Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Palsu


__ADS_3

Wahai anak Adam ... saat Ibumu melahirkan, kau dalam keadaan menangis dan orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia.


Beramal solehlah selama hidup di dunia, agar kelak saat kau menutup mata, semua orang menangis dan hanya kau seorang yang tersenyum ....


Lenguhan pendek sering kali terdengar dari arah wanita yang berbaring di sampingnya. Ia nampak gelisah, keringat bermunculan di dahi hingga ke leher. Tidur tak nyaman, mencoba berbagai posisi pun rasanya tetap sama.


"Ugh!" Ia beranjak duduk, dengan kaki yang menjuntai ke lantai sembari memegangi perutnya yang terasa turun ke bawah.


"Sayang? Buang air lagi?" tanya paman Harits ikut terbangun dengan gerakan Nadia yang mengusik tidurnya.


"Iya, Mas. Rasanya mau pipis terus kalau dia gerak-gerak. Mas, bantu ke kamar mandi!" ucapnya sedikit manja sambil meringis tak tahan.


Paman Harits beranjak duduk, ia turun dari ranjang dan memapah Nadia ke kamar mandi. Ia bahkan menunggu istrinya itu di dalam kamar mandi khawatir akan terpeleset atau apa lah.


"Sudah?" Bertanya saat melihat Nadia beranjak. Wanita itu mengangguk, lantas menyambut uluran tangan suaminya dan menggenggamnya.


"Ugh!" Ia melenguh lagi saat sebuah rasa asing menyerang perut bawahnya. Nadia memejamkan mata merasakan sesuatu yang mengaduk-aduk isi perutnya walau hanya sebentar.


"Ada apa? Apa kamu merasa sakit?" tanya paman Harits sambil merengkuh tubuh istrinya. Nadia mengangguk lemah masih dengan mata terpejam. Tak tega melihat istrinya yang kesakitan, paman Harits menggendongnya.


Nadia pasrah, ia menjatuhkan kepala di pundak lelaki itu sambil merangkulkan tangan di lehernya.


"Kamu tunggu sebentar, ya. Mas akan bertanya pada Ibu," pintanya setelah membaringkan Nadia di atas ranjang. Ia mengangguk dengan sedikit membuka matanya melihat ke arah laki-laki itu. Paman Harits mengecup dahinya sebelum berjalan keluar kamar.


Setengah berlari ia memacu kaki menuruni anak tangga menuju kamar ibunya.


"Bu! Bangun, Bu! Apa Ibu sudah tidur?" Ia mengetuk pintu kamar Ibu sedikit panik. Ibu yang sedang terlelap terusik tidurnya, mendengar suara putranya yang mengetuk pintu ia beranjak. Berjalan terbungkuk menuju pintu.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa malam-malam kamu terlihat panik begitu?" tanya Ibu dengan suara parau. Pandangan Ibu bahkan masih buram, tak dapat melihat dengan jelas sosok anak di depannya.


"Anu, Bu. Itu, Nadia ... aku tidak tahu kenapa? Tapi dia seperti kesakitan, Bu," ucapnya gelisah. Ibu membeliak, hilang sudah kantuk yang menggelayuti matanya.


"Coba Ibu mau lihat?" katanya ikut panik, ia menggelung rambutnya sambil berjalan mengikuti paman Harits. Lelaki itu sigap membantu Ibu menaiki anak tangga, dengan sangat hati-hati.


Bibi yang tak sengaja mendengar, mengikuti langkah majikannya karena Ibu yang meminta. Nadia sedang berbaring, sesekali akan meringis saat merasakan nyeri di bagian bawah perutnya.


"Nadia?" Wanita itu membuka mata tatkala suara Ibu menyeruak menjejali indera rungunya.


"Bu!" Lirih dan bergetar suara Nadia yang keluar. Ia menggigit bibir dan memejamkan mata saat rasa itu kembali datang.


Ibu duduk di tepi ranjang, ia memegangi kaki Nadia yang terjulur ke depan, sedangkan suaminya berjongkok di bawahnya sambil memegangi tangan Nadia yang lembab.


"Apa yang kamu rasakan, Nak?" tanya Ibu pelan. Nadia meneguk ludah, terasa kering tenggorokannya.


"Itu biasa terjadi pada Ibu hamil di trimester terakhir ini. Mungkin itu kontraksi palsu, apa ada lendir bercampur darah yang keluar dari jalan lahir?" jelas Ibu bertanya lagi.


Nadia melirik suaminya yang nampak tegang. Mata hitamnya tak berkedip menghujam manik Nadia. Keringat bermunculan sebesar biji jagung di dahinya. Nadia memutar kembali pandangan, menatap Ibu yang menunggu jawabannya.


Ia menggeleng pelan, "Tidak ada cairan merah, Bu. Hanya sesekali akan terasa melilit di perut saja," katanya memberitahu.


Ibu kembali tersenyum, ia melirik paman Harits, tangannya mengusap kepala putranya itu hingga ia menoleh padanya.


"Tidak apa-apa, itu hanya kontraksi palsu mungkin karena tadi siang istrimu ini terlalu lelah berbelanja. Tidak apa-apa," ucap Ibu menenangkan paman Harits yang menegang.


Ia mendesah, dengan kepala yang ia tundukan membuang segala resah yang tadi mendatangai hatinya.

__ADS_1


"Apa itu kontraksi palsu, Bu? Apa itu artinya waktu Nadia melahirkan tidak akan lama lagi!" tanya paman Harits. Ia sudah menjatuhkan diri di lantai duduk bersandar pada ranjang, tangannya tak lepas memegangi tangan Nadia.


"Kontraksi itu waktu di mana si bayi mencari jalan untuk keluar, tapi yang dialami Nadia hanyalah palsu. Itu bisa jadi karena Nadia terlalu lelah. Biasanya dari sini tidak akan lama kontraksi yang sebenarnya datang menyusul. Jadi kamu harus siap siaga karena waktunya tak dapat diprediksi. Hpl yang diberitahukan dokter hanyalah acuan saja. Bisa jadi bayi itu akan lahir sebelum atau bahkan sesudah hpl itu." Ibu memandangi putranya yang nampak tidak tahu apa-apa tentang ini.


Paman Harits manggut-manggut mengerti. Bibi yang berada di ruangan kamar tersebut sigap membantu Ibu kembali ke kamarnya setelah berpamitan pada pemilik kamar.


Paman Harits beranjak, duduk di samping Nadia yang belum merubah posisinya. Ia menjatuhkan kepala di bahu wanita itu sambil mengusap-usap perut istrinya.


"Bukannya Mas pernah mengalami kondisi seperti ini bersama Mbak Bella? Kenapa seolah-olah Mas tidak tahu apa-apa?" tanya Nadia sambil menjatuhkan kepala di atas kepala suaminya.


Ia meraih tangan laki-laki itu dan menggenggamnya. Menunggu jawaban darinya tentang pertanyaan yang dia lontarkan tadi.


"Mas tidak tahu karena saat itu dia tidak seperti kamu. Dia juga tidak meringis kesakitan seperti kamu tadi, dia biasa-biasa saja," jawab paman yang mengangkat kepalanya secara perlahan.


Ia memiringkan tubuh menatap istrinya, wajah yang tadi terlihat pucat kini telah kembali seperti semula. Bibir itu bahkan membentuk senyuman, manis terlihat.


"Apa sudah tidak sakit? Apa dia sudah tenang?" tanyanya masih tersisa resah di hati. Nadia mengusap pipi suaminya, ia masih tersenyum. Rasa sakit yang ia alami, membuatnya sadar bahwa menjadi Ibu butuh perjuangan yang keras. Ia harus kuat saat waktunya nanti tiba.


"Sudah tidak apa-apa, Mas. Mungkin benar, aku terlalu lelah karena seharian tadi berbelanja. Aku sendiri tidak tahu kalau akan ada hal semacam ini," katanya menyesal. Paman Harits meremas jemari Nadia yang masih menempel di pipinya.


Ia membawanya mendekati bibir dan menciumnya dalam-dalam.


"Aku tegang dan takut tentunya. Dulu tidak setegang ini, tapi sekarang kenapa aku justru panik sekali?" keluhnya sambil menempelkan dahi di pelipis istrinya.


Hangat hembusan napasnya menyentuh kulit Nadia. Ia bahkan dapat merasakan detak jantung laki-laki itu yang berpacu tak beraturan. Dia benar-benar panik.


Paman Harits menjauhkan kembali kepalanya, mengecup pelipis istrinya sebelum merebahkan diri untuk tidur.

__ADS_1


"Tidurlah lagi, ini masih sangat larut." Nadia menurut, menggulir tubuhnya menghadap paman Harits dan memeluknya. Keduanya tidur dengan tenang meskipun Nadia masih selalu terbangun untuk buang air.


__ADS_2