
Ketukan langkah kaki seorang laki-laki mengandung irama riang menyenangkan. Garis wajah sumringah tak dapat ditutupinya. Riak rindu dan cinta nampak jelas di matanya. Di tangannya menenteng sebuah bungkusan, jajanan sederhana yang ia beli saat di jalan tadi.
Ia mengerti, istrinya itu menyukai hal-hal sederhana seperti makanan yang ia bawakan saat ini. Tak kira harganya yang murah, yang penting ia dapat memberikan senyum kebahagiaan pada wanita yang kini menjadi ratu di hatinya itu.
Senyum terkembang penuh pesona, memikat pandang siapa saja yang ia jumpa. Bunga-bunga berlepas diri dari dalam hatinya, berterbangan bersama kupu-kupu yang menggelitiki rasanya.
Ia menarik napas dalam saat berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Tak peduli pandangan heran dari orang-orang berseragam yang berdiri di sekeliling lorong tersebut.
Rasa rindu selalu menggebu meskipun setiap saat bertemu. Senyumnya, suaranya, sifatnya yang manja, sentuhan kulitnya yang sehalus sutera, membuatnya ingin selalu berada dalam dekap hangat tubuhnya.
Tangannya membuka pintu perlahan, sedikit kepalanya melongo ke dalam. Sunyi. Keningnya berkerut, kebingungan. Dibukanya pintu tersebut lebar-lebar. Membiarkannya terbuka begitu saja.
Ia berbalik, wajah sumringah yang tadi menghiasinya, raib seketika.
"Di mana Istriku? Kenapa kalian membiarkannya keluar dari ruangan?" Suaranya menuntut. Riak di wajahnya mengeras, menilai ceroboh pada mereka yang ia beri amanat untuk berjaga.
"Nyonya ... ke kamar Nona Winda, Tuan." Mereka tertunduk. Menunggu beberapa saat reaksi dari laki-laki yang mereka panggil Tuan itu.
Helaan napas paman Harits, melegakan dada mereka. Jantung yang sempat berpacu kencang, kini kembali normal seperti semula meskipun secara berangsur.
Tanpa kata, paman Harits berbalik dan membawa langkahnya menuju ruangan Winda. Ia lupa kalau masih ada Winda di rumah sakit tersebut. Terlupa akan asistennya yang berlebihan ingin Winda dirawat sampai benar-benar pulih.
Tanpa mengetuk, tanpa permisi, tangan besar itu lancang membuka pintu ruangan Winda. Ia melongo saat berpasang-pasang mata menatap tak suka padanya. Kecuali hanya tiga orang saja.
"Hei, siapa kamu? Kenapa tidak mengetuk pintu dan meminta izin dulu!" hardik seorang gadis seusia Winda dan Rima.
Nadia menggigit bibirnya saat pandang paman Harits tertuju padanya. Ia menggeleng kecil, Winda dan Rima kompak tertunduk dengan kedua bahu berguncang. Menertawakan paman Harits yang terlihat bodoh.
Paman Harits mengatupkan bibirnya yang terbuka, ia juga menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit membungkuk. Beranjak masuk dan menutup pintu tanpa suara.
__ADS_1
"Hei, lancang! Kenapa kamu masuk ruangan dengan sembarang?" bentak yang lain tak kalah sengit.
Paman Harits masih terdiam, menerka dalam hati dan pikirannya tentang siapa orang-orang asing di ruangan tersebut.
Ia menilik satu per satu dari mereka, sebelum menjatuhkan lirikan pada Nadia yang tertegun tanpa kata. Di sampingnya Rima masih tertunduk bersama Winda yang belum berani mengangkat wajahnya. Mmm ... seperti sengaja membiarkan paman Harits mendapat perlakuan seperti tadi.
Semua orang gugup saat langkah lebar lelaki itu mendekati Nadia. Dikecupnya dahi wanita berhijab itu dengan singkat. Tangannya memegangi wajah Nadia, membolak-baliknya seolah ada yang dia cari di wajah mulus istrinya itu.
Mereka saling pandang satu sama lain, melihat perlakuan paman Harits, mereka mulai menebak-nebak.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan, sayang? Apa mereka menyakitimu? Apa mereka juga menghinamu?" cecar paman Harits sembari menelisik setiap sudut wajah istrinya itu, "katakan sesuatu apakah mereka menyentuhmu?" lanjutnya lagi terdengar panik.
Gadis yang pertama kali menghardik paman Harits, beranjak mendekati Ibunya. Ia memeluk erat tangan wanita seusia Ibu itu, gemetar ketakutan. Teringat akan perkenalannya bahwa Nadia adalah istri paman Harits yang tak lain bos anak mereka.
"Mas!" Nadia menurunkan tangan suaminya yang masih menempel di wajah, menggenggamnya sambil tersenyum manis sekali.
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Nadia meyakinkan laki-laki di depannya lewat sorot mata.
"Mas, kamu apa-apaan, sih? Aku ke sini untuk menjenguk Winda, dan mereka itu keluarga asisten kamu, Mas." Paman Harits melepas pelukan dengan cepat dan memandang wajah istrinya lagi.
Nadia mengangguk meyakinkan bahwa apa yang diucapkannya adalah benar. Winda dan Rima pun turut menganggukkan kepala tatkala manik hitam itu menghujam netra mereka.
Paman Harits memutar kepala, menatapi satu per satu dari mereka yang berdiri mengelompok. Sebagian gemetar, sebagian dibanjiri peluh, sebagian meneguk saliva.
"Tu-tuan! Maaf atas kelancangan kami. Kami benar-benar tidak tahu jika Anda adalah atasan Yoga. Maafkan kami, Tuan!" mohon yang tertua dari mereka.
Laki-laki tua itu menangkupkan tangan di dada, menunduk tanpa berani mengangkat wajah untuk bertatapan dengan paman Harits.
"Cepat minta maaf!" Wanita seusia Ibu mendorong tubuh gadis yang menghardik paman Harits tadi. Ia menoleh dengan bibir berkedut dan mata yang terasa panas. Air itu bahkan telah jatuh dari tempatnya.
__ADS_1
"Tuan!" Ia menjatuhkan diri di lantai, bersimpuh di dekat kaki paman Harits, "ampuni saya, Tuan. Saya telah lancang berkata kasar kepada Anda tadi. Saya pikir, Anda salah masuk kamar. Maafkan saya, Tuan. Tolong jangan hukum keluarga saya. Tolong, Tuan!" Ia mengiba di hadapan paman Harits. Kepalanya yang menunduk ia tempelkan pada pucuk tangan yang saling menangkup.
Hening. Hanya isak tangis gadis itu saja yang terdengar. Nadia mengusap tangan suaminya, menenangkan hatinya yang mungkin saja tersinggung tadi.
Paman Harits melirik istrinya, Nadia menggeleng memintanya untuk tidak menghukum mereka.
"Haha ...." Pecah tawa paman Harits, ia terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
Nadia melongo, melirik Winda dan Rima yang sama bodohnya seperti dia.
"Mas!" geram Nadia. Ia menarik kemeja laki-laki itu dan memukuli lengannya, "iseng sekali jadi orang. Mas bikin semua orang jantungan, tahu!" Nadia mencengkeram lengan suaminya kuat-kuat.
"Aw ... sakit, Yang. Ampun! Sakit. Sudah ... sudah! Maaf ... maafkan Mas!" pinta paman Harits tersengal-sengal. Ia mengangkat tangannya menyerah, masih dengan sisa tawa di mulutnya.
Keluarga Yoga benar-benar dibuat bingung. Mereka tak mengira laki-laki yang dihormati putranya itu akan mengerjai mereka seperti ini. Jujur saja, jantung mereka sudah tidak karuan tadi.
"Minta maaf pada mereka!" ketus Nadia sambil berpaling dengan wajah yang memerah kesal.
"Baik ... baik, Mas akan minta maaf pada mereka," katanya sembari menenangkan diri.
"Ekhem!" Ia berdehem sebelum berucap, "saya Harits, maaf atas ketidaksopanan saya yang telah mengerjai kalian. Senang bisa mengenal keluarga dari orang yang selalu saya andalkan, dan juga saya meminta maaf karena selalu menyusahkan putra kalian. Terima kasih karena telah memberikan saya orang hebat seperti anak kalian. Terima kasih!" Paman Harits menunduk sebentar sebelum merangkul istrinya.
Tanpa segan, ia mencium puncak kepala Nadia.
"Aku sudah meminta maaf, jangan marah lagi!" katanya merayu.
Winda dan Rima mendengus, tahu betul modus dari Kakak ipar mereka yang takut tak diberi jatah.
Sementara keluarga Yoga, terkesima atas apa yang dilakukan paman Harits tadi.
__ADS_1
Benarkah itu orangnya? Tidak seperti apa yang digambarkan Yoga. Yang katanya angkuh, dingin, kejam, dan tidak berperasaan, tapi yang aku lihat apa? Laki-laki jenaka yang menyenangkan.
Seperti itu hati mereka bergumam.