
Keadaan rumah Ikram malam itu disibukkan dengan berbagai macam keperluan seserahan yang akan dibawa Ain ke rumah Yuni. Ia bahkan memanggil Nadia meminta bantuannya.
Tertawa sambil bercerita ini dan itu pada Nadia. Bahagia apa lagi bisa melihat Nadia bersedih dan murung. Lihat wajah lesu itu, sungguh membuat Ain kegirangan.
"Memang akadnya jam berapa, Kak?" tanya Nadia sembari membungkus berbagai macam hantaran seserahan yang akan dibawa Ikram. Seingatnya, Ikram tidak membawa apa pun saat menikahi Nadia selain mas kawin dan cincin pernikahan. Padahal, saat itu keuangan Ikram masih stabil berbeda dengan yang saat ini sedang carut marut.
Ikram sendiri tidak tahu sebanyak apa tabungan Ain sehingga ia bisa membeli itu semua. Percuma berbicara dengan Ain, dia tetap bersikeras dengan keinginannya.
"Besok sekitar jam delapan," jawab Ain tanpa menoleh pada Nadia.
Kedua tangannya sibuk membungkus, hatinya pun sibuk menertawakan Nadia.
Rasakan, sekarang kamu tahu betapa sakitnya kalau suami menikah lagi.
Ia melirik Nadia yang terdiam lewat sudut matanya. Lagi-lagi Ain harus menelan kekecewaan saat wajah Nadia biasa saja. Tak ada sedikit pun ia temukan gurat sedih, kecewa, dan pilu di wajah cantiknya.
"Ada apa, Kak?" tanya Nadia sedikit terkejut saat mendengar Ain membanting hantaran ke lantai. Ia menoleh dan tersenyum.
"Jatuh tadi, licin." Padahal, kesal karena Nadia tak pernah terlihat sedih di matanya. Ia selalu tersenyum, senyum yang sama yang selalu berhasil mengganggu pikiran Ain.
Ia hanya membulatkan mulut lanjut membungkus lagi. Tak ingin memenuhi pikirannya dengan berbagai macam hal.
Sementara suami mereka yang lemah, sedang mengintip keduanya dari balik pintu kamarnya. Ia meneteskan air mata manakala melihat Nadia yang terus tersenyum sepanjang membungkus semua keperluan.
Maafkan Mas, Nadia. Maaf.
Ia membenturkan kepala pada tembok merutuki sikapnya yang lemah di hadapan Ain. Sungguh, Ikram merasa gagal menjadi seorang suami.
"Nadia, kamu sudah siapkan mas kawinnya, 'kan? Harus sesuai, lho," tanya Ain setelah merapikan semuanya di sudut rumah.
"Sudah, Kak. Ini sesuai permintaan Kakak." Nadia memberikan satu kotak beludru berwarna merah tua pada Ain.
__ADS_1
Kakak madu di depannya itu membuka kotak tersebut, dan tersenyum puas setelah melihat isinya. Satu set perhiasan yang diminta Ain dari Nadia. Ngelunjak!
"Terima kasih, ya. Kamu sudah mendukung suami kita dalam menjalankan sunnah Rasul ," tutur Ain dengan senang.
Nadia mengangguk sambil tersenyum. Ain mengumpat dalam hati sungguh wanita di depannya ini menjengkelkan untuknya. Kenapa tidak menangis atau setidaknya murung, begitu. Jangan terus tersenyum seolah dia baik-baik saja. Menyebalkan.
"Aku pulang, ya, Kak. Sudah semua, 'kan?" pamit Nadia seraya beranjak berdiri dan menatap semua persiapan. Memang sudah beres semuanya.
"Yah ... sepertinya sudah. Sekali lagi terima kasih, ya. Sudah membantu Kakak," ucap Ain lagi sambil berpura-pura tersenyum.
"Iya, Kak. Aku pulang, capek mau langsung tidur," katanya.
Nadia pulang tanpa membawa beban apa pun. Ia bahkan masih bisa menyapa para santri yang berpapasan dengannya. Ain menatap sinis punggung Nadia yang kian menjauh.
"Apa Umi sudah puas? Umi lihat, 'kan, bentuk keikhlasan Nadia? Dia bahkan tidak terlihat menyedihkan sedikit pun berbeda dengan Umi. Tetap tersenyum seperti biasa dan ramah pada semua orang. Apa lagi, Mi?" sindir Ikram yang berjalan keluar rumah menuju masjid.
Akhir-akhir ini ia lebih sering menghabiskan waktu di masjid bahkan tidur pun jarang di rumah, dan Ain tidak peduli itu.
Mereka berdua yang sibuk mengurusi keegoisan diri tidak sadar bahwa Ruby sudah beberapa hari ini menemani Nadia di rumah.
Tidur bersama di ranjang Nadia. Bercerita, belajar banyak hal. Beberapa hari bersama, Ruby selalu melihat Nadia mengkonsumsi obat-obatan. Setiap ia bertanya Nadia selalu menjawab itu hanya suplemen. Namun, setiap kali Ruby ingin meminumnya Nadia selalu melarangnya.
"Bunda, aku tahu itu apa? Aku bertanya pada seorang dokter tentang obat-obatan yang Bunda minum," ujar Ruby yang menyentak tubuh Nadia usai meminum obat yang diberikan dokter.
Nadia menoleh setelah meletakan gelas di atas meja. Ia tersenyum melihat Ruby yang duduk di sampingnya.
"Memangnya apa? Ini memang suplemen, kok. Supaya Bunda tidak mudah lesu," jawab Nadia masih dapat tersenyum dengan tenang.
"Ada banyak kemungkinan, tapi yang paling mendekati adalah Bunda menderita gagal ginjal. Apa itu benar, Bunda? Kenapa selama ini Bunda menutupinya dari kami semua? Kenapa Bunda tidak pernah mengatakan kalau selama ini Bunda sakit?" cecar Ruby dengan air mata yang sudah membanjir.
Nadia ternganga mendengar ucapan Ruby. Ia pikir Ruby hanya asal bicara. Nadia berpindah tempat duduk ke samping Ruby. Ia menggenggam tangan Ruby yang lembab karena keringat dan menyapu air matanya.
__ADS_1
"Bunda sehat, kok. Tidak sakit. Ruby tidak pernah melihat Bunda sakit, 'kan, selama ini? Jadi Bunda tidaklah sakit-"
"Bohong! Bunda pikir bisa membohongi aku? Perlu Bunda tahu, selama ini aku selalu membuntuti Bunda setiap kali pergi. Aku bolos di kelas hanya karena ingin tahu ke mana Bunda pergi. Aku sering lihat Bunda kelelahan dan wajah Bunda pucat. Bunda bukan pergi ke pabrik, 'kan? Tapi ke Rumah Sakit untuk melakukan cuci darah," papar Ruby yang berubah lirih di ujung kalimat.
Nadia tertegun, matanya berkaca ketika dihadapkan dengan mata Ruby yang basah. Ia tak habis pikir remaja itu sampai nekat mengikutinya dan meninggalkan kelas.
Nadia merengkuh tubuh Ruby. Tumpah juga air matanya dalam pelukan remaja itu.
"Kenapa Bunda berbohong? Kenapa Bunda menyembunyikan hal sebesar ini? Kenapa Bunda?" Tangis Ruby semakin menjadi membuat Nadia kehilangan kata-kata untuk menjawab.
Ia tak mampu menyahut, hanya menggelengkan kepala sambil ikut menangis memeluk Ruby.
"Seharusnya Bunda tidak merahasiakan ini. Tidak menanggungnya sendiri, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bunda dan kami tidak tahu apa-apa. Kami pasti berdosa, Bunda." Nadia semakin membenamkan wajah di pundak kecil itu. Ia belum menimpali ucapan Ruby sepatah kata pun.
"Abi harus tahu soal ini. Aku akan mengatakannya pada Abi," ucap Ruby tiba-tiba dengan cepat melepas pelukannya. Ia yang hendak beranjak ditarik Nadia hingga kembali terjatuh di sofa.
Nadia menggeleng menatap memohon pada Ruby.
"Jangan bilang pada siapa pun. Bunda mohon. Jangan mengatakannya pada mereka. Bunda tidak ingin dikasihani oleh siapa pun. Bunda tidak ingin melihat mata-mata mereka yang menatap kasihan pada Bunda. Tolong ... jangan pernah mengatakan apapun soal ini pada siapa pun. Bunda mohon!" mohon Nadia dengan mata yang berair.
Ia melipat bibir saat air asin menjauhinya. Ruby menggeleng, tidak mengerti seperti apa jalan pikirkan Nadia. Wanita mulia yang ceria tak pernah terlihat menyedihkan dan tak pernah mengeluh itu ternyata menyembunyikan hal sebesar itu dari semua orang.
Ruby berhambur memeluk Nadia. Menangis merasa tidak tega terhadap wanita itu. Sudah menanggung beban sakit yang berat, ditambah Ain yang selama ini menekannya. Bukannya Ruby tak tahu, tapi ia bingung bagaimana cara berbicara dengan uminya itu.
"Berjanjilah pada Bunda, sayang. Untuk tidak membuka rahasia ini, cukup kamu saja yang tahu," pinta Nadia dengan sangat.
Ruby mengangguk menghargai keputusan Nadia untuk tetap merahasiakan itu semua.
"Tapi Bunda jangan pergi sendiri lagi, biar aku temani Bunda ke Rumah Sakit." Ruby pun ikut meminta. Nadia mengangguk setuju.
Jadilah rahasia itu tetap menjadi rahasia antar mereka berdua.
__ADS_1