Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kehilangan


__ADS_3

SEMUA TELAH PERGI


Di tengah-tengah tangis penyesalan Yuni, Nadia mulai jengah dengan keluarga itu. Ia melirik Ruby yang duduk di kursi, wajahnya masih menyisakan pucat dan bibirnya mengering.


Nadia melirik Ikram yang sedang berusaha menahan marah, ikrar talak telah ia ucapkan untuk Yuni saat itu juga. Lalu, Nadia melirik Ain yang juga tengah kecewa pada Yuni. Ia mengernyit manakala matanya tak sengaja melihat tas yang ada padanya. Terlihat aneh, dan Ain seperti melindunginya.


"Maafkan aku, tapi aku harus segera pergi. Ini urusan rumah tangga kalian, aku tidak berhak turut campur karena aku hanya orang asing di sini," ungkap Nadia dengan tiba-tiba membuat Ikram menoleh padanya.


Pandangan mereka beradu, sorot mata Nadia tak lagi sama. Dia bahkan berani memandangnya dengan tajam.


"Nadia, apa tidak sebaiknya kamu ikut menyelesaikan masalah ini? Bukankah ini semua terjadi saat masih ada kamu? Lagi pula, lidahku belum pernah mengucapkan kata talak untukmu, Nadia," mohon Ikram lewat sorot matanya yang sendu, ia mengiba pada Nadia untuk tetap tinggal.


Nadia bergeming, sudah tak ada lagi tempat di hatinya untuk laki-laki bernama Ikram. Semuanya telah tertutup, hanya ada ruang hampa tanpa penghuni.


"Maafkan aku, Mas. Aku datang bukan untuk melihat kalian bertengkar, aku datang untuk menjemput anak-anakku dari sini," ketus Nadia. Wajahnya dingin dan pandangannya tajam menusuk. Apa lagi saat ingat baru saja Yuni mau menjual dua orang anaknya.


"Apa? Kamu mau membawa anak-anak di yayasan?" Ain bersuara sedikit terkejut dari intonasi nada yang ia keluarkan. Tidak bisa, bagaimanapun anak-anak itu masih menghasilkan uang walaupun sedikit. Selalu ada donatur yang memberi uang kepada mereka walaupun tidak banyak.


"Iya, aku akan membawa mereka semua dari sini dan ikut tinggal bersamaku." Nadia menyengit, ia muak dengan wanita berbulu yang bersembunyi di balik hijabnya yang berkibar-kibar lebar itu.


"Tidak bisa! Kamu tidak berhak membawa mereka dari sini! Kamu bukan siapa-siapa, Nadia! Mereka anak-anak di sini dan akan tetap di sini," tolak Ain menggeram. Nadia melempar pandangan pada Ikram yang bergeming menatapnya.


Pandangan penuh hasrat ingin memiliki kembali, ia tujukan pada sosok Nadia yang menjelma semakin bersinar. Namun, Nadia membuang pandangannya dan kembali pada Ain yang mengeras.


"Lalu, kalian akan melanjutkan transaksi gelap kalian di sini? Mengatasnamakan panti asuhan, kalian akan menjual anak-anakku pada mereka yang berani membayar mahal. Tak akan aku biarkan, sekalipun nyawa taruhannya ... aku tak akan membiarkan anak-anak yang aku asuh diperjual-belikan oleh kalian." Nadia tidak mengalah.


"Kalau kamu membawa anak-anak itu, siapa yang akan mengisi yayasan, Nadia?" Nada suara Ikram melembut bahkan terkesan seperti rayuan.


"Aku tidak peduli! Kalian bisa mencari anak-anak yang lain lagi untuk kalian asuh. Untuk anak-anak yang aku asuh, akan aku bawa mereka semua termasuk Ibu yang sudah merawat mereka," jawab Nadia tidak peduli. Tanpa sadar Ruby berkaca mendengar niatan Nadia. Kalau anak-anak di yayasan dibawa Nadia, itu artinya dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan sosoknya.

__ADS_1


"Jangan egois, Nadia-"


"Egois?" Nadia tertawa kecil mendengar Ain berkata demikian, "aku sarankan padamu, Ain ... untuk bercermin dan menelaah dirimu sendiri. Selama ini siapa yang egois? Kamu, Ain. Kamu! Keegoisan kamu membuat rumah tanggamu sendiri hancur berantakan, dan semakin kacau saat kamu membawa peliharaan ke rumah," sengit Nadia sembari melirik Yuni yang masih duduk bersimpuh di lantai.


"Nadia, tidak bisakah kamu tetap di sini dan kembali menjadi istri Mas?" Suara permintaan Ikram sungguh menggugah hati yang mendengarnya, tapi itu tidak bekerja pada Nadia.


Ain membelalak mendengar Ikram memohon pada Nadia untuk kembali. Ia tidak senang, tak ingin lagi memiliki madu.


"Maaf, Mas. Bukankah sudah aku katakan, semuanya telah berakhir. Aku dan Mas juga keluarga ini sudah tidak ada urusan lagi. Sekarang, selesaikan masalah Mas dengan dua istri Mas ini. Aku permisi!"


Nadia melangkah keluar, Ikram dan Ruby mengejar.


"Nadia!"


"Bunda!"


"Tante Winda!"


"Tante Rima!"


Bilal dan Nafisah berlari menghampiri kedua wanita itu. Ibu dan semua anak-anak pun telah bersiap untuk pergi. Nadia sudah memberitahu mereka untuk bersiap-siap sebelum mendatangi rumah Ikram dan menggagalkan penjualan kedua anaknya.


Nadia mengangguk ketika dua adik angkatnya itu melihat ke arahnya. Winda dan Rima bergerak menuntun Ibu dan semua anak-anak di yayasan untuk memasuki mobil yang mereka bawa.


"Bu! Apa yang Ibu lakukan? Apa Ibu akan meninggalkan yayasan ini dan melupakan jasa-jasa kami?" hardik Ain tidak senang. Ia berjalan mendekat, sementara Nadia tetap berdiri di teras menunggu dan memperhatikan.


Semua pemandangan itu tak luput dari perhatian santri yang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka dan para ustadz bersama-sama menonton dari dalam masjid dan gerbang pondok. Desas-desus terdengar tentang kabar tidak terawatnya anak-anak itu pun sampai ke telinga mereka.


"Maafkan saya, Umi. Bukannya saya melupakan jasa-jasa Umi atau Abi, tapi saya sudah tidak bisa tinggal di tempat yang dipenuhi kebohongan ini. Saya tidak bisa membiarkan anak-anak ini tinggal di tempat orang yang memiliki sifat munafik. Maafkan saya, Umi, Abi. Kami harus pergi, kami akan ikut Mbak Nadia dan tinggal bersamanya," sahut Ibu seraya meminta anak-anak itu cepat-cepat memasuki mobil.

__ADS_1


Ain melongo, hatinya terpukul mendengar kalimat keras dari wanita tua itu. Ia berjalan tertatih karena bagian pinggangnya masih terasa linu akibat didorong Yuni tadi.


"Kami juga mau ikut Bunda!" teriak Bilal dan Nafisah yang menyentak tubuh Ain juga Ikram. Pun dengan Ruby dan Nadia. Winda dan Rima yang hendak memasuki mobil setelah melepas kedua anak itu, urung mereka lakukan saat mendengar Nafisah yang menangis dan menjerit.


"Bilal! Nafisah! Apa-apaan kalian ini!" bentak Ain dengan mata merah menyala juga wajah yang merah padam.


"Aku juga mau ikut Bunda!" Suara Ruby membuat Ikram menoleh dengan cepat ke arah anaknya.


"Apa maksud kamu, Ruby?" Ikram mengeras. Tak senang dengan keputusan putri sulungnya itu.


"Aku juga sudah muak tinggal di sini, benar kata Ibu di sini terlalu banyak kebohongan dan kemunafikan. Aku akan ikut bersama mereka tinggal dengan Bunda sampai Umi dan Abi menyadari semua kesalahan yang telah kalian lakukan," ungkap Ruby seraya melangkah meninggalkan teras.


"Ruby!" Ikram mencekal tangannya, tapi Ruby menepisnya dengan kuat. Ia melanjutkan langkah, dan dihadang Ain.


"Kalian tidak bisa pergi ke mana-mana! Kalian akan tetap di sini bersama Umi dan Abi!" teriak Ain sembari menghalangi jalan Ruby yang hendak mendekati mobil.


"Maafkan aku, Umi. Aku hanya ingin Umi sadar dan menyesali semua perbuatan Umi, dan selama itu aku akan tinggal bersama bunda," pungkas Ruby seraya melanjutkan langkah dan mengajak kedua adiknya untuk memasuki mobil.


"Ruby! Kalian tidak boleh pergi!"


"Bilal, Nafisah! Jangan pergi, Nak! Jangan tinggalkan Umi!" jerit Ain histeris. Ikram mendekat, ingin berbicara dengan Ruby. Namun, anak itu tak ingin melihatnya.


"Ruby! Dengarkan Abi! Apa kamu tidak kasihan melihat Umi seperti itu, Nak!" ucap Ikram yang berhasil membuat Ruby menghentikan langkah. Ia melirik Ain sesaat sebelum benar-benar memasuki mobil tersebut.


Nadia hanya diam di teras rumah Ikram. Ia tidak melakukan apa pun untuk mencegah mereka, itu bukan inginnya. Mereka yang memilih pergi atas kemauan mereka sendiri. Ia pun sama terkejutnya.


"Sialan! Apa yang kamu lakukan terhadap mereka!"


"Berani kalian menyentuhnya, maka aku akan menghancurkan tempat ini!"

__ADS_1


__ADS_2