
Selama nyawa masih melekat pada diri manusia, selama itu pula masalah akan datang menghampiri. Seperti itulah yang terjadi pada Nadia. Setelah badai menghadang, ia mendapatkan jua kebahagiaannya. Namun, sepertinya takdir belum membiarkannya untuk hidup tenang.
"Sayang, Mas harus keluar kota bersama Yoga. Ada pembangunan cabang baru di sana yang mangkrak entah karena apa? Mas akan memeriksanya. Kamu stay di rumah jangan pergi ke mana pun!" Satu kecupan singkat mendarat di bibir Nadia, "kamu mengerti?" Tangan lembut itu mengusap pipinya di kanan dan kiri.
"Mas hati-hati, jangan lama-lama. Aku tidak terbiasa jauh dari Mas." Nadia memeluk tubuh suaminya. Perasaan apa ini? Selama pernikahannya, mereka memang belum pernah berpisah lama. Dan hari ini, paman Harits harus ke luar kota entah untuk berapa hari lamanya.
"Tidak akan lama, mungkin tiga hari jika masalahnya telah ditemukan. Atau bisa juga lebih jika ingin mengupas tuntas hingga ke akarnya," ucap paman Harits merengkuh mesra tubuh Nadia.
"Itu lama sekali." Bergumam dalam pelukan tanpa mengangkat wajah dari dada bidang suaminya. Perasaan apa ini? Batinnya terus bergumam. Ada sesuatu yang ia rasakan dan itu nyata terasa.
"Ya sudah, kamu tetap di rumah. Doakan Mas semoga masalah di sana cepat selesai dan Mas cepat pulang." Pelukan keduanya terurai. Paman Harits mencium dahi istrinya lama sebelum keluar kamar menyusul putri mereka.
Yoga sudah berada di teras bersama Winda. Entah kapan laki-laki itu akan menghadap langsung padanya. Rasanya gemas sekali selalu mengulur-ulur waktu. Seperti tidak memiliki pendirian.
Paman Harits mengambil alih Zahira dari Rima, menggendongnya dan membawanya ke teras diikuti Ibu juga Rima.
"Mas pergi, ya. Hati-hati kalian di rumah," ucap paman Harits yang memandangi mereka satu per satu.
"Kabari aku segera jika terjadi sesuatu." Yoga pula mengingatkan Winda. Pagi itu kehangatan di rumah berkurang. Tak ada bayi besar yang selalu berebut dirinya dengan bayi kecil. Tak ada pelukan hangat yang selalu diterimanya setiap pagi dan sore dari suaminya. Untuk beberapa hari ke depan, ia harus menahan rindu pada suaminya itu.
"Kapan Yoga akan menghadap untuk melamarmu, Nak? Apa kalian sudah membicarakan hal ini?" tanya Ibu di saat baru saja Winda hendak mendaratkan bokong di sofa.
__ADS_1
Gadis itu melirik Nadia yang menampilkan gelagat yang sama dengan Ibu. Lalu, melirik Rima yang bermain bersama Zahira. Ia duduk terlebih dahulu sebelum menyahuti pertanyaan Ibu.
"Aku sudah menanyakannya, Bu. Katanya tunggu semua masalah Tuan selesai. Aku tidak tahu masalah apa yang dia maksud karena ia tak mengatakan detailnya," jawab Winda yang nampak gelisah saat mengatakannya.
"Mungkin dia ingin tenang berbulan madu setelah menikah nanti. Jika masalah Kak Harits belum selesai, 'kan, bulan madu mereka akan terganggu." Rima terkekeh usai mengatakan itu, sedangkan Winda tersipu dengan wajah menunduk. Tepat sekali celotehan Rima.
Seperti itu memang yang dikatakan Yoga saat ia menanyakan keseriusan. Dia akan tenang meninggalkan kantor jika semua masalah telah teratasi. Ibu dan Nadia menggelengkan kepala melihat tingkah dua gadis itu yang saling menggoda satu sama lain.
"Kalian membuat Ibu merasakan bagaimana resahnya memiliki dua anak gadis yang aktif berkarir. Menunggu seorang laki-laki datang untuk melamar yang biasanya akan pergi melamar. Terima kasih karena kalian sudah bersedia tinggal di rumah ini," ungkap Ibu penuh haru.
Winda dan Rima sama-sama mendatangi Ibu dan memeluk wanita tua itu dari kanan dan kirinya.
Zahira mulai berjalan ke sana ke mari, dia dalam masa aktif sekarang. Tak urung Nadia kerap direpotkan olehnya yang sudah pandai berlari mengelilingi rumah. Ia tak sendiri, banyak anak-anak asuh Nadia yang selalu menemaninya bermain.
Tiga hari terlewati sudah, paman Harits belum ada tanda-tanda akan kembali ke rumah. Rindu dalam dada membuncah. Menggunung hingga terasa berat sudah.
Winda dan Rima pergi ke butik seperti biasa, ia bersama Ibu di rumah menjaga Zahira. Ibu pengasuh pergi mengantar anak-anak sekolah. Pagi itu rumah terasa sepi, ditambah Bibi yang juga pamit ke pasar membeli keperluan dapur dan lainnya. Sepi.
Bukan hanya sepi, secara tiba-tiba suasana berubah mencekam. Awan mendung di langit menambah suram keadaan. Nadia merasakan hal aneh dalam hatinya, firasat buruk datang tanpa dapat ia cegah.
Berkali-kali pandangannya terlempar keluar jendela. Entah mengapa di kejauhan ia merasa sesuatu sedang mengawasi. Di sana, di dalam kabut tipis seolah-olah mata menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Nak, kamu kenapa? Sepertinya gelisah sekali?" tanya Ibu saat tak sengaja menangkap rasa gelisah di wajah sang menantu. Nadia menggigit bibirnya, pandanganya masih terarah pada jendela kaca tersebut.
"Bu, apa Ibu merasa ada yang aneh di sekitar kita? Aku gelisah, Bu," ucapnya terus terang. Ia meraih Zahira yang kala itu mendatanginya. Bayi itu pun menangis tanpa henti. Ia bisa merasakan apa yang ibunya rasakan. Hanya tak bisa menguraikan dengan kata-kata, tangisannya yang tiada henti itu yang mewakili perasaannya saat ini. Nadia sibuk menenangkan buah hatinya.
"Tidak. Ibu tidak merasakan apa-apa. Memangnya perasaan seperti apa yang kamu rasakan sekarang?" Ibu menelisik wajah gelisah sang menantu. Kulit dahinya yang keriput bertambah banyak kerutannya kala ia mengernyit.
"Seperti ... sedang diawasi. Aku merasa ada sesuatu di luar sana yang sedang mengawasi kita di sini, Bu. Jangan jauh-jauh dariku, Bu. Kita harus tetap bersama," ungkap Nadia. Kegelisahan sepertinya berubah menjadi ketakutan yang kian lama kian membesar dan memenuhi hatinya.
"Iya, rasanya sepi sekali. Tumben tidak ada tetangga juga yang lewat." Ibu baru menyadari keadaan. Dilihatnya suasana di luar rumah nampak lengang. Jangankan kendaraan, seorang tetangga pun tak ada. Mungkin karena cuaca yang sedang tidak bagus, menyebabkan mereka enggan keluar rumah.
Lihat saja awan di langit, hitam dan suram. Membuat dunia semakin mencekam. Ibu merapatkan duduk ke dekat Nadia. Menantunya itu mendekap putrinya erat yang terus saja menangis.
"Kamu coba hubungi Harits, beritahu dia keadaan kita sekarang!" titah Ibu yang mulai takut. Beruntung, ia membawa gawai. Rasanya beranjak sedikit saja membuat mereka akan celaka. Jadilah kedua wanita beda usia itu tetap duduk di sofa ruang keluarga.
Nadia menghubungi suaminya, beberapa kali tak diangkatnya. Ia mengetik pesan dengan gelisah. Memberitahu suaminya itu tentang suasana rumah mereka.
Tiba-tiba ....
Bugh!
Ibu terjatuh ke lantai. Belum sempat berteriak, sesuatu membekap mulutnya dan membuatnya tak sadarkan diri.
__ADS_1