Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Perhatian Ruby


__ADS_3

Esok hari yang dinanti pun, tiba sesuai waktunya. Ruby kembali bersiap ke Rumah Sakit menjenguk dan menemani Nadia. Kegiatan kelas akhir telah rampung seluruhnya, mereka hanya tinggal menunggu kelulusan saja.


"Ruby, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Ikram saat melihat Ruby kembali rapi seperti kemarin. Ditambah ada rantang makanan di sisinya.


Ia yang sedang mengenakan sepatu mendongak menatap abinya, tersenyum sejenak dan langsung memudar tatkala melihat wanita yang berdiri di samping sosok itu.


"Ruby mau keluar, Bi. Ada kegiatan di luar, sudah izin sama ustadz. Ruby pergi dulu, Bi. Assalamu'alaikum!" Ruby menyambar rantang dan menyalami Ikram, tapi melengos tatkala berpapasan dengan Yuni.


"Ruby, kamu tidak Salim sama Tante Yuni?" Itu sebuah perintah dari Ikram bukan permintaan semata.


Ruby berhenti ia menggeleng setelah bertatapan dengan abinya. Lalu, melanjutkan langkah meninggalkan rumah.


"Maafkan Ruby, ya. Sabar saja, lama-lama dia pasti bisa menerima kamu. Nadia dulu pun begitu. Ah ... sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya," ucap Ikram seraya mengambil langkah meninggalkan Yuni.


"Mas, tunggu!" cegah Yuni yang membuat langkah Ikram berhenti.


"Ada apa?" tanyanya berbalik menghadap istri barunya.


"Mmm ... itu ... memangnya mbak Nadia ke mana? Kok, semenjak kita pulang dari umrah aku belum melihatnya. Dia juga tidak ikut menyambut kedatangan kita waktu itu," tanya Yuni yang sebenarnya bertujuan menggoyahkan hati Ikram pada Nadia.


"Ruby bilang dia keluar kota ada pekerjaan tidak tahu kapan pulangnya," jawab Ikram sejujurnya.


"Mmm ... apa dia izin sama Mas? Bukankah seorang istri seharusnya meminta izin pada suaminya bila hendak keluar rumah?" ujar Yuni lagi semakin menanam keraguan dalam hati Ikram.


Laki-laki di depannya menghela napas, Yuni diam-diam tersenyum merasa Ikram sudah termakan hasutannya.


"Dia memang sering seperti itu. Pergi tanpa izin seperti sekarang. Sudahlah, tidak usah dibahas," ucap Ikram mengibaskan tangan tak ingin membahas lebih jauh soal Nadia.


"Tapi, Mas ... apa Mas tahu apa pekerjaan dia? Aku dengar, dia punya pabrik konveksi di sini." Yuni sebenarnya tahu apa pekerjaan Nadia, ia hanya ingin tahu apakah Ikram juga tahu pekerjaan istri keduanya itu.


"Setahuku dia tidak bekerja, memang dia mengelola pabrik konveksi bersama mamahnya. Baju-baju di toko juga aku ambil dari pabriknya, tapi sekarang sedang sepi pembeli. Aku hanya berharap kalian tidak terlalu menuntut materi dariku karena untuk saat ini kondisi keuanganku sedang tidak bagus," ungkap Ikram seraya berjalan tak ingin lagi berbincang.


Ain mendengar percakapan mereka dari balik pintu kamarnya, sikap Ikram telah berubah pada Yuni. Sepertinya Ikram sudah mulai bisa menerima istri barunya itu. Entah apa yang terjadi pada mereka saat di tanah suci.


Yuni tidak boleh menguasai Ikram, dia harus ingat perjanjiannya dulu. Awas saja kalau dia sampai melanggarnya. Aku tidak akan tinggal diam.

__ADS_1


Ain menggeram, wajahnya menghitam manakala ia mengintip Yuni yang sedang tersenyum menatap Ikram.


Kurang ajar!


Yuni berbalik menuju kamarnya sendiri. Merebahkan diri di atas kasur sembari memainkan ponselnya. Hidupnya terjamin sekarang, tak perlu memeras keringat lagi untuk memenuhi kebutuhannya.


Sementara Ain pun, ikut merebahkan diri di ranjangnya yang sekarang sering ditidurinya sendirian. Ikram lebih banyak tidur di kamarnya sendiri atau di kamar anak-anak.


Winda sudah menunggu Ruby di luar gerbang. Ia tepat waktu sesuai yang dijanjikan. Wajah Ruby berbeda dari hari kemarin, hari ini ia tampak ceria dan bersemangat.


"Kita berangkat!" ucap Winda yang diangguki Ruby. Hembusan udara pagi dari jalanan berkebun menyejukkan paru-paru mereka. Pohon-pohon tinggi menjulang yang membuat jalanan itu teduh dan asri.


"Kamu membuat makanan?" tanya Winda melirik rantang di tangan Ruby.


"Iya, ini untuk Bunda. Aku membuatnya sendiri," jawabnya dengan senyum dan kedua tangan memeluk rantang.


"Tapi kamu tahu, bukan makanan yang cocok untuk mbak Nadia?" tanya Winda hati-hati.


"Iya, dokter sudah menjelaskannya. Tante tenang saja, aku tidak akan menyakiti Bunda," sahut Ruby terkekeh di akhir kalimat.


"Assalamu'alaikum, Bun! Eh ... maaf, aku tidak tahu kalau sedang ada tamu," ucap Ruby dengan wajah yang memerah ketika matanya menangkap satu sosok laki-laki duduk di kursi dekat ranjang Nadia.


"Wa'alaikumussalaam, tidak apa-apa. Sini, Bunda kenalkan dengan sahabat Bunda," jawab Nadia melambai pada Ruby. Ia sudah terlihat lebih seger sekarang.


Laki-laki itu tersenyum saat bertatapan dengan Ruby. Pelan-pelan ia duduk di ranjang Nadia setelah meletakkan rantang makanan di atas meja.


"Kamu buat makanan? Terima kasih, sayang," ucap Nadia sembari mengecup dahi Ruby. Anak itu semakin tersipu malu.


"Ini kenalkan, Raihan namanya. Sahabat Bunda yang paling baik dan perhatian," ucap Nadia.


"Ruby!" katanya seraya menangkupkan kedua tangan di dada.


Raihan hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ruby merasa canggung karena telah mengganggu keduanya. Raihan memperhatikan Nadia yang memperlakukan Ruby selayaknya anak sendiri.


Wanita itu mengambil rantang makanan dan memangkunya. Matanya berbinar menatap masakan biasa yang dimasak Ruby.

__ADS_1


"Maaf, ya, Bun. Itu cuma masakan biasa, tapi aku ikuti saran dokter, kok. Itu dada ayam tanpa kulit memang cuma aku rebus saja. Hehe," ucap Ruby menjabarkan apa yang dimasaknya.


Nadia tidak menyahut, kedua matanya memanas ingin menangis mendapat perhatian dari anak itu. Ia mengambil satu potong dada ayam yang hanya diungkep saja tanpa digoreng lagi. Nadia menggigitnya, dan mengunyahnya perlahan. Air matanya menetes tanpa sadar, sambil terus mengunyah makanan itu lagi dan lagi. Rasanya memang biasa saja, tapi ia yakin ini dibuat dengan cinta dan perjuangan seorang remaja yang belum matang.


"Bunda!" panggil Ruby lirih, "apa makanannya tidak enak? Tidak usah dimakan, Bunda. Aku tidak mau Bunda bertambah sakit," lanjut Ruby tak enak. Ia hendak mengambil rantang itu dari Nadia, tapi Nadia menjauhkannya.


Ia menggeleng sambil terus mengunyah dan menangis. Raihan yang melihat ikut terharu, ia tahu itu air mata bahagia dari seorang Nadia.


"Ini untuk Bunda, bukan? Jadi jangan coba-coba mengambilnya lagi. Bunda ingin menghabiskannya," cegah Nadia semakin terisak.


Ia yang tak kuasa menarik tubuh Ruby dalam dekapan. Menciumi wajah anak itu dengan segenap cinta dan kasih sayangnya.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih. Ini enak, Bunda akan menghabiskannya," katanya seraya melepas pelukan dan kembali memakannya. Ruby tersenyum, ia pikir Nadia menangis karena makanannya tak enak. Ia merasa bahagia saat melihat Nadia yang memakannya begitu lahap.


"Nadia, kamu sangat beruntung. Memiliki anak yang begitu perhatian dan sangat menyayangimu. Aku pamit, sudah ada orang yang menemani kamu di sini. Jangan lupa dimakan, ya! Assalamu'alaikum!"


Nadia mengangguk sembari mengusap matanya yang berair.


"Terima kasih, wa'alaikumussalaam. Hati-hati!" jawabnya sembari tersenyum.


Winda masuk setelah Raihan keluar. Ia harus mengurus administrasi Nadia di Rumah Sakit.


"Bun, sepetinya om Rai memiliki rasa yang lebih untuk Bunda?" celetuk Ruby setelah laki-laki itu pergi.


"Memang, laki-laki itu sudah lama mencintai Mbak Nadia. Cuma Mbak Nadia saja yang tidak peka," sambar Winda yang mendaratkan bokong di sofa.


"Masa, sih? Aku merasa biasa-biasa saja, lho. Beneran, lagi pula Raihan selalu bersikap biasa saja selama ini," sahut Nadia sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


"Tuh, Bun. Sepertinya om Rai juga baik orangnya. Bunda pasti bahagia kalau menjadi istrinya," timpal Ruby lagi.


"Astaghfirullah! Bunda ini istri orang, lho. Istri abimu, Ruby," tukas Nadia gemas.


"Yah ... memang, sih, tapi Abi selama ini tidak adil terhadap Bunda. Lebih banyak bersama Umi dan sekarang, ditambah wanita ular itu juga sepertinya sudah berhasil mengambil hatinya-"


"Apa Bunda tahu, Abi bahkan tidak menanyakan Bunda ketika datang di rumah. Sama sekali, aku sudah tidak ingin melihat Bunda disakiti lagi. Bunda orang baik, tidak seharusnya disakiti. Kalau Bunda sudah tidak sanggup, maka Bunda berhak memutuskan," lanjut Ruby lagi. Ia menjatuhkan diri di pelukan Nadia menangis mengingat perlakuan Abi dan uminya.

__ADS_1


Winda merasa terharu, Nadia merasa tersentuh. Namun, jika ia berpisah dengan Ikram dia tidak akan tahu apakah masih bisa bertemu dengan Ruby dan kedua adiknya lagi.


__ADS_2