
Penasaran. Terkadang membuat seseorang melakukan banyak cara untuk menuntaskan rasa yang bergolak dalam hatinya.
Ikram masih bergelut dengan pikirannya tentang Nadia. Nadia masih terbaring di ruangan melakukan cuci darah rutinnya, dan Ain yang penasaran karena bayangan Nadia yang memberikan bungkusan pada mang Sarif selalu membayang di pelupuk matanya.
Berkali-kali ia menatap jendela, melihat mang Sarif yang tersenyum-senyum saat melihat bungkusan yang diberi Nadia.
"Sayang, tunggu sebentar, ya. Umi keluar dulu," pamitnya pada Nafisah. Ia bergegas keluar begitu melihat mang Sarif duduk di depan pos jaga sambil memegang kopi panas.
"Mang!" tegur Ain setelah berada di dekatnya.
Mamah Sarif menoleh sambil tersenyum ia bertanya, "Ada apa, Mi? Ada yang Umi perlukan?"
Ain ikut tersenyum seraya menyahut, "Tidak apa-apa, Mang. Cuma penasaran tadi saya lihat Nadia memberi Mamang bungkusan, isinya itu apa?" Ain bersikap ramah seperti biasa, tapi justru tidak biasa bagi mang Sarif.
"Oh, Anu, Mi. Itu ... cuma kopi sama gula juga susu, ada kue juga katanya buat anak-anak di rumah. Ada apa, Umi?" jelas mang Sarif apa adanya.
Ain membulatkan mulut sambil mengangguk. Rasa penasarannya hilang sudah.
"Kirain kasih uang juga buat Mamang?" celetuknya pelan.
Mang Sarif tersenyum meskipun merasa aneh dan tidak biasa dengan sikap Ain.
"Mbak Nadia juga kasih saya uang, katanya buat berobat. Mbak Nadia menyuruh saya buat bawa anak saya ke Rumah Sakit," katanya.
Ain termangu mendengar penuturan mang Sarif.
"Anak Mang Sarif sakit? Sakit apa?" tanyanya tak enak kenapa ia sampai tidak tahu masalah pekerjanya sendiri, sedangkan Nadia selalu tahu.
"Iya, Umi. Sudah tiga hari panasnya tidak turun-turun, saya juga tidak tahu dari mana Mbak Nadia tahu kalau anak saya sedang sakit. Tiba-tiba kasih uang buat berobat," kata mang Sarif lagi melanjutkan.
"Oh, begitu," tanggap Ain.
"Tadi juga Mbak Nadia menawarkan untuk pergi bersama saja, tapi saya tolak karena belum izin pada Abi. Jadi, Mbak Nadia pergi sendiri," lanjut mang Sarif lagi.
__ADS_1
"Memangnya Nadia mau ke mana katanya, Mang?" Rasa penasarannya kembali datang.
"Katanya mau ke pabrik sekalian jalan saja karena satu arah," jawab mang Sarif lagi. Ain mengangguk-anggukan kepalanya, tuntas sudah rasa penasaran dalam hatinya.
"Ada apa, Mi, Mang?" tanya Ikram yang mendatangi keduanya saat ia melihat mereka.
"Ini, Bi, katanya anaknya mang Sarif sakit mau ke Rumah Sakit nunggu Abi, mau izin dulu sama Abi," jawab Ain menjelaskan.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu bawa saja ke Rumah Sakit sekarang, ada ongkosnya?" sahut Ikram seraya merogoh saku gamisnya hendak mengeluarkan uang untuk mang Sarif.
"Tidak usah, Abi. Sudah dikasih Mbak Nadia tadi, saya cuma mau minta izin saja hari ini tidak kerja dulu," tolak mang Sarif merasa cukup dengan pemberian Nadia.
"Oh!" Mati kutu Ikram dan Ain. Keduanya tak dapat berbicara mendengar sikap tanggap Nadia.
"Ya sudah, Mang, libur saja hari ini," kata Ikram pada akhirnya. Mang Sarif mengambil bungkusan setelah diizinkan pulang oleh Ikram.
Sepasang suami istri itu kembali ke rumah dengan perasaan masing-masing.
Meninggalkan Ikram dan Ain dengan rasa penasarannya, kembali pada Nadia yang baru saja keluar dari ruangan setelah melakukan cuci darah.
Nadia tak menyapa, ia keluar Rumah Sakit untuk membeli buah tangan yang akan dibawanya menjenguk anak mang Sarif. Buah-buahan, dan makanan pengganjal perut dibeli Nadia dari minimarket seberang Rumah Sakit tersebut.
Ia menuju ruangan di mana anak mang Sarif dirawat setelah menanyakannya pada petugas.
"Assalamu'alaikum!" Nadia mengucap salam sambil membuka pintu ruangan. Masker di wajahnya masih terpakai.
"Wa'alaikumussalaam, Mbak Nadia!" sambut mang Sarif seraya menyongsong kedatangannya.
"Duh, repot sekali, Mbak. Mamang jadi tidak enak," ucap mang Sarif sambil menerima bungkusan dari Nadia.
"Tidak apa-apa, Mang. Gimana anak Mamang? Sudah mending?" tanya Nadia seraya melirik ranjang Rumah Sakit yang di atasnya anak seusia Ruby mungkin tengah berbaring dengan mata terpejam.
"Alhamdulillah, Mbak, sudah ditangani dokter tadi," katanya seraya mengajak Nadia mendekati anak dan istrinya.
__ADS_1
"Bu!" sapa Nadia seraya mencium tangan istri mang Sarif tanpa ragu.
"Siapa ini, Pak?" tanyanya bingung, tapi tersenyum senang dengan buah tangan yang dibawa Nadia.
"Dia is-"
"Saya pengasuh anak-anak di yayasan, Bu," tukas Nadia dengan cepat sambil melirik mang Sarif yang termangu tak percaya mendengar jawaban Nadia.
"Oh ... Ibu kira istri kedua Abi, ternyata bukan. Lagian tidak mungkin ini istri kedua Abi, orang katanya jahat terus mau menguasai Abi," selorohnya sambil terkekeh.
Nadia terhenyak. Begitukah kesan di mata orang-orang? Seburuk itukah penilaian orang-orang tentang dirinya? Ia melirik mang Sarif, laki-laki hampir sepuh itu merasa tak enak saat pandangnya bertemu dengan Nadia.
Nadia menggeleng saat mang Sarif hendak menjelaskan pada istrinya.
"Wah ... banyak sekali! Terima kasih, ya Neng," lanjutnya sambil tersenyum lebar pada Nadia.
Wanita yang memakai masker itu tersenyum dari balik penutup mulutnya. Ia mengangguk tanpa berkata-kata lagi.
"Cepat sembuh, ya. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum!" pamit Nadia pada mereka.
"Wa'alaikumussalaam!"
"Biar Mamang antar." Mang Sarif mengekor di belakang Nadia. Mengikuti wanita itu keluar dari ruangan.
"Mbak, maafkan istri saya. Dia tidak tahu apa-apa cuma dengar-dengar saja dari tetangga," ucap mang Sarif dengan gelisah dan cemas. Dia takut Nadia akan tersinggung dengan perkataan istrinya tadi.
Nadia terkekeh, lebih tepatnya ia hanya sedang menghibur hatinya yang tiba-tiba merasa sakit.
"Tidak apa-apa, Mang. Jangan dipikirkan, saya sudah biasa mendengar itu. Biarkan saja orang lain menilai saya seperti apa. Itu hak mereka. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai kita. Yang benci biarlah benci dengan alasan-alasan yang mereka miliki. Sekalipun kita membela diri, mereka akan tetap pada keyakinan dalam diri mereka-"
"Mamang tidak perlu cemas, saya tidak apa-apa. Dalam hidup ini ada orang yang menyukai kita, tapi lebih banyak dari mereka yang tidak menyukai. Biarkan mengalir saja seperti air, jika terlalu dipikirkan itu hanya akan membuat kita sibuk dengan mencari perhatian orang-orang agar menyukai kita. Saya pamit, Mang. Assalamu'alaikum!"
Nadia menyalami mang Sarif sebelum berbalik meninggalkan laki-laki hampir sepuh itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalaam! Kamu memang manusia mulia, Mbak Nadia. Dihina sekalipun tetap bisa tersenyum seperti tadi, maa syaa Allah yang telah menciptakan bumi dan langit dan segala isinya dengan Maha Kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Semoga Mbak Nadia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, aamiin."
Mang Sarif kembali masuk ke ruangan, bercengkerama dengan anak dan istrinya. Pelan-pelan ia akan memberitahu Ibu dari anaknya itu bahwa yang menolongnya adalah istri kedua Ikram yang tadi datang menjenguk.