Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Gadis di Pemakaman


__ADS_3

Seorang gadis berjalan sendirian di area pemakaman umum. Di tangannya dua ikat bunga segar dan cantik. Pakaiannya serba hitam hingga kerudung yang ia kenakan pun senada dengan warna bajunya.


Senyum tersemat di bibirnya sepanjang perjalanan menuju dua buah makam yang rutin ia kunjungi. Langkahnya terhenti di antara dua makam tersebut. Tanpa membuka masker, ia menyapa keduanya.


"Assalamu'alaikum, Ayah, Ibu. Aku datang lagi. Tak pernah bosan aku berkunjung dan pasti membawa cerita untuk kalian." Ia berjongkok, meletakkan bunga yang dibawanya di atas pusara mereka.


Tangannya merogoh ke dalam tas, sebotol air mineral ia tuangkan di sepanjang tempat peristirahatan terakhir mereka. Ia meletakkan botol tersebut di antara pusara keduanya. Mengusap batu nisan mereka dan menciuminya.


"Apa sekarang Ayah dan Ibu sudah bahagia? Kalian harus tenang di tempat kalian karena Mbak Nadia di sini sudah bahagia. Ia memiliki suami yang amat menyayanginya, menjaganya, dan pastinya melimpahinya dengan seluruh cinta yang dia miliki."


Kedua netranya mengembun. Ia menjatuhkan kepala pada batu nisan yang dipanggilnya Ibu itu. Mengusapnya, menumpahkan kerinduan yang teramat akan kehadiran sosoknya.


"Apa Ibu tahu? Mbak Nadia sekarang sudah memiliki anak, seorang gadis kecil yang cantik. Ibu pernah melihatnya, bukan? Mbak Nadia selalu membawanya saat berkunjung ke rumah Ibu dan Ayah ini." Menetes air matanya hingga terjatuh di batu nisan tersebut.


Ia mengangkat kembali kepala, disapunya air yang terus menderas dari matanya. Bibirnya tersenyum, teringat akan masa-masa indah saat bersamanya dulu.


"Maafkan aku, Ibu. Maaf karena aku tidak mendengar laranganmu. Maafkan aku." Menangis sesenggukan. Wajahnya menunduk dalam-dalam, tangannya sibuk menyeka air yang terus-menerus berjatuhan di pipinya.


"Dulu Ibu melarangku memberikannya pada Mbak Nadia. Padahal, aku ingin hidup Mbak Nadia normal kembali seperti wanita-wanita lainnya yang bisa membahagiakan suami dengan memberikan keturunan untuk melengkapi kehidupan mereka." Ia memberingsut cairan yang keluar dari hidungnya.


Wajahnya menengadah menatap hamparan langit biru yang tak berujung. Menahan air matanya agar tidak terjatuh. Tersedu sedan menangis, kembali menunduk mencengkeram batu nisan ibunya.


"Aku merasa bersalah saat melihat Mbak Nadia sekarat. Aku sudah kehilangan Ibu, aku tidak mau lagi kehilangan Kakak. Maafkan aku Ibu, aku hanya ingin Mbak Nadia hidup lebih lama meskipun hanya dengan satu ginjal. Tolong jangan marah padaku Ibu karena aku melanggar janjiku pada Ibu."


Gadis itu sesenggukan, ia menjatuhkan dahi di atas batu nisan tersebut. Menangis meluapkan segala emosi dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku berjanji pada Ibu, akan hidup dengan baik walaupun hanya dengan sisa ginjal di tubuhku. Asal Ibu tahu, aku tidak menyesal melakukannya. Aku benar-benar tidak menyesal telah memberikan satu ginjalku untuk Mbak Nadia karena pada akhirnya, Mbak Nadia dapat hidup dengan baik dan bisa menjadi wanita yang sempurna."


Ia tersenyum lagi, kedua tangannya bergantian mengusap air di pipi. Wajahnya berubah ceria, senyum yang tersemat menyiratkan kebahagiaan.


"Apa Ibu tahu? Mereka bahkan sudah berencana memberikan adik untuk Zahira. Mereka memang tidak sabaran." Ia terkekeh membayangkan Zahira yang masih balita itu memiliki adik.


Tanpa ia sadari dua pasang mata tengah mengawasinya. Mereka bersembunyi di balik sebuah pohon kamboja yang tumbuh rindang di pemakaman tersebut.


Wanita yang mengintip, tak lain adalah Nadia itu, menangis sesenggukan sambil membenamkan wajah pada dada bidang suaminya. Ia memukul-mukul dada tersebut merasa kesal pada dirinya sendiri.


"Kenapa dia melakukan itu, Mas? Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia bodoh sekali memberikan hidupnya untukku, Mas?" Tangis Nadia pecah. Ia mencengkeram kemeja suaminya dengan kuat.


"Aku harus ke sana, aku mau ke sana!"


"Kamu mau ke mana, sayang?" Paman Harits menciumi kepalanya. Menahan dirinya agar tidak pergi menemui gadis itu.


"Aku mau menemui dia, Mas. Aku mau mengembalikan punya dia. Ini punya dia Mas!" seru Nadia menunjuk bagian perut di mana ginjal wanita tersebut tertanam.


Nadia meronta dalam pelukan suaminya, tak ingin membuat gaduh, paman Harits membawanya kembali ke mobil. Ia urungkan mengunjungi makam kedua mertuanya karena Nadia tak bisa tenang dan Zahira mulai menangis.


Nadia meraung di dalam mobil, ia berteriak meminta keluar.


"Sayang, apa kamu mau trauma Zahira kembali?" Kalimat tanya dari suaminya seketika membuatnya terdiam. Tangis Zahira menguat, ia yang trauma suara-suara keras terus menangis menjerit-jerit.


"Lihat! Dia menangis karena kamu berteriak di dekatnya. Putri kita baru saja sembuh. Seharusnya kamu bisa menahan diri untuk tidak berteriak sekuat itu apa lagi dekat Zahira. Selain mengganggu, yang kamu lakukan itu pastinya akan mengundang orang banyak. Tenangkan dirimu, kita bicarakan ini di rumah," ucap paman Harits dengan pelan.

__ADS_1


Ia mengambil Zahira dari gendongan Ibunya, menimangnya sambil mengoceh ini dan itu. Menunjukkan apa saja yang menurutnya menarik untuk dilihat. Namun, tangis bayi itu tak kunjung mereda. Ia gelisah, menoleh ke kanan dan kiri dengan pipinya yang telah basah oleh air mata bercampur keringat.


Nadia menyesal, ia menutup wajahnya sebelum mengambil Zahira kembali. Menimangnya dan menenangkan bayi itu. Dibantu paman Harits Zahira berangsur-angsur meredakan tangisnya.


"Sebaiknya kita pulang saja. Kamu bisa membicarakan soal ini di rumah saja. Tidak di sini." Nadia mengangguk lemah, ia pasrah dan menurut meskipun sangat ingin menemui gadis di pemakaman tersebut.


Mobil paman Harits mundur dan berlalu meninggalkan area pemakaman dengan


sejuta perasaan yang tercampur aduk dan sulit diterima hatinya. Nadia menatap ke luar jendela, gadis itu masih di sana. Terduduk memeluk batu nisan Ibunya.


Sentuhan paman Harits di tangannya membuat Nadia memalingkan wajah dari jendela. Ia melirik suaminya, lelaki itu menganggukkan kepala. Tangannya menggenggam jemari Nadia sepanjang perjalanan pulang ke rumah.


Sementara di pemakaman itu, gadis yang membuat Nadia meronta-ronta itu masih berjongkok di antara dua makam tersebut. Kepalanya menegak, ia tersenyum. Mengusap kedua nisan itu bergantian sebelum berdiri.


"Ayah, Ibu. Aku pamit, Minggu depan aku datang lagi akan aku ceritakan bagaimana lincahnya cucu kalian. Doakan kami di sini, Bu, Ayah. Semoga kami bisa berguna untuk Mbak Nadia juga untuk diri kami sendiri."


Ia memejamkan mata dengan kedua tangan menengadah di dada, bibirnya komat-kamit membaca doa. Beberapa saat saja, ia membuka matanya lagi dan mengusapkan tangan pada wajah sebelum berpamitan.


"Assalamu'alaikum!"


Kedua kakinya berbalik, ia tertegun mendapati seseorang berdiri di belakangnya tepat. Gadis itu meneguk saliva susah payah, gugup. Seperti seorang pencuri yang kedapatan sedang mencuri sesuatu di pasar.


"A-apa?" Bertanya terbata, bola matanya bergerak gelisah. Ketakutan, kekhawatiran jelas nampak di maniknya yang berwarna cokelat.


"Kenapa kamu melakukan itu?"

__ADS_1


__ADS_2