
Di malam hari lelaki itu datang dengan langkah gontai, bahu yang melorot, wajah yang ditekuk lelah. Ia menyeret langkah yang terasa berat. Tanpa mengucap salam, ia masuk dan ambruk di sofa ruang tamu.
Paman Harits memijit pelipisnya yang terasa pening. Ia menjatuhkan kepalanya pada sandaran kursi, matanya terpejam. Hari itu benar-benar membuatnya lelah. Kejadian di perkebunan pun amat menguras tenaganya.
"Tuan! Anda sudah pulang? Maaf, Bibi tidak tahu." Bibi datang tergopoh dengan segelas minuman dingin di tangan.
Paman Harits membuka matanya, ia menegakkan tubuh saat melihat gelas di atas meja. "Ah ... Bi, terima kasih. Di mana Nadia?" Ia mengambil minuman dingin itu dan menenggaknya hingga tandas. Sedikit menyegarkan tenggorokannya.
"Non Nadia di kamar, Tuan. Tadi setelah makan malam, langsung ke kamar," jawab Bibi menunjuk kamar Tuannya dengan sopan.
Kepala laki-laki itu mengangguk, sebentar lagi saja. Ia masih perlu beristirahat sebelum membawa langkahnya menuju kamar.
"Anda mau makan malam, Tuan? Bibi akan siapkan," tanya Bibi dengan sikap sopan.
Paman Harits menggeleng, masih dengan mata terpejam yang enggan terbuka. "Bibi istirahat saja. Aku sudah makan tadi," katanya.
Bibi undur diri kembali ke kamarnya. Beberapa detik lamanya, laki-laki itu masih duduk dengan nyaman di sofa. Lampu yang sengaja dimatikan, memberi rasa nyaman untuk hatinya.
Paman Harits membuka mata, menatap belasan anak tangga yang mengarah ke lantai dua di mana bidadarinya berada. Ia beranjak, mulai menapakkan kakinya di anak tangga. Samar ia mendengar suara Nadia yang sedang membacakan sebuah cerita.
Dahinya mengernyit, dengan siapa gerangan istrinya itu di kamar. Namun, setelah beberapa saat menguping, tak ada suara siapa pun lagi selain suara istrinya itu sendiri.
Darah lelaki itu berdesir saat hal-hal yang janggal melintas di pikirannya. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Benar, hanya ada Nadia di kamarnya. Wanita itu membaca kisah sesekali menatap perut dan mengusapnya pelan.
Oh ... apakah dia sedang membacakan kisah untuk anaknya di dalam perut? Paman Harits tersenyum geli, ia merasa konyol melihat istrinya yang berkisah sambil menatap perut.
Nadia mendongak saat ia mendengar suara pintu terbuka. Bibirnya mengulas senyum menatap suami yang tengah berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Lihat, Ayah sudah datang. Dia pasti akan menanyakan kabarmu," katanya yang kembali menunduk mengusap perut buncitnya.
Paman Harits menjatuhkan diri di atas ranjang, ia merebahkan tubuh di pangkuan Nadia. Wajahnya ia hadapkan pada perut istrinya itu, mengusapnya pelan, dan berkali-kali mengecup gerakan janinnya.
"Assalamualaikum, kamu yang di dalam sini? Bagaimana keadaan kamu selama Ayah tinggalkan?" Paman Harits mencium kembali perut sang istri. Nadia mengangkat tangannya mengusap rambut laki-laki itu yang sedikit lembab.
"Mas mandi dulu, rambut basah semua begini kena keringat, bau," pamit paman Harits.
Ia yang hendak beranjak, kembali merebahkan diri saat tangan Nadia mencegahnya. "Baiklah ... baiklah, Mas tidak akan ke kamar mandi." Menyerah.
"Bagaimana masalahnya, Mas?" tanya Nadia sambil menyisir rambut suaminya menggunakan jari tangan.
Paman Harits menarik napas sebelum berbalik menghadap langit-langit kamar. Ia meraih tangan Nadia dan menempatkannya di dada. Sesekali akan menciuminya, dan menempatkannya lagi di dada.
"Ada yang berbuat ulah, tua bangka itu memeras para pekerja di perkebunan dan menggunakan namaku untuk menguatkan kuasanya. Di meminta gaji setiap pekerja dibagi dengannya. Beruntung, hal itu segera diketahui mandor yang bertugas dan melaporkannya pada Yoga," terang laki-laki itu dengan kedua mata yang terpejam.
"Tua bangka? Siapa maksud Mas?" Berkerut dahi wanita hamil itu. Ia tak pernah tahu soal Ayah paman Harits yang berkerja di perkebunan.
Mata itu terbuka seketika, ia lupa kalau Nadia tak pernah tahu. Wah ... bisa gaswat, nih. Batin paman Harits merutuk. Ia panik, tapi berusaha tetap tenang.
"Siapa, Mas? Jangan bilang kalau itu Ayah Mas sendiri?" tuntut Nadia saat paman Harits sendiri tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
"Aku hanya memberi hukuman pada mereka yang pantas dihukum. Apa aku salah?" Pertanyaan paman Harits dijawab bungkam Nadia. Ia menelisik garis wajah laki-laki di pangkuannya. Ada sesuatu yang tidak ia tahu, dan itu sangat mengganggu.
"Tapi dia itu Ayah Mas sendiri?" Nadia tetap bernada lembut. Ia tak ingin menyudutkan suaminya itu karena bagaimanapun paman Harits pasti memiliki alasan.
"Dia juga yang hampir merenggut nyawa orang-orang di sekitarku, dan hampir mencelakai anak juga istriku." Paman Harits meletakkan tangan Nadia di pinggangnya. Ia sendiri berbalik menghadap perut buncit istrinya lagi.
__ADS_1
Nadia tercenung, memikirkan tentang kejadian yang hampir merenggut nyawa banyak orang di malam itu. Mungkin targetnya adalah dia juga paman Harits, tapi malam itu mereka diselamatkan karena belum menyentuh makanan apa pun yang dihidangkan.
"Apa dia dalang dibalik keracunan malam itu, Mas?" tanya Nadia setelah beberapa saat terdiam mencerna ucapan suaminya.
"Yah, dia dan istri barunya. Mas sengaja tidak menghukum mereka seperti temannya. Mas hanya menempatkan keduanya di perkebunan bersama para pekerja, dan sekarang dia berbuat ulah," terangnya sambil menarik napas panjang.
Dalam hati, Nadia tidak setuju sebenarnya, tapi bagaimana pun, yang mereka lakukan hampir merenggut nyawa banyak orang termasuk Ibu dan dua adiknya, juga anak-anak asuhnya.
Ia tersenyum, lantas mengecup rambut sang suami sebelum memintanya beranjak. Nadia ikut berbaring, memeluk tubuh kekar suaminya.
"Tidur, Mas. Mas pasti capek." Ia melingkarkan tangan di perut suaminya. Membenamkan wajah pada dada bidangnya mencari kenyamanan.
*****
Hari demi hari berlalu, tak terasa hari kelahiran semakin dekat di depan mata. Di saat-saat seperti inilah paman Harits tak ingin membiarkan Nadia sendirian tanpa ia dampingi.
"Mas, aku mau belanja keperluan bayi. Yuk antar, Mas," rengeknya sambil menarik-narik tangan paman Harits.
Laki-laki yang sedang duduk menonton televisi itu tidak menanggapi. Ia bergeming pada televisi, acara yang selalu dinantikan laki-laki itu setiap hari libur.
"Lho, bukannya sudah disiapkan Winda dan Rima? Apalagi coba?" ucap paman Harits masih fokus pada acara yang ditontonnya.
"Mas, hari ini jadwalku kontrol ke dokter kandungan. Setelah itu aku mau langsung cari perlengkapan bayi kita, Mas. Jadi antar, ya, Mas?" Ia merengek sambil memegangi tangan suaminya dan sedikit menggoyangkannya.
"Baiklah ... ayo, pergi! Mas sudah membuat jadwal dengan dokternya. Jadi, kita tidak perlu mengantri seperti yang lain." Paman Harits beranjak, tak perlu mengganti pakaian. Nadia ikut beranjak, berjalan keluar rumah sambil berpegangan tangan.
Kali ini mereka pamit pada Ibu karena wanita tua itu sedang menyirami tanaman bersama Bibi.
__ADS_1