Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Sebuah Kesepakatan


__ADS_3

Ain masih duduk termenung di tepi ranjang. Baru saja Yuni menelepon menuntutnya untuk segera membuat Ikram menikahinya. Ain yang sudah terlanjur membuat kesepakatan pun harus bisa membuat Ikram luluh dan setuju untuk menikahi Yuni.


Ia melirik jam yang menggantung di dinding kamar. Ia mendesah, hingga sore pun Ikram belum juga menunjukan batang hidungnya.


Ia beranjak keluar kamar begitu deru suara mobil Ikram terdengar hingga ke dalam rumah. Matanya menyipit saat melihat Nadia yang juga keluar dari mobil suaminya diikuti anak-anak.


"Jadi kalian sengaja membuatku cemburu dan sakit hati?" geram Ain dengan kedua tangan yang terkepal erat.


"Assalamu'alaikum!" Ikram memasuki rumah dengan gontai. Tak ada sahutan, ia langsung duduk di sofa sembari mengusap wajah. Hal tak terduga terjadi hari ini. Bilal dan Nafisah bergegas menghampiri Ain untuk bersalaman sebelum memasuki kamar mereka.


"Enak, ya, jalan-jalan terus sama istri muda sampai lupa sama istri tua," ketus Ain yang ikut duduk di seberang Ikram sembari melipat kedua tangan di perut.


"Umi ngomong apa, sih! Abi dari toko sama anak-anak. Terus anak-anak minta jemput Nadia bukan jalan-jalan," sahut Ikram dengan nada lelah. Raut wajahnya pun terlihat letih.


"Hmm ... Umi tidak percaya. Semenjak Abi menikah dengan Nadia, Abi sering berbohong pada Umi," serang Ain memicingkan mata sinis pada Ikram.


"Maksud Umi apa? Abi bohong soal apa?" tanya Ikram menegakkan tubuh menatap istri pertamanya itu.


"Banyak! Tidak perlu Umi sebutkan satu-persatunya, 'kan? Kenapa Abi jadi begini?" sahut Ain dengan mata yang berkilat marah saat membayangkan Nadia yang keluar masuk mobil Ikram.


Ikram menghela napas, ia kembali menjatuhkan kepala pada sandaran kursi semakin lelah tubuhnya dengan sikap Ain.


"Abi dari toko, tak ada penghasilan hari ini. Bagaimana nanti bayar karyawan kalau tidak ada pemasukan seperti sekarang ini?" keluh Ikram memejamkan mata lelah memikirkan tokonya yang sepi dan juga sikap Ain yang semakin menjadi.


Ain ikut mengendurkan urat. Teringat akan toko yang sepi kembali, benar apa yang dikatakan Ikram. Bagaimana ia bisa membayar gaji karyawan jika pemasukan tak ada. Detik kemudian ia tersenyum, teringat akan simpanan Nadia untuk yayasan yang ia pegang. Tak apa, bukan, jika ia menggunakannya.


"Abi tenang saja, Umi akan bantu keuangan kita. Asal Abi mau menikah dengan janda itu. Abi tidak akan kesulitan soal uang lagi," sahut Ain dengan yakin.

__ADS_1


Uang di tabungan itu setiap bulannya selalu bertambah dengan nominal yang tidak kecil. Sepuluh juta untuk lima belas orang anak yatim piatu di yayasan. Uang itu tidak akan pernah habis kecuali Nadia menyetop pemasukannya.


Pintar kamu, Ain!


Ikram membuka mata, kedua ujung alisnya bertaut bingung.


"Abi tahu, tapi kalau tabungan Umi dipakai terus tanpa ada tambahan pemasukan lama kelamaan akan habis juga. Namanya kebutuhan harus selalu terpenuhi setiap harinya. Belum biaya sekolah anak-anak, belum untuk persiapan Ruby masuk perguruan tinggi. Siapa yang akan menanggungnya?" Ikram menelisik wajah Ain yang berbeda dari biasanya.


"Abi tenang saja, pokoknya semua beres. Bagaimana kalau pernikahan Abi kita percepat. Supaya Umi bisa mengajak dia berbisnis untuk membantu memenuhi kebutuhan kita. 'Kan lumayan, Bi," seru Ain kembali pada niatan utamanya.


Ikram masih tak habis pikir kenapa Ain begitu ingin dia menikahi janda itu. Memangnya seberapa mengenaskan hidupnya itu? Ikram mematri tatapan pada manik Ain yang berbinar.


Seingatnya saat dia pulang tadi, Ain terlihat murung dan marah. Kini, binar-binar bahagia nampak jelas di matanya. Cepat sekali berubahnya.


"Baik, Abi akan memenuhi permintaan Umi itu, tapi biarkan Abi mendatangai Nadia kapan pun Abi mau. Kalau Umi setuju maka siapkan saja semuanya. Abi tidak memegang uang, semua uang Umi yang pegang," sahut Ikram tegas.


Ain tertegun mendengarnya, apakah dia harus setuju? Susah payah dia membuat peraturan untuk Nadia dan Ikram, tapi kini semua itu harus pupus jika ia ingin Ikram menikahi Yuni. Oh ... liciknya! Ada apa dengan Nadia? Kenapa dia begitu istimewa bagi Ikram?


Hening. Satu pun tak ada yang memulai kembali pembicaraan. Baik Ain ataupun Ikram, sama-sama mengunci mulut sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ikram berdiam menunggu jawaban Ain tentang apa yang diucapkannya. Ia tersenyum saat kegelisahan nampak jelas di mata istri pertamanya itu.


"Pikirkanlah dulu. Abi akan menunggu Umi memutuskan," ucap Ikram seraya beranjak berdiri dan bergegas ke kamar mandi karena adzan Maghrib telah berkumandang.


Ain gelisah sendiri, ia menggigit bibir bawahnya berpikir keputusan apa yang harus diambilnya.


"Duh, kenapa malah jadi begini, sih? Apa istimewanya si Nadia itu. Sudah lima tahun menikah belum juga hamil, jangan-jangan dia mandul!" celetuk Ain tanpa sadar.

__ADS_1


Ikram yang diam-diam menguping tersenyum melihat Ain yang gelisah, berjalan bolak-balik seperti orang bingung. Ia menggeleng, Ikram tahu Ain begitu takut jika ia selalu mendatangi Nadia. Ia takut Nadia akan benar-benar menguasai Ikram.


Ain membanting diri kesal. Di sofa ia duduk dengan tatapan penuh benci. Kedua tangan dikepalkan. Ain memukul-mukul sofa dengan kesal.


Beberapa hari berlalu, Ain masih dibuat uring-uringan dengan permintaan Ikram. Sementara Ikram selalu menggodanya setiap kali ada kesempatan. Ia tak ke mana pun, berdiam diri di rumah sembari menatap Ain yang terlihat gelisah setiap kali beradu pandang.


"Kenapa mukanya ditekuk begitu, Mi? Jelek tahu," goda Ikram saat ia duduk membaca buku istrinya itu melintas di depannya.


Ain melirik sinis, mendengus dengan kesal sebelum membuang muka dari Ikram. Laki-laki itu hanya menggeleng sembari mengulum senyum. Kembali fokus pada buku yang sedang dibacanya. Sebentar lagi anak-anak kelas akhir akan lulus dari pondok termasuk Ruby dan dua orang anak asuhnya dari yayasan.


Pikirannya terpenuhi oleh masalah biaya pendidikan Ruby. Sedangkan dua anak itu, ia tahu Nadia telah menyiapkan tabungan untuk mereka sekolah. Hanya saja ia tidak tahu jika tabungan itu Ain yang memegangnya.


Ikram melirik ke luar rumah, ada Nadia yang sedang memberikan bungkusan pada mang Sarif di dekat gerbang. Ia tersenyum, Nadia selalu seperti itu. Wajahnya selalu sedap dipandang, tak pernah bermuka masam. Tak pernah mengeluh pada keadaan meskipun Ain selalu menekannya. Ia hanya ingin Nadia terbebas dari semua peraturan yang dibuat Ain.


"Bunda!" Nafisah tiba-tiba berlari dari dalam rumah menghampiri Nadia yang baru saja hendak memasuki gerbang yayasan.


"Ada apa, sayang?" Nadia menoleh dan tersenyum.


"Kenapa Bunda tidak pernah datang lagi ke rumah kalau pagi? Aku ingin makan sarapan buatan Bunda. Sudah lama sekali tidak memakannya," ucap Nafisah dengan bibir yang mengerucut lucu.


Nadia mencubit gemas kedua pipinya. Nafisah yang chabi selalu enak untuk dicubit.


"Kenapa tidak ke rumah Bunda saja kalau mau makan masakan Bunda? Mau apa pun Bunda pasti siapkan," sahut Nadia.


Ikram kembali tersenyum menatap Nafisah yang ikut bersama Nadia ke rumahnya.


"Bi?" tegur Ain yang membuat Ikram segera menoleh padanya.

__ADS_1


"Ada apa, Mi?" tanyanya bingung. Ain duduk bersebrangan dan memandangi wajah rupawan milik Ikram.


"Mmm ...."


__ADS_2