Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Berasa Seperti Mimpi


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Nafisah mendapatkan perawatan intensif dari pihak medis. Ain dan Ikram juga Ruby memutuskan untuk ke toko, mereka akan membenahi lantai dua ruko tersebut untuk menjadi tempat tinggal sementara mereka.


Paman Harits bersama Bilal mencari makanan usai mengantar Ikram dan yang lainnya ke toko, sedangkan Nadia menunggu Nafisah di ruang rawat. Ia yang lelah, tertidur di kursi dengan kepala yang ia jatuhkan di ranjang Nafisah. Tangannya menggenggam sebelah tangan kecil itu, khawatir ia akan terbangun.


Paman Harits kembali dengan menenteng bungkusan di tangan. Ia meminta Bilal duduk di sofa, sedangkan dirinya membangunkan Nadia yang terlelap.


Paman Harits mengecup pelipis istrinya, disapunya kepala wanita itu sebelum berbisik di telinganya.


"Sayang, bangun! Makan dulu, kamu belum makan dari sore tadi," gugah paman Harits sembari mengusap-usap kepala istrinya itu.


Nadia melenguh pendek sebelum membuka kedua matanya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menjernihkan pandangan.


"Mas!" Ia beranjak menegakkan tubuh. Lelaki itu tersenyum sebelum membawa Nadia duduk di sofa untuk makan bersama-sama.


"Aku ke kamar mandi dulu, Mas." Ia mencuci muka dan kembali ke tempat Bilal bersama suaminya duduk.


"Ruby di mana? Apa mereka sudah makan?" tanyanya saat hanya mendapati Bilal duduk bersama mereka.


"Kakak membantu Umi dan Abi membereskan ruko untuk kami tinggali sementara waktu. Mereka sudah makan, Bun," sahut Bilal sambil membuka bungkusan nasi untuknya.


Nadia menganggukkan kepala, ia membukakan bungkusan untuk suaminya juga dirinya. Sesekali akan melirik Nafisah yang masih betah memejamkan mata.


Waktu terus bergulir. Nadia dan paman Harits merebahkan diri di lantai dengan hanya beralaskan sebuah kasur lantai yang diberikan Ikram, sementara Bilal tidur di sofa dengan nyaman.


Malam mendatangkan gigil yang tak dapat ditahan tubuh Nadia. Ia merapatkan tubuh pada suaminya, membenamkan wajah di ketiak laki-laki itu mencari kehangatan.


"Dingin?" tanya paman Harits yang terusik tidurnya. Nadia mengangguk tanpa membuka mata. Perutnya yang sudah membesar mulai membuatnya serba salah mencari posisi yang nyaman saat tidur.


Paman Harits mendekapnya, mengusap-usap punggung Nadia yang gelisah dalam tidurnya. Terkadang ia berbalik memunggungi saat merasa tak nyaman. Terlentang, sesak terasa. Miring memeluk suaminya, yang lebih baik.

__ADS_1


Subuh datang menjelang, Nadia masih terlelap saat paman Harits membuka mata perlahan. Ia beranjak hati-hati ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaian. Semalam Ikram memberinya pakaian ganti berikut untuk Nadia.


Mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, Nadia mengernyit saat rasa hangat dari sentuhan kulit suaminya tak lagi ia rasakan. Nadia terbangun, menatap Nafisah yang masih saja memejamkan mata. Beralih pada Bilal yang juga masih mendengkur di sofa.


Ia menutup mulut ketika menguap lebar, merentangkan tangan melemaskan otot-otot yang kaku karena tidur hanya beralaskan kasur lantai yang tipis saja.


"Sudah bangun!" Suara segar paman Harits membuatnya menolehkan kepala. Pakaian koko dan sarung melekat di tubuhnya. Nadia terheran dibuatnya.


"Mas bawa pakaian ganti?" tanyanya ingin tahu. Lelaki bertubuh kekar itu tersenyum sambil berjalan dengan membawa handuk di tangan ia duduk di sofa dekat kaki Bilal.


"Ikram yang memberinya, itu untuk kamu. Cepat bersihkan tubuh dan ganti pakaian. Pakaian kamu tidak sah dipakai shalat." Paman Harits memberikan handuk di tangan pada istrinya, ia juga memberikan sebuah bungkusan yang berisi pakaian pada Nadia. Paman Harits duduk menunggu Nadia selesai membersihkan tubuh dan mengganti pakaian.


Bilal menggeliat, kakinya yang ia julurkan tak sengaja menendang paman Harits. Ia terlonjak dan langsung terduduk.


"Kakak, kenapa di situ? Maaf, aku tidak sengaja," pekiknya dengan mata membeliak sedikit lebar.


Mata kecil itu belum juga terbuka, apakah dia masih belum menemukan kesadarannya?


"Tenang saja, Boy! Dia baik-baik saja, sebentar lagi juga akan bangun," ucap paman Harits sembari menepuk pelan pundak anak laki-laki itu. Ia mengangguk masih dengan kepalanya yang menunduk.


"Sana! Ambillah wudu, kita akan shalat jama'ah subuh bersama-sama," titah paman Harits ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Nadia tersenyum, Ain tak membekalinya mukena, tapi pakaian yang diberikannya sudah cukup menutup aurat dan layak untuk digunakan shalat.


Keduanya menunaikan sunah dua raka'at sebelum subuh sambil menunggu Bilal selesai mengambil wudu. Paman Harits bertindak sebagai imam, mereka bertiga menunaikan shalat subuh di samping ranjang Nafisah.


Berdzikir dan berdoa untuk keselamatan gadis kecil itu. Doa-doa yang mereka langitkan, terijabah saat itu juga. Nafisah mulai menggerakkan jemarinya perlahan. Seluruh wajahnya berkedut, bibir, kelopak mata, rasanya tak sabar menyapa mereka.


Terutama Nadia yang sangat ingin dia lihat. Ia merasa semalam hanyalah mimpi belaka. Nadia tidak benar-benar ada bersamanya. Itu hanya mimpi. Air matanya menetes saat ia membayangkan hal itu hanyalah sebuah mimpi.


"Bunda!" lirihnya bergetar, tapi mata kecil itu masih saja terpejam. Nadia buru-buru beranjak saat mendengar suara anak itu diikuti Bilal dan paman Harits yang berdiri paling akhir.

__ADS_1


"Nafisah! Sayang, bangun, Nak! Bunda di sini!" ucap Nadia sambil memegangi tangannya yang lemah.


Mendengar suara Nadia, air mata Nafisah bertambah deras. Perlahan kelopak matanya terbuka, ia melebarkan mata saat bayangan Nadia yang tersenyum memburam.


"Bunda!" Nafisah hendak beranjak, tapi ia tak begitu mampu melakukannya.


"Hati-hati!" Nadia membantunya, mata kecil itu bergeming pada sosok cantik yang sedikit gemuk di hadapannya itu. Ia menangkup wajah Nadia, menatapnya dengan intens.


"Bunda! Apa ini benar-benar Bunda? Apa semalam itu bukan mimpi? Ini benar-benar Bunda?" katanya bergetar. Air matanya merembes kian deras membasahi pipi gembilnya.


Nadia mengangguk, ikut menangis haru karena pertemuan itu.


"Iya, sayang, ini Bunda. Kamu tidak bermimpi," katanya sambil menempatkan kedua tangan di pipi gadis kecil itu sama seperti yang dia lakukan. Mulut mungil itu terbuka, perlahan ia menoleh pada Bilal.


"Kakak, apa ini benar Bunda atau hanya hayalanku saja seperti waktu itu?" Bertanya memastikan kebenarannya.


"Iya, Dek. Itu Bunda kita, dia ada di sini sekarang." Bilal tersenyum, ada air di sudut matanya yang segera ia hapus. Paman Harits merangkul bahu kecil anak laki-laki itu menguatkan dirinya.


Nafisah kembali memutar kepala menatap wajah cantik Nadia tak percaya.


"Bunda! Bunda! Bunda!" Ia memeluk leher Nadia dan menangis bahagia.


"Sayang." Nadia membalas pelukannya, ikut menangis bahagia. Kerinduan yang dipendamnya sejak terakhir kali mereka bersama, kini ia tumpahkan lewat pelukan.


"Bunda! Bunda!" Nafisah terus memanggil-manggil nama Nadia. Ia tak ingin hari ini cepat berakhir.


"Bunda, jangan pergi dulu! Di sini dulu temani Nafisah. Nafisah masih kangen Bunda," pintanya sambil mengeratkan pelukan di leher wanita yang amat ia rindukan itu. Nadia mengangguk tanpa dapat membalas dengan kata karena lidahnya yang tiba-tiba kelu.


Ia melirik suaminya, laki-laki itu mengangguk memberinya izin untuk menetap setidaknya sampai sore nanti.

__ADS_1


__ADS_2