Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Terbongkar


__ADS_3

"Siapa yang ingin Abi temui? Nenek? Nenek sudah meninggal." Ruby mencebik melihat wajah-wajah sok terkejut mereka. Ia menunggu respon dari semua orang soal kabar yang dia beri.


Ikram memandang tak percaya pada Ruby. Ia ingin telinganya itu telah salah mendengar. Mimik wajah Ruby terlihat tidak main-main bahkan ada tetesan air yang jatuh tanpa suara dari matanya. Ruby menyeka cepat air itu tak ingin menunjukkan kesedihannya.


"Jangan bermain-main dengan kematian, Ruby!" Ikram berdiri dari duduknya, maniknya terpaku pada sosok remaja yang mulai beranjak dewasa itu.


Ruby mendengus mendengar kalimat Ikram. Ia tertawa hambar, suara tawa yang mengandung kesedihan membuat mereka meneguk ludah dengan susah payah. Tangannya kembali mengusap pipi kala air dari mata menjatuhinya.


"Siapa yang sedang bermain-main? Kalian-lah yang sedang berlakon di atas air mata kami. Berpura-pura mencari Bunda padahal, kalian tahu yang sebenarnya terjadi," timpal Ruby lagi yang semakin membuat Ikram bingung. Laki-laki itu mendekat pada putrinya, berhadapan langsung dengannya.


"Katakan yang sebenarnya, Ruby! Siapa yang meninggal?" Ikram menggeram, perasaan takut mulai menjalar memenuhi hatinya. Biji manik keduanya beradu, sama-sama menelisik suatu kebenaran dari dalam sana.


"Apa Abi benar-benar tidak tahu, kalau nenek Sarah meninggal?" tanya Ruby setelah mencari tahu bagaimana Ikram sesungguhnya lewat pancaran mata mereka tadi.


Ikram memegangi kedua bahu anaknya itu, ia mendekatkan wajahnya pada Ruby meyakinkan putri sulungnya bahwa ia memang tidak tahu apa-apa.


"Abi benar-benar tidak tahu, Ruby. Tidak ada yang memberitahu Abi soal itu. Sungguh, Abi tidak tahu," ucap Ikram dengan suara yang bergetar. Ruby akhirnya sadar bahwa Ikram benar-benar tidak tahu soal kematian Sarah.


"Aku memberitahu Abi. Aku telepon Abi, tapi Abi selalu menolaknya. Aku kirim pesan, tapi Abi tidak membalasnya. Sekarang, kenapa seolah-olah Abi tidak tahu? Apa Abi tidak menganggap Bunda dan Nenek sebagai keluarga? Bukankah mereka keluarga kita, Bi? Kenapa kita tidak mempedulikan mereka, Umi?" Ruby memandang bergantian Ikram dan Ain.


Ikram terdiam, ia menjauh dari Ruby berpikir kapan Ruby menelponnya? Ia bahkan tidak tahu kalau Ruby mengiriminya pesan.


"Abi benar-benar tidak ingat, kapan tepatnya Nenek meninggal?" tanya Ikram sembari terus mengingat pesan dari Ruby.


"Dua hari setelah Bunda pergi dari rumah, dan sekarang sudah satu Minggu Nenek meninggal. Sedangkan kalian di sini terus berdebat soal Bunda. Itu karena kalian tidak mau peduli pada Bunda dan Nenek," sahut Ruby masih dengan luapan emosi yang kentara.


"Dua hari setelah Nadia pergi! Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'un. Ya Allah!" Ikram menjambak rambutnya sendiri. Ia menunduk menyembunyikan tangisnya yang hampir saja pecah.


Ruby masih bergeming di tempatnya, memandangi ketiga orang dengan riak yang berbeda.


"Hari itu Abi sedang mencari Nadia, tidak membawa ponsel." Ikram teringat saat waktu itu. Ruby mengernyit.

__ADS_1


"Kalau kamu mengabari Abi, itu artinya ada yang memainkan ponsel Abi di rumah. Dia yang tahu, tapi tidak memberitahu Abi," lanjut Ikram lagi, matanya berubah sendu. Kesedihan dan penyesalan nampak jelas di maniknya yang berwarna cokelat.


Ia berbalik memandang kedua istrinya yang berbeda ekspresi. Yuni yang tetap tenang di tempatnya duduk bersama sang bayi, dan Ain yang terdiam sama bingungnya dengan Yuni.


"Apa kalian yang melakukan ini? Diam-diam mengetahui semuanya, tapi menyembunyikan itu dariku?" ketus Ikram pada kedua wanita yang menjadi istrinya itu. Ia memandang Yuni dengan tajam, curiga pada istri ketiganya.


"Maaf, Mas. Aku memasuki kamar kamu saja tidak berani, apa lagi sampai menyentuh benda pribadi milik kamu. Aku sendiri tidak tahu di mana kamu menyimpannya," ucap Yuni tanpa ditanya pun ia tahu sorot mata Ikram menuntut penjelasan.


Ikram menelisik kejujuran lewat garis wajah yang dibentuk wanita itu. Yuni tidak berbohong. Memang, selama ini wanita itu tidak pernah memasuki area kamarnya. Ia selalu berada di dalam kamarnya sendiri selama ini.


"Kalau bukan Yuni, apa Umi yang melakukan ini semua? Kenapa, Mi? Kenapa kabar sepenting itu tidak Umi beritahukan kepada Abi? Apa sedendam itu Umi pada Nadia? Apa sebenci itu Umi padanya? Kenapa Umi tega melakukan ini, ya Allah!"


Ikram menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Menumpahkan kekesalan yang kembali menggunung oleh kelakuan istri pertamanya itu.


"Kenapa Abi menuduh Umi? Tidak ada bukti kalau Umi yang melakukannya? Jangan asal menuduh, Bi," tolak Ain dengan tenang.


Ikram melirik padanya, pandangannya menajam dan dingin. Maniknya yang hangat diselimuti api amarah yang membara.


Yuni melirik kepada Ain, ia ingin mengatakannya, tapi takut dituduh menjadi pengadu domba. Jadilah ia hanya menunggu Ain yang mengatakannya sendiri.


"Lalu, Abi menuduh Umi? Untuk apa Umi melakukannya? Tidak ada gunanya hanya menambah dosa saja." Ain tersenyum aneh. Ikram memperhatikan itu semua.


"Aku sebenarnya tidak ingin bicara, tapi melihat perdebatan ini akan sangat panjang karena tidak ada yang mengaku, aku akan jujur saja-"


"Tuh, Bi, dengar dia yang mengaku. Bukan Umi!" tukas Ain dengan cepat saat mendengar Yuni angkat bicara. Ikram memandang istri ketiganya, mata merah menyala bersiap melahap apa saja yang dijumpainya.


"Benar, kamu yang melakukannya!"


Yuni mendesah, ia memejamkan mata sejenak sebelum kembali melayangkan tatapan pada sosok Ain yang menggigit bibirnya.


"Hari itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa kak Ain yang memasuki kamar kamu, Mas. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di dalam sana, tapi saat keluar kak Ain terlihat mencurigakan. Aku bukannya menuduh, benar yang dikatakan Mas Ikram hanya ada kita berdua di rumah ini selain suami kita," lanjut Yuni menjelaskan dengan sikap tenangnya.

__ADS_1


Ikram semakin geram, kedua tangannya terkepal, rahangnya mengeras.


"Bagaimana Umi akan menjelaskan itu?" sengitnya dengan hembusan napas seperti seekor banteng yang siap menyeruduk orang-orang berpakaian merah.


"A-apa? Jangan memfitnah kamu, Yun! Tidak, Bi, semua itu cuma fitnah supaya Abi membenci Umi," kilah Ain lagi. Suaranya terdengar gugup keringat kasar bahkan sudah bermunculan di dahinya. Ain gugup.


"AIN!"


"ABI!"


"MAS!"


Ruby dan Yuni kompak berteriak saat tangan kanan Ikram terangkat hendak memukul Ain. Ruby sigap berdiri di depan tubuh Ain, melindungi uminya dari pukulan yang kapan saja akan mendarat di wajahnya. Ain membuang muka, meringis dengan air mata yang berjatuhan.


"Jangan pernah memukul Umi! Aku tidak akan membiarkan Abi melakukan tindak kekerasan terhadap Umi. Jangan memukul Umi!" jerit Ruby dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Bagaimanapun kelakukan Ain, ia tetap wanita yang telah berjasa melahirkannya. Siapa pun tak akan ia biarkan menyakiti kulitnya.


"Astaghfirullah!" Ikram mengepalkan tangan di udara dan menariknya kembali. Hampir saja ia memukul wajah Ain karena terlalu emosi jika saja Ruby tak sigap menghalangi.


"Ruby!" lirih Ain merasa Ruby berada di pihaknya. Ia tersenyum haru, menangis bahagia karena anaknya itu ternyata masih menyayanginya.


Ain hendak memeluknya, tapi Ruby justru menjauh. Ia membelanya, bukan berarti membenarkan tindakannya.


"Umi juga salah, tidak seharusnya Umi menyembunyikan fakta yang Umi ketahui. Abi berhak tahu selaku suami Bunda dan menantu Nenek. Kenapa Umi malah menghalangi Abi untuk melakukan baktinya pada mertua meski itu dilakukan sekali dalam seumur hidupnya. Umi keterlaluan. Aku yakin, Umi juga tahu perihal Bunda yang koma di Rumah Sakit," ucap Ruby panjang lebar.


Ikram membelalak mendengar itu. Pun dengan Yuni.


"Koma? Nadia?"


"Ya, Abi. Bunda koma karena terlalu syok dengan kematian Nenek," tegas Ruby lagi tanpa memalingkan wajah dari menatap Ain yang menundukkan wajahnya.


"Abi tidak tahu apa-apa soal Bunda selama ini, bukan? Bunda memiliki suami, tapi seperti tidak memilikinya. Abi tidak pernah peduli pada Bunda selama ini." Tangis Ruby pecah membuat bingung Ikram dan Yuni. Sementara Ain, terus tertunduk menekuri lantai.

__ADS_1


__ADS_2