
Wa idz ta`adzdzana rabbukum la`in syakartum la`aziidannakum wa la`ing kafartum inna 'adzaabii lasyadiid.
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
(Ibrahim : 7)
******
Malam telah berlalu, berganti tugas dengan sang mentari. Subuh tadi Nadia mengantar kedua anak Ikram, membantu mereka menyiapkan kebutuhan sekolah juga membuatkan mereka sarapan. Seperti biasa, ia akan pulang tanpa diketahui Ikram bahkan Ain sekali pun.
Nadia menyibukkan diri dengan segala kegiatan di rumah. Membereskan rumah, mencuci, membuat sarapan demi menghilangkan kegundahan hatinya. Bukan ia tak ingin bertemu dengan Ain, tapi ia hanya tak ingin menyalahi kesepakatan yang telah dibuatnya.
"Ah ... hari ini jadwal anak-anak belajar," gumam Nadia saat melihat hari di kalender. Ia memberikan catatan pada tanggal tersebut. Anak-anak yatim yang belum cukup umur untuk sekolah, akan ia bimbing sendiri di yayasan. Sedangkan sisanya bersekolah seperti anak-anak biasa.
"Mbak Nadia gimana kabarnya? Kemarin ada anak bilang kalau Mbak Nadia itu sakit. Anak-anak banyak yang merengek ingin melihat Mbak Nadia," sapa Ibu pengasuh yayasan saat melihat Nadia yang memasuki dapur mereka.
"Tidak apa-apa, kok, Bu. Yah ... biasa cuma masuk angin saja. Sekarang sudah baik, kok. Ibu dan anak-anak tidak usah khawatir," sahut Nadia sembari tersenyum. Ia melirik meja makan, hamparan piring-piring berisi nasi goreng tanpa telur telah tersedia untuk masing-masing anak.
"Lho, Bu, ke mana telurnya? Kok, cuma nasi goreng saja?" tanya Nadia menunjuk pada piring di sana.
Ibu pengasuh ikut melihatnya, "Anu, Mbak. Stok telur sudah habis. Jadi, ya, seadanya saja dulu. Anak-anak juga tidak apa-apa, kok, sudah biasa," jawabnya. Ia tetap tersenyum meskipun ia juga sedih saat menatap piring anak-anak.
Nadia tersenyum, ia meraih tangan wanita paruh baya itu dan menepuknya.
"Kenapa ibu tidak bilang? Maaf, ya, karena akhir-akhir ini aku memang disibukkan oleh produksi pabrik yang sedang banyak pesanan. Alhamdulillah, sejak aku ikut membantu mengurus semua keperluan mereka, penghasilan pabrik konveksi yang aku kelola meningkat tajam. Ternyata anak-anak ini mendatangkan rezeki dan membawa berkah untuk kita, ya, Bu," ungkap Nadia tersenyum penuh syukur atas apa yang dicapainya kini.
"Iya, Mbak. Allah tidak akan pernah membiarkan mereka kelaparan, ada tangan-tangan utusan-Nya yang selalu datang membantu," sahut Ibu pengasuh.
"Ya sudah, nanti biar aku yang belanja. Ibu catat apa saja yang habis dan diperlukan. Ini sudah kewajibanku karena mas Ikram memberikan tanggung jawab ini kepadaku," pinta Nadia yang diangguki oleh Ibu pengasuh.
__ADS_1
Ia berlalu menyambut kedatangan anak-anak balita itu. Ada sekitar empat orang anak yang masih berusia balita dan butuh perhatian ekstra. Ibu pengasuh tersenyum kagum melihat Nadia yang begitu telaten membantunya mengurus anak-anak malang di yayasan.
"Ayo, anak-anak kita makan dulu, ya," katanya seraya mendudukkan satu per satu mereka di atas bangkunya.
"Bunda, ke mana telurku? Kenapa tidak ada telur di nasiku?" tanya salah satu anak yang telah duduk di kursi.
"Punyaku juga tidak ada, Bunda. Ke mana telurnya?" timpal yang lain.
Nadia tersenyum, ia mendatangi dua anak itu dan mengusap rambut mereka. Memeluk keduanya juga memberikan kecupan di atas ubun-ubun mereka.
"Untuk pagi ini, telurnya sudah habis. Bunda lupa membelinya, makan ini saja dulu, ya. Nanti siang kita akan ke supermarket untuk berbelanja, tapi habiskan dulu makanannya," ucap Nadia dengan lembut.
Melihat sikap Nadia yang keibuan, membuat Ibu pengasuh yang melihatnya merasa bersyukur akhirnya anak-anak malang itu menemukan seorang Ibu yang tepat untuk mereka. Ia beranjak mencatat apa saja yang dibutuhkan anak-anak itu.
Keempat anak itu bersorak gembira. Mereka menyantap dengan lahap nasi goreng tanpa telur.
"Baik, Bu. Terima kasih," sambut Nadia sambil tersenyum. Ia menerima catatan dan mengantonginya. Kembali membantu anak-anak memakan sarapan mereka.
Suasana di yayasan tak sehangat suasana di rumah Ikram. Sejak semalam, Ikram dan Ain tidak melihat kedua anaknya karena menginap di rumah Nadia. Ketika sarapan pun, Ruby dan Bilal memilih sarapan lebih awal setelah Nadia menyiapkannya. Hal itu tentu saja membuat hati Ain merasa sedih.
"Mi, kenapa tidak dimakan sarapannya? Kasian nasi dan semua makanan di sini, mereka menangis karena Umi tidak menyentuhnya," ucap Ikram sembari menyentuh lembut tangan Ain.
Wanita itu terdiam, ia menundukkan kepala dengan sedih.
"Apa Umi masih teringat kejadian semalam? Sudah, Mi. Jangan dipikirkan terlalu dalam, biarkan semua itu mengalir apa adanya," lanjut Ikram lagi. Ain mengangkat wajahnya, ia tersenyum meski terlihat hambar. Pelan-pelan mulai memakan makanan yang disiapkan Nadia.
Ikram pun ikut menyantap masakan itu dengan lahap. Ikram selalu memuji katanya sekarang kalau datang dari masjid selalu tersedia makanan dan kopi panas di meja makan. Ikram tak perlu menunggu Ain menyiapkannya lagi karena ia pikir Ain sengaja menyiapkannya sebelum ia datang dari masjid. Padahal, itu semua Nadia yang menyiapkannya.
Ain merasa bersalah, kenapa tidak dia sendiri saja yang menyiapkan. Nadia tak pernah terlihat repot mengurusi ketiga anaknya di pagi hari, sedangkan ia selalu kerepotan dan kelimpungan setiap paginya.
__ADS_1
Jadilah, meja makan itu tak terasa hangat untuk Ain.
"Jangan diminum yang ini, Bi! Biar Umi buatkan yang baru saja, ini sudah dingin," cegah Ain saat Ikram hendak meminum kopinya lagi.
"Lho, kenapa, Mi? Masih panas, kok. Sudah ini saja, jangan mubazir," sahut Ikram seraya mengangkat cangkir kopi dan hendak menyeruputnya.
Namun, dengan cepat Ain menyambar cangkir tersebut hingga kopi di dalamnya memercik pada baju Ikram.
"Duh!" keluh Ikram sembari menepis kopi yang menjatuhi gamisnya.
"Maaf, tapi Abi tidak boleh minum kopi ini. Biar Umi buatkan," ucap Ain seraya kembali ke dapur dan membuatkan Ikram kopi yang baru buatannya sendiri.
Ikram mendesah, ia menggelengkan kepala tanpa mencegah Ain. Melirik gamisnya lalu kembali mendesah. Ia mengangkat bahunya tak acuh meskipun bingung dengan sikap Ain pagi ini.
"Ini, Bi, kopinya," ucapnya seraya meletakkan cangkir baru di depan Ikram.
"Terima kasih, Umi," sahut Ikram tetap menghargai usaha Ain. Ia menyeruput kopi tersebut, dan mengernyitkan dahi bingung. Rasanya tidak sama seperti yang tadi. Lebih berasa kopi tadi dari pada yang kedua. Ikram melirik Ain yang sibuk dengan Nafisah.
Ada apa dengan istriku itu? Kenapa pagi ini sangat berbeda?
"Abi, Umi, Ruby sama Bilal berangkat sekolah dulu," pamit Ruby seraya mencium tangan kedua orang tuanya bersama Bilal.
"Hati-hati di sekolah, sayang. Belajar yang benar," nasihat Ikram sembari mengusap kepala kedua anaknya.
"Iya, Bi. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Keduanya pamit pergi tanpa meminta uang jajan seperti biasanya. Menaiki bus sekolah, jadi tak perlu repot lagi mengantar jemput mereka. Sejak kedatangan Nadia, hidup mereka seolah lebih mudah. Dulu, Ain dan Ikram harus mengantar jemput anak-anak mereka ke sekolah. Sekarang, Nadia membayar sewa bus sekolah untuk memudahkan anak-anak pergi bersama anak-anak di yayasan juga.
__ADS_1