
Ketegangan tiba-tiba terjadi saat wanita tua memasuki rumah paman Harits dengan arogan. Seperti rumah sendiri, ia menerobos masuk melewati Nadia dan Winda yang berdiri di ambang pintu. Kedua wanita itu saling pandang dan menggeleng.
"Harits! Di mana kamu! Ibu datang, Harits!" teriak wanita yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu. Suaranya tinggi melengking memenuhi seluruh sudut rumah besar paman Harits.
"Maaf, Bu. Kak Harits sedang tidak di rumah," ucap Nadia memberitahu. Hati-hati ia berbicara takut menyinggung wanita itu.
Kepalanya menoleh cepat kala mendengar suara Nadia. Matanya tajam memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita muda yang berdiri berdampingan. Semua bagian tubuhnya tertutup, kecuali wajah dan tangan.
Senyum miring mencibir jelas nampak di bibirnya. Nadia tetap bersikap tenang seperti biasa.
"Siapa kamu? Apa kamu pembantu di sini?" Ia mendengus.
Mulut Nadia menganga tanpa kata, begitu pula dengan Winda. Keduanya termangu di tempat.
"Kenapa kalian berdiri di situ? Aku Nyonya di sini, bukannya membuat minuman atau makanan untukku malah berdiri seperti boneka. Cepat!" titahnya dengan suara tinggi nan pongah.
Suaranya menyentak Bibi yang sedang berada di dapur. Ia terperanjat gegas pergi ke depan untuk melihat keadaan.
"Nyonya! Selamat datang, Nyonya!" Bibi datang tergopoh, ia membungkuk pada wanita yang ia panggil nyonya itu. Nadia mengerutkan dahi, apakah Bibi mengenalnya?
"Kamu ... pembantu di sini? Sama seperti mereka, tapi sepertinya kamu lebih tahu bagaimana caranya bersikap seperti pembantu. Tidak seperti mereka berdua yang hanya diam mematung," ujarnya sembari menunjuk Bibi dan melirik pada kedua wanita yang diam tanpa kata.
Bibi melirik Nadia lewat sudut matanya, ia meneguk ludah gugup bagaimana jika Tuannya tahu kalau calon istrinya dianggap pembantu.
"Kenapa kamu diam? Di mana Harits? Aku ingin bertemu dengannya, sudah lama sekali aku tidak melihatnya, dia banyak berubah. Tak disangka sekarang menjadi kaya raya seperti ini," ucapnya dengan senyum di bibir yang menampakkan keserakahan akan duniawi.
Pandangannya berputar menatap sekeliling rumah putranya itu. Tak hanya terlihat megah dari luar, di dalamnya pun begitu menggiurkan.
"Maaf, Nyonya. Tuan sedang tidak di rumah, beliau sedang ada urusan di luar dan tidak tahu kapan akan pulang." Bibi kembali menunduk sejenak sebelum mengangkat wajahnya kembali.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?" tanyanya sengit. Kerutan di dahi wanita itu semakin memperjelas keriput di kulit wajahnya.
"Beliau tidak mengatakan kapan pastinya akan pulang. Hanya pamit pergi saja untuk waktu yang tidak bisa ditentukan," jawab Bibi dengan sabar.
Wanita yang mengaku Ibu paman Harits itu menghela napas. Ia menunduk sejenak berpikir. Tak lama kembali menatap Bibi yang masih berdiri di tempatnya.
"Antarkan aku ke kamar utama di rumah ini!" pintanya menunjuk koper besar yang ia bawa.
Bibi melirik gugup pada Nadia, kamar utama di rumah ini hanya satu. Yaitu yang ditempati Nadia saat ini.
"Maaf, Nyonya, tapi kamar utama di atas sudah ditempati. Anda bisa menggunakan kamar yang ada di lantai ini," ujar Bibi tetap membungkuk dengan sopan.
Mata wanita itu melotot lebar, hampir keluar dari tempatnya. Mulutnya menganga tidak terima dengan apa yang dikatakan Bibi.
"Apa? Siapa yang menempati? Oh ... pasti Harits, tidak apa-apa. Kalau begitu aku di kamar yang satunya saja. Tidak ada yang mengisi, bukan?" tanyanya kembali tersenyum.
"Maafkan saya, Nyonya. Semua kamar di atas telah terisi. Oleh Tuan Harits, dan Nona Nadia, sedangkan kamar satunya adalah ruang kerja Tuan."
"Siapa itu Nadia?" tanyanya geram. Nadia dan Winda meneguk ludahnya sendiri. Mendengar nada tinggi dari wanita tua itu, seketika gugup melanda keduanya. Winda bahkan mengeratkan pegangannya di lengan Nadia.
Bibi melirik Nadia yang saat itu pun sedang melihat ke arahnya. Dari sikap Bibi itu, wanita di depan mereka tahu siapa yang dia tanyakan.
"Jangan bilang kalau Nadia adalah salah satu wanita yang di sana? Bukannya mereka itu pembantu?" Tidak suka. Jelas saja tidak suka. Lirikan matanya yang tajam membuat Nadia berkecil hati. Namun, ia tetap tenang.
"Memangnya siapa dia? Kenapa Harits sepertinya mengistimewakan dia?" tanyanya dengan mata memicing tajam.
"Nona Nadia adalah calon istri Tuan, Nyonya, dan sebentar lagi mereka akan menikahi tepatnya saat Tuan pulang nanti," jawab Bibi tegas. Ia tak ragu untuk mengatakan itu walaupun wanita di depannya memperlihatkan ketidaksukaannya pada Nadia.
"Apa? Yang benar saja! Harits akan menjadikan wanita kampungan seperti ini istrinya? Ck ... ck ... ck ... sungguh memalukan!" cibirnya pedas. Winda menggeram, ingin ia berteriak dan mengatakan siapa Nadia, tapi lengan Nadia buru-buru menghentikannya.
__ADS_1
Ia menggeleng kala Winda menatap ke arahnya. Biar saja, dia ingin tahu apa yang akan dikatakan wanita itu.
"Aku yakin kamu pasti hanya menginginkan uang anakku saja, bukan? Hmm ... gadis kampungan memang selalu seperti itu. Tak jauh dari uang dan uang saja. Ingin hidup enak, tapi tidak mau bekerja. Bergantung pada laki-laki kaya menjadi pelakor pun ia lakoni. Kamu apakan anakku?" Ia menuding Nadia tanpa perasaan.
Nadia memejamkan mata, menahan emosi yang bergolak di hatinya. Pelakor ... pelakor ... bahkan saat ia menjadi istri kedua pun, ia tak pernah memakan nafkah dari suaminya. Menginginkan uang saja, dia tak butuh dari orang lain. Aliran uangnya sendiri pun tak pernah putus untuk apa mengharapakan uang dari orang lain.
"Jaga bicara Anda-"
Winda kembali menghentikan ucapannya tatkala Nadia meremas tangan yang melingkari lengannya.
"Tapi, Mbak-"
Nadia menggeleng, tidak mengizinkan Winda untuk berbicara. Menurutnya percuma saja, karena orang yang sudah menilainya rendah akan tetap pada pendiriannya sekalipun ia membela diri.
"Uang, ya? Apakah seperti itu penilaian Anda terhadap gadis seperti kami, Nyonya? Hanya uang dan uang saja? Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda tidak menginginkan uang kak Harits?" Nadia tersenyum saat melihat wajah keriput itu terkejut.
Diam-diam Bibi juga tersenyum, memuji keberanian Nadia yang angkat bicara.
"Ka-kamu-"
"Kenapa? Kalau kita sama-sama menginginkan uang di sini, mari bersaing secara sehat. Siapa yang akan diberi kuasa atas semua uang yang dimiliki kak Harits?" tukas Nadia dengan cepat.
Ia lagi-lagi tersenyum melihat raut gugup di wajah keriput itu. Nadia tahu, ia tidak akan berani melawan paman Harits karena perbuatannya di masa lalu yang tak pernah peduli pada laki-laki itu.
"Oh ... jadi seperti ini gadis yang dipilih anakku? Sombong, kamu merasa sudah bisa menguasai Harits rupanya. Kamu tidak tahu saja, istri Harits tidak akan pernah tinggal diam saat dia tahu kalau suaminya memiliki simpanan. Tunggu saja!" Kali ini ia tersenyum melihat Nadia yang terkejut.
Ia juga tertawa, tepatnya menertawakan Nadia yang nampak bodoh di matanya.
"Kamu pasti tidak tahu, 'kan, kalau Harits sudah memiliki istri?" sarkasnya dengan senyum menjengkelkan.
__ADS_1
Nadia terdiam, berpikir apakah paman Harits berbohong padanya.
"Dia tahu ...."