
URUSAN KITA BELUM SELESAI
"Mi, sebaiknya kita pulang dulu. Kasihan Yuni sendirian, dia tidak bisa ke sini karena punya bayi," ucap Ikram sembari melirik Nadia yang asik bersama paman Harits juga Bilal. Mungkin saja niatnya ingin memanasi Nadia, tapi nyatanya wanita itu tak acuh dan terus bermain gawai dengan paman Harits.
"Terus Ruby bagaimana, Bi? Masa kita tinggal sendiri," tolak Ain berat hati harus meninggalkan anaknya.
"Tidak apa-apa, Umi. 'Kan, ada Bunda juga adik-adik di sini. Lagi pula aku sudah terbiasa sendiri selama ini. Jadi, Umi tidak perlu mengkhawatirkan aku," sahut Ruby tersenyum saat matanya beradu dengan manik Ain.
Ikram bungkam, hati Ain melengos mendengar ucapan Ruby. Ada sesal yang memenuhi hatinya.
"Tidak begitu, sayang. Maafkan Umi kalau selama ini Umi kurang perhatian kepada kamu. Kamu tahu sendiri, bukan bagaimana keadaan pondok dan yayasan? Umi dan Abi harus banting tulang untuk mendapatkan uang agar semua kebutuhan terpenuhi," ungkap Ain sembari mengusap kepala putri sulungnya itu.
Ruby faham dan mengerti, ia menganggukkan kepalanya tanpa menyahut lagi. Ikram dan Ain menitipkan Ruby pada kedua adiknya tanpa mengajak bicara dua orang yang asik pamer kemesraan.
"Nadia, sebaiknya kamu beristirahat bersama Ruby di sana. Ingat kondisi kamu juga belum pulih benar. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap paman Harits merebut gawai yang dimainkan Nadia.
Ia mendengus, tapi menurut. Benar kata paman Harits ia harus lebih banyak beristirahat. Terkadang luka bekas jahitan di perut masih terasa sakit. Nadia beranjak mendekati Ruby, ia naik ke atas ranjang yang ditempati Ruby. Beruntung, ranjang itu lebih besar. Jadi muat berdua.
"Ayo, tidur! Biarkan adik-adik kamu main bersama laki-laki itu." Nadia mengambil gawai di tangan Ruby dan memberikannya pada Nafisah. Ia memberi isyarat pada gadis kecil itu untuk pergi dan bergabung bersama Bilal.
Dengan dijaga paman Harits seorang. Keempat orang tertidur pulas. Dua anak di sofa bersamanya, dua orang di atas ranjang. Paman Harits sendiri duduk melantai di kaki sofa. Ia menyalakan televisi, asik sendiri.
"Assalamu'alaikum!" Ain kembali ke Rumah Sakit setelah menyelesaikan urusannya di rumah.
"Hmmm!" Paman Harits hanya berdehem menjawab salamnya. Ia bahkan tak memalingkan pandangan dari televisi yang dilihatnya.
Ain menggeram tertahan saat matanya melihat Nadia yang tertidur di ranjang Ruby bersama anaknya. Ia juga menatap sekitar dan mendapati Bilal juga Nafisah yang sama-sama tertidur di sofa. Matanya beralih pada paman Harits yang serius menonton televisi.
Ide cemerlang terbersit di otaknya. Ia tersenyum seraya membawa dirinya mendekati sofa dan duduk di sana. Dilihatnya kedua anak itu, mereka benar-benar tertidur. Ain beralih lagi pada paman Harits dan kembali tersenyum.
__ADS_1
"Mas Harits sudah makan? Aku bawakan makanan dari rumah, aku sendiri yang memasak," tawar Ain yang sudah duduk di dekat kaki Bilal.
Laki-laki yang ditawarinya makanan itu bungkam tak ingin bicara. Ia fokus menatap televisi tak ingin diganggu. Ini si Ikram ke mana? Istrinya sedang menggoda calon suami orang. Paman Harits menggerutu dalam hati.
Ia jengah, tapi harus tetap di sana karena tidak mungkin ia meninggalkan Nadia sendirian bersama rubah betina itu. Tidak mendapat respon, Ain tidak menyerah. Ia beringsut lebih mendekati tempat paman Harits duduk.
Tangannya terjulur hendak menggapai pundak tegap itu. Beruntung, sebelum ujung jari tengahnya menempel di pundak paman Harits, pintu terbuka dan masuklah Ikram ke dalam. Ain tersentak kaget, Ikram membelalak melihat betapa dekatnya jarak Ain dan paman Harits.
Ain gegas beranjak, menjauh dan meninggalkan sofa, sedangkan paman Harits tak acuh karena ia memang tidak tahu kalau Ain ada di belakangnya.
"Bi!" Ikram memicingkan mata. Pandangannya melembut kala melihat Nadia yang tertidur di ranjang anaknya.
"Kenapa Umi di sana? Tidak pantas seorang perempuan bersuami mendekati laki-laki asing. Umi tahu itu, 'kan?" ucap Ikram dengan kecemburuan yang tak ia tahan.
"Jangan salah faham, Bi. Abi tidak lihat Bilal dan Nafisah tidur di sana, Umi tadi memeriksa mereka," jawab Ain menunjuk pada sofa yang ditiduri kedua anaknya.
Paman Harits yang mendengar mencibirkan bibir. Lalu, siapa tadi yang memanggilku Mas dan menawariku makan? Dasar rubah amnesia.
"Nadia, sayang. Bangun! Tidak baik kamu tidur di depan laki-laki yang bukan mahram kamu. Bangun, sayang!" gugah paman Harits menggoyangkan lengan Nadia dengan pelan.
Jeddddderrr!
Entah dari mana datangnya petir itu. Tiba-tiba kepala Ikram mengepulkan asap hitam yang mengeluarkan bau gosong tak sedap.
Hidungnya kembang-kempis tak tertahan, gejolak api cemburu kali ini benar-benar melukai harga dirinya. Tak ingin melihat pemandangan itu, ia berbalik dan keluar dari ruangan Ruby.
"Abi!" panggil Ain yang sama sekali tak digubris Ikram. Ia bahkan membanting pintu ruangan Ruby setelah berada di luar.
Paman Harits melirik, senyum miring tercetak jelas mengejek dan merendahkan Ikram.
__ADS_1
Ain sendiri bingung, ia lelah. Sudah bercerai pun Ikram tetap saja menyimpan rasa dalam hatinya untuk wanita itu. Sial memang.
Nadia melenguh, ia membuka mata dan mendapati paman Harits yang tersenyum padanya. Nadia beranjak dan turun dari ranjang setelah melihat sosok Ain yang menatap sinis padanya.
"Kamu haus?" Nadia menggeleng. Ia duduk di kaki sofa bersama paman Harits. Nadia menjatuhkan kepalanya pada sofa, ia masih ingin tidur.
"Taruh di sini saja!" Paman Harits menepuk bahunya dua kali. Nadia menjatuhkan kepala di tempat yang ditepuk paman Harits. Itulah gunanya laki-laki, selalu siap menjadi sandaran untuk wanitanya.
Ain mendengus, ia duduk membelakangi mereka. Memandangi Ruby yang masih terlelap.
Getar ponsel milik paman Harits membuatnya teralihkan dari televisi. Ia mengambil ponsel tersebut dan mengangkatnya setelah melihat nama si penelpon.
"Siapa, Kak?" tanya Nadia usai panggilan paman Harits terputus.
"Sebaiknya kita kembali. Bibi menelpon kalau Rima jatuh sakit sepulangnya dari mall," ucap paman Harits memberitahu.
Nadia membelakak, rasa kantuk yang masih menyerangnya hilang seketika setelah mendengar kabar tentang Rima yang sakit.
"Ayo, Kak! Kita harus pulang." Ia bangun dan menarik lengan paman Harits untuk ikut beranjak.
"Bunda! Apa Bunda mau pulang ke Jakarta?" Suara serak Ruby membuat Nadia menoleh padanya. Ia mendekat ke ranjangnya dengan senyum tersemat di bibirnya.
"Iya, sayang. Tante Rima sakit dan Bunda harus kembali karena tidak ada yang merawatnya. Ruby tidak apa-apa, bukan? Di sini ada Abi dan Umi yang menemani," ungkap Nadia menjelaskan.
"Iya, Bunda. Aku tidak apa-apa. Sampaikan salamku untuk tante Rima dan tante Winda. Aku kangen mereka," sambut Ruby mengerti situasi yang sedang dihadapi Nadia.
"Bunda pamit, ya. Cepat sembuh, Bunda akan kembali nanti," ucap Nadia sembari mengusap rambut Ruby dan mengecup dahinya.
Ia titip juga untuk menyampaikan kata maaf pada kedua anak yang masih tertidur lelap itu. Nadia beralih menatap Ain yang sedari tadi terdiam, wajahnya yang membenci dirinya tak ia tutupi.
__ADS_1
"Kak Ain, urusan kita belum selesai!"