Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ruby Ditemukan


__ADS_3

Tiga hari lamanya pihak kepolisian yang bekerjasama dengan tim SAR mencari keberadaan Ruby. Bahu membahu bersama masyarakat setempat. Pada akhirnya pencarian terpaksa dihentikan karena tidak ditemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan Ruby.


Ain meraung sendiri, Ikram menenangkan di sampingnya. Kedua anaknya yang lain pun, menangis di dalam kamar kakaknya. Memeluk guling dan bantal yang biasa Ruby pakai. Menciumi apa saja milik Ruby yang ada di sana.


"Sudah, Mi. Semua ini sudah terjadi, semoga saja Ruby ditemukan orang yang baik hati dan dia bisa kembali setelah sehat nanti," ucap Ikram mengingatkan. Ain masih terus tersedu mengingat semua kesalahan yang telah ia lakukan pada anaknya itu.


Di tengah tangisan penyesalan mereka, ponsel Ikram berdering. Dengan cepat ia mengangkatnya, sebuah kabar baik diterima Ikram dari pihak kepolisian.


"Mi, kita ke Rumah Sakit. Seseorang membawa Ruby ke sana," ucap Ikram.


Antara percaya dan tidak, Ain menggerakkan tubuhnya berdiri mengikuti Ikram. Mereka pergi dengan tergesa menuju Rumah Sakit.


"Pak, di mana anak saya?" tanya Ikram dengan cepat begitu sampai di Rumah Sakit.


"Dia di ruang IGD sedang ditangani dokter," jawab polisi yang menunggu kedatangan Ikram.


"Apa Bapak tahu, siapa yang membawa anak saya ke Rumah Sakit?" tanya Ikram lagi tak sabar.


"Ada seseorang yang membawa anak Bapak ke Rumah Sakit, tapi dia tidak ingin menunggu di sini. Dia hanya orang yang tidak sengaja melintas di jalan dan menemukan anak Bapak tergelatak di sana," jawab polisi tersebut tak memberi rasa puas untuk Ikram.


"Tapi bagaimana keadaan anak kami, Pak?" tanya Ain. Air matanya masih saja berjatuhan membasahi pipi.


"Kami belum tahu pasti seperti apa keadaannya. Dokter sedang memeriksanya, berdoa saja semoga anak Bapak dan Ibu baik-baik saja," jawab polisi tersebut memberi harapan pada mereka berdua.


Keduanya menunggu dengan gelisah di depan ruang IGD. Berdoa tiada henti untuk keselamatan Ruby. Malam sudah larut, Rumah Sakit pun sudah sepi dari pengunjung. Ain menyandarkan kepala di bahu Ikram, masih terdengar isak tangis darinya.


Dua jam lamanya menunggu, akhirnya pintu ruangan IGD terbuka. Ain dan Ikram berdiri bersamaan dan mendekati dokter.


"Bagaimana keadaan anak kami, Dokter?" tanya Ikram dengan cepat.


Melihat raut gelisah di wajah dokter tersebut, Ikram dan Ain dilanda kekhawatiran yang sangat.


"Maafkan saya, ada gumpalan darah di otaknya yang menyebabkan anak Ibu dan Bapak koma untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Sebaiknya kita perlu melakukan operasi untuk membersihkannya. Lebih cepat dilakukan maka itu lebih baik," jawab dokter yang membuat Ain dan Ikram tercengang karenanya. Terlebih saat mendengar nominal uang yang harus mereka keluarkan.


"Saya permisi dulu, silahkan masuk dan tolong jangan buat gaduh di dalam!" ucap dokter seraya meninggalkan mereka di depan ruang IGD.


Ain kembali menangis, ia memeluk Ikram dan membenamkan wajah di dada suaminya itu.

__ADS_1


"Anak kita, Bi. Dia koma," ucap Ain tersedu-sedu.


"Iya, Mi. Abi tahu. Abi akan memikirkan biaya untuk operasinya nanti. Sekarang sebaiknya kita masuk ke dalam untuk melihat keadaannya." Ain menurut.


Keduanya masuk ke ruang IGD dan mendapati Ruby yang terbaring dengan bermacam-macam alat medis yang terpasang di tubuhnya.


"Ruby!" lirih Ain ketika melihat wajah putri sulungnya yang dipenuhi perban.


Ia kembali menangis. Ikram menahan diri sekuat mungkin. Ia menenangkan Ain yang terus menangis tiada henti.


"Ruby harus dioperasi, Bi. Biayanya tidak sedikit, dari mana kita akan mendapatkan uang?" ujar Ain dengan matanya yang sudah membengkak.


"Umi tenang saja, besok Abi akan mencari pinjaman untuk biayanya." Ikram mengajak Ain untuk duduk di kursi samping ranjang Ruby.


"Seandainya masih ada Nadia, mungkin dia bisa membantu kita. Tapi rasanya itu tidak mungkin, dia tidak mungkin kembali karena Umi sudah terlalu jahat padanya," ungkap Ain dengan wajah yang tertunduk dan ia tutupi dengan kedua tangan.


Apa kubilang, kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga.


Ain baru menyadari bahwa kehadiran Nadia teramat berarti dalam hidupnya juga anak-anaknya. Terlebih saat keadaan seperti ini, Nadia sangat-sangat bisa membantu mereka jika ia masih ada di sana. Sayang, penyesalan tinggallah penyesalan. Kata andai tak dapat membuat Nadia kembali begitu saja.


Ikram pun menyadari itu. Betapa ia membutuhkan Nadia saat ini. Jika ia ada, maka mereka tidak perlu kesusahan mencari uang untuk operasi Ruby. Otak licik mereka benar-benar jahat.


Ain menggeleng, menyesal karena selama ini terlalu menghamburkan uang untuk kepentingannya sendiri.


"Usahanya bangkrut, Bi. Tidak ada lagi pemasukan. Simpanan Umi sudah habis kemarin saat acara syukuran anaknya Yuni. Hanya ada pemberian dari orang-orang itu saja yang tak seberapa," jawab Ain dengan lirih.


"Astaghfirullah!" Ikram frustasi, tapi tidak ingin berputus asa.


Keesokan harinya, Ruby dipindahkan ke ruangan. Biaya Rumah Sakit pun bertambah. Dari mana ia akan mendapatkan uang untuk membayarnya.


"Mi, Abi pergi dulu. Doakan semoga Abi bisa mendapat pinjaman untuk biaya operasi Ruby," pamit Ikram yang diangguki Ain. Ia pergi dari Rumah Sakit diiringi doa Ain yang tak henti ia ucapkan.


Ikram mendatangi rumah-rumah temannya. Satu per satu ia ketuk pintu rumah mereka dan meminjam uang kepada mereka. Tak satu pun di antara mereka yang mau meminjamkan uangnya. Berbagai macam alasan mereka gunakan agar Ikram tidak merengek kepada mereka.


Ia kembali dengan gontai, luruh di lantai dalam ruangan Ruby. Ain tahu apa yang terjadi tak perlu bertanya lagi.


"Tidak ada satu pun dari mereka yang mau meminjamkan uangnya kepada Abi. Mungkin mereka takut Abi tak akan mampu membayarnya. Maafkan Abi, Mi," ungkap Ikram dengan lesu.

__ADS_1


"Jadi, Abi belum mendapatkan uangnya?" tanya Ain. Ia mendatangi Ikram dan ikut duduk di sampingnya.


"Kita harus bagaimana, Bi?" tanya Ain. Ia memandang kosong udara di depannya.


"Abi juga tidak tahu. Coba Umi hubungi jamaah pengajian, siapa tahu ada yang mau membantu kita," pinta Ikram mengingat jamaah pengajian di tempatnya.


Ain pun mulai beraksi. Ia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi jamaahnya satu per satu. Anehnya, dari sekian banyak jamaah tak satu pun dari mereka yang mau membantu.


"Mereka juga tidak ada yang bisa membantu, Bi," keluh Ain membenamkan wajah di lutut. Kembali pada tangisannya.


Sekarang hanya keajaiban yang mereka harapkan. Semoga saja ada ma'uunah dari Yang Esa.


Dua hari lamanya, Ruby dirawat. Dan selama itu pula Ain dan Ikram tak henti mencari uang untuk segera mengoperasi Ruby. Namun, sepertinya jalan rezeki mereka tertutup. Ikram tak dapat melakukan apa-apa lagi.


Sesuatu tak terduga terjadi. Tubuh Ruby tiba-tiba mengejang, menggelepar di atas ranjang. Ain menjerit-jerit memanggil dokter. Meminta bantuan mereka. Tim dokter datang dengan berbagai alat yang mereka bawa.


Mereka mengusir Ain dan Ikram dari ruangan. Biar hanya dia yang tahu. Ruby dilarikan lagi ke ruang tindakan.


Mereka kembali menunggu dengan cemas.


"Kenapa Ruby, Abi? Kenapa dia begitu? Apa Ruby akan baik-baik saja?" tanya Ain dengan air matanya yang berlomba dari pelupuk.


"Sabar, Mi. Tenang. Ada dokter yang sedang menangani Ruby di dalam. Umi berdoa saja semoga Ruby tidak kenapa-napa," ucap Ikram lagi.


Bilal dan Nafisah datang bersama Ibu. Keduanya langsung berhamburan memeluk orang tua mereka. Menangis dan meracau yang tidak-tidak. Ibu dapat melihat penyesalan yang dalam di manik kedua orang itu.


Tak lama, dokter keluar dari ruangan. Ia menjelaskan kondisi Ruby yang memburuk dan harus secepatnya melakukan operasi. Dokter juga menjelaskan apa saja yang harus dilakukan untuk dapat menjalankan operasi.


"Tapi dokter kami belum mempunyai uangnya. Apa bisa bayarnya nanti saja? Lakukan saja operasinya dulu, masalah biaya nanti akan menyusul. Secepatnya akan kami bayar," pinta Ikram dengan sangat.


Dokter itu menggeleng. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Ikram dan Ain dilanda cemas dan juga bingung. Mereka tidak tahu harus apa.


"Ya sudah, Dokter. Tidak apa-apa, biarlah saja seperti itu. Kami tidak punya uang," celetuk Ikram yang tiba-tiba.


Ain meradang, ia berdiri dan emosi pada Ikram.


"Bagaimana bisa Abi mengatakan itu. Dia anak kita, Umi tidak mau kehilangan Ruby. Tidak!" teriak Ain tepat di depan wajah Ikram.

__ADS_1


"Lalu bagaimana lagi? Kita memang tidak punya uang untuk membayarnya-"


"Lakukan operasinya sekarang juga!"


__ADS_2