
Dua Minggu berlalu, paman Harits kembali pergi setelah memperingatkan wanita tua yang mengaku sebagai ibunya itu untuk tidak mengganggu Nadia. Ia juga menempatkan beberapa orang untuk selalu mengawasi gerak-gerik wanita tersebut.
Di depan cermin, Nadia mematut diri. Menatap pantulan bayangannya sendiri yang nampak cantik dan bersinar. Balutan kebaya modern berwarna putih, nampak indah dan elegan di tubuhnya yang sedikit berisi. Berkali-kali dadanya naik-turun menghela napas panjang mengurai gugup yang menyesakkan dada.
"Mamah ... seandainya Mamah masih di sini, aku tidak akan segugup ini. Padahal, ini kali kedua aku menikah, tapi rasanya seperti baru pertama akan menjalankan ritual sakral ini. Mamah, aku butuh Mamah sekarang." Nadia tertunduk, ia menangkup wajahnya sendiri.
Bahunya berguncang karena tangis kerinduan yang menyesakkan dada. Rindu sosok Sarah yang akan memberinya pelukan hangat kala ia dilanda cemas. Seperti saat ia akan menikah dengan Ikram, sosok Sarah memberinya ketenangan.
"Bunda!" Suara anak-anak asuhnya menghentikan laju tangis Nadia. Ia mengusap pelan-pelan air mata yang masih menggenang di sudut matanya, perlahan menoleh dan tersenyum melihat mereka semua ada di ambang pintu termasuk Ibu.
"Anak-anak Bunda!" katanya sembari merentangkan tangan meminta mereka datang dan memeluknya. Semuanya berlarian berhambur masuk ke dalam pelukan wanita itu. Ibu tersenyum haru melihat sosok cantik di sana. Ia melangkah perlahan mendekati.
"Bunda cantik sekali, seperti ratu di film-film India," celetuk salah satu anak. Matanya berbinar tanpa dusta. Nadia tersenyum, ia mengusap kepala anak itu sampai ke pipi dan berhenti di dagunya.
"Benarkah?" Ia mengangguk pasti.
"Benar, Bunda! Bunda cantik sekali! Saat aku dewasa nanti, aku juga ingin cantik seperti Bunda." Nadia berpaling pada seorang anak perempuan yang meletakkan kedua tangannya di dada. Menyimpan doa dalam hati.
"Aamiin ... kamu cantik, sayang. Kalian semua cantik, coba saja didandani seperti Bunda ... kalian pasti jauh lebih cantik dari pada Bunda," tutur Nadia sembari tersenyum.
Hatinya menghangat dengan hadirnya mereka semua, rasa gugup yang mendera berangsur hilang. Terutama saat ia merasakan sapuan lembut di kepalanya dari Ibu. Nadia menoleh ke samping tubuhnya, ia berhambur memeluk Ibu. Ingin menangis lagi, tapi ia tahan sekuat mungkin.
__ADS_1
Dia masih memiliki Ibu lainnya, Ibu pengasuh anak-anak yang memperlakukannya seperti anak sendiri.
"Terima kasih, Ibu, sudah memberi ketenangan untuk hatiku." Nadia semakin dalam membenamkan wajah di perut wanita hampir tua itu.
"Tenang saja, Nak. Ini bukan pertama kalinya kamu menikah. Hanya ingat saja semua pesan yang pernah Mbak Nadia terima. Ibu tidak perlu memberikan nasihat yang banyak karena Ibu yakin Mbak Nadia sudah belajar dari kejadian masa lalu." Nadia menganggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang dikatakan Ibu.
Ia melepas pelukan, mendongak menatap Ibu yang sedikit tinggi karena ia berdiri.
"Terima kasih, Ibu. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih telah menjaga anak-anak dan menyayangiku seperti anak Ibu sendiri," ungkap Nadia penuh haru.
Ibu mendekap erat Nadia, ia mencium ubun-ubun wanita itu lama sekali. Nadia memejamkan mata, merasakan kasih sayang yang serupa dengan yang disalurkan Sarah padanya.
"Bersiaplah! Tuan Harits dan rombongannya sudah datang, bapak penghulu dan semua saksi pun telah siap bahkan para tamu undangan sudah ada yang hadir ikut menyaksikan jalannya akad kalian. Ibu dan anak-anak akan menunggu di bawah, Winda dan Rima yang akan menjemput nanti." Ibu mengusap kedua bahu Nadia sebelum melepas pelukan.
Hatinya berdegup tatkala suara lantang yang mengucap kata 'sah' menggema hingga masuk ke kamarnya. Nadia memegangi bagian dadanya, menetralkan jantungnya yang berdentam-dentam. Ia menunduk, rona merah di pipinya muncul meski tersamarkan polesan make-up.
"Sah!" seru kedua wanita yang membuka pintu kamarnya tanpa pamit. Mereka terkekeh tatkala Nadia menoleh.
"Sudah sah, Mbak. Ayo, turun!" Winda dan Rima sigap berdiri di kanan dan kiri tubuh Nadia.
"Mbak gugup sekali," ucap Nadia gemetar. Ia belum beranjak dari duduknya meski kedua tangannya telah diangkat Winda dan Rima. Nadia memandangi kedua adik angkatnya itu, dia benar-benar terlihat gugup.
__ADS_1
"Ayo, Mbak. Kak Harist tidak sabar ingin melihat istrinya. Kakak pasti akan terpesona padanya ... kak Harits lebih tampan dari biasanya." Keduanya menggoda Nadia membuat wanita itu semakin gugup dan malu.
Pelan-pelan ia beranjak, Winda membenarkan ekor kebaya yang menjuntai panjang. Dengan diapit kedua adik angkatnya, Nadia melangkah perlahan. Ketukan langkah yang lembut membuat semua mata tertuju pada lantai dua rumah itu. Paman Harits bahkan tak berkedip melihat sosok istri yang ia dambakan.
Jakunnya naik-turun seiring ludah yang ia teguk dengan susah payah. Dadanya berdebar-debar kala netra keduanya bertemu dan Nadia tersenyum ke arahnya. Keringat bermunculan di dahi, ia begitu terpesona oleh sosoknya.
Nadia pun sama takjubnya, jambang yang dipeliharanya kini tak terlihat lagi. Rambutnya yang sedikit panjang dipangkasnya rapi. Peci hitam melekat kokoh di atas kepalanya menambah ketampanan rupanya. Tuxedo hitam yang dikenakannya, benar-benar membuat karismanya mencuat ke permukaan.
"Itu bukannya Mbak Naira? Jadi, Tuan Harits menikah dengan designer muda Naira?" pekik salah satu tamu undangan yang merupakan kolega bisnis paman Harits.
"Mereka cocok, tampan dan cantik. Sama-sama terkenal dan kaya tentunya." Yang lain menimpali, paman Harits diam-diam tersenyum. Bangga sendiri dapat meminang Nadia. Ia berdiri dengan kalung bunga yang menjuntai di dada. Menyambut kedatangan Nadia yang melangkah perlahan.
Nadia menyambut tangan kekar suaminya saat paman Harits menjulurkan ke arahnya. Ia menunduk malu, duduk di depan penghulu untuk mendengarkan paman Harits membacakan shighat taqlik.
Nadia mendengarkan dengan saksama sampai paman Harits selesai membacanya. Mereka berhadapan, sesuai arahan Nadia meraih tangan paman Harits dan mengecupnya. Doa pernikahan diucapkan laki-laki itu sembari memegangi ubun-ubun Nadia. Itu yang dia ingat dari yang diajarkan gurunya.
Paman Harits mencium dahi Nadia.
"Argh!" Nadia memekik ketika laki-laki itu memeluknya erat dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia bahkan membawa Nadia berputar mencipta keriuhan dari semua orang yang turut hadir di acara tersebut.
Winda dan Rima tak tertinggal mengabadikan momen tersebut di dalam ponsel mereka. Anak-anak bersorak, bertepuk tangan, dan melompat-lompat senang. Nadia menunduk dengan wajah yang semerah kepiting rebus, ia memandang paman Harits. Nadia melingkarkan tangan di leher laki-laki itu sambil tersenyum. Benar kata orang, wanita akan menjadi ratu dalam dekapan laki-laki yang benar-benar mencintainya.
__ADS_1
Serangkaian acara dijalani keduanya hingga tiba acara resepsi, Nadia dan paman Harits bagai Ratu dan Raja di istana. Cantik dan tampan mempesona.
"Bunda!"