
Terlambat itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Panik. Paman Harits saat menerima pesan dari Nadia, ia yang belum sempat memegang gawainya, menjadi kesal sendiri.
"Kita kembali sekarang juga! Sesuatu terjadi di rumahku!" titah paman Harits tak menghentikan laju langkahnya barang sejenak pun. Ia terus saja melangkah menaiki lift turun ke lantai dasar hotel tempatnya tinggal beberapa hari di kota tersebut.
Di belakangnya, Yoga mengikuti dengan langkah yang sama. Keduanya memasuki mobil yang sama dengan Yoga sebagai pengemudi. Di belakang mobil mereka, dua buah mobil mengikuti.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Entah dari mana orang itu tahu nomor telepon paman Harits. Ia menunjukkannya pada Yoga dan dengan mudah asistennya itu tahu apa yang harus dia kerjakan.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan? Pergilah ke mobil yang lain, mereka memintaku datang seorang diri. Aku akan datang sendirian menemui mereka," titah paman Harits pada Yoga.
Tidak main-main perintah itu ia berikan. Tekad yang terpancar dari mata lelaki itu benar-benar tak dapat disangkal.
"Tapi, Tuan. Itu akan sangat membahayakan Anda. Bagaimana kalau mereka berbuat nekad?" ucap Yoga risau dengan kepergian Tuannya yang seorang diri.
Paman Harits bergeming pada keputusannya, ia akan tetap pergi sendiri membawa apa yang mereka pinta. Melakukan pertukaran yang akan membuat mereka menyesali tindakan mereka saat ini untuk seumur hidup.
"Apa kamu lupa siapa aku? Hal seperti ini sering aku lakukan dulu. Sekarang, hanya orang-orang bodoh saja yang akan aku hadapi, tidak masalah. Mereka hanya para pecundang yang beraninya cuma menggertak dan mengancam saja. Pergilah, aku akan langsung ke tempat yang mereka sebutkan. Bertindak cepatlah, jangan sampai terlambat. Aku mengandalkanmu!" Paman Harits menoleh, ia tersenyum pada asistennya yang masih mengendalikan mobil itu.
Anggukan kepalanya yang mantap, menjawab perintah Tuannya. Mobil menepi diikuti dua mobil lainnya. Yoga keluar dan masuk ke dalam salah satu mobil tersebut. Mereka berpisah, dua mobil dibawa Yoga ke suatu tempat, sedangkan paman Harits menuju lokasi yang telah dijanjikan para penculik Nadia.
Lihat saja, berani kalian menggores kulit anak dan istriku, aku tak akan memberi pengampunan pada kalian.
__ADS_1
Ia menggeram dalam hati. Mengancam, kedua tangannya mencengkeram erat kemudi bersamaan dengan bunyi gemelutuk gigi. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, ditengah keramaian dan kepadatan kendaraan, paman Harits menyalip kendaraan-kendaraan di depannya. Tak sabar rasanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang telah berani bermain-main dengannya.
Mobil melambat setelah memasuki kawasan sepi penduduk, tak ada rumah. Hanya ada gedung-gedung terbengkalai bekas pabrik yang sudah lama tak digunakan lagi. Suasana mencekam menyergap hati paman Harits, tapi bukan paman Harits namanya jika baru begitu saja ia sudah ketakutan.
Ia tetap terlihat tenang, sama sekali tak bergetar. Ini belum seberapa, dia bahkan sudah pernah berhadapan dengan situasi lebih menegangkan dan hampir merenggut nyawanya.
Mobil memasuki area lapangan luas yang dikelilingi gedung-gedung lapuk. Tepat di ujung sana, Nadia dan bayinya berada. Di belakang mereka, dua orang tak asing berdiri menodongkan pistol di kepala sang istri.
Air mata wanita itu bercucuran, berpadu dengan tangisan Zahira yang memeluk ibunya ketakutan. Pegangannya menguat pada kemudi, rahangnya ikut mengeras. Marah, tapi ia tak boleh gegabah.
Dengan sikapnya yang tenang, ia keluar dari mobil. Membenarkan jas yang dikenakannya, sebelum melangkah ke depan mobil. Suasana sore itu terasa berbeda. Ia meneguk saliva saat melihat ketakutan yang nyata di manik sang istri. Paman Harits menggeleng, lalu mengangguk dengan matanya yang berkedip lemah.
Isyarat untuknya bersikap tenang dan percaya padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan berangsur-angsur Nadia mulai meredakan tangisnya, ia menimang Zahira menenangkan bayi itu. Ketenangannya akan memberi kekuatan pada lelaki yang berdiri tegap di sana.
"Pengecut, hanya demi berkas ini kalian sampai tega menculik adik ipar kalian sendiri dan menakuti keponakan kalian yang masih bayi. Serahkan mereka padaku kalau kalian menginginkan ini. Aku akan memberikannya dengan suka rela jika kalian melepaskan anak dan istriku," tawar paman Harits tidak main-main.
Ia membanting berkas tersebut di atas mobilnya, dan menunggu mereka melepaskan Nadia juga bayinya.
"Kami tidak bodoh! Serahkan berkas tersebut kepada kami, maka kami akan melepaskan anak dan istrimu. Cepatlah!" titah mereka dengan berani.
Paman Harits melempar lirikan pada deretan orang yang berbaris di belakang kedua kakaknya itu. Ia mengangkat bahunya, melirik berkas sebentar sebelum melempar pandangan pada kedua kakaknya lagi.
"Baik, itu artinya kalian memilih jalan lain. Apa kalian yakin tidak akan menyesal? Aku pastikan kalian akan menyesali apa yang kalian lakukan saat ini seumur hidup kalian. Jadi, bagaimana? Mau menyerahkan istriku dan mengambil berkas ini? Atau aku sendiri yang datang pada kalian mengambilnya dan kalian bisa mengambil berkas tersebut di sini," ucap paman Harits lagi mulai melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun.
__ADS_1
Suara letusan menggema di langit, bersambut dengan tangisan Zahira yang menjerit karena ketakutan. Paman Harits memejamkan mata, menahan gejolak api amarah yang telah membakar dadanya.
Ia menghentikan langkah, menatap Nadia yang kembali gelisah. Mulut senjata itu ditekan tepat di pelipisnya. Tubuhnya gemetar hebat.
"Berhenti di sana! Serahkan berkas itu pada orangku. Aku tidak ingin tertipu, dan aku tidak main-main, Harits!" ucap kakak tertua paman Harits dengan lantang.
Hening. Hanya beberapa saat saja sebelum tawa darinya pecah yang berhasil membuat bingung semua orang.
"Kamu tidak lihat di sana! Buka mata kalian lebar-lebar dan pastikan apa yang kalian lihat!" Senyum di bibirnya tetap tersungging, belum apa-apa kedua tubuh kakaknya itu menggigil hebat.
Mata mereka membelalak, Nadia tersenyum. Suaminya selalu punya cara untuk membuatnya lebih tenang. Ia menenangkan Zahira yang masih menangis di gendongan.
"Tenang, sayang. Ayah di sana. Coba kamu lihat, Ayah sudah datang dan berdiri di sana. Tenang, ya, sayang. Kita akan baik-baik saja," bisik Nadia dengan pelan di telinga putrinya. Ia memutar kepala Zahira agar putrinya itu dapat melihat sosok Ayah yang berdiri di sana.
Tangis bayi itu perlahan mereda. Ia menjatuhkan kepala di dada ibunya saat melihat sang Ayah yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu memang licik, Harits! Manusia licik yang tak punya hati!" umpat kakak kedua penuh amarah.
"Kalau aku disebut licik ... lalu, kalian berdua apa? Kalian yang memulai, aku hanya mencoba mengakhiri-"
"Sekali saja kamu tarik pelatuk itu, lihat apa yang akan aku lakukan!" sambung paman Harits sambil mengangkat tangannya yang lain ke udara.
Mereka meneguk ludah bingung. Ini seperti melempar bumerang.
__ADS_1