby sembari mendekat ke arahnya. Winda berpaling, raut cemas terlihat jelas di wajahnya.
"Ruby, kenapa kamu di sini? Apa kamu bersama Bunda?" tanya Winda seketika teringat Nadia yang selalu bersama Ruby.
"Bunda!" ulang Ruby dengan dahi yang mengernyit, "aku pikir Tante sedang menunggu Bunda di sini. Kalau bukan Bunda siapa yang Tante tunggu?" lanjut Ruby bertanya.
"Bukan, Ruby. Yang di dalam Ibu," jawab Winda.
"Nenek?" Ruby memastikan. Winda mengangguk.
"Apa yang terjadi pada Nenek?" tanyanya ikut mencemaskan keadaan Sarah.
"Tante tidak tahu, kamu bisa menanyakannya pada mereka." Winda menunjuk kedua anak asuh Nadia yang duduk di kursi tunggu. Ruby mendatanginya. Ia ikut duduk bersama mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Ruby sesaat setelah ia duduk di kursi tersebut. Kedua anak itu mengangkat pandangan, sama-sama terlihat cemas.
"Waktu itu kami mendengar Nenek bergumam dan menyebutkan kata 'pelaku'. Kami tidak mengerti soal itu, tapi kami melihat sesuatu di sana ...."
Kedua anak itu bercerita sembari menerka-nerka apa yang dimaksud Sarah. Ruby mendengarkan dengan saksama bersama Winda pula. Dari cerita keduanya Winda dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud Sarah dengan kata pelaku adalah pelaku penabrak suaminya dulu.
"Apa Tante tahu apa maksud Nenek? Aku tidak ingin mempercayainya!" tolak Ruby dengan tangis yang memecah sunyi.
"Yang dimaksud Ibu adalah ... Ibu menemukan pelaku penabrak suaminya, papahnya mbak Nadia-"
"Siapa yang kalian maksud? Dan kenapa kalian berkumpul di sini? Ada apa ini? Dan kalian, siapa yang menjaga toko?"
Suara Nadia memangkas kalimat Winda yang belum selesai menjelaskan. Mendengar suara yang dia rindukan, Ruby berhambur memeluk Nadia.
"Bunda! Ke mana saja, Bun? Aku mencari Bunda selama dua hari ini. Kenapa Bunda pergi dari rumah? Bilal dan Nafisah menangis setiap hari menanyakan Bunda," rengek Ruby menangis dalam pelukan Nadia.
Namun, bukan itu fokus Nadia. Ia memperhatikan wajah Winda dan kedua anak asuhnya yang terdiam dengan gelisah dan menunduk.
Ia mengusap kepala Ruby dan memegangi bahunya.
__ADS_1
"Bunda hanya ingin menenangkan diri saja. Tidak perlu menangis lagi." Nadia mengusap air mata Ruby yang meleleh di pipinya. Ia tersenyum meski wajahnya terlihat pucat pasih. Benar apa yang dikatakan Ruby, Nadia pasti akan ke Rumah Sakit.
Ia yang akan melakukan rutinitasnya seketika berbelok saat matanya melihat Winda dan yang lainnya berada di depan ruang IGD. Mengingat itu Nadia lupa menanyakan siapa yang sedang di dalam.
"Win, siapa yang di dalam?" Jantungnya seketika berdegup siapa lagi kalau bukan ....
"Apakah Mamah? Kenapa, Win?" Nadia melepas pelukan Ruby dan mendekati Winda.
"Be-benar, Mbak. Yang di dalam itu, Ibu. Tadi jantung Ibu kumat saat sedang menunggu Mbak di toko. Makanya, saya langsung membawa Ibu ke Rumah Sakit. Ibu syok karena mendengar berita tentang Mbak yang menghilang sudah dua hari," jelas Winda sedikit menyembunyikan fakta tentang Sarah yang menemukan pelaku pembunuh papahnya.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Ya Allah! Ampuni hamba, ampuni hamba!" Nadia menangis. Ia menjatuhkan diri di lantai duduk meringkuk memeluk lutut. Ia tahu kondisi Sarah seperti apa. Sudah pasti terkejut mendengar kabar itu dan membuatnya drop. Nadia tidak pernah berpikir tentang itu. Ia menyesal, kenapa tidak pergi saja ke rumah mamahnya. Bukannya malah bersembunyi.
Mereka menunggu dalam diam setelah Ruby dan Winda berhasil menenangkan Nadia. Nyeri pada ginjalnya tak ia rasa, ia ingin tetap di sana sampai dokter selesai menangani Sarah.
"Mbak Nadia! Jika di antara kalian ada anaknya, maka Ibu ingin bertemu!" Seruan dokter berhasil menggugah mereka. Nadia beranjak cepat dengan wajahnya yang semakin memucat.
"Saya, Dokter!" Ia dibawa masuk ke dalam. Nadia menangis melihat kondisi tubuh Sarah yang dipenuhi lalat medis.
"Mamah!" Nadia berhambur memeluk mamahnya. Menangis penuh penyesalan.
"Tidak, Mah! Jangan berbicara!" pinta Nadia dengan suara yang lemah pula. Sakit di bagian perutnya yang semakin terasa tak ia hiraukan. Ia ingin menemani Sarah saat ini.
"Lepaskan Ikram, Nak! Mamah mendukungmu untuk berlepas diri darinya. Dia memang orang baik, tapi bukan untukmu. Kamu mengerti?" Suara Sarah tercekat di tenggorokan. Nadia semakin terisak.
Ia mengerti karena tanpa diminta pun, ia sudah memutuskan untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahan yang menyiksanya itu. Ia berencana pergi ke pengadilan hari ini setelah melakukan cuci darah. Namun, kenyataan ini yang harus ia terima.
"Iya, Mah. Nadia mengerti," sahut Nadia yang masih memeluk Sarah.
"Mana? Mamah mau melihat wajah putri Mamah yang cantik," ucap Sarah. Suaranya semakin parau terdengar. Nadia mengangkat tubuh dan memandang Sarah dengan air mata yang berlinang.
"Jangan menangis! Nanti cantik kamu hilang!" Sarah tersenyum sembari mengusap air mata Nadia dengan jarinya. Nadia menggenggam tangan itu dan menciumnya.
"Memang benar, anak Mamah ini cantik sekali. Pantas saja banyak laki-laki yang tergila-gila sama kamu, sayang. Mamah yakin kamu pasti sembuh," ucap Sarah lagi semakin lemah terdengar.
Nadia tersenyum haru mendengarnya. Ia mencium dahi Sarah juga pipi kanan dan kirinya.
"Nadia sayang Mamah!" Nadia kembali memeluk Sarah.
__ADS_1
"Mamah juga sayang kamu, Nak!" Nadia melepas pelukannya dan memandangi wajah Sarah yang terlihat damai.
"Rasanya Mamah ingin istirahat, kamu temani Mamah di sini, ya. Jangan pergi ke mana pun! Lantunkan sholawat untuk mengantar Mamah tidur," pinta Sarah yang diangguki Nadia.
Ia mulai memejamkan mata, Nadia tersenyum. Dengan tangan yang bertaut, ia mulai melantunkan sholawat untuk mengantar Sarah tidur. Bibir tua Sarah membentuk senyuman, Nadia terus melanjutkan sholawat.
Sampai saat tangan Sarah lunglai sebelum akhirnya menjadi kaku. Nadia sadar, Sarah bukannya tidur sebentar, tapi untuk selamanya.
"Mamah! Mamah! Bangun, Mah! Mamah! MAMAH!" Nadia menggugah Sarah, ia menggoyang-goyangkan tubuh Sarah yang perlahan berubah kaku seluruhnya. Nadia berteriak histeris sembari mengguncang tubuh ibunya.
"MAMAH! Jangan pergi! Jangan tinggalkan Nadia, Mah! Bangun, Mah! Mamah, bangun! Nadia mohon!" pintanya masih memeluk tubuh kaku Sarah.
Dokter yang mendengar gegas mendatangi tempat tersebut. Mereka membujuk Nadia untuk melepaskan Sarah karena tim medis akan memeriksanya.
"MAMAH! BANGUN!" teriak Nadia lagi meronta dalam cekalan seorang dokter laki-laki.
"MAMAH TIDAK BOLEH PERGI!" Ia terus berteriak berharap Sarah akan mendengar. Dokter tersebut memegangi tubuh Nadia yang semakin lemah meronta.
Nadia lemas, tatkala melihat dokter menggeleng. Lalu, jasad Sarah ditutupi kain putih.
"Tidak! Mamah!" Nadia berlari mendekati jasad Sarah yang terbujur kaku. Kembali memeluknya dan terus menangis.
"Mamah jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Mamah kembali! Mamah harus bangun!" Nadia mengguncang-guncang jasad kaku itu. Ia tidak percaya hari ini Sarah akan meninggalkannya. Sendirian.
"Mamah!" Nadia meratap. Sakit di bagian perutnya kian terasa. Membuatnya lemah dan tak lagi mampu menopang tubuhnya. Nadia jatuh terkulai tak sadarkan diri.
Tim dokter segera menangani, ia diberi penanganan khusus. Dokter yang menjadi sahabat Sarah, amat terpukul dengan kejadian ini.
Winda, Ruby, dan kedua anak asuhnya itu ikut menangis merasa kehilangan orang yang begitu baik. Rima bergegas datang ke Rumah Sakit setelah mendapat kabar dari Winda. Mereka menunggu Nadia sadar untuk memakamkan jasad Sarah.
Namun, Nadia dinyatakan koma karena gagal ginjal yang dideritanya. Sesuai arahan dokter, jasad Sarah dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan di samping suaminya.
Ruby berkali-kali menghubungi Ikram, ia ingin laki-laki itu ikut mengantar kepergian Sarah untuk terakhir kalinya. Sayang, setiap kali menelpon. Ikram selalu menolaknya. Ia mengirimi pesan, tapi tak ada balasan.
Oleh karena terlalu lama menunggu Ikram, dokter selaku sahabat Sarah menyarankan untuk segera pergi ke Jakarta. Ia tidak menunggu Nadia sadar karena tidak bisa memprediksi kapan anak Sarah itu akan bangun dari komanya. Nadia bahkan tidak melihat jasad mamahnya untuk terakhir kali sebelum dimasukkan ke liang lahat.
Tenanglah, Mamah Sarah! Semoga segala amalmu diterima di sisi Yang Kuasa.
__ADS_1