
"Memangnya ada apa, Pak?" tanya paman Harits sesaat setelah mengikuti langkah ketua RT menuju kediamannya.
"Itu, Tuan. Banyak warga yang keracunan setelah memakan nasi berkat dari rumah Anda termasuk istri dan anak saya," jawab pak RT dengan nada panik dan cemas.
"Maaf, Pak. Bukannya tadi siang Bu RT juga ikut membantu di rumah, kenapa bisa begini?" Nadia yang keheranan ikut bertanya. Rasanya tidak masuk akal saat makanan itu mereka sendiri yang memasak dan membungkusnya.
"Iya, Nyonya. Tadi sore masih baik-baik saja, tapi setelah memakan nasi kotak itu, istri dan anak-anak saya mulai muntah dan lemas." Nadia memandang paman Harits setelah mendengar keterangan dari ketua Rukun Tetangga itu.
"Bapak sudah lapor polisi?"
"Belum, Tuan. Saya tidak berani."
"Kenapa?" Geram sendiri paman Harits.
"Saya takut Tuan akan tersinggung," katanya pelan.
Paman Harits mendesah, "Biar aku saja yang melapor karena bagaimanapun aku yang bertanggungjawab atas mereka," katanya tanpa menjeda langkah kaki.
"Lihat, Tuan!" Mereka semua tertegun melihat laki-laki dan perempuan, anak-anak juga lansia, dalam keadaan lemas tak berdaya.
"Astaghfirullah!"
"Innaa lillaahi!"
"Mas, mereka harus segara dibawa ke rumah sakit!" cetus Nadia dengan wajahnya yang meringis sedih melihat keadaan orang-orang yang tak berdaya di depan rumah pak RT.
"Bawa mereka ke rumah sakit terdekat, cepat!" Paman Harits memerintahkan orang-orangnya yang mengikuti.
"Baik, Tuan!" Tiga orang serempak membungkuk, mereka kembali ke rumah mengambil mobil dan mengangkut semua orang ke rumah sakit terdekat.
"Saya yang akan bertanggungjawab untuk semua biayanya. Pak RT, Bapak ikut dengan saya ke rumah sakit," ucap paman Harits setelah semua orang berhasil diangkut tiga mobil miliknya.
"Iya, Tuan!" Pak RT gegas masuk ke rumah mengambil apa saja yang dibutuhkan saat di rumah sakit. Paman Harits dan rombongannya pun kembali ke rumah mengantar Nadia sekaligus mengambil mobilnya sendiri.
"Mas, aku ikut!" Nadia berdiri di teras saat mobil paman Harits keluar dari garasi.
"Kamu di rumah saja, bersama Ibu dan yang lainnya. Tetap di dalam rumah dan jangan keluar, kunci saja pintunya. Tetap bersama Ibu." Paman Harits memberi peringatan. Hatinya tidak tenang meninggalkan Nadia di rumah meskipun dijaga ketat orang-orangnya.
__ADS_1
Teringat akan kejadian saat Nadia diculik dulu, padahal, rumah itu pun dijaga ketat seperti saat ini.
"Ayo, Nak!" Ibu mengajak Nadia masuk ke rumah meskipun enggan beranjak. Ia masih memandang paman Harits yang sudah duduk di kursi kemudi. Kepala laki-laki itu mengangguk meminta Nadia ikut bersama Ibu.
Ia melaju meninggalkan halaman rumahnya, menjemput ketua RT sebelum pergi ke rumah sakit. Tak lupa ia meminta polisi datang ke rumah sakit untuk mendengarkan keterangan korban dan saksi.
Paman Harits gegas memasuki rumah sakit dan meminta pihak medis menangani semua korban dengan baik.
"Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun. Jika terdapat kesalahan, aku yang akan menuntut pihak rumah sakit!" ancam paman Harits tidak main-main.
"Baik, Tuan!" Tim medis bahu-membahu memberikan pertolongan pada semua pasien. Terpikir olehnya bagaimana keadaan anak-anak jalanan yang diundang ke rumah.
Ia meminta orangnya untuk mencaritahu keadaan mereka. Tak lama polisi datang, dan meminta keterangan. Kebanyakan dari mereka mengalami mual dan muntah. Dehidrasi berlebih hingga membuat tubuh mereka lemas tak bertenaga.
"Dokter! Bagaimana? Apa mereka semua baik-baik saja?" tanya paman Harits segera setelah melihat dokter yang menangani semua orang muncul.
"Mereka memang keracunan, tapi kami sudah menangani semua pasien. Beruntung, keracunan yang mereka alami masih ringan. Kami juga sedang memeriksa jenis racun seperti apa yang ada dalam makanan yang mereka konsumsi," terang dokter membuat paman Harits bernapas lega mendengarnya.
"Alhamdulillah! Lega saya dengernya, Tuan. Semoga saja tidak ada yang lolos," ucap pak RT penuh harap.
"Selamat malam, Tuan!" sapa suara tegap dan tegas milik seorang polisi.
"Malam, Pak!"
"Saya mendapat laporan bahwa ada beberapa warga yang mengalami keracunan dari nasi kotak. Kami juga menemukan beberapa anak jalanan mengalami hal yang sama, beruntung sebuah mobil mengangkut mereka dan membawa mereka ke rumah sakit ini. Jadi, bisa kami meminta keterangan dari pihak-pihak yang bersangkutan?" ucap pak polisi panjang lebar.
"Ah ... ya, Pak. Saya yang melapor, mereka keracunan karena memakan nasi berkat dari acara di rumah saya. Saya ingin pihak kepolisian menindaklanjuti ini dan menemukan penyebab adanya racun dalam makanan tersebut." Paman Harits menjelaskan.
Maka ia dan ketua RT juga beberapa warga memberikan keterangan sesuai yang mereka lihat. Begitu juga dengan warga yang ikut membantu menyiapkan makanan untuk acara tersebut.
"Baik, kami akan memeriksa rumah Anda, Tuan. Jika bisa, Anda ikut dengan kami untuk melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang ada di rumah tersebut." Paman Harits mengangguk setuju.
Namun, baru beberapa langkah saja mereka beranjak, sudah dikejutkan dengan kedatangan Nadia yang berteriak panik.
"Mas! Mas!" Paman Harits tersentak, ia mendongak cepat dan mendapati Nadia yang berjalan kepayahan terburu-buru mendekatinya.
"Nadia!" Paman Harits berlari mendekati istrinya. Tangan wanita itu menopang perutnya yang besar saat berjalan.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kamu menyusul ke rumah sakit?" tanya paman Harits setelah Nadia memeluknya.
"Ibu, Mas, Ibu. Winda dan Rima juga Bibi, semua anak-anak yayasan, mereka ... mereka mengalami hal yang sama dengan warga. Aku membawa mereka ke sini semua. Mas, bagaimana ini?" Tangis Nadia pecah, mengingat kondisi Ibu dan kedua adiknya yang terus muntah mengeluarkan cairan.
"Astaghfirullah! Ada apa sebenarnya, ya Allah!" Paman Harits mengeratkan pelukan pada istrinya yang terus menangis. Ia membawa Nadia duduk di kursi memenangkannya.
Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Padahal makanan itu dimasak mereka sendiri dan sudah pasti mereka tidak akan menaruh apa pun ke dalam makanan itu? Berpikir keras.
"Mas! Mas ingat kemarin malam aku bilang melihat bayangan di lantai satu? Mungkin ada sangkut pautnya dengan itu, Mas?" Nadia mendongak menatap suaminya saat teringat malam di mana dia melihat sesosok bayangan yang hilang di ruang tamu.
Paman Harits tertegun, mengingat kembali cerita Nadia soal bayangan berjubah hitam di lantai satu rumahnya.
"Apa yang Nyonya lihat kemarin malam?" Polisi sigap bertanya, mungkin bisa jadi petunjuk dari semua bencana yang terjadi.
Nadia menoleh, ia meneguk ludah lelah. Berlarian dan berkejaran dengan waktu. Nadia pelan-pelan menceritakan apa yang dia lihat, dan dibenarkan paman Harits.
"Apa Tuan dan Nyonya memeriksa ruangan lain setelah itu?" tanya polisi. Di sinilah kesalahan paman Harits, ia tak menuruti Nadia untuk memeriksa lebih lanjut karena ia pikir itu hanya pantulan bayangan dari orang-orang yang melintas di luar rumahnya.
"Tidak, Pak!" katanya menyesal.
"Kemungkinan pelaku memiliki motif lain selain meracuni orang-orang di rumah Anda. Kemungkian lainnya, dia masih berada di dalam rumah Anda saat ini." Paman Harits termangu, jika benar, apa yang dia inginkan?
"Sayang, kamu tetap di sini. Mas akan ikut polisi memeriksa rumah kita. Kamu tenang saja, di sini aman. Ada mereka yang akan berjaga juga ada pak RT di sana dan warga lainnya juga. Mas pergi." Paman Harits mengecup dahi istrinya sebelum beranjak. Tak lupa ia menitipkan Nadia pada suster untuk menjaganya.
Setelah memastikan Nadia berada dalam tempat yang aman, paman Harits gegas pergi bersama polisi menuju rumahnya.
Sementara itu, sepeninggal Nadia dan semua orang ke rumah sakit. Seseorang keluar dari tempat persembunyiannya. Hal pertama yang dia lakukan adalah memasuki kamar Nadia dan paman Harits.
"Di mana dia menyimpan semuanya?" Bergumam sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar utama tersebut. Ia mendatangi nakas, membuka laci satu per satu dan mengeluarkan isinya.
Tak ada apa pun di sana, hanya kertas-kertas tidak penting saja yang dia temukan. Ia beralih pada almari besar milik tuan rumah. Membuka pintu dan laci satu per satu.
Sebuah kotak juga ia keluarkan, dia membelalak saat kotak tersebut ia buka.
"Rezeki nomplok. Rezekinya anak sholeh." Ia tersenyum lebar dan mulai menguras isi kotak tersebut. Uang tunai dan emas milik Nadia yang tersimpan dalam kotak itu.
"Tidak apa-apa, mungkin malam ini hanya ini yang aku dapatkan. Tidak tahu besok. Haha ...." Ia beranjak, tujuan selanjutnya adalah ruang kerja paman Harits, ruangan yang di dalamnya tersimpan semua milik lelaki itu. Ia berdiri di depan ruangan tersebut bersiap membuka pintu dan menguras semuanya.
__ADS_1