
Sepeninggal paman Harits ke ruangan Rima, Winda dicecar berbagai pertanyaan oleh semua orang yang ada di ruangannya bahkan saat Yoga tiba, ia pun tak lepas dari incaran pertanyaan keluarganya sendiri.
"Bagaimana keadaanmu, Rima? Sudah lebih baik?" tanya paman Harits setelah tiba di ruangan Rima.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik, Kak. Aku ingin cepat pulang," ucap Rima mulai jenuh dengan keadaan rumah sakit.
"Baru satu malam saja sudah bosan, coba bayangkan jadi Mbak waktu itu. Kadang berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Huh ... seperti apa itu bosannya?" cibir Nadia teringat akan ia yang dulu sering sekali bolak-balik rumah sakit hanya untuk menyambung hidup.
"Mbak!" Rima merengek.
Nadia terkekeh sendiri, "Iya, iya, sore ini kita pulang, kok. Dokter tadi bilang sama Mbak." Rima tersenyum lebar. Paman Harits ikut tersenyum pula sambil mengusap kepala istrinya.
Sore itu Winda dan Rima pulang, Ibu dan Bibi bahkan anak-anak sudah berada di rumah besar paman Harits menyambut kedatangan mereka. Dua buah mobil mewah pun memasuki area rumah besar itu. Desas-desus mulai terdengar, suara gerasak-gerusuk pun ikut meramaikan.
"Tante!" Anak-anak bersorak saat Winda dan Rima sama-sama keluar dari dalam mobil yang mereka naiki. Keramaian dan keceriaan di rumah itu akhirnya kembali juga. Senyum-senyum kecil itu selalu menjadi hiasan terindah di rumah besar tersebut.
Keriuhan anak-anak menghangatkan hati paman Harits yang selama ini beku. Duduk lesehan di lantai sambil menemani anak-anak bermain.
Getar ponsel paman Harits mengganggu ketenangan.
"Sebentar, sayang. Mas angkat telpon dulu!" pamitnya pada Nadia. Ia beranjak setelah diangguki istrinya.
Paman Harits menjauh, ia berjalan menuju teras samping rumah. Selain tak akan ada yang mendengar, di sana juga tenang jauh dari keributan anak-anak.
"Ya!" Suara paman Harits menjawab panggilan. Ia terdiam mendengarkan. Garis wajahnya mengeras seketika.
"Baik, biarkan mereka. Malam nanti aku akan menyusul," ucap paman Harits seraya menutup sambungan telepon dan memasukannya ke dalam saku.
Senyumnya berubah, garis bibir yang dibentuknya mengandung ancaman yang tidak main-main.
Ia beranjak meninggalkan samping rumah dan kembali bergabung bersama istri dan yang lainnya. Duduk dengan tenang, sesekali melirik Yoga yang terlihat salah tingkah.
Pandangan mereka mengisyaratkan sesuatu yang hanya dimengerti oleh keduanya saja. Malam menjelang, semua anak-anak kembali ke kediaman mereka.
__ADS_1
"Sayang, Mas harus pergi. Kamu temani Rima dan Winda, ya. Mas pergi bersama Yoga malam ini," pamit paman Harits setelah menunaikan ibadah empat rakaat bersama Nadia.
"Mas mau ke mana?" Wanita hamil itu sedang melipat mukenanya. Ia masih duduk di atas sajadahnya sendiri menatap suaminya yang sedang membuka pakaian shalat.
"Ada meeting, sayang. Mas pergi sama Yoga, lho. Tidak sendirian. Ya sudah, Mas pergi dulu, ya. Kamu hati-hati di rumah." Paman Harits cepat berganti pakaian formal, jika tidak, Nadia akan curiga. Ia takut Nadia akan membuntuti ke mana mereka pergi.
Paman Harits beranjak mendekati istrinya, ia mengecup dahi Nadia dan memberikan pelukan hangat untuknya. Nadia ikut keluar, ia bertemu Rima dan Winda yang juga sedang mengantar Yoga.
Ketiganya berdiri di ruang tengah rumah, melepas kepergian dua laki-laki itu.
"Mbak mau tidur sama kalian. Mungkin mas Harits tidak pulang atau nanti saat larut pulangnya. Mbak jenuh, kita ngobrol, yuk!" ajaknya pada mereka berdua.
Rima dan Winda menggamit Nadia dan membawanya ke kamar mereka. Ia pun lega setelah melihat kondisi Ibu mertua dan Bibi yang telah kembali seperti sedia kala.
"Mereka menemukannya, Tuan!" lapor Yoga dalam perjalanan menuju daerah terlarang yang dikuasai paman Harits.
"Yah ... aku tahu."
"Tuan tahu siapa dalang dibalik ini semua?" tanyanya lagi sedikit melirik paman Harits lewat sudut matanya.
Mobil terus melaju dengan keheningan yang menjadi teman mereka. Paman Harits sedang menyusun rencana dalam otak kecilnya. Hukuman apa yang pantas mereka dapatkan.
Suasana sunyi sepi menyambut mereka datang. Daerah terlarang itu berada jauh dari kota. Keadaannya yang gelap gulita saat malam, membuat orang tak mudah menemukan tempat itu. Jika siang, bangunan itu seperti bangunan terbengkalai yang ditinggal penghuninya.
"Selamat datang, Tuan!" Mereka serempak membungkuk menyambut kedatangan Tuan mereka.
"Di mana kalian menyimpan mereka?" tanya paman Harits segera.
"Mereka di dalam sana, Tuan! Menunggu kedatangan Anda," katanya. Paman Harits mengangguk.
Tanpa pembicaraan lagi, ia membawa paman Harits dan asistennya masuk. Di sana, di dalam ruangan yang sama tempat Bella mendapatkan hukuman, duduk dua orang di kursi dengan kepala tertutup.
Tangan dan kaki mereka diikat hingga tak bisa berkutik di tempat. Paman Harits mendekat, ketukan sepatunya membuat tubuh kedua orang itu gemetar.
__ADS_1
"Buka!" titah paman Harits pada dua orang yang berjaga di masing-masing tubuh mereka.
Penutup kepala mereka dibuka, membelalak mata keduanya saat tak mengenali di mana keberadaan mereka saat ini. Mulut keduanya disumpal kain hingga tak ada yang bisa mengeluarkan suara.
Paman Harits berdiri dengan kedua tangan bertaut di belakang tubuh.
"Di mana kalian menemukan mereka?" Pertanyaan itu dilontarkan paman Harits tanpa mengalihkan pandangannya dari salah satu sosok di depan.
"Kami menemukan mereka di hutan Ujung Kulon, Tuan. Hutan yang jauh dari perkampungan," jawab salah satu dari orang-orangnya.
Paman Harits tersenyum miring. Ujung Kulon, merupakan bagian ujung dari wilayah Banten yang dibatasi laut lepas. Di sana, terdapat hutan yang masih tak terjamah manusia. Di sanalah mereka bersembunyi, tapi paman Harits tetap saja dapat menemukan keberadaan mereka.
Mereka? Bukannya hanya tinggal satu orang lagi saja? Kenapa mereka? Itu artinya lebih dari satu.
"Ke ujung dunia sekali pun kalian pergi, aku akan tetap dapat menemukan kalian. Kalian pikir akan lolos dengan mudah setelah apa yang kalian lakukan pada keluargaku?" Paman Harits melangkah maju. Ia berdiri beberapa jengkal saja di hadapan kedua orang itu.
Ada suara dari mulut mereka, tapi tak ada kata yang keluar.
Paman Harits membungkuk, mendekatkan wajah pada salah satunya.
"Berani sekali kalian menyentuh bahkan membuat keluargaku celaka?" ucap paman Harits. Hembusan nafasnya bagai jarum-jarum mengandung racun yang menancap di pori-pori mereka.
Paman Harits kembali menegakkan tubuh, menatap bergantian dua pasang mata yang telah basah itu. Cairan lainnya pun ikut keluar dari dua lubang hidung mereka.
Ia tersenyum miring, merasakan ketakutan di mata keduanya. Hal itu yang dia inginkan.
"Aku tidak tahu, kalau kamu seberani itu? Kita baru satu kali bertemu dan kamu sudah mengambil resiko sebesar ini. Kenali dulu siapa lawanmu, apakah sepadan? Seorang petarung pun akan tetap memilih lawan yang sepadan dengannya. Bodoh!" cibir paman Harits tepat di hadapan yang lainnya.
Ia meronta, menjerit tanpa suara. Peluh berbaur dengan air mata membanjiri wajahnya. Sementara yang lainnya, hanya diam menunduk. Pasrah pada hukuman yang akan diterimanya malam ini dari paman Harits.
Dalam hati ia mengumpat kelakuan orang di sampingnya. Karena rencana konyolnya, dia jadi terlibat. Apa lagi, paman Harits memiliki dendam pribadi dengannya. Hal itu membuatnya tak akan lolos dari hukuman.
"Aku tidak pernah puas dengan penjara. Di dalam sana, tak membuat penjahat seperti kalian jera. Biar aku sendiri saja yang menghukum kalian berdua!"
__ADS_1
Gemetar tubuh keduanya.