Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”


(Al-Baqarah : 286)


*****


Balong Ranca Lentah Rangkasbitung. Semilir angin menerbangkan ujung hijab yang dikenakan wanita itu. Ia terduduk di pinggir danau buatan, terpaku pada riak air yang dibuat oleh ikan-ikan kecil di dalamnya. Merenungi jalan kehidupan yang telah ditempuhnya.


Ia mengeja semua yang telah ia lalui. Betapa ia tidak mensyukuri hidup, dengan tidak menjaga kesehatan yang diberikan Tuhan sebagai salah satu nikmat terbesar dalam hidup. Kini, ia menuai apa yang telah ditanamnya di masa lalu.


Nadia menyeka sudut matanya yang tergenang air. Tak berharap ia-nya jatuh membasahi pipi.


"Ampuni aku, ya Allah!" Pecah sudah tangisnya. Ia menunduk menyembunyikan isak yang keluar lirih dari bibirnya. Hanya sebentar, Nadia mengusap air mata yang turun tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Kembali menatap hamparan air yang beriak.


"Nadia?"


Sebuah seruan suara menyentak Nadia dari lamunan. Ia menoleh dan mendapati seorang pemuda yang berdiri di belakangnya sambil tersenyum.


"Rai?" lirih Nadia saat mengenali pemuda itu beberapa detik kemudian.


Pemuda yang dipanggil Rai mendudukkan tubuhnya di pembatas beberapa jengkal dari Nadia. Wanita itu tersenyum rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.


"Apa kabar? Aku dengar kamu sudah sembuh? Selamat, ya!" tanya Nadia tersenyum tulus seperti biasa.


Pemuda itu tertawa kecil, ia memukul pelan pahanya salah tingkah dan terlalu senang bertemu dengan Nadia.


"Yah ... Alhamdulillah. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat kamu. Kamu bisa bebas terbang seperti burung, tidak seperti aku yang harus benar-benar mendekam di tempat membosankan itu," sahutnya sembari mengenang masa lalu saat mereka berjuang bersama melawan sakit.


"Kamu benar, aku yang memaksa untuk pulang walaupun dokter tidak mengizinkan," timpal Nadia lagi.

__ADS_1


Keduanya tertawa ringan mengingat kembali masa itu, mengulang kembali cerita di mana mereka pernah dekat. Sebagai dua orang pasien rumah sakit yang menderita sakit berat. Hening datang menyapa keduanya setelah lelah bercengkerama. Sejenak, Nadia melupakan kesedihannya.


"Nad, aku dengar kamu akhirnya menikah dengan ustadz itu, apa benar?" tanya Rai setelah berdiam beberapa saat. Keduanya menatap lurus pada tengah danau dengan pikiran masing-masing.


Nadia menghela napas, ia menunduk membenarkan ujung hijab yang tertiup angin.


"Memang benar, dan semua itu tidak pernah aku duga," jawab Nadia mencoba tersenyum meski perih.


Kali ini Rai yang menghela napas, berat terdengar. Hembusan kekecewaan dari seorang sahabat.


"Aku turut senang kamu akhirnya dapat bersama dengan orang yang kamu cintai, tapi, Nad ... menjadi yang kedua tidaklah dibenarkan untuk alasan apa pun. Kenapa kamu mau menjadi istri keduanya?" ungkap Rai. Bukan karena tidak suka dengan keputusan Nadia, tapi ia pikir Nadia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari pada Ikram yang notabene sudah memiliki istri dan anak.


"Aku juga tidak mengerti. Entahlah, Rai. Rasa cinta ini yang membuatku rela menjadi istri keduanya tanpa berpikir lagi," ucap Nadia.


Lagi-lagi Rai menghela napas, menumpahkan kekecewaan dalam hatinya.


"Seharusnya kamu berpikir lebih panjang lagi saat menerima lamarannya. Kamu seharusnya bisa menekan perasaan kamu padanya, Nad. Aku yakin, ada banyak laki-laki yang menginginkan jadi suami kamu," ucap Rai sembari melirik Nadia yang terus memaku tatapan pada riak air.


"Kamu tahu, Rai. Aku bahkan tidak bertemu dengannya saat dia datang melamar ke rumah. Mamah yang menemui dan memberitahuku bahwa mas Ikram yang datang melamar aku. Aku bahkan tidak tahu apa saja yang mereka bicarakan. Aku tidak menampik aku bahagia kala itu, aku merasa cintaku pun tidak bertepuk sebelah tangan. Aku yakin kamu juga tahu bagaimana perasaanku waktu itu," ungkap Nadia.


Ia kembali berpaling ke depan sebelum melanjutkan, "Bukannya aku menyalahkan Mamah karena pada saat itu akulah yang menginginkannya, tapi aku tidak terlalu berharap mas Ikram akan datang untuk menikahi aku. Kamu benar, harusnya aku berpikir dua kali untuk menerima lamarannya. Mamah pun bukannya ingin menjerumuskan aku, ia hanya ingin putrinya ini bahagia sebelum ajal menjemput."


Rai terenyuh, kini ia tahu ada peran Sarah dalam takdir yang dijalani Nadia.


"Aku yakin kamu juga sadar bahwa kamu telah menyakiti hati wanita lain, Nadia. Bagaimana kalau kamu berada di posisi istri pertama ustadz itu?" ujar Rai berandai-andai.


Nadia tertawa garing, terasa hambar dari suara tawa yang ia perdengarkan. Hanya bentuk luapan kesakitan juga penyesalan. Lebih tepatnya, ia menertawakan dirinya sendiri.


"Mungkin sudah ribuan pertanyaan sama yang diajukan orang-orang padaku sejak aku menjadi istri keduanya. Kamu tahu, Rai. Seandainya mas Ikram tidak datang melamar, aku pun tidak pernah berharap dia akan datang. Semua itu tidak terduga untukku, terjadi begitu saja. Memang aku rela menjadi istri keduanya, tapi itu hanya sebatas hayalanku saja tanpa berharap akan terwujud-"

__ADS_1


"Dan sekarang, semua sudah terjadi. Kamu bertanya bagaimana jika aku ada di posisi kakak maduku?" ungkap Nadia sembari memutar kepala menatap Rai yang terdiam mendengarkan.


"Aku akan rela suamiku menikah lagi bahkan bila ia tidak ingin menikah aku sendiri yang akan mencarikannya istri karena aku bukanlah wanita sempurna, Rai. Aku tidak bisa melahirkan keturunan untuk suamiku karena penyakitku ini. Kalau kamu bertanya seperti itu maka aku akan ikhlas menerima takdirku memiliki madu bahkan aku akan menjadikannya saudara dan ikut mengurusi anak mereka nantinya. Dari ribuan orang yang bertanya, hanya padamu aku memberikan jawaban," pangkas Nadia diakhiri dengan helaan napas berat untuk mengurai rasa sesak di dada.


Rai terenyuh, apa yang disampaikan Nadia mungkin benar. Demi mendapatkan keturunan dia akan rela dimadu. Namun, tetap saja posisinya sebagai istri kedua sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka.


"Apa mereka memperlakukan kamu dengan baik? Apa suami kamu tahu kalau kamu sakit?" cecar Rai ingin tahu. Bukan karena ingin ikut campur, tapi karena ia peduli pada perasaan Nadia. Wanita itu memiliki ketulusan hati yang murni dan ia tahu semua itu.


Nadia menggeleng sebelum berucap, "Mereka sangat baik padaku, tapi aku tidak ingin mereka mengetahui sakitku dan mengasihani aku. Biarlah mereka tidak tahu."


Rai kembali terdiam. Di saat orang-orang berlomba mencari simpati karena penyakitnya, Nadia justru menyembunyikan itu semua. Jika ia wanita licik, bisa saja ia menggunakan alasan sakitnya untuk menguasai Ikram.


"Menurut kamu, apa aku harus mundur dari semua ini, Rai?" tanya Nadia lirih. Rai terdiam.


"Jika tak ada alasan yang benar, maka haram untukmu wangi surga saat kamu meminta cerai dari suami kamu, Nadia," sahut Rai.


"Kamu benar. Ah ... sudah sore, aku harus pulang," ucap Nadia hendak beranjak.


"Aku antar," tawar Rai dengan cepat.


"Tidak usah, Rai. Aku wanita bersuami, tidak pantas rasanya berjalan dengan laki-laki ajnabi (asing). Aku pulang sendiri saja," tolak Nadia dengan halus.


Rai mendesah pasrah.


"Baiklah." Rai mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Nadia!" panggilnya yang menghentikan langkah wanita itu, "ini, selamat ulang tahun. Aku tahu ini terlambat, tapi hadiah untuk kamu. Aku yakin kamu akan membutuhkannya," lanjutnya sembari memberi Nadia sesuatu yang terbungkus rapi dan diberi pita berwarna merah muda.


Nadia kembali mendekat, ia mengambil hadiah Rai dan membolak-baliknya.

__ADS_1


"Terima kasih, aku ambil, ya. Aku pamit, assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam. Ingat, Nadia! Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa. Kamu pasti sembuh," ujarnya sebelum Nadia benar-benar pergi.


__ADS_2