Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ruby Muak


__ADS_3

Ruby kembali bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit. Ia hanya sedang menunggu Winda datang menjemput. Mereka bertiga duduk di teras rumah Nadia. Pintu yayasan benar-benar terkunci rapat.


"Di mana kedua Kakak yang di yayasan?" tanya Ruby heran karena sejak kedatangannya ia tak lagi melihat dua orang itu.


"Mereka tidak pulang, Kak. Menginap di toko," jawab Bilal sembari memeluk lutut dan meletakan dagu di atasnya. Sementara Nafisah menyandarkan kepalanya di tubuh Ruby.


Mereka tersentak saat mendengar suara tinggi Ain yang membentak Ikram. Ruby beranjak diikuti Bilal, untuk melihat apa yang terjadi. Namun, tetap tidak meninggalkan tempat duduk mereka.


"Umi dan Abi selalu bertengkar setiap hari. Tidak, hanya Umi saja. Abi tidak pernah membalas bentakan Umi," lapor Bilal yang membuat hati Ruby meringis.


"Apa mereka lupa kalau ada anak-anaknya di sini yang mendengar?" gumam Ruby seraya beranjak mendekati rumahnya.


"Lagi-lagi soal Nadia, dia sudah pergi, Bi. Ini sudah tiga hari dan dia belum kembali juga. Kenapa Abi masih membahasnya? Dia itu tidak mencintai Abi, kenapa Abi dibutakan oleh rasa cinta Abi itu?" ucap Ain dengan suara tertahan.


"Karena mbak Nadia itu masih istri suami kita. Dia masih tanggung jawab Mas Ikram. Sama seperti kita," sahut Yuni yang lelah mendengar keegoisan Ain yang ingin menguasai Ikram sendirian.


"Diam kamu! Aku tidak suka kamu ikut campur masalah ini," ketus Ain yang membuat Yuni seketika berbalik bersama bayinya meninggalkan mereka.


"Abi masih mau mencarinya? Aku yakin dia sudah pergi dengan laki-laki lain mengingat seperti apa dia dulunya, gadis nakal dan-"


"Ain! Hentikan kebiasaan kamu berbicara buruk tentang orang lain! Nadia adalah istriku, dia tanggung jawabku. Seharusnya kamu itu berpikir selama ini siapa yang telah menghidupi kamu, membiayai semua kebutuhan kamu bahkan anak-anak. Aku lelah menghadapi sikap kamu yang egois, Ain. Aku benar-benar lelah," bentak Ikram yang berakhir pelan di ujung kata.


Ia yang berdiri segera duduk dan mengusap wajahnya. Ikram benar-benar lelah dibuatnya. Ain menganga tak percaya, bukan hanya suara bentakan Ikram yang membuatnya terhenyak, tapi juga panggilannya itu tadi yang membuat Ain tak percaya.

__ADS_1


"Bi!" lirihnya pelan. Suaranya terdengar bergetar begitu lisannya memanggil nama itu. Air matanya menetes tak tertahan, merasa jauh dengan sosok Ikram saat panggilan Umi tak lagi ia ucapkan.


Mereka tidak tahu saja, bahwa Ruby sedang menguping di luar rumah. Remaja itu menangis mendengar perdebatan kedua orang tuanya yang selalu soal Nadia.


"Bahkan sekarang Abi pun mulai menjauh dari Umi. Abi sudah tak lagi menginginkan Umi, kenapa, Bi? Kenapa semenjak Nadia masuk dalam kehidupan kita, Abi berubah sikap terhadap Umi? Dan sekarang ...." Ain tak kuasa melanjutkan kalimatnya, ia menangis tergugu menjatuhkan diri di kursi sambil menutupi wajahnya.


"Abi bisa berbuat tega seperti ini pada Umi? Padahal, selama lima belas tahun ini Umi mengabdikan diri pada suami tanpa banyak menuntut tanpa meminta ini dan itu. Apa Abi tidak melihat semua itu? Kenapa hanya Nadia yang Abi pikirkan? Apa Abi tidak pernah memikirkan perasaan Umi?" sentak Ain menangis histeris yang membuat Ikram semakin frustasi karenanya.


"Sebenarnya bukan Abi yang berubah, tapi Umi. Sejak Nadia hadir, Abi tidak lagi mengenal sosok Umi yang lembut dan perhatian. Abi bahkan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Umi dari pada Nadia, tapi Umi terus-menerus menekan Nadia agar ia ikut merasakan sakit hati Umi. Umi sudah jauh dari syari'at, Umi melupakan agama dan jauh dari Allah. Seandainya Umi bisa menerima-"


"Tidak ada wanita yang rela dimadu, Abi! Tidak ada. Yang ada hatinya akan selalu tersiksa setiap membayangkan apa yang dilakukan suami dan madunya. Itu yang Umi rasakan. Setiap kali membayangkan Abi bersama Nadia, setiap kali itu hati Umi terasa dicabik-cabik. Sakit tak terkira. Abi tak akan tahu bagaimana rasanya," tukas Ain dengan cepat sebelum Ikram mengakhiri ucapannya.


Ikram menelisik, wajah yang dulu selalu terlihat damai kini selalu membuat hatinya memanas setiap kali memandang. Seandainya saja ia tak ingat pesan Nadia, mungkin sudah diceraikannya Ain.


Ikram menarik napas panjang saat teringat pesan Nadia itu. Membuangnya juga dengan pelan sebelum kembali menjatuhkan pandangan pada istri pertamanya itu.


"Abi tahu Umi sakit hati, tapi apa Umi pernah berpikir Nadia juga sakit hati dengan peraturan yang tidak masuk akal dari Umi. Dia juga sakit hati saat Umi mendapatkan waktu lebih banyak dari pada dia yang cuma tiga hari dalam sebulan, tapi Nadia pandai mengobatinya, ia tidak berlarut-larut dalam rasa sakit yang dia derita. Seharusnya Umi juga bisa melakukan itu, menerima dengan ikhlas atau menolak secara tegas kalau Umi tidak mau dimadu. Akhirnya rumah tangga kita sendiri yang berantakan-"


"Nadia pergi karena hatinya terlalu sakit oleh kata-kata Umi. Lisan yang dulu selalu menyebut nama Allah, kini selalu berkata buruk. Nadia masih istri Abi, Abi harus bertanggungjawab atas hidupnya. Tolong Umi mengerti itu!" ungkap Ikram dengan nada naik turun yang ia keluarkan.


"Kenapa Abi selalu menyalahkan Umi? Nadia yang pergi sendiri, Umi tidak mengusirnya," sahut Ain masih tidak terima disalahkan.


Ruby menggeram bersamaan dengan Ikram.

__ADS_1


"Bukan masalah mengusir, tapi kata-kata yang Umi ucapkan itu yang membuatnya terpukul dan lebih memilih pergi." Ikram bersabar.


"Mungkin dia sudah tidak ingin jadi istri Abi lagi. Ya sudahlah, Bi. Lepaskan saja Nadia, dia juga tidak bisa punya anak, 'kan-"


"Ain!"


Ikram naik pitam, ia sampai berdiri dengan wajahnya yang menghitam.


"Bagaimana kalau ada orang yang mengatakan itu padamu! Kata-kata yang kamu ucapkan untuk orang lain itu alangkah lebih baiknya kamu ucapkan pada diri kamu sendiri dulu. Apakah hati kamu akan sakit saat mengatakan itu, apakah kamu bisa menerima orang lain berkata seperti itu terhadapmu. Kecuali hati kamu sudah mati," ucap Ikram dengan dada naik-turun karena luapan emosi.


Ain pun meradang, ia ikut bangkit dari duduk dan menantang Ikram.


"Ya ... hati Umi memang sudah mati sejak kedatangan istri kedua Abi itu. Hatiku sudah mati-"


"Bisakah kalian berhenti bertengkar? Bisakah kalian tidak selalu tarik urat? Bisakah kalian berdamai? Apa kalian sudah tidak punya rasa malu? Kalian bertengkar tanpa memerhatikan sekitar. Kalian berdebat soal Bunda tanpa memikirkan akibatnya. Kalian selalu merasa paling benar sendiri seolah-olah tidak punya agama sebagai sandaran. Seharusnya kalian malu, lihat para santri di sana ikut mendengar suara kalian yang kekanakan-"


"Aku tidak mengerti, kenapa Abi begitu lemah. Aku tidak habis pikir, kenapa Umi bisa bersikap angkuh dan egois seperti ini. Aku seperti tidak mengenal lagi kedua orang tuaku. Apa kalian pernah memikirkan perasaan kami sebagai anak? Kalian pernah memikirkan para santri yang kalian ayomi? Kalian pernah memikirkan makan dan biaya pendidikan anak-anak di yayasan? Tidak pernah! Kalian egois. Hanya memikirkan perasaan masing-masing saja tanpa mau melihat sekitarnya."


Kalimat panjang Ruby yang terjeda sejenak, membuat dua orang itu termangu. Mereka sama-sama menatap putri sulung mereka yang baru terlihat hari itu.


Ruby tak lagi menangis, ia menatap iba kedua orang tua yang tak pernah lagi memperhatikan dirinya dan kedua adiknya.


"Bunda pergi dan kalian berdebat di sini. Memalukan! Lihatlah keluar, para santri kalian itu bahkan sedang mendengarkan dongeng kalian."

__ADS_1


Ruby berbalik setelah mengatakan itu, ia berharap keduanya akan merenungi semua itu dan sadar dari kesalahan.


__ADS_2