
Dalam acara tersebut, satu keluarga berserakan kembali terhimpun. Menjadi keluarga besar saat Ikram pun menjadi bagian dari mereka. Sesi pemotretan dilakukan dengan suka cita. Ayah paman Harits bahkan tak ingin jauh dari cucunya.
Usai ibadah shalat Dzuhur mereka berpamitan. "Ayah, apa akan di sini atau ikut pulang bersama kami?" tanya paman Harits tanpa canggung pada ayahnya tersebut.
Lelaki tua itu tersenyum. "Ayah akan menemani Rai dulu di sini, kalian pulang saja dulu. Besok kami akan ke rumah kalian," ujarnya yang mendapat anggukan kepala dari paman Harits.
Ucapan selamat dan doa mengalir tanpa diminta bagai air yang bermunculan dari mata airnya. Kepulangan mereka menyisakan sepi dan sunyi dalam pesta.
"Apa kamu senang sekarang?" tanya wanita yang menjadi istri mudanya itu. Lelaki tua di sampingnya tersenyum, sebelumnya ia menarik napas dalam dan membuangnya. Melempar segala beban berat di bahunya yang ringkih.
"Yah ... aku bahagia. Sangat bahagia karena Harits ternyata menerimaku walaupun aku sudah menyakitinya bahkan mungkin luka itu sekarang masih membekas tubuhnya. Aku benar-benar menyesal." Air matanya kembali jatuh teringat akan apa yang ia lakukan di masa lalu.
"Dia memang orang baik, Pak. Kami saja yang baru mengenalnya, sudah bisa melihat kebaikan hatinya," tutur Ikram ikut masuk dalam perbincangan mereka.
"Iya, mereka sangat cocok. Nadia yang berhati mulia, dan Tuan Harits yang baik. Semoga mereka berdua selalu diberi kebahagiaan." Ucapan Ain yang menimpali diaminkan semua orang.
Pada akhirnya, semua orang menerima kebaikan hati mereka.
******
Berbulan telah berlalu, Minggu ini rumah besar paman Harits terlihat sibuk. Orang-orang berlalu-lalang keluar masuk rumah besar tersebut. Ikram dan keluarganya pun turut hadir dalam kesibukan mereka.
Di antara mereka, nampak dua orang wanita yang sedang hamil besar. Ruby dan Nadia. Keduanya sama-sama mengandung. Pada akhirnya Nadia menyerah karena paman Harits terus-menerus merengek padanya untuk hamil lagi.
Padahal, Zahira barulah berumur satu setengah tahun. Keduanya hanya duduk memperhatikan kesibukan semua orang. Suami mereka melarang melakukan ini dan itu karena kehamilan keduanya.
"Rai, tokcer juga, ya?" goda Nadia mengusir kejenuhan. Ruby menunduk malu-malu, mengusap perutnya yang membuncit.
"Iya, dia tidak ingin menundanya, Bun. Lagipula Abi sama Umi juga sudah menginginkan cucu," sahut Ruby masih dengan semu merah di pipi, "tapi, Bun. Perut Bunda terlihat lebih besar, padahal baru jalan enam bulan. Aku saja yang mau delapan bulan, kecil begini," lanjutnya membandingkan ukuran perut mereka.
__ADS_1
"Mungkin karena Bunda pernah mengandung. Jadi ... bagaimana, ya? Bunda juga tidak tahu." Nadia menghendikan bahu. Keduanya tertawa kecil bersamaan.
"Wah ... ini calon pengantin kita!" seru Nadia saat Winda ikut berkumpul bersama mereka. Ada Rima yang juga tak kalah bahagia.
Pada pernikahan Winda yang digelar di rumah besar itu, Yoga nampak gagah dan tampan, wanita di sampingnya pula nampak cantik dan mempesona. Inner beauty miliknya menguar membuat siapa saja akan kesulitan mengenali kalau itu adalah Winda.
Pesta besar-besaran diadakan Yoga, kembali menyatukan dua keluarga besar. Bertambah besar dan luas persaudaraan mereka. Bertambah pula rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka.
******
Berbulan kembali berlalu, usia kehamilan Nadia memasuki bulan ke tujuh. Ukuran perut Nadia tak seperti saat mengandung Zahira, nampak lebih besar. Oleh karena rasa penasaran, mereka melakukan USG. Itu kehamilan bayi kembar dan kemungkinan Nadia harus melakukan operasi sesar sebelum waktunya.
Itu karena Nadia pernah mengalami operasi di perut sebelumnya. Kondisinya yang lemah, dengan wajah yang terlihat pucat, membuatnya harus istirahat total tidak melakukan apa pun.
"Mas!" panggil Nadia lemah. Paman Harits yang sedang bermain bersama putri sulung mereka itu segera menyahut panggilan istrinya.
"Perut aku tegang, Mas. Sakit. Kita ke rumah sakit," ucap Nadia lagi semakin mengkhawatirkan.
"Sebentar, aku titip Zahira dulu pada Rima. Kebetulan ada Yoga dan Winda. Kita pergi sekarang juga!" Ia keluar kamar mencari Rima. Dititipkannya Zahira pada adik istrinya itu. Ia kembali membawa kursi roda dan keluar bersama Nadia yang telah mendudukinya.
"Mbak! Pucat sekali!" pekik Winda saat bertemu dengannya.
"Di mana suamimu? Pinta dia untuk mengantarku ke rumah sakit!" titah paman Harits tegang.
Ia terus mendorong kursi roda tersebut menuju keluar rumah. Yoga telah membukakan pintu untuknya, paman Harits mengangkat tubuh istrinya dan segera memasuki mobil.
Rumah sakit terasa jauh dalam keadaan seperti ini. Gelisah dan serba salah paman Harits karena melihat Nadia yang berkeringat banyak.
Ruang tindakan telah disiapkan tim dokter saat Nadia di perjalanan. Paman Harits segera menghubungi mereka sesaat setelah ia duduk di dalam mobil.
__ADS_1
Nadia langsung mendapat penanganan setelah tiba di rumah sakit. Paman Harits dan Yoga menunggu di depan pintu ruang operasi. Tak lama menyusul, Ibu, Winda dan Rima bersama Zahira. Selang beberapa saat, Ayah paman Harits dan istrinya pun datang.
Lelaki itu mengambil alih Zahira, memangkunya sambil melantunkan doa-doa.
"Tuan Harits! Nyonya meminta Anda menemani!" Dokter memberitahu. Paman Harits memberikan putrinya kembali pada Winda. Ia bergegas masuk ke ruang operasi menemani istrinya.
Perlu waktu beberapa saat sampai kondisi tubuh Nadia siap untuk melakukan operasi. Paman Harits duduk di dekat kepalanya, tangan mereka bertaut erat. Tak henti bibirnya menciumi punggung tangan Nadia.
Sebelah tangannya mengusap dahi yang berkeringat, lisannya ikut bekerja mengajak berbincang Nadia.
"Mas, aku takut!" lirih Nadia tak menyembunyikan ketakutannya.
"Tenang, sayang. Mas di sini, Zahira juga di luar tak sabar menunggu Bunda dan adiknya. Kamu harus tenang, ya. Ada Allah, anak-anak kita pasti akan bangga karena memiliki Bunda yang kuat. Bacalah kalimat thoyibah dalam hati kamu, sayang, supaya kamu tenang." Paman Harits mengecup dahinya dan membisikan kalimat-kalimat thoyibah di telinga Nadia.
Perlahan, wanita itu mulai merasa tenang. Operasi dimulai setelah kondisi tubuh Nadia dipastikan tim dokter.
Tak butuh waktu lama, dalam lima belas menit bayi kembar Nadia terlahir ke dunia. Tangisan bayi itu menggema, disusul tangisan lainnya yang kedua.
"Kamu dengar? Mereka sudah lahir, anak kita sudah lahir! Kamu hebat, sayang! Kamu wanita kuat. Mas sayang kamu." Paman Harits menangis haru. Nadia ikut merasakan keharuan.
Kedua bayi itu dimasukkan ke dalam inkubator karena kondisi mereka yang terlahir secara prematur. Tak ada kendala apa pun pasca operasi Nadia. Ia hanya perlu dirawat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya.
Kehadiran mereka, disambut suka cita oleh semua orang. Paman Harits bahkan membagi-bagi hadiah pada tetangga di sekitar rumahnya saat Nadia dan bayinya pulang ke rumah.
Bayi kembar yang diberi nama, Salman untuk sang Kakak, dan Salwa untuk sang adik itu menambah kebahagiaan dalam keluarga besar tersebut.
Selamat berbahagia kalian semua!
THE END!!!
__ADS_1