
Usai melakukan kegiatan rutinnya, Nadia menyempatkan diri datang ke pabrik. Mengecek langsung kondisi pabrik konveksi miliknya yang akhir-akhir ini dibanjiri pesanan.
"Assalamu'alaikum, Mah!" sapa Nadia saat melihat Sarah di kantor.
"Wa'alaikumussalaam, Sayang. Apa kabarmu, Nak?" balas Sarah seraya memeluk dan mencium anak satu-satunya itu.
"Alhamdulillah, baik, Mah. Gimana keadaan pabrik? Sudah lama aku tidak berkunjung," tanyanya sembari duduk di sofa yang ada di kantor tersebut.
"Alhamdulillah, Nak. Sejak kamu mengurus anak-anak itu, pesanan di pabrik selalu melimpah. Bukannya ini yang kamu inginkan? Kamu ingin memenuhi semua kebutuhan mereka termasuk pendidikan mereka, dan Allah mudahkan jalannya. Bersyukur, Nak. Jangan sampai kufur," ucap Sarah sembari mengingatkan anaknya itu.
"Alhamdulillah, ya Allah. Iya, Mah. Ini sudah rezeki mereka," sahut Nadia penuh haru.
Keduanya terlibat obrolan tentang kondisi pabrik konveksi mereka. Nadia bahkan mendatangi karyawannya dan menyapa mereka semua.
"Ini pesanan dari kota Tangerang, seragam untuk buruh pabrik," jelas Sarah menunjukkan pesanan seragam yang sedang dibuat karyawan.
"Maa syaa Allah, Alhamdulillah. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk semua orang," sambut Nadia penuh syukur.
Ia kembali ke kantor setelah memeriksa keadaan pabrik. Melihat karyawan yang semangat dalam bekerja, ia merasa senang. Artinya mereka tidak terbebani dengan pesanan yang selalu melimpah. Itu termasuk rezeki mereka karena mereka akan mendapat uang tambahan sesuai banyaknya pesanan.
"Mah, Nadia pulang, ya. Sudah sore," pamit Nadia setelah jam pulang para karyawan.
"Ya, sayang. Hati-hati, perlu Mamah antar?" tawar Sarah yang dijawab gelengan kepala oleh Nadia.
"Tidak usah, Mah. Nadia pulang dengan taksi online saja," katanya. Ia berpamitan pada Sarah dan karyawan lainnya. Dengan membawa satu bungkus nasi untuknya makan. Makanan yang sama seperti yang dimakan oleh karyawannya di pabrik.
Mobil langganannya lebih cepat sampai. Tak ingin menunda waktu lebih lama, ia pun segera menaikinya.
Nadia yang lelah langsung menuju rumahnya, tanpa membeli apa pun lagi. Ia berjalan lunglai memasuki gerbang, kondisi tubuhnya yang sakit membuat Nadia mudah merasa lelah.
Ia membuka kunci rumah, dan langsung masuk tanpa memeriksa keadaan rumahnya. Menguncinya kembali karena Nadia tidak berencana pergi keluar lagi setelah itu. Ia berbalik dan terlonjak kaget.
"Astaghfirullah! Mas!" pekiknya sembari melompat ke belakang hingga membentur pintu. Ikram berdiri tanpa suara di dalam rumahnya, menunggu kedatangan Nadia dengan wajah yang tegang terkesan dingin.
Ia mengusap-usap dadanya sembari menegakkan tubuh. Nadia mendekati suaminya dan mencium tangan laki-laki itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas," katanya.
"Wa'alaikumussalaam!" sahut Ikram dingin. Nadia yang ingin melepaskan tangannya, ditahan Ikram dengan erat. Sudah lama rasanya Ikram tak menyentuh kulit yang dulu lembut kini terasa kasar sedikit.
Nadia mengangkat pandangan dengan alis yang berkedut. Ikram mematri tatapan pada manik hazel milik istri keduanya itu, menelisik kejujuran dan kebohongan lewat sorot matanya.
"Ada apa, Mas? Kenapa melihatku seperti itu, Mas?" tanya Nadia dengan polos. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya itu.
"Dari mana saja kamu?" tanyanya dingin pandangannya menusuk manik Nadia.
"Lho, tadi pagi bukannya aku kirim pesan sama Mas kalau aku ke pabrik hari ini," jawab Nadia santai. Ikram mengeratkan genggaman, ia seolah tak peduli Nadia akan merasa sakit karenanya.
Namun, wanita di hadapannya tak menampilkan ekspresi kesakitan. Mengernyit, atau meringis, Nadia hanya menahan itu semua dengan menggigit daging bibir bagian dalamnya.
"Dengan siapa kamu pergi?"
"Oh ... itu taksi online, Mas. Grab ... Mas tahu, 'kan, grab?" jawab Nadia lagi masih bersikap santai meskipun pandangan Ikram mengintimidasinya.
"Nadia!" Ikram menggeram kesal. Kemarahan yang ditahannya, hampir saja ia luapkan jika hatinya tak mengucap istighfar.
"Kamu tahu, bukan? Seorang wanita yang telah bersuami haram berkhalwat dengan laki-laki ajnabi?" tekan Ikram tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Lalu, kenapa kamu melakukannya?" Ikram mengeratkan rahang menahan kesal.
"Melakukan apa, Mas?" Nadia bertanya bingung. Seingatnya, ia tak pernah berduaan dengan laki-laki di tempat sepi kecuali saat bertemu Rai dan itu pun di keramaian secara tidak sengaja.
"Astaghfirullah! Kamu berduaan dengan laki-laki di dalam mobil itu, Nadia!" geram Ikram. Ia pikir Nadia sedang berpura-pura lupa dengan kejadian tadi pagi.
Ia terdiam berpikir, seingatnya tidak ada laki-laki di dalam mobil yang ia tumpangi.
"Maksud Mas, supir taksinya?" tanyanya menahan senyum di bibir. Ikram mengernyit, tidak menjawab karena yang ditanya Nadia ia sendiri pun tahu jawabannya.
"Itu perempuan, Mas. Taksi online yang aku pesan itu pengemudinya perempuan bukan laki-laki," lanjut Nadia sembari tersenyum tipis. Menahan geli melihat Ikram bersikap seperti saat ini. Apa dia cemburu?
"Benar?" tukas Ikram dengan cepat.
__ADS_1
Nadia berdecak sabar. "Benar, Mas. Untuk apa aku bohong, tidak ada gunanya," sahut Nadia tersenyum semakin lebar.
Ditiliknya wajah Nadia yang selalu manis terlihat, ia tak pernah bermuka masam meskipun Ikram jarang datang berkunjung.
"Tapi yang Mas lihat dia laki-laki," tegas Ikram lagi.
Nadia menganggukkan kepala mengerti.
"Oh, jadi tadi pagi itu Mas ngintip aku pergi? Kenapa tidak Mas datangi saja supaya Mas bisa lihat sendiri kalau supir taksinya perempuan. Dia memang suka memakai topi dan kacamata, juga berdandan seperti laki-laki. Perempuan, Mas ... perempuan," jelas Nadia lagi tetap memasang senyum di bibir.
"Apa Mas harus percaya?" Ikram mulai meragu.
Nadia merogoh tasnya, ia mengeluarkan ponsel miliknya dan menyodorkannya pada Ikram.
"Ini! Coba Mas periksa riwayat pesanan aku, lihat supirnya laki-laki atau perempuan?" titah Nadia sembari memberikan ponselnya pada Ikram.
Tanpa melepas tangan Nadia, Ikram meraih ponsel istrinya itu. Memeriksa dengan detail, wajahnya memerah saat ia menemukan apa yang dikatakan Nadia benar adanya.
"Nah ... bener, 'kan? Perempuan bukan laki-laki," goda Nadia sesaat setelah Ikram menyerahkan lagi ponselnya.
"Maafkan, Mas. Mas hanya takut istri Mas tidak bisa menjaga marwahnya karena dosanya akan Mas yang menanggung. Lagi pula Mas juga tidak mau menjadi seorang dayyuts," sesal Ikram melembutkan pandangan dan genggaman tangannya.
"Dayyuts? Apa itu, Mas?" tanya Nadia dengan gurat bingung dan ingin tahu.
"Dayyuts itu seorang laki-laki yang membiarkan istrinya didatangi laki-laki lain yang bukan mahramnya. Dan laki-laki seperti itu haram mencium bau surga," jawab Ikram membuat Nadia bergidik ngeri.
Kesalahpahaman antara keduanya akhirnya dapat diselesaikan tanpa harus ada perdebatan dan perselisihan. Sikap Nadia yang tetap lembut dan sabar juga senyum yang menghiasi wajahnya membuat hati Ikram merasa tenang.
Kumandang adzan Maghrib menghentikan keduanya dari berdiri di ruang tengah rumah.
"Shalat jamaah, yuk!" ajak Ikram, ia berencana menginap di rumah Nadia malam itu. Menunaikan kewajibannya sebagai suami dan memberikan hak Nadia sebagai istri.
"Maaf, Mas, tapi aku sedang free. Maaf, ya," sesal Nadia dengan gurat wajah tak enak.
Ikram mendesah lesu, rencana bercinta dengan bini muda gagal karena Nadia sedang tersegel oleh tamu bulanannya.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Baru sore tadi dia datang." Nadia memeluk Ikram untuk menenangkan suaminya itu. Ia pun tak menampik menginginkan nafkah batin dari Ikram. Menunggu selama tiga hari, laki-laki itu tak kunjung datang. Dan malam ini saat ia datang mereka harus berpuasa.
Jadilah, Ikram pergi ke masjid sendiri dan Nadia membersihkan diri.