Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Hanya Menggertak


__ADS_3

Malam sunyi menghantarkan semilir angin yang dingin menghujam hati laki-laki yang sedang duduk termenung di teras. Menatap bintang di langit sambil mengumpulkan jikalau. Jikalau, andaikata, umpama, misalnya.


Ah ... konyol! Ia tertawa sendiri, tersenyum sendiri, cemberut pun sendiri. Persis seperti mereka yang tak tahu malu berlalu-lalang di jalanan tanpa busana. Yah ... lihat saja! Senyum nakalnya, coba tebak apa yang sedang ia bayangkan? Benar! Kalian benar!


Bintang gemintang menari-nari indah mengelilingi rembulan malam yang terkadang bersembunyi di balik awan. Malu-malu, tapi mau. Ia kembali tertawa saat sebuah bayang melintas dalam cahaya bulan dengan rona merah di pipi.


"Kak!" tegur suara Nadia yang berhasil membuat kelabakan laki-laki itu. Semua lamunan tentangnya buyar begitu saja. Hilang tak berbekas tertiup angin kencang yang tiba-tiba. Nadia berdiri di ambang pintu dengan segelas kopi yang mengepulkan asap.


Ia tersenyum kala paman Harits menengok ke arahnya dan tersenyum kikuk. Wajahnya menunjuk kursi kosong memintanya untuk duduk.


Nadia beranjak ia meletakkan kopi yang dibawanya ke atas meja.


"Buat aku?" tanyanya menunjuk penuh harap pada kepulan asap kopi yang aromanya melumerkan liurnya.


Nadia melirik kopi tersebut dan paman Harits bergantian, sebelum ia mengangguk kecil untuk pertanyaan laki-laki tadi. Paman Harits segera meraih cangkir tersebut dan menyeruput kopi panas di dalamnya.


"Ah ... nikmatnya! Mantap, memang tiada duanya kopi buatan calon bini," katanya sembari tersenyum pada cangkir di tangannya sebelum meletakkan kembali di tempat semula.


Nadia tersipu mendengar itu, selama menjadi istri Ikram saja laki-laki itu tak pernah memuji apa yang dia lakukan. Namun, paman Harits berbeda, ia kerap memuji apa yang dilakukan Nadia sekalipun itu hanya hal sepele. Memang hanya itu yang diinginkan istri, dimengerti dan dimanja. Bukankah istri itu ibarat anak kecil, dan suami adalah tempat bermanjanya.


"Mm ... Kak, apa yang Kakak ucapkan tadi siang itu benar kalau Papah adalah investor di perusahaan mereka?" tanya Nadia teringin tahu kebenaran dari berita yang ia dengar tadi siang.


Paman Harits diam, menelisik raut penasaran di wajah Nadia. Detik kemudian ia terkekeh kecil sendiri.


"Aku hanya menggertak, sayang. Jangan terlalu serius, aku hanya tidak ingin wanita yang aku junjung tinggi derajatnya dihina dan direndahkan orang lain. Apa pun akan aku lakukan untuk membuatmu tetap terhormat." Ia tersenyum usai mengatakan itu.

__ADS_1


Nadia tersanjung, tapi tetap saja paman Harits berbohong.


"Jadi, semua itu bohong?" tanya Nadia lagi.


"Mmm ... bisa dibilang, ya, bisa juga tidak." Ia mengangkat bahu tak acuh. Nadia membentuk kerutan di dahi bingung dengan jawaban ambigu dari paman Harits.


"Maksud Kakak bagaimana? Jangan buat aku bingung!" Nadia mulai merajuk. Manja-manja menggemaskan. Paman Harits lagi-lagi terkekeh geli.


"Mmm ... bagaimana, ya? Papah kamu memang investor itu yang benarnya, tapi bukan di perusahaan mereka. Nah, di situ sedikit bohongnya. Ia investor terbesar dalam hidupku, membuatku menanggung hutang budi seumur hidup. Apa yang dilakukan kedua orang tuamu tak akan mampu aku balas, Nadia ... tidak!" Paman Harits menggelengkan kepala.


Nadia tertunduk, itu tetap saja bohong.


"Pantas Mamah tidak pernah menceritakannya-"


"Kalau tidak penting, tak akan mungkin Mamah menulis wasiat tentang Kakak. Dalam surat wasiat yang ditulis Mamah, hanya ada nama Kakak di sana. Dia memintaku untuk ikut dengannya ketika ada seorang laki-laki yang bernama Harits datang mencari ku," ungkap Nadia.


Paman Harits tertunduk, ia menghela napas berat. Tak pernah menyangka jika Sarah begitu percaya padanya untuk menjaga Nadia. Putri satu-satunya mereka. Ia tersenyum, berterimakasih dalam hati pada pasangan yang tak lagi ada di dunia ini. Berjanji dalam hati, akan menjaga Nadia seumur hidupnya.


Ia kembali mengangkat wajah, menatap Nadia dengan senyum di bibir. Tak ada kata di antara mereka, hening beberapa saat menyapa keduanya.


"Kalau kamu percaya padaku, maka izinkan aku untuk menjagamu seumur hidupku. Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita ke KUA, yah ... sekitar satu dua Minggu lagi acaranya." Nadia sedikit terkejut, tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Mungkin ini sudah takdir yang harus ia terima.


"Aku ingin tak ada rahasia di antara kita. Jika ada yang belum aku ketahui maka sebaiknya beritahu saat ini juga oleh Kakak sendiri. Aku tidak mau setelah kita menikah baru aku ketahui dan itu pun dari lisan orang lain. Akan sakit sekali rasanya hatiku dan pastinya itu merupakan sebuah pengkhianatan. Jadi, katakan semuanya sekarang juga!"


Nadia menilik wajah paman Harits dalam-dalam. Laki-laki itu pun sama lekatnya pada manik Nadia. Ia mendesah, membuang pandangan dari Nadia. Gelisah, tapi apa yang dikatakan Nadia benar adanya. Jika ia tahu dari orang lain itu akan lebih menyakitkan.

__ADS_1


"Baiklah ... apa yang mau kamu tahu?" tanyanya yang kali ini memasang wajah serius.


"Beritahu aku tentang kebenaran istri Kakak!" tuntut Nadia. Sejak siang tadi ia uring-uringan ingin tahu tentang istri paman Harits yang dibicarakan wanita tua itu.


Paman Harits bergeming pada netra hazel yang begitu menuntut.


"Baik ... yang sebenarnya ... dia belumlah meninggal, tapi aku sudah menceraikannya. Sudah sangat lama, sejak anak kami meninggal," jawab paman Harits.


Nadia tertunduk, ia menggigit bibirnya kuat-kuat mendengar fakta yang yang sebenarnya.


"Anak kami meninggal itu semua karena dia. Menurut temannya, anak yang seumur Bilal itu melihat ibunya yang berjalan bersama laki-laki lain. Namun sayang, saat ia hendak menyebrang jalan ... brak ... sebuah truk ...." Paman Harits tak sanggup melanjutkan ceritanya.


Ia menggeleng sambil tertunduk, air matanya luruh saat teringat kondisi jasad anaknya yang tak berupa. Paman Harits menangis. Sesenggukan, terdengar pilu di telinga Nadia.


"Kakak!" Nadia mengusap punggungnya perlahan. Merasa bersalah dengan pertanyaan yang ia ajukan.


Tubuh paman Harits yang bergetar itu perlahan berhenti seiring rasa hangat dari sapuan lembut Nadia mengalir mengikuti aliran darah dalam tubuhnya. Ia mengusap air matanya, menatap Nadia dengan matanya yang memerah.


"Tolong, hanya percaya padaku, Nadia. Jika suatu saat hasutan seperti tadi siang datang, aku harap kamu akan bersikap bijak dalam menanggapinya. Sudah aku katakan aku adalah laki-laki brengsek yang ingin bertaubat. Cukup itu saja!" tegas paman Harits lagi sebelum beranjak meninggalkan Nadia.


Tak lama ia kembali ke tempat Nadia, tangannya cepat meraih cangkir kopi dan menenggaknya hingga habis. Mulut Nadia ternganga tak percaya, bola matanya mengikuti pergerakan paman Harits.


"Sayang," katanya sambil tersenyum dan kembali meninggalkan Nadia.


Wanita itu menggelengkan kepala heran.

__ADS_1


__ADS_2