Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kedatangan Mereka


__ADS_3

Ada sebuah kejadian tak terduga, di mana saat kedua mempelai sampai pada acara sungkeman. Nadia meminta paman Harits menarik ibunya, dan ia sendiri menarik Ibu pengasuh untuk duduk di singgasana.


"Kenapa Ibu harus bersanding dengannya? Ibu tidak mau?" tolak Ibu paman Harits sembari membuang muka dari Ibu pengasuh.


Nadia tersenyum, ia duduk bersimpuh di kaki Ibu sembari memegangi tangannya dengan lembut. Ia mengedipkan mata saat pandangnya beradu dengan manik Ibu yang sayu.


"Duduk di sini sebagai Ibuku atau tetap di sana dan menjadi orang asing!" ancam paman Harits menunjuk singgasana dan beralih menunjuk kursi tamu.


"Ba-baiklah!" Wanita itu menunduk takut. Paman Harits mendesah, Nadia menggeleng sambil tersenyum saat ia menatapnya.


Acara sungkeman dimulai, menangis juga wanita angkuh itu tatkala paman Harits bersimpuh di kakinya sambil memegangi kedua lututnya. Tangannya ia letakkan di atas kepala anak laki-laki yang tak pernah ia anggap hadirnya itu.


Dari ketiga anak yang ia lahirkan, baru paman Harits yang bersedia bersimpuh di kakinya seperti saat ini. Walaupun harus melalui ancaman terlebih dahulu, tapi ia benar-benar merasa dianggap sebagai Ibu ketika paman Harits merangkul dan mencium kedua pipinya.


Ia peluk erat putranya, keputusannya untuk datang ke rumah paman Harits adalah benar. Dia benar-benar menemukan anak yang telah lama hilang dari hidupnya.


"Maafkan Ibu, Nak! Maafkan segala dosa dan kesalahan yang pernah Ibu perbuat. Ibu sudah tidak adil terhadapmu dan kedua kakakmu. Tolong maafkan kesalahan orang tua ini, anakku!" pinta Ibu paman Harits sambil terisak-isak menangis.


Paman Harits terenyuh, ia sempat meneteskan air mata yang langsung diusapnya. Ia belum ingin mempercayai Ibunya yang penuh dengan tipu muslihat.


Paman Harits dan Nadia beranjak, bergantian menyalami kedua wanita yang mereka anggap Ibu. Tangis Nadia bukan karena terharu, melainkan karena rasa sedih bukan Sarah yang ia cium lututnya.


Ibu paman Harits menyambutnya hangat. Seperti yang ia lakukan pada putranya, ia juga melakukannya pada Nadia.


"Tolong cintai dan sayangi Harits dengan tulus, Nak. Dari kecil, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang kami. Dia selalu terabaikan, dan tidak pernah dianggap ada. Harist anak yang baik sebenarnya, tapi ia dianggap tidak berguna karena tidak secerdas kedua kakaknya. Kami telah bersalah. Tolong orang tua ini, sayangi laki-laki itu dengan sepenuh hatimu. Ibu percaya padamu."

__ADS_1


Nadia membenamkan wajah di pundak wanita itu. Ia ikut menangis terharu mendengar penuturan dari wanita dalam pelukannya sambil tersedu-sedu.


"Insya Allah, Bu." Nadia melepas pelukan. Acara dilanjutkan dengan sesi pemotretan. Ada media yang meliput jalannya acara tersebut dan disiarkan di seluruh media televisi yang ada.


Dua wanita yang duduk meringkuk di pojokan, ikut menyaksikan kebahagiaan Nadia yang dipersunting pengusaha sukes itu lewat televisi. Dalam hati mengucapkan selamat dan meminta maaf.


Acara resepsi dilaksankan hari itu juga. Paman Harits tak ingin berlarut dengan acara lainnya, ia tak ingin tenaganya terkuras sebelum waktunya.


Pesta resepsi diadakan di halaman belakang rumah paman Harits. Dekorasi outdoor yang dipenuhi bunga-bunga nampak indah dan alami.


Di dalam acara tersebut, di tengah pesta meriah dan penuh senyum kebahagiaan itu, satu orang laki-laki bersama ketiga anaknya berdiri di luar arena acara. Antara terus masuk dan kembali saja. Hatinya gamang.


"Abi, kenapa kita cuma berdiri di sini? Aku ingin bertemu Bunda," tanya Nafisah menatap nanar wajah Ikram yang terpaku di tempatnya. Ia terlalu malu untuk menampakkan diri di depan Nadia.


"Apa Abi malu? Kenapa harus malu? Bukankah Kak Harits sendiri yang mengundang kita ke sini?" timpal Bilal yang pandangannya fokus ke depan pada acara meriah di dalam sana.


Semoga kamu berbahagia, Nadia. Maafkan kebodohanku, maaf.


Ikram mengusap sudut matanya yang tiba-tiba berair. Ruby sendiri, tak kuasa menahan diri. Ia melangkah perlahan memasuki arena pesta yang dijaga ketat. Para petugas keamanan tak mencegahnya karena paman Harits sudah memberi informasi pada mereka soal kedatangan keluarga itu.


Ruby menatap nanar Nadia yang berdiri bahagia di atas panggung. Di sampingnya paman Harits yang tak lepas merangkul pinggangnya. Nadia nampak cantik, segar dan sehat tentunya. Wajahnya tak lagi pucat, berseri bagai bunga yang baru saja bermekaran.


"Bunda!" lirihnya bergetar. Air matanya jatuh kala Nadia menoleh padanya. Suara lirih itu tetap tertangkap indera rungunya. Senyum Nadia memudar sesaat, sebelum kembali mengembang. Ia merentangkan tangan meminta Ruby mendekat.


Semua tamu yang ada menyingkir memberi jalan pada remaja wanita yang melangkah dengan air matanya yang meleleh. Ia kira Nadia akan menolak hadirnya. Ia kira Nadia tak ingin lagi bertemu dengannya. Ia kira Nadia enggan menatapnya. Namun, ia salah. Lagi-lagi ia salah. Nadia bahkan memintanya untuk mendekat dan merentangkan tangan ingin memeluknya.

__ADS_1


"Bunda!" Dua anak kecil berlari menyerobot langkah Ruby yang lamban. Bilal dan Nafisah masuk ke dalam pelukan Nadia. Menangis seperti anak kecil yang lama tak berjumpa Ibunya.


Nadia menciumi kepala dua anak itu penuh kerinduan. Momen itu pun menjadi momen mengharukan seluruh negeri. Ain yang menyaksikan tergugu sendiri.


Ruby datang dan ikut masuk ke dalam pelukan wanita yang ia rindukan. Paman Harits tersenyum, tak ada dendam di sorot matanya. Ia tak ingin momen bahagianya harus rusak karena sebuah dendam.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Nadia bergetar hampir menangis. Ia tak menampik, hatinya begitu merindukan mereka.


"Kami baik, Bunda. Bunda cantik sekali!" sahut Nafisah genit. Ia bergelayut di lengan Nadia dengan manja.


"Sayang, bawa mereka duduk di sana!" titah paman Harits sembari mengusap kepala Nadia. Ia menurut, lantas membawa anak-anak itu duduk di singgasana.


"Mau ke mana, Mas?" Nadia bertanya ketika paman Harits justru hendak menapaki tangga panggung.


Wajahnya bersemu mendengar panggilan baru dari istrinya itu.


"Mas mau menemui Bapak mereka." Paman Harits menunjuk Ikram yang berdiri di kejauhan. Nadia mengangguk kala ia juga melihatnya.


Singgasana itu dipenuhi anak-anak asuhnya juga ketiga anak Ikram. Paman Harits menghampiri Ikram dan mengajaknya duduk di bangku taman sekedar berbincang ringan saja.


Nadia memandang suaminya, teringat akan percakapan di malam sebelum mereka kembali berpisah.


"Kamu mau aku mengundang mereka?" tanya paman Harits malam itu. Nadia menunduk, hatinya ingin, tapi pikirannya tidak.


"Aku tidak tahu, Kak. Aku takut kehadiran mereka justru akan mengganggu jalannya pesta," sahutnya menahan getaran di lidah. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan gejolak di hatinya.

__ADS_1


Hari ini, ia mewujudkan keinginan hatinya bertemu dengan ketiga anak itu. Nadia melirik ke sekitar, dahinya mengernyit teringat sesuatu.


"Di mana Umi kalian? Kenapa tidak ikut?"


__ADS_2