
Ikram hanya bisa menatap punggung putranya yang kian menjauh dan menghilang di belokan rumah Nadia. Entahlah, padahal rumah itu terkunci. Biar saja, dia pasti akan kembali ke rumah.
Ia segera berbalik mendekati mobil paman Harits. Ikram melongo ke dalam mobil melalui jendela. Mencari satu sosok yang dari kemarin ingin ia jumpai.
Di posisi Ain, wanita itu memeluk kedua anaknya. Ruby, meskipun tak membalas, dan Nafisah yang justru memeluk ibunya. Ia hanyalah seorang gadis kecil yang masih sangat membutuhkan seorang Ibu. Ain menciumi wajah Nafisah masih dengan matanya yang basah karena air mata.
"Tuan, apa dia bersama Anda? Kami ingin bertemu sejenak," tanya Ikram penuh harap. Padahal, ia sudah melihat isi mobil paman Harits yang tak ada siapa pun di dalamnya.
Paman Harits berdecih, ia memutar bola mata dengan malas.
"Bukannya kamu sudah melihatnya, dia tidak ada di dalam, bukan?" Paman Harits mengangkat sebelah alisnya. Ikram tertunduk lesu, betapa ia ingin bertemu dengan Nadia untuk meminta maaf dan berterimakasih padanya. Namun, kenyataannya Nadia tidak ada bersama mereka.
Ain menoleh, ia mendekat bersama Nafisah di gendongannya. Ain pun sama inginnya dengan Ikram, ia ingin memohon maaf pada Nadia dan juga berterimakasih padanya.
"Tuan, kalau dia tidak bersama Anda ... bisakah Anda menyampaikan permintaan maaf kami juga rasa terima kasih kami untuknya? Kami sudah menyadari semuanya, dan benar-benar menyesali apa yang telah kami lakukan. Terutama saya yang selama ini selalu menyusahkan hidupnya. Tolong, Tuan. Sampaikan permohonan maaf kami padanya," mohon Ain mengiba pada paman Harits. Air matanya berderai, sorot mata penuh penyesalan jelas terlihat di maniknya yang cokelat.
Paman Harits mendesah, mengurai emosi yang ada. Melihat kesungguhan di manik Ain, paman Harits harus mengalah. Ia pandangi bergantian suami dan istri itu, ia tatap pula Nafisah yang sendu dan Ruby yang murung. Nadia ingin mereka bahagia.
"Baiklah, akan aku sampaikan. Perlu kalian tahu, Nadia sudah memaafkan kalian. Dia sudah tidak ingin mengingat lagi semua yang telah terjadi, tapi mohon maaf ... untuk bertemu dengannya, aku tidak memberi izin kalian. Yah ... aku berhak menentukan siapa saja yang boleh bertemu dengannya karena aku adalah calon suaminya."
Paman Harits tersenyum bangga, lebih terlihat mencibir Ikram rasanya. Atau menyinggung perasaan laki-laki itu. Paman Harits tahu, di dalam hatinya Ikram masih mengharapkan Nadia kembali padanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku harus pulang dan mempersiapkan semua untuk acara pernikahan kami. Maaf, aku tidak akan mengundang kalian ke pesta kami ... ah, tapi jika nanti aku berubah pikiran, jangan lupa untuk datang." Paman Harits kembali tersenyum.
Ia masuk ke dalam mobil dan membawa mobilnya meninggalkan pesantren yang menjadi saksi di mana Nadia hidup di bawah bayang-bayang peraturan dari istri pertama.
Ikram dan Ain juga Ruby memandang mobil paman Harits yang berlalu.
"Ayo, masuk! Umi kangen sama kalian," ajak Ain sembari merangkul bahu Ruby. Ia menciumi wajah Nafisah yang berada di gendongannya. Ikram ikut berjalan di sampingnya, ia mengusap punggung putri bungsunya penuh kerinduan.
Ruby langsung memasuki kamar, ia lelah begitu pun hatinya. Ia menjatuhkan diri di atas ranjang, menumpahkan tangisannya yang sempat terjeda tadi hingga matanya semakin memberat seiring waktu yang terus merangkak.
Ain pun membawa Nafisah ke kamarnya, ia ikut merebahkan diri saat Nafisah memeluk tubuhnya. Gadis kecil itu merindukan ibunya, hanya saja lisannya tak dapat mengatakan tentang itu.
Ikram kembali keluar saat ingat pada Bilal yang masih di rumah Nadia. Bocah laki-laki itu tertunduk dengan memeluk kedua lutut. Ikram menghampirinya, ia duduk di samping anak itu.
Ia usap kepala anak itu dengan lembut. Menyalurkan rasa cinta dan kerinduan dalam dirinya untuk anak laki-lakinya itu.
"Kamu tahu, Nak ...." Ikram menjeda, ia melemparkan pandangan ke depan menatap aula yayasan yang kosong melompong. Tak ada lagi hiruk-pikuk anak-anak malang itu di sana. Tak ada lagi tawa dan senda gurau mereka. Hanya ada sunyi dan sepi juga kehampaan seperti hatinya yang kini merasakan keheningan karena kepergian Nadia.
"Umi sudah menyadari kesalahannya, ia sudah berubah. Beri kesempatan kepadanya untuk memperbaiki semuanya. Kalau Bunda kalian saja bisa memaafkan dan memberinya kesempatan, kenapa kamu sebagai anaknya tidak melakukan itu? Kita bisa memulainya dari awal lagi. Kebahagiaan yang hilang dulu, kita kumpulkan lagi sedikit demi sedikit."
Ikram kembali menoleh pada putranya. Perlahan, kepala yang tertunduk itu terangkat juga. Ikram tersenyum tatkala Bilal menoleh padanya.
__ADS_1
"Sebagai laki-laki, kita harus kuat menerima takdir yang digariskan Allah SWT karena laki-laki itu diciptakan lebih kuat dari pada perempuan. 'Arrijaalu qawwaamuuna 'alan-nisaa' kata Allah. Laki-laki itu pemimpin para wanita. Abi mengaku gagal sebagai pemimpin, dan hal ini ... Abi tidak ingin terjadi pada anak laki-laki Abi. Kamu mengerti?" Ikram kembali tersenyum, tangannya mengusap kepala Bilal manakala anggukan pelan dilakukan anak itu.
"Kita ke rumah, Umi menunggu anak laki-lakinya." Ikram beranjak, ia menggandeng tangan Bilal berjalan bersama menuju rumah mereka.
Ain sudah menunggu di ruang tengah usai menidurkan Nafisah. Ia tersenyum, dan memeluk putranya meskipun Bilal hanya diam bagai boneka. Tak apa, dengan Bilal tidak menolak saja Ain sudah merasa bersyukur.
Ain membawa Bilal ke kamarnya, memintanya beristirahat sejenak selama ia menyiapkan makanan. Ain mengecup dahi putranya, betapa ia bahagia ketiga anaknya kembali pulang. Walaupun dalam hati, sakit dari rasa bersalah kian meraja dan menguasai seluruh perasaannya.
"Ruby, Bilal, Nafisah! Sini, sayang. Kita makan sama-sama, Umi sudah memasak makanan kesukaan kalian," panggil Ain pada ketiga anaknya setelah menyelesaikan masakan yang dia buat.
Ia menata makanan di meja makan ditemani Ikram yang kebingungan.
"Mi, dari mana dapat uang sampai bisa beli bahan masakan sebanyak ini?" tanya Ikram seraya duduk di kursinya.
"Umi mengambil alih cucian baju anak-anak santri, Bi. Lumayan sambil menunggu uang bulanan Abi turun, tidak apa-apa, 'kan?" sahut Ain. Sikapnya kali ini terasa lebih menerima dan tabah. Hal itu sungguh membuat hati Ikram mencelos nyeri.
"Maafkan Abi, Mi. Gara-gara Abi yang gagal menjadi pemimpin, hidup kita jadi seperti ini. Maafkan Abi," ungkap Ikram penuh sesal.
Ain tersenyum, ia mengusap tangan Ikram dengan lembut.
"Sebagai suami istri sudah seharusnya kita saling membantu satu sama lain. Umi sudah menyadari semua kekeliruan Umi, maafkan Umi juga karena keegoisan Umi kita harus kehilangan semuanya. Seandainya Umi bisa menerima Nadia dengan rela hati, mungkin kehidupan kita akan baik-baik saja."
__ADS_1
Ikram tersenyum, mereka belajar dari semua kejadian yang menimpa pada mereka. Saling memaafkan, saling menerima, dan saling melengkapi meskipun tak akan sama karena kehadiran Nadia pasti meninggalkan jejak di hari Ikram dan anak-anak juga dirinya.