
Selama beberapa hari Ikram berdiam di rumah Nadia karena di sana ia bisa menemukan ketenangan hati. Sikap Nadia yang legowo menerima dengan rela semua yang terjadi padanya, membuat Ikram nyaman berada di sisinya. Pelayanan yang maksimal, suguhan dengan senyuman, kehangatan dalam dekapan, semua itulah yang dibutuhkan Ikram.
Pagi itu, ia melewati gerbang yayasan hendak mengajar ke pondok. Berpapasan dengan Ruby yang keluar dari gerbang pondok mau mengantar Nadia ke Rumah Sakit.
"Ruby, Mau ke mana?" tanya Ikram saat Ruby menyalaminya di jalan.
"Mau antar Bunda, Bi. Biasa belajar di pabrik bersama Bunda," jawabnya dengan senyum meyakinkan agar Ikram tak curiga padanya.
Ikram membelai rambut Ruby yang tertutupi hijab dengan lembut. Ia tersenyum menatapnya dan mengangguk.
"Hati-hati!" ingatnya seraya kembali melanjutkan langkah menuju gerbang pondok.
Ruby pun ikut berjalan menuju rumah hendak berganti pakaian. Ain yang mendengar suara Ikram bergegas keluar rumah. Ia berlari menghampiri suaminya, lantas memapak langkah Ikram.
"Tunggu, Bi!" cegah Ain berdiri di depan Ikram dengan napas tersengal karena emosi juga karena berlari.
"Ada apa, Mi? Abi mau mengisi pelajaran," sahut Ikram dengan pandangan memelas pada Ain.
"Kenapa Abi seolah menghindar? Abi bahkan tidak ada pulang ke rumah, malah menghabiskan waktu bersama Nadia saja. Umi juga butuh Abi bukan cuma dia. Yuni juga, dia istri baru Abi, tapi Abi belum menyentuhnya. Kenapa, Bi?" serang Ain dengan emosi yang meluap-luap.
Ikram mendesah, ia tatap manik istri pertamanya itu dengan dalam. Ada kebencian dalam pancaran iris coklat milik Ain. Entah ditujukan pada siapa.
"Pelankan suara Umi. Malu bila sampai ada yang mendengar-"
"Malu? Biar saja malu. Biar semua orang tahu bagaimana kelakuan Abi yang sebenarnya?" tukas Ain menghardik Ikram dengan berani. Sungguh Ain telah berubah karena dendamnya.
"Astaghfirullah! Abi sedang menjaga kehormatan Umi sebagai wanita sekaligus istri Abi. Umi adalah Ibu mereka, tidak pantas rasanya bersikap keras seperti ini. Sikap Umi yang seperti ini hanya akan mempermalukan diri Umi sendiri. Tenanglah, Mi-"
"Masalah Yuni, bukan Abi yang ingin menikah dengannya, tapi Umi yang memaksa Abi untuk menikahinya. Abi sudah melakukan apa yang Umi pinta, sekarang tolong ... Abi hanya butuh waktu untuk menenangkan diri," lanjut Ikram tetap dengan nada rendah dan lembut.
__ADS_1
Ia kembali melanjutkan langkah memasuki gerbang pondok. Ain berbalik memandangi punggung Ikram yang menjauh tanpa terlihat akan menoleh. Tanpa mereka ketahui, beberapa santri yang berada di dalam masjid sedikit banyaknya menguping pembicaraan mereka.
Ain mendengus kesal, ia menghentakkan langkah meninggalkan jalan tersebut masuk kembali ke rumahnya.
Sementara di dalam rumah, Yuni sedang asik duduk di ruang tengah sembari membuka-buka majalah dengan kaki yang terangkat di atas meja. Ruby mendelik melihatnya. Istri ketiga abinya sungguh berbeda akhlak dengan Nadia.
"Jika berada di rumah orang hendaklah bersikap baik dan hargai tuan rumah." Sindiran pedas yang dilayangkan Ruby untuk Yuni membuat wanita itu tersentak.
Pelan-pelan ia menurunkan kakinya sembari melirik Ruby yang sama sekali tak melihat ke arahnya. Anak itu masuk ke dalam kamar tanpa berminat menyapa ibu tirinya itu.
"Masih kecil saja sudah sepedas itu mulut kamu. Bagaimana kalau sudah besar nanti," gerutu Yuni sembari mencibirkan bibir.
Ain yang kesal membanting tubuh di sofa. Yuni mengernyit heran.
"Kamu kenapa? Ngomong-ngomong kenapa Ikram tidak pulang-pulang ke rumah, sih? Kenapa aku dianggurin kaya gini?" sungut Yuni tidak terima sejak ia menikah, Ikram sama sekali belum menyentuhnya.
Ain mendelik, jangankan dia yang baru. Dirinya saja yang sudah lama, Ikram bahkan tak meliriknya setelah pernikahan ketiganya. Sial memang, tapi benar apa yang diucapkan Ikram. Pernikahan itu bukan inginnya, tapi ingin Ain.
"Ain, anak sulung kamu sepertinya sudah diracuni oleh wanita itu. Dia tadi berani menyindirku dengan tidak sopan. Itu karena dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama madu kamu itu," lapor Yuni bersungut-sungut masih tidak bisa menerima sikap Ruby terhadapnya.
"Bunda tidak seperti itu. Bunda tidak pernah mengajari aku hal-hal buruk. Jangan pernah berbicara buruk tentang Bunda, jangan pernah!"
Ruby yang kebetulan mendengar saat ia hendak keluar memicingkan mata pada Yuni. Wajahnya sangar menantang. Ia tidak suka Yuni mengadu domba Ain dengan Nadia. Tidak diadu domba saja, Ain selalu menabuh genderang perang terhadap Nadia. Jika saja Nadia tidak selalu mengalah, maka sudah pasti pertengkaran akan terjadi setiap harinya.
Ia mendengus melayangkan tatapan mengancam pada ular betina yang disimpan Ain di rumahnya sendiri. Yuni membelalak, anak sekecil itu berani mengancamnya. Dalam hati ia menggeram.
"Ruby, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Ain setelah beberapa saat terpana oleh keberanian putri sulungnya itu.
Ruby menghentikan langkah di ambang pintu, ia menoleh pada Ain dan kembali mendekat.
__ADS_1
"Ruby mau antar Bunda, Mi." Ia menyalami Ain, tapi tidak pada Yuni meskipun wanita itu menyodorkan tangannya meminta disalami.
Ain tak dapat mencegah karena Ruby pasti akan bersikap keras padanya, dan memang selalu seperti itu. Ia sibuk memikirkan cara bagaimana membujuk Ikram agar pulang ke rumah. Ruby meninggalkan rumah menghampiri Nadia yang menunggu di dekat pos mang Sarif.
Nadia tersenyum tatkala melihat anak sambungnya itu datang. Mobil pesanan mereka telah tiba sedari tadi. Keduanya pergi tanpa membawa luka dan kesedihan.
"Kamu lihat, 'kan? Pertama-tama Ikram lalu anak-anakmu juga akan dikuasai olehnya, Ain. Apa kamu akan membiarkan begitu saja?" Yuni mulai memanas-manasi Ain yang sudah kesal sedari tadi.
Ia terhenyak mendengar ucapan Yuni barusan.
"Kamu benar, ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus berhasil membuat Ikram menjauh darinya," sahut Ain pula sudah terbakar rasanya.
Ain sibuk dengan pikirannya. Yuni pun sibuk dengan pikirannya. Kedua-duanya sama-sama mencari cara bagaimana menjauhkan Ikram dari Nadia. Dia memang terlihat lemah, tapi licik. Begitulah pemikiran Ain dan Yuni tentang Nadia.
Sementara orang yang mereka singgung, sama sekali tidak berpikir picik seperti yang mereka sangka.
Kini, Ruby tahu bagaimana proses cuci darah dilakukan dan durasi waktunya. Dokter mengizinkannya berada di ruangan untuk menemani Nadia. Berbincang demi mengusir rasa bosan yang kerap datang saat ia menjalani itu semua.
"Bunda, apakah harus selalu seperti ini?" tanya Ruby di sela-sela obrolan mereka.
Nadia tersenyum dari tempatnya berbaring.
"Mau bagaimana lagi? Kalau Bunda ingin hidup normal, maka harus ada pendonor yang rela memberikan ginjalnya untuk Bunda. Sedangkan pendonor sangat sulit ditemukan. Siapa yang mau membagi organ berharga dalam tubuhnya untuk orang lain. Dan kalau Bunda ingin tetap hidup, maka Bunda harus melakukan ini secara rutin," jawab Nadia dengan nada tegar hingga rasa sedihnya tak nampak sama sekali.
Ruby berkaca mendengarnya, bibirnya berkedut hendak menangis.
"Hei! Ingat, kamu sudah berjanji pada Bunda tidak akan menangis dengan kondisi ini. Jangan menangis!" cegah Nadia kala air yang menggenang di pelupuk mata Ruby hampir jatuh membahasi pipi.
Ruby mengusap sudut matanya. Ia menggeleng.
__ADS_1
"Aku tidak menangis. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak menangis, Bunda," ucapnya berulang-ulang. Nadia tersenyum.
Bunda, bagaimana Bunda bisa setegar ini dengan penyakit yang terus menggerogoti kesehatan Bunda. Aku tidak bisa membayangkan jika saja itu aku.