Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kabar Ain


__ADS_3

"Di mana Umi kalian? Apa tidak ikut?" tanya Nadia sembari menatapi ketiga anak yang duduk bersimpuh di kakinya bersama anak-anak asuh yang lain.


Ruby dan Bilal menunduk, teringat akan nasib Ain yang tidak mujur, sedangkan Nafisah masih menatap polos ke arah Nadia.


"Umi kembali dibawa polisi, Bunda."


******


"Jadi, wanita ular itu berhasil menarik istrimu lagi ke penjara?" tanya paman Harits setelah mendengarkan cerita Ikram. Ikram mengangguk menjawab pertanyaan itu. Ia menarik napas panjang demi menanggalkan sesak yang melekat di hati.


"Yuni pintar, dia merekam pembicaraan mereka soal adopsi anak. Aku juga sedikit terkejut saat tahu Ain terlibat di dalamnya. Kecewa sebenarnya, tapi aku selalu ingat janjiku pada Nadia untuk tidak pernah menceraikannya. Mungkin ini takdir yang harus aku jalani," keluh Ikram terdengar putus asa.


Sedikit tak suka sebenarnya saat Ikram menyebut nama Nadia. Tetap saja cemburu meskipun mereka sudah tak lagi bersama. Namun, paman Harits menahan semua rasa dan tetap mendengarkan keluh kesah laki-laki di sampingnya.


"Ain yang terlalu bodoh, dan Yuni itu licik. Itu akibat yang harus dia tanggung ketika dia mengambil keputusan dengan resiko yang tinggi, sedangkan dia tahu akan seperti apa jadinya. Namun, tetap saja dia mengambil jalan itu karena nafsu untuk membuat wanita lain merasakan sakit. Padahal, apa yang dia lakukan itu hanyalah akan menyakiti dirinya sendiri." Paman Harits menimpali.


Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi taman, hari yang cerah dengan iring-iringan awan puith menghias langit yang biru. Paman Harits mematri pandangan pada benda yang berjalan lambat di langit itu.


Ikram melalukan yang sama dengannya, memandang langit yang tinggi sembari menautkan sepuluh jemarinya. Helaan napas berkali-kali terdengar dari arahnya. Ia sakit, dan rasa sakit yang ia rasakan begitu membuat dadanya sesak. Ikram merasa bodoh, membuang berlian hanya demi mempertahankan kerikil saja.


"Aku juga bodoh, selama ini selalu menuruti apa yang dia inginkan demi menjaga hatinya karena telah menduakan dia. Tanpa sadar aku ikut andil dalam menyakiti Nadia. Aku memang tidak pantas menjadi suami dari wanita hebat sepertinya. Kamu terlihat lebih bertanggungjawab daripada aku. Aku bersyukur Nadia mendapatkan pasangan yang juga sama hebatnya sepertimu." Ikram menoleh ke samping tubuhnya. Ia tersenyum manakala paman Harits meliriknya.


Laki-laki dengan balutan tuxedo hitam itu melipat kedua tangannya di perut tanpa mengangkat tubuhnya dari sandaran kursi. Pandangannya kembali ia lempar ke depan. Senyum bangga tercetak jelas di bibirnya yang merah alami.


"Tentu saja! Aku tidak akan pernah menyakitinya selama hidupku, dan selama aku masih bernapas aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Aku akan menjaganya karena aku tidak ingin kehilangan berlian beharga yang tak akan bisa aku dapatkan di mana pun-"

__ADS_1


"Apa kamu menyesal?" tanya paman Harits setelah menjeda ucapannya sejenak. Ia berpaling pada Ikram yang masih pada posisinya. Paman Harits memiringkan duduknya, dengan sebelah tangan ia letakkan di atas sandaran kursi. Ia juga mengangkat sebelah kakinya dan membiarkan yang satunya menjuntai. Ingin melihat dengan jelas bagaimana raut wajah rivalnya.


Ikram tersenyum miris, menertawakan dirinya sendiri yang teramat bodoh. Ia menunduk sejenak sebelum menoleh pada paman Harits yang menunggu.


"Menyesal pun tiada guna saat ini. Aku memang menyesal, tapi semua itu tidak dapat merubah keadaan. Dia sudah menikah denganmu, dan aku tetap pada kebodohanku," sahut Ikram masih menertawakan dirinya sendiri.


Paman Harits membuang napas lega, ia berpaling ke hadapan.


"Baguslah! Memang tidak seharusnya kamu mengharapakan dia lagi karena bagaimanapun akau tak akan memberimu celah untuk mendekati dia lagi. Aku juga tidak mengizinkan semua anakmu mendekatinya. Kamu mengerti apa maksud…ku, bukan? Jadi, jangan pernah mencoba cara apa pun untuk kembali dekat dengan-nya!" ujar paman Harits memperingati.


Ikram hanya bisa mengulas senyum, getir terasa. Paman Harits sungguh beruntung mendapatkan Nadia sebagai istrinya.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk ke depannya? Apa kamu butuh modal untuk membuka usaha kembali? Aku bisa membantu," tutur paman Harits sungguh-sungguh.


Ikram menunduk malu, teramat malu karena laki-laki di sampingnya bahkan bersedia membantu meskipun ia selalu menganggapnya sebagai musuh.


"Laki-laki tidak menangis, kawan! Tentukan sekarang atau tidak sama sekali!" Paman Harits menepuk bahu Ikram yang terguncang karena tangisannya. Laki-laki itu masih menunduk belum berani mengangkat wajahnya.


Paman Harits menghela napas, ia kembali pada fokusnya menatap lalu-lalang tamu yang belum juga surut.


"Baiklah, kuanggap diam-mu itu sebagai jawaban." Paman Harits memanggil seseorang memintanya mendekat.


"Ya, Tuan!" Ia membungkuk saat tiba di hadapan tuannya. Paman Harits memberinya isyarat untuk menunggu sejenak.


"Sebutkan nomor rekeningmu, dia akan mencatatnya," pintanya pada Ikram. Malu-malu ia menunjukan ponselnya pada asisten paman Harits.

__ADS_1


Paman Harits mengibaskan tangan meminta asistennya untuk pergi.


"Terima kasih, Tuan." Gelak tawa paman Harist menggelegar mendengar Ikram menyebutnya tuan.


"Panggil biasa saja, kawan! Kamu bukan pekerjaku dan dia pekerjaku. Wajar saja memanggilku Tuan," tolak paman Harits sembari menepuk-nepuk punggung Ikram.


Laki-laki itu tersipu, ia menggaruk pelipisnya salah tingkah. Berpaling wajah dari paman Harits yang masih terkekeh.


*******


"Jadi, Umi kalian kembali ke sana?" tanya Nadia setelah mendengar cerita Ruby dan Bilal. Beruntung tak ada tamu yang naik ke panggung.


Ruby mengangguk dengan kepala tertunduk. Nadia mengusap kepalanya, menyalurkan ketenangan pada hatinya.


"Tidak apa-apa, hanya do'akan saja Umi kalian semoga ia bisa mengambil pelajaran dari semua yang terjadi! Nikmati waktu kalian di sini. Makanlah apa pun yang ingin kalian makan," ujar Nadia dengan senyum terulas di bibirnya.


Ruby dan semua yang ada di singgasana, meninggalkan tempat pengantin tersebut saat paman Harits datang diikuti tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat pada mereka.


Ikram masih duduk di tempat tadi, seorang diri. Ia memunggungi singgasana pengantin terlalu malu rasanya bertatap muka dengan mantan istrinya itu.


"Bunda!" pekik dua gadis yang baru saja datang. Mereka anak asuh Nadia yang dibangunkan usaha olehnya.


"Sayang! Kemarilah!" Keduanya naik ke atas panggung setelah tamu paman Harits pergi.


Nadia memeluk kedua gadis itu. Ia senang mereka berdua tidak melupakannya. Hari itu adalah hari bahagia semua orang kecuali dua orang yang duduk meringkuk di sudut bui.

__ADS_1


Ain tak henti menangis kala ia melihat ketiga anaknya yang disambut dengan baik oleh Nadia.


__ADS_2