Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ikatan Batin


__ADS_3

"Selamat pagi!" Paman Harits menyapa Nadia yang sedang berkutat dengan alat-alat di dapur. Wanita hamil itu menoleh, tersenyum menyambut kedatangan suaminya yang nampak segar dan cerah.


"Pagi, Mas!" Ia merangkul pinggang suaminya ketika lelaki itu sendiri merangkul miliknya. Kecupan selamat pagi diterima Nadia seperti biasa. Seolah lupa ada siapa saja di dapur, paman Harits tak segan mengecup bibir sang istri meskipun singkat.


Diam-diam Bibi melengos dari dapur. Pemandangan ini sering ia lihat, tapi tetap saja hal itu membuatnya malu.


"Sarapan apa hari ini?" tanyanya sembari melingkarkan tangan di perut sang istri. Nadia yang sudah kembali berbalik dan melanjutkan acara masaknya, tak pernah keberatan saat lelaki itu menggelayuti pundaknya dengan manja.


"Weekend, apa pun yang Mas pinta aku buatkan," katanya sambil tersenyum dan tangan yang sibuk bermain dengan alat masak.


"Mmm ... harum!" Satu kecupan di pipi ia layangkan saat hidungnya mengendus harum tumis bumbu.


"Tahu saja kalau Mas sedang ingin makan nasi goreng." Ia mengecup lagi pipi Nadia semakin bersemu kulit wajah istrinya itu.


"Iya, dong, Mas. Hati kita, 'kan, terpaut." Nadia terkekeh saat paman Harits menggesekkan hidungnya di leher yang tak ia tutupi hijab itu.


"Benarkah?" Tangannya yang melingkar di pinggang sang istri mengerat lembut. Disapunya perut buncit Nadia dengan halus.


"Hei, kenapa? Apa kamu cemburu aku bebas menciumi Ibumu? Haha ...." Konyol! Ia berbicara sendiri saat merasakan gerakan pada perut istrinya itu.


"Dia cemburu ... kalau dia sudah lahir nanti, kamu pasti akan sangat sibuk dengannya dan cuek padaku," rajuknya seperti anak kecil berbisik di telinga Nadia.


"Tergantung kebutuhan, Mas. Dia, 'kan, masih bayi perlu perhatian ekstra." Nadia meneruskan masaknya meskipun bayi besarnya terus menempel.


"Mas juga mau jadi bayi. Enak, bisa nempel terus sama Mamah," katanya. Nadia tertawa kegelian mendengarnya.


"Bayi, kok, berjenggot. Di mana ada bayi berjenggot," cibir Nadia menarik pelan janggut paman Harits yang kembali lebat.


"Tapi kamu suka, 'kan? Geli-geli gimana, gitu, ya!" Tersipu nadia dibuatnya. Sementara lelaki itu terus menggodanya dan sengaja menggesekkan janggutnya di pipi mulus sang istri.


Mereka tak pernah sadar, selalu ada berpasang-pasang mata yang menatap iri pada mereka. Menginginkan hal romantis yang sama dengan pasangan yang menikahi mereka nanti.


"Mas, lepas dulu! Aku mau angkat nasi gorengnya," pinta Nadia pada bayi besarnya yang melekat seperti dilem.


"Biar Mas yang mengangkatnya, kamu duduk di sana saja, my Queen!" kata lelaki itu sambil membantu Nadia duduk di kursinya.


Ia juga membantu Nadia melepas apron yang ia kenakan. Wanita itu tersenyum, ia memperhatikan suaminya yang mulai mengangkat penggorengan dan menghidangkan nasi goreng yang dibuat istrinya itu pada piring-piring yang telah siap sedia.

__ADS_1


Tak lupa telur mata sapi pun ikut meramaikan sarapan mereka pagi ini.


"Terima kasih, sayang," ucap Nadia saat paman Harits meletakkan nasi goreng di piringnya.


Wajah laki-laki itu mendekat, ia sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya. Nadia yang faham, mengecup pipi suaminya itu. Paman Harits meletakkan penggorengan di tempatnya, ia mengambil tempat duduk dan memulai sarapannya.


"Wah ... nasi goreng spesial, nih!" seru Winda dan Rima yang sengaja datang terlambat, padahal mereka mengintip.


"Iya, cepat sarapan. Mbak kalian yang masak pasti enak," sahut paman Harits yang begitu lahap dengan makanannya.


"Apa pun yang dibuat Mbak Nadia, sudah pasti enak." Kompak keduanya mengangkat jempol mereka.


Uhuk ... uhuk!


Nadia terbatuk hebat tiba-tiba. Paman Harits sigap menghampiri dan mengelus punggungnya.


"Hati-hati, sayang. Pelan-pelan saja makannya. Minum dulu!" Paman Harits memberikan gelas Nadia yang berisi air putih. Ia meneguknya sedikit dan terbatuk lagi. Perih rasa tenggorokannya bahkan ada nasi yang mampir ke lubang hidung dan hal itu tentu saja membuat rasa tidak nyaman.


"Ekhem!" Paman Harits masih membantu Nadia meredakan batuknya. Nadia kembali meneguk air setelah batuk yang tiba-tiba melandanya reda.


"Kenapa tiba-tiba batuk?" tanya paman Harits seraya duduk kembali di kursinya.


Nafisah!


Batinnya memanggil nama anak itu, secara tiba-tiba pula sosoknya melintas dalam pikiran.


Paman Harits menggenggam tangan Nadia yang tiba-tiba tercenung. Wanita itu menoleh sedikit pucat wajahnya mungkin karena kejadian tadi.


"Masih sakit? Wajah kamu pucat sekali," ungkap paman Harits cemas. Ia tersenyum dan menggeleng.


"Sudah lebih baik, Mas. Kita lanjutkan saja makannya, ya." Paman Harits ikut tersenyum dan melanjutkan makan. Begitu pun Winda dan Rima yang sempat terkesima saat Nadia batuk tadi.


"Ibu di mana, Mas?" Nadia melirik bangku Ibu yang kosong.


"Ibu ke rumah sebelah katanya ingin sarapan sama anak-anak di sana." Nadia mengangguk dan menyelesaikan sarapan mereka.


Winda dan Rima sigap membereskan bekas makan mereka. Keduanya pun mencuci alat-alat makan dan masak tak ingin hal itu dilakukan Nadia juga.

__ADS_1


"Mbak akan ke makam Mamah dan Papah, kalian mau ikut?" ucap Nadia sembari menoleh pada keduanya.


Baik Rima maupun Winda, mereka kompak berbalik dan mengangguk cepat.


"Mau, Mbak. Aku kangen Ibu."


"Aku juga." Winda dan Rima saling menyahuti ajakan Nadia.


"Ya sudah, setelah semuanya beres sebaiknya kalian siap-siap, kita berangkat pagi ini." Nadia beranjak setelah mengatakan itu. Ia merangkul lengan suaminya dan meninggalkan dapur menuju ruang tengah menunggu kedua adiknya.


Lagi-lagi jantung Nadia berdegup, dan setiap detaknya, batinnya selalu menyebut nama Nafisah. Ia memegangi dadanya dan sedikit meremasnya. Sesak bercampur sakit yang ia rasakan. Apa yang terjadi pada anak itu?


Nadia mengenakkan hijabnya, wajahnya kembali memucat. Ia menyandarkan kepala di bahu suaminya, mencari ketenangan dari sentuhan hangat kulitnya. Namun, tetap saja hatinya tak tenang dan gelisah saat bayangan gadis kecil itu melintas dalam benak.


"Ada apa?" Paman Harits merasakan kegelisahan Nadia. Ia mengusap kepala istrinya dan memberikan kecupan di atasnya, "apa masih memikirkan tentang mimpi kamu semalam?" tanyanya lagi melihat gelagat Nadia yang sama gelisahnya seperti tadi malam.


Ia bangun, dan menunduk. Lalu, mengangkat wajah menatap teduhnya manik sang suami.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku sedang merasakan gerakannya di dalam sini, kuat sekali. Coba, Mas rasakan!" Nadia mengambil tangan suaminya dan menempelkannya di atas perut.


Janin itu bergerak aktif, lebih aktif dari sebelumnya. Paman Harits menempelkan pipi di perut buncit tersebut, ia juga menciumnya lembut.


"Ada apa? Apa kamu juga merasakan kegelisahan Ibumu? Tenang, sayang! Tidak akan ada apa pun yang terjadi. Kamu tenang, ya. Anak Ayah yang baik!" Paman Harits kembali mengecup perut itu saat gerakan janinnya mulai normal.


Ia mengangkat wajah dan memandang Nadia. Tangannya ia letakkan di pipi istrinya, gurat gelisah tak dapat ia sembunyikan.


"Kamu tidak bisa membohongi Mas. Lihat, dia saja ikut merasa gelisah saat hati Ibunya tak tenang. Katakan, apa yang kamu rasakan?" ungkap lelaki itu dengan lembut.


Nadia memegangi tangan suaminya, ia dekatkan tangan itu pada bibirnya, dan mengecupnya lembut. Nadia meletakkan tangan paman Harits yang digenggamnya di pipi. Ia pejamkan matanya, merasakan hangatnya pertemuan kulit mereka.


"Aku tidak tahu, Mas. Setiap kali ingat nama Nafisah, setiap itu juga dadaku sesak. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada gadis kecil itu, Mas." Pada akhirnya ia tak dapat menyembunyikan apa pun dari suaminya itu.


"Kamu mau Mas mengirim orang untuk memeriksa keadaan mereka?" tanyanya dengan sebuah senyum yang terbit di bibirnya.


"Kalau Mas tidak keberatan, aku hanya ingin tenang," katanya. Paman Harits menarik kepala Nadia dan membenturkannya di dada.


"Baiklah, tenangkan dirimu. Mas akan meminta mereka melihat ke sana." Nadia mengangguk.

__ADS_1


"Ayo, Mbak!"


Paman Harits melepas pelukan saat Winda dan Rima datang. keduanya beranjak. Hari yang ditunggu Winda dan Rima. Mengunjungi Ibu dan Ayah yang tak pernah mereka tahu. Jangankan mereka, Nadia sendiri pun tak pernah tahu seperti apa sentuhan sang Papah.


__ADS_2