
Di bagian lain kehidupan, di lingkungan yang diliputi ilmu agama, Nafisah masih merengek, menangis pada Ain karena satu hal. Ain yang lelah, hanya mendiamkan saja anak bungsunya itu menuntaskan tangisan.
Ia duduk di kursi sambil memperhatikan Nafisah yang menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Coba dengar apa yang dia mau?
"Aku mau bertemu Bunda, Umi! Mau bertemu Bunda! Bunda!" jeritnya dengan suara yang melengking tinggi. Kedua matanya terpejam, pipi, hidung, dan mata memerah dengan airnya yang tak kunjung surut.
Tubuhnya duduk bersandar di dinding terkadang membungkuk saat ia menyebut kata Bunda.
"Tidak sekarang, Nafisah. Lain waktu nanti kita ke sana menjenguk Bunda kamu, ya?" ucap Ain dengan sabar. Ia pening sendiri menghadapi masa tantrum sang buah hati.
"Tidak mau! Mau sekarang, sudah satu Minggu Umi bilang nanti, nanti saja. Umi bohong! Mau bertemu Bunda, Abi!" jerit Nafisah lagi sambil sesenggukan.
Ain melirik Ikram yang sama frustrasinya seperti dirinya. Laki-laki itu menutup wajah dengan sebelah tangannya, ia berdesis lelah. Kedua rahangnya beradu menahan gejolak yang membara dalam dada.
"Mau bertemu Bunda! Aku mau bertemu Bunda!" Lagi, gadis kecil itu tersedu sedan. Tangisannya terdengar menyesakkan dada membuat siapa saja yang mendengar ikut merasakan pilunya.
"Kamu, 'kan, sedang sekolah, sayang. Nanti saja kalau liburan kita ke sana," ucap Ain lagi masih menenangkan.
"Sekarang hari Minggu, Umi. Aku dan Kakak libur sekolah. Aku tidak mau nanti, aku mau sekarang," tolak Nafisah. Laju tangisnya belum surut justru semakin menjadi.
Sudah satu Minggu ini Nafisah merengek pada Ain dan Ikram untuk pergi ke rumah Nadia. Setiap hari selalu bertanya kapan akan pergi berkunjung pada Bundanya itu. Setiap itu juga Ain selalu menjawab saat libur sekolah nanti.
"Hari Minggu ini cuma satu hari liburnya, kalau liburan nanti, 'kan, lama. Kamu bisa menginap di sana," rayu Ain lagi tak menyerah.
Nafisah tak menyahut, ia terus saja menangis dan meracau memanggil Nadia.
"Dek! Sudah, nanti Bunda di sana keselek, lho. Kasihan!"
******
"Uhuk ... uhuk!"
__ADS_1
"Sayang, kenapa lagi? Kok, dari tadi batuk-batuk terus? Kamu sakit?" tanya paman Harits di perjalanan pulang dari makam.
"Iya, Mbak sakit? Dari pagi batuk-batuk terus?" timpal Winda yang ikut heran melihat Nadia.
"Mbak tidak tahu, tiba-tiba keselek sendiri. Padahal, tidak sedang makan apa-apa," jawab Nadia dengan suaranya yang sedikit serak.
"Minum, Mbak!" Rima memberikan sebotol air mineral pada Nadia. Ia sempat membelinya tadi saat di jalan.
Nadia menerimanya dan meneguknya beberapa kali. Rasa lega dapat ia raih setelah air itu mengalir melewati tenggorokannya.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya paman Harits sambil meraih dan menggenggam tangan Nadia.
"Alhamdulillah, Mas. Sudah." Paman Harits tersenyum setelah memastikan wajah istrinya.
******
"Nanti kalau liburan kita sama-sama ke sana, ya. Sekarang, Adek jangan nangis lagi. Kita main, yuk! Sama anaknya ustadz Ghofur," sambung Bilal lagi ikut menenangkan Nafisah yang masih sesenggukan.
"Ssstt ... jangan ngomong begitu! Kita pasti bisa bertemu Bunda kapan pun kita mau. Kakak janji selama liburan nanti kita akan menginap di rumah Bunda, bagaimana? Benar, 'kan, Umi, Abi?" Bilal meminta dukungan kedua orang tuanya.
Ain dan Ikram mengangguk sambil tersenyum, bangga pada putranya yang tidak menyerah menenangkan adiknya itu.
"Tapi, Kak. Bagaimana kalau besok aku sudah tidak ada, bukankah aku tidak akan bisa bertemu dengan Bunda lagi. Aku ingin melihat dan memeluk Bunda sebelum aku pergi."
Kalimat asal yang diucapkan lisan tanpa dosa itu menyentak semua orang yang ada bersamanya. Tak percaya anak sekecil itu mengatakan hal tabu yang seharusnya tidak ia ucapkan.
Bilal memeluk adiknya itu, "Tidak akan ada yang pergi. Percaya sama Kakak. Nafisah akan bisa bertemu dan memeluk Bunda sesuka hati Nafisah. Jangan katakan hal itu lagi, jangan!" ucap Bilal dalam pelukannya.
Tanpa terasa air mata berjatuhan di pipi Ain, mendengar kalimat yang diucapkan anak bungsunya, dan apa yang dilakukan putranya. Hal itu benar-benar membuat Ain merasa terpukul.
Setiap yang bernafas pasti akan merasakan kematian. Dan hal itu sudah suratan ilaahi yang tak dapat dihindari makhluk bernyawa di dunia ini.
__ADS_1
Idzaa jaa'a ajaluhum laa yasta'khiruuna saa'atan walaa yastaqdimuun.
Jika ajal mereka telah sampai pada waktu yang ditentukan oleh Allah maka, tak bisa diundurkan atau dimajukan barang sedetikpun.
Ain menoleh pada Ikram, laki-laki itu pun terlihat syok mendengar apa yang diucapkan putri bungsunya itu. Perkara maut, rezeki, dan jodoh adalah misteri.
Tak siapa pun tahu kedatangannya, kapan saja dia datang maka, manusia tak dapat menghindarinya. Namun, meskipun telah mendengar kalimat itu, mereka tetap keukeuh pada pendirian mereka akan membawa Nafisah saat liburan sekolah nanti.
"Sudah, jangan menangis terus! Sebentar lagi liburan sekolah, kita bisa sama-sama pergi ke sana. Sekarang, kita main sama Laila, ya. Dia menunggu kamu di aula," ucap Bilal lagi masih memeluk tubuh Nafisah yang sedikit berguncang.
Nafisah mengangguk, Bilal mengurai pelukan dan mengajaknya bermain di rumah bekas tinggal anak-anak yayasan dulu. Ain tiba-tiba tersedu sambil menjatuhkan kepala di bahu suaminya.
Ikram memeluknya, menenangkan Ain yang kini menangis menggantikan Nafisah.
"Sudah, Mi. Apa yang Umi tangisi?" ucap Ikram sambil mengusap-usap bahu Ain.
"Bagaimana kalau yang diucapkan Nafisah itu benar terjadi, Bi? Umi takut ... umi takut, Bi!" ungkap Ain bergetar.
Ia tiba-tiba gelisah, terpikirkan akan ucapan Nafisah yang menohok hatinya. Sakit, melihatnya menangis histeris hanya karena ingin bertemu dengan Nadia.
"Itu urusan Allah, Mi. Bukan urusan kita sebagai manusia. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha menjadi hamba yang baik, taat beribadah, dan tawakkal pada-Nya. Sebaiknya Umi tenangkan hati Umi, agar pikiran Umi ikut tenang." Ikram memeluk tubuh Ain.
Wanita itu belum bisa menghentikan laju tangisnya. Entah kenapa, mendadak hatinya merasa sedih. Padahal, mereka baik-baik saja. Tak pernah ada masalah yang datang, hanya sandungan kerikil kecil saja yang dengan musyawarah pun dapat diselesaikan.
Namun, kesedihan yang dirasakan hatinya kini, sungguh membuat laju tangisnya tak mau berhenti. Gelisah, cemas, takut, semua rasa bergelut di hatinya. Berkumpul jadi satu menjadikan Ain putus asa dalam hidupnya.
Bilal mengajak Nafisah bermain bersama anak bernama Laila itu. Senyum di bibir mungilnya raib entah ke mana? Nafisah lebih diam hari ini.
"Kakak, bagaimana rasanya mati? Apakah sakit? Aku takut, Kak. Di sana ... dia yang tak berwajah tersenyum padaku." Tangan Nafisah menunjuk satu sudut di samping rumahnya. Tepat di dekat kamar yang dia tiduri setiap malam.
"Di sana tidak ada apa-apa. Kalau kamu takut, jangan lihat ke sana. Mainlah, supaya kamu lupa tentang itu. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya mati. Sudah, ya. Lihat, Laila menunggu kamu untuk bermain," ucap Bilal mengajak Nafisah mendekati Laila.
__ADS_1
Gadis kecil itu menurut dan mengikuti Bilal untuk bermain dengan temannya itu. Hari ini penuh misteri.