
"Kamu yakin mau melakukan ini? Apa tidak berlebihan?" tanya Yuni setelah mendengar rencana Ain.
Ain menggeleng pasti. Tekad dalam dirinya sudah membulat.
"Aku sudah memikirkan ini, Yun. Kamu pikirkan saja dulu, ya," sahut Ain dengan pandangan putus asa menatap Yuni.
Wanita itu mendesah pasrah. Ia hanya mengangguk kecil meskipun ragu.
"Memangnya seperti apa, sih, kehidupan kamu awal menikah dengan Ikram? Kenapa kamu sampai mau melakukan itu?" tanya Yuni menatap heran sahabatnya yang berubah drastis semenjak menikah dengan Ikram.
"Kamu ingat Bang Jabrig? Mantan suami aku dulu?" ucap Ain bertanya pada Yuni.
Kening wanita itu terlipat berpikir tentang laki-laki yang bernama Jabrig.
"Oh, cinta pertama kamu itu, ya? Iya, aku ingat. Bukannya dulu kalian menikah karena sama-sama cinta, ya?" celetuk Yuni saat mengingat masa-masa remaja bersama Ain dulu.
"Kamu benar, semua ini berawal dari dia, Yun," ungkap Ain. Ia menatap Yuni dengan pandangan sendu. Seolah mengisyaratkan bagaimana hatinya saat ini.
"Kenapa bisa karena dia?" Yuni semakin bingung dibuatnya.
"Begini ...."
*****
(Side story' Ain)
"Ain, ayo balikan sama Abang. Abang masih cinta sama kamu, Abang mau balik lagi sama kamu, Ain. Ayolah, Ain. Ayo!" Bang Jabrig menarikku dengan paksa bahkan ia mencekal tanganku cukup kuat. Aku sampai meringis kesakitan karenanya.
__ADS_1
"Aku tidak mau, Bang! Aku tidak mau. Aku tidak mau balik lagi sama Abang. Jangan paksa aku!" teriakku yang berhasil mengundang perhatian warga di sekitar.
Melihat banyak orang yang berkerumun bang Jabrig melepas cekalannya dan menunjukku sambil mengancam, "Awas saja kamu, Ain. Abang tidak akan melepaskan kamu. Pokoknya Abang harus mendapatkan kamu lagi!" Ia berbalik dan pergi meninggalkan aku.
Tak sudi rasanya aku kembali padanya. Laki-laki yang tak memiliki perasaan. Laki-laki kasar dan temperamental. Suka main kasar bahkan tak segan memukulku kalau dia tidak senang.
"Maaf saja, Bang, tapi aku sudah punya pilihan laki-laki yang tepat untuk menggantikan kamu. Aku harus bisa mendapatkannya bagaimana pun caranya," gumamku sembari menatap penuh benci punggung laki-laki yang pernah menjadi suamiku itu.
Kuadukan kelakuan bang Jabrig pada Bapak juga Ibu.
"Pak, aku tidak mau kembali pada bang Jabrig. Dia jahat, Pak. Tolong Ain, Pak. Bukannya Bapak kenal sama Abah, Ain cinta sama anaknya, Pak. Ain cuma mau dia jadi suami Ain. Tolong, Pak. Ain tidak mau kembali sama bang Jabrig. Hanya Ikram yang bisa menolong Ain agar bang Jabrig tidak lagi mengganggu," rengekku di kaki Bapak.
Kubenamkan wajah di lututnya. Menangis tersedu berharap Bapak akan mengabulkan permohonan putrinya ini.
"Pak, kasihan Ain. Jabrig itu jahat, suka main pukul. Bapak juga sering lihat, 'kan, badan anak kita ini suka lebam-lebam biru. Kenapa tidak dicoba saja berbicara dengan Abah, siapa tahu Abah setuju. Ibu lihat Ikram tidak pernah dekat dengan wanita mana pun," timpal Ibu membelaku.
Terdengar helaan napas dari Bapak, sepertinya ia menyerah pada tekad putrinya ini. Yah ... bagaimana tidak? Hampir setiap hari aku merengek pada Bapak agar dinikahkan dengan Ikram. Aku benar-benar tergila-gila pada pemuda itu. Aku tidak ingin wanita lain mendahului aku dalam mendapatkannya. Harus aku yang menjadi istrinya.
Akhirnya Bapak setuju untuk membicarakan masalah aku dan Ikram. Setelah lama menunggu, pada akhirnya pernikahan yang kunantikan datang jua. Aku menikah dengan Ikram, dan bang Jabrig tidak bisa lagi menggangguku.
"Ain, kamu harus sedikit bersabar menghadapi sikap Ikram. Dia tidak pernah mengenal perempuan bahkan ibunya saja dia hanya melihatnya lewat foto. Sabar, ya, Nak," pesan Abah pada saat malam pertama kami.
Benar, Ikram terkesan kaku dan dingin. Seperti inikah laki-laki perjaka yang murni? Aku merasa sangat beruntung mendapatkan keperjakaan Ikram. Satu malam, dua malam, tiga malam terlewati tanpa sentuhan. Ikram belum menyentuhku lebih dari sekedar bersalaman.
Sampai suatu saat Abah sakit, dan meminta Ikram untuk segera memiliki anak. Terjadilah malam pertama yang kuinginkan. Ikram menyentuhku walau hanya sekedarnya saja. Aku sadar aku hanyalah seorang janda meskipun tanpa anak. Sudah tidak lagi gadis tentunya dan aku memaklumi Ikram jika ia tidak merasa puas. Namun, bagaimana pun Ikram saat ini adalah suamiku tidak boleh ada yang merebutnya dariku.
Hari-hari yang kulalui selalu dipenuhi rasa takut akan kehilangan Ikram. Dia yang menikah tanpa cinta denganku meskipun kami telah dikarunia tiga orang anak. Ada banyak jamaah pengajian wanita yang melirik Ikram penuh hasrat. Namun, yang aku bangga darinya dia tak acuh dan selalu membanggakan aku sebagai istrinya. Dia bahkan tidak pernah melirik wanita mana pun selain aku. Aku bangga menjadi istirnya. Menjadi ratu dalam hati suamiku itu.
__ADS_1
Pelan-pelan ketakutanku mulai memudar. Aku meyakinkan hatiku bahwa Ikram tidak akan berpaling pada wanita lain. Aku lalai, aku hanyut terbuai kesenangan yang membuatku buta akan rasa.
Sampai pada waktu itu, di mana Ikram meminta izinku untuk menikahi gadis lainnya. Dia mengaku bahwa dia mencintainya. Hancur hatiku, kupikir Ikram sudah benar-benar mencintaiku. Kupikir Ikram tak akan pernah mencintai wanita lain.
Gadis itu ... aku membencinya. Apakah gadis itu adalah cinta pertama Ikram? Bagaimana dengan nasibku? Aku tidak boleh kalah. Ikram memaksa padaku agar aku mengizinkannya menikahi gadis itu. Terpaksa aku setuju dengan syarat yang menurutku berat dan mereka tak akan mampu menerimanya.
Namun nyatanya, maduku itu dapat menerima semua syarat yang aku ajukan. Ia bahkan menurut pada semua aturan yang kubuat. Padahal, yang aku inginkan adalah dia menyerah dan memilih pergi dari hidup Ikram agar aku tetap menjadi ratu dalam hati laki-laki penuh pesona itu.
Tetap saja, Nadia namanya. Wanita itu menerima semuanya dengan rela. Ia selalu tersenyum meski hidup di bawah tekananku. Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya?
Dia cantik, pintar, dan kaya, tapi kenapa mau menjadi istri kedua? Apa tidak ada laki-laki lain lagi selain suami aku? Aku membencinya, benar-benar membencinya.
Bertahun berlalu, kupikir Nadia akan hamil setelah melewati hari-hari bersama Ikram. Nyatanya, lima tahun berlalu ia tak kunjung hamil. Aku senang. Aku senang melihatnya terpuruk. Namun, lagi-lagi senyum itu sangat menggangguku.
Kenapa dia seolah tidak merasakan rasa sakit di hati? Kenapa dia seolah selalu bahagia dalam hidupnya? Padahal, seharusnya dia terpuruk dan sedih karena belum menjadi wanita sempurna sepertiku.
Aku ingin menguasai Ikram, tak ingin laki-laki itu pergi ke rumahnya. Tak ingin membayangkan dia bercinta dengan maduku. Apa Ikram benar-benar mencintainya? Tapi dia selalu menuruti inginku.
Bodohnya aku pernah membiarkan wanita itu mendatangi rumahku. Aku sendiri tidak sudi menginjakkan kakiku di rumah yang disiapkan Ikram untuknya. Anak-anak, hampir aku jauh dari mereka karena kebodohanku.
Pada akhirnya aku meminta Nadia untuk mundur dan mengalah. Lagi-lagi sikap relanya membuatku tak mengerti seperti apa prinsip hidup yang dipegangnya. Dia bahkan memintaku berbicara pada Ikram untuk melepaskannya. Bagaimana mungkin aku bisa? Aku hanya ingin dia merasakan kesakitan yang aku rasakan.
******
Ain mendesah usai bercerita panjang lebar pada Yuni.
"Sekarang kamu tahu bagaimana perasaanku, bukan? Aku tidak ingin kehilangan Ikram," ucapnya sembari menatap Yuni dalam. Wanita itu mengangguk mengerti dan memeluk Ain.
__ADS_1
"Akan aku pertimbangkan."