Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kedatangan Nadia


__ADS_3

Prang!


Gelas yang dipegangnya terjatuh begitu saja. Membentur lantai dan hancur berkeping-keping. Nadia berjongkok, niat hati ingin membersihkannya, tapi tangannya terkena serpihan beling tersebut.


"Aw! Sakitnya!" pekik Nadia tatkala tangannya tergores dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Seiring dengan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak dan sakit. Jantungnya yang menggebu-gebu seolah-olah ingin melompat keluar.


"Ya Allah! Ada apa ini? Kenapa hatiku tak enak rasanya?" Nadia bergumam sembari mengemut jarinya.


"Ruby ... Bilal dan Nafisah, apa mereka baik-baik saja?" Entah kenapa, wajah ketiga anak itu bermunculan di pikirannya. Mereka terlihat tidak baik-baik saja. Mereka terlihat muram dan sedih. Apa yang terjadi pada mereka?


"Non! Ya Allah! Biar Bibi saja yang membersihkannya. Sebaiknya Non Nadia cepat obati luka itu," pekik Bibi pekerja di rumah besar itu. Ia takut jika saja Harits tahu Nadia terluka, bisa-bisa majikanya itu akan memarahi semua pekerja di rumah itu.


"Terima kasih, Bi." Nadia beranjak. Ia mengambil kotak p3k dan mengobati lukanya sendiri. Usai melakukan itu, ia memasuki kamar berniat memeriksa laporan butik yang ia tinggalkan.


"Nadia!"


Paman Harits secara tiba-tiba membuka pintu kamar Nadia. Membuat wanita di dalamnya, membelalak karena terkejut.


Nadia yang sedang duduk di ranjang memeriksa laporan butik miliknya. Ia mendongak dengan kedua ujung alis yang bertaut. Bingung karena melihat wajah paman Harits yang tegang dan cemas.


"Kak, ada apa? Kenapa tegang sekali?" tanya Nadia, ia meletakkan laptop yang dipangkuan ke samping tubuhnya. Nadia menepuk kasur meminta paman Harits untuk duduk di sana.


Setelah melewati waktu satu bulan kondisi Nadia mulai pulih secara bertahap. Beruntung ginjal barunya tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat berfungsi dengan baik. Ia hanya perlu benar-benar istirahat selama satu Minggu penuh.


Harits mendekat dan duduk di tempat yang ditepuk Nadia. Raut cemas terlihat di wajahnya, Nadia yang ia cemaskan.


"Kenapa, Kak? Apa ada masalah?" tanya Nadia lagi penasaran.


"Aku harap kamu tidak akan syok saat mendengar kabar yang akan aku sampaikan. Tahan emosimu karena kalau sampai kamu tidak bisa menahannya, aku tidak akan menyampaikan kabar berita ini," ucap Harits mewanti-wanti Nadia. Ia hanya takut keterkejutan yang berlebihan akan mempengaruhi kondisi Nadia yang baru saja pulih pasca operasi.

__ADS_1


"Aku berjanji akan menahan diri. Sekarang katakan, kabar apa yang Kakak bawa?" sahut Nadia dengan yakin. Tak sabar rasanya ia ingin segera mendengar kabar tersebut.


Harits menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan kabar tentang Ruby yang dia terima dari anak buahnya yang selama ini memata-matai mereka.


"Anak sambungmu ... Ruby ... dia mengalami kecelakaan. Dia koma dan harus dioperasi secepatnya," ungkap Harits yang membuat jantung Nadia seketika berdegup kuat.


Mulutnya menganga, tapi tak ada kata yang keluar. Hanya air matanya saja yang mulai jatuh beraturan. Paman Harits tahu, Nadia sangat menyayangi ketiga anak itu. Menurut laporan yang dia terima, mereka bertiga pun sangat menyayangi Nadia.


"Ka-kak-"


"Aku tahu, Nadia ... aku tahu. Untuk itu aku katakan sebelumnya supaya kamu jangan terlalu syok. Aku mengerti kasih sayang kalian," tukas paman Harits dengan cepat. Nadia sesenggukan, menangis tak ditahan. Menumpahkan segala rasa dan gelisah memikirkan keadaan Ruby.


"Lalu, sekarang bagaimana? Apa Ruby sudah dioperasi?" tanya Nadia tersendat karena isak tangisnya yang masih kuat.


"Belum, orang-orang bodoh itu kelimpungan mencari uang untuk biaya operasi Ruby. Sebenarnya ... sejak awal saat anak buahku menemukannya, aku ingin dia dibawa saja ke sini, tapi itu sama saja dengan aku menculik anak orang. Jadilah aku memintanya untuk membawa Ruby ke Rumah Sakit di sana. Sepertinya akan asik menyaksikan wajah dungu mereka saat melihat kedatanganmu," papar paman Harits sembari tersenyum tipis saat membayangkan wajah Ikram dan Ain yang terkejut dengan kedatangan Nadia.


"Kenapa di saat seperti ini Kakak malah bercanda." Nadia memukul-mukul lengan paman Harits dengan kesal.


Wanita itu mengusap air di pipinya, ia mengangguk dan mendorong tubuh Harits agar keluar dari kamarnya.


"Tunggu! Kenapa dengan jarimu?" Wajah jenaka itu berubah dingin saat melihat lilitan plester di jari telunjuk Nadia. Digenggamnya tangan Nadia, matanya menatap tajam manik Nadia yang biasa saja. Baginya itu hanya luka kecil, tapi bagi paman Harits itu sangat fatal.


"Oh ... tadi aku tidak sengaja menjatuhkan cangkir ... sudah, Kakak keluar. Aku tidak mau terlambat datang ke sana," ucap Nadia menarik tangannya yang digenggam paman Harits dan memintanya untuk keluar.


Paman Harits keluar meskipun hatinya dipenuhi amarah, tapi untuk saat ini ia akan menahannya. Paman Harits berganti pakaian, dan menunggu Nadia di ruang depan.


"Kak, Winda dan Rima di mana? Apa kita tidak mengajak mereka?" tanya Nadia begitu tiba di dekat paman Harits.


"Mereka sedang pergi ke mall, aku yang menyuruh mereka karena aku merasa kasihan pada kedua adikmu itu. Sudah, biarkan mereka bersenang-senang. Kita pergi sekarang?" sahut paman Harits yang dibalas anggukan kepala oleh Nadia.

__ADS_1


Keduanya berjalan keluar.


"Jangan berlebihan, Kak!" cegah Nadia saat paman Harits hendak memasuki mobil sport miliknya. Nadia tidak suka, itu terlalu berlebihan terutama jika dibawa ke kota kecil Rangkasbitung.


Paman Harits mendengus, ia ingin pamer pada Ikram bahwa Nadia memiliki paman yang luar biasa. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir benar juga. Membawa Lamborghini ke kota kecil itu sangat berlebihan.


Ia beralih ke mobil berikutnya. Kali ini Nadia yang mendengus.


"Itu sama saja, Kakak!" Ia mendelik kesal. Pamannya yang itu, benar-benar suka pamer. Tidak jadi membawa Lamborghini malah beralih ke mobil lain yang tak kalah mewah.


"Sudahlah, ayo! Dengan mobil ini kita akan cepat sampai." Ia memasuki mobilnya. Range Rover yang akan dibawanya. Meskipun kesal, Nadia menurut. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman.


Mobil meluncur dari garasi dengan mulus. Ikram pasti akan muntah darah melihat kekayaan paman Harits. Bisa-bisa Ain berpaling hati darinya. Paman Harits tampan, mempesona, berwibawa, dan terutama ... dia kaya raya.


Getar ponsel milik paman Harits memecah kebisuan. Ia melirik dan meminta Nadia untuk mengangkatnya.


"Angkat telepon itu! Dia pasti punya kabar terbaru tentang anakmu," titahnya pada Nadia yang perlahan menoleh. Sejak mobil keluar garasi, Nadia selalu melihat ke arah jendela. Hatinya cemas dan takut memikirkan keadaan Ruby.


Nadia mengangkatnya, dan mendengarkan laporan yang disampaikan anak buah paman Harits. Ia kembali tercenung mendengarnya, Ruby koleps dan harus segera dioperasi.


"Paman, lebih cepat! Ruby harus segera dioperasi!" pinta Nadia setelah menutup sambungan telepon.


Paman Harits berdecak. Ia menginjak pedal gas mempercepat laju mobilnya. Tak ingin terlambat dan berakhir dengan penyesalan.


Mobil paman Harits menjadi pusat perhatian saat memasuki area parkir Rumah Sakit. Ia tak peduli, terus masuk dan memarkir mobilnya dengan elegan.


"Tenang, sabar! Jangan berlarian! Ingat luka bekas jahitan!" sergahnya dengan cepat sebelum Nadia berlari memasuki lobi Rumah Sakit.


Benar saja, begitu ia tiba Ikram dan Ain sedang berdebat. Nadia merasa miris. Bukannya mencari solusi malah berdebat tak berarti. Terlebih Ikram yang terlihat putus asa dengan kondisi Ruby. Sangat lemah.

__ADS_1


"Lakukan operasinya sekarang juga!"


__ADS_2