Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
'Azl


__ADS_3

'Azl adalah mengeluarkan cairan di luar farj istri.


Teringat malam di mana Ikram meminta izin Ain untuk menikah lagi. Percakapan antara dirinya dan istri pertamanya itu kembali terngiang di telinga Ikram.


"Baiklah, tapi Abi berjanji harus memenuhi satu syarat yang Umi berikan. Umi akan setuju Abi menikah dengannya," jawabnya tegas. Ain memalingkan wajah dari Ikram dengan sejuta kekesalan yang ia tahan di hati pada waktu itu.


Ikram mengerutkan dahi bingung saat melihat gelagat Ain yang berbeda.


"Apa itu, Umi? Katakan saja, kalau Abi sanggup maka Abi akan melakukannya, tapi kalau tidak beri Abi waktu untuk berpikir," ucap Ikram sembari menebak dalam hati syarat apa yang akan diajukan istrinya itu.


Ain berpaling kembali menatap wajah tak sabar suaminya. Disapunya dengan lembut pipi Ikram sebelum ia mengajukan syarat untuknya.


"Tujuan pernikahan itu adalah untuk mendapatkan keturunan, dan Abi telah mendapatkannya dari Umi sebanyak tiga orang. Menurut Umi itu sudah cukup-"


Ain kembali berpaling setelah melepas tangannya di pipi Ikram. Menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu yang temaram.


"Abi boleh menikahinya, tapi Umi tidak mau Abi sampai memiliki anak dari wanita lain. Cukup dari rahim Umi keturunan Abi terlahir. Umi tidak mau ada keturunan Abi dari rahim wanita lain."


Ain berpaling, pandangannya berpijak pada wajah suaminya yang terkejut. Nampak jelas Ikram begitu terkejut mendengar syarat yang diajukan Ain.


"Apa Abi sanggup memenuhi syarat dari Umi?" tanya Ain menegaskan. Siapa pun tahu bahwa tujuan menikah adalah untuk menyambung keturunan. Bagi Ain cukup anak-anaknya saja yang meneruskan garis keturunan Ikram, tidak dari wanita lain termasuk wanita yang akan dinikahi suaminya itu.


Ikram gelisah, mengingat pernyataan Sarah yang sangat bertentangan dengan syarat yang Ain ajukan.


"Bagaimana, Nak Ikram? Apa Nak Ikram bersedia meminang anak saya? Umur saya sudah tidak lama lagi, dan sebelum meninggal saya ingin melihat anak saya menikah dan menimang cucu. Tolonglah orang tua yang sudah tidak lama lagi hidupnya ini, Nak!"


Kembali mengiang permintaan Sarah di telinga Ikram. Bagai makan buah simalakama, ditelan pahit tak ditelan pun sama pahitnya. Ikram dilema. Apa yang harus ia lakukan dengan permintaan kedua orang itu.

__ADS_1


Sungguh berat syarat yang diajukan Ain untuknya. Ia begitu ingin memiliki anak dari wanita yang akan dinikahinya itu untuk sebuah alasan.


"Bagaimana, Abi? Apa Abi sanggup melakukannya?" Pertanyaan Ain membuyarkan lamunan Ikram dari pada saat pertemuannya dengan Sarah.


Ikram mengangkat pandangannya perlahan dan berpapasan dengan manik sendu milik istrinya itu.


"Apa tidak ada syarat lain selain itu, Mi? Rasanya sungguh berat syarat yang Umi ajukan barusan," keluh Ikram mengutarakan keberatannya akan syarat yang Ain ajukan.


"Tidak ada, Bi. Hanya itu saja, kalau Abi sanggup melakukannya maka Umi sendiri yang akan mengantar Abi saat pernikahan nanti. Akan tetapi, kalau Abi tidak sanggup maka cukuplah Umi yang menjadi istri Abi satu-satunya-"


"Ingat, Bi! Tidak ada wanita yang rela dimadu, sekalipun ia berkata ikhlas hatinya tetap akan merasakan sakit. Sebagai pengobat sakit itu maka Umi mengajukan syarat untuk Abi yang harus Abi jalankan dengan segenap hati Abi," lanjut Ain menegaskan kalimatnya.


Ikram bungkam, ia menunduk mencerna kalimat panjang yang diucapkan Ain barusan. Hanya sebagai pengobat dari rasa sakit karena dimadu. Kata-kata itu terngiang di telinga Ikram. Obat dari rasa sakit karena dimadu.


"Apa Umi benar-benar ikhlas Abi menikah lagi kalau Abi melaksanakan syarat dari Umi?" tanya Ikram sembari menegaskan pandangannya pada Ain.


"Ya ... insya Allah Umi ikhlas dan akan menerima takdir Umi dengan tabah. Hanya jaga saja diri Abi jangan sampai berbuat tidak adil kepada kami kalau Abi tidak mau berjalan terpincang-pincang di alam Mahsyar nantinya," jawab Ain dengan tegas.


Ikram terhanyut hingga ia lupa bahwa dia tengah menguasai Nadia di bawahnya. Wanita itu sempat menitikkan air mata saat pertama kali Ikram menerobos gawangnya.


Dikecupnya dahi Nadia, dan kedua matanya. Terus hidung juga bibirnya yang ranum.


Maafkan Mas, Nadia. Mas terpaksa melakukan ini. Maaf.


Segudang rasa bersalah tiba-tiba menyerang hati Ikram saat ia menyatukan bibirnya dengan milik Nadia. Air matanya jatuh mengenai kulit pipi wanita di bawahnya.


"Mas, kenapa menangis? Sudah tidak sakit, kok. Lanjutkan saja," ucap Nadia sembari memegangi pipi Ikram dengan kedua tangannya saat Ikram menjeda pergerakannya karena teringat percakapannya dengan Ain.

__ADS_1


Ikram semakin merasa bersalah, ia sadar jika ia melakukan itu Nadia pasti akan tersakiti. Namun, jika ia tetap memaksa ia melanggar janjinya pada Ain.


"Tidak apa-apa, sayang. Mas hanya terharu karena kamu masih suci," sahut Ikram berbohong. Nadia mengecup bibir suaminya dengan pelan dan lembut.


"Aku hanya ingin memberikan mahkotaku pada laki-laki yang aku cintai dan telah menjadi suamiku."


Ikram tidak menyangka cinta Nadia padanya begitu besar hingga gadis cantik dan cerdas itu rela dijadikan istri kedua olehnya. Padahal ia tahu, ada banyak laki-laki yang mengagumi sosoknya. Rasa bersalah itu semakin tumbuh dan membesar hingga memenuhi segumpal daging dalam dadanya.


Nadia kembali memulai permainan, dilanjutkan oleh Ikram. Keduanya sama-sama menikmati malam pertama mereka yang sempat tertunda beberapa hari itu. Kini Nadia tahu bagaimana rasanya nafkah batin itu. Selama ini ia hanya mendengar Ikram menjelaskannya lewat ceramah saja.


Peluh membanjiri tubuh keduanya. Mereka hampir sampai di puncak kenikmatan, puncak yang kata orang tempat ******* dari permainan gulat itu. Tepat saat Ikram hendak mencapai puncak, ia mencabut miliknya dan mengeluarkan benihnya bukan pada tempat yang seharusnya disambut air matanya yang berderai sembari menatap Nadia yang syok di atas pembaringan.


Ikram menjatuhkan tubuhnya kembali memeluk Nadia yang membeku. Apa itu tadi?


"Maafkan Mas, Nadia. Maafkan Mas," tutur Ikram sembari terus memeluk tubuh istri keduanya yang masih belum merespon.


"Kamu pasti kecewa pada Mas. Maafkan Mas," ulangnya lagi masih belum mendapat sahutan.


Air mata Nadia jatuh tak tertahan. Apa yang Ikram lakukan sungguh menyakiti sanubarinya. Nadia merasa terpukul. Ia kecewa.


"Kenapa Mas melakukan 'azl tanpa adanya udzur, Mas? Apa Mas Ikram tidak ingin memiliki keturunan dari rahimku? Kenapa, Mas? Kenapa Mas Ikram melakukan ini?" tanya Nadia dengan suara yang lirih hampir tenggelam.


"Mas minta maaf, Nadia. Bukan seperti itu, bukan! Sungguh, Mas juga ingin memiliki anak dari kamu," sahut Ikram belum melepaskan pelukannya dari Nadia.


Hati siapa yang tak teriris saat tujuan pernikahan adalah untuk memiliki anak, tapi justru laki-laki yang memiliki benih melakukan hal yang membuatnya kecewa.


"'Azl dilakukan saat ada udzur yang membolehkannya atau ada kesepakatan dari istri, tapi kita tidak ada kesepakatan sama sekali. Kenapa Mas tega melakukan itu?" Tangis Nadia pecah di tengah malam yang sunyi.

__ADS_1


"Maafkan Mas, Nadia. Maaf!"


Hanya itu yang diucapkan Ikram tanpa dapat menjelaskan sebab kenapa ia melakukan itu. Nadia meronta dalam pelukannya, menangis histeris karena kecewa. Ikram tak dapat melakukan apa-apa selain berdiam diri sambil memeluk istri keduanya yang menangis semakin menjadi.


__ADS_2