
"Jangan halangi mereka atau aku yang akan membumi-hanguskan kantor kalian. Cukup kalian yang tahu!" sergah paman Harits sesaat setelah berhadapan dengan para polisi yang hendak membantunya.
Mereka bergeming hanya saling memandang satu sama lain setelah paman Harits melalui mereka. Para polisi itu kembali untuk melaporkan tugas yang mereka terima hari ini.
Paman Harits meletakkan Nadia di dalam mobil, ia membenarkan letak kerudung wanita itu. Nadia terus menunduk merasa malu sendiri saat harus bertatapan dengan paman Harits.
"Kamu baik saja?" tanya paman Harits bersandar pada mobil. Nadia hanya mengangguk kecil tanpa berucap ataupun mendongak.
Paman Harits menutup pintu mobil, ia bergegas duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobilnya dengan segera. Membawa Nadia langsung ke Jakarta.
Mengingat kejadian malam itu, selalu membuat Nadia menangis sendirian. Ia bahkan sering menjerit sendiri dan mengurung diri di kamar. Paman Harits jarang berada di rumah, ia membiarkan Nadia menenangkan diri dengan hanya ditemani Winda dan Rima.
"Mbak Nadia, kami bawakan makanan," ucap Winda sembari melangkah masuk ke kamar Nadia.
Wanita itu sedang duduk di atas ranjangnya, memeluk lutut sembari menatap ke arah jendela. Winda dan Rima duduk di tepi ranjang dan dengan perlahan mereka membalik tubuh Nadia.
"Winda? Rima?" Suara Nadia parau terdengar. Kedua gadis itu berhambur memeluk Nadia.
"Mbak Nadia sudah di rumah, Mbak Nadia sudah pulang. Anak-anak Mbak merindukan Ibunya, mereka ingin bertemu dengan Ibunya," ungkap Winda sembari mengusap air matanya yang tiba-tiba berjatuhan.
Nadia mengurai pelukan, ia mengusap pipinya dengan cepat dan menatap keduanya.
"Bagaimana? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Nadia dengan senyum tersemat di bibirnya. Senyum yang hampir satu Minggu ini hilang dari dunia.
"Mereka baik-baik saja, mereka rindu sama Mbak Nadia. Ayo, makan dulu nanti kita tengok mereka sama-sama di rumah baru mereka," ucap Rima sumringah. Ia mengangkat piring makanan di tangan dan meletakkannya di atas pangkuan bersiap untuk menyuapi Nadia makan.
__ADS_1
"Aku sudah dewasa, Rima. Aku akan makan sendiri." Nadia mengambil alih piring dari pangkuan Rima. Matanya berputar memandangi kedua orang yang berada di kanan dan kiri tubuhnya.
"Aku akan makan kalau kalian juga makan!" tuntut Nadia yang mau tidak mau harus menuruti kemauannya. Jadilah kedua gadis itu mengambil makanan mereka masing-masing dan makan bersama sesekali tertawa riang dan bersenda gurau.
"Mbak Nadia sudah siap?" Winda dan Rima menunggu Nadia yang tengah bersiap. Mereka akan mengunjungi rumah baru anak-anak.
"Ayo!" Ketiganya bergegas meninggalkan rumah paman Harits. Walau berada di kota yang sama, tapi tetap harus mengendarai mobil jika ingin mengunjungi mereka.
Nadia membeli segala sesuatu untuk oleh-oleh. Ia rindu anak-anak itu, pada tiga orang anak Ikram pun ia rindu.
"Mbak, kenapa Mbak Nadia tidak menikah saja dengan kak Harits? Sepertinya kak Harits sangat mencintai Kakak, dia bahkan tidak berani mendekat saat Kakak menolak di dekati olehnya," celetuk Rima asal.
Nadia bersemu mendengar celetukan Rima soal paman Harits. Keduanya teringat pada saat laki-laki itu membawa Nadia dalam gendongan hingga merebahkan diri di kamarnya.
"Aku tidak tahu, masih belum mengerti seperti apa perasaanku ini padanya. Aku tidak mau terlalu terburu-buru dan berakhir dengan kecewa seperti yang sudah," ungkap Nadia dengan sesungguhnya.
"Apa tempatnya jauh?" tanya Nadia mulai jenuh.
"Tidak, Mbak. Sebenarnya tempatnya berada di samping rumah yang kita tempati, tapi kami ingin berjalan-jalan kangen saat di Rangkasbitung dulu. Kita sering jalan-jalan bersama," ungkap Winda yang membuat Nadia kembali teringat akan kenangan yang ditorehkan kota kecil itu.
"Hmm ... baiklah, tapi cepat, ya." Keduanya bersorak-sorai. Mereka mengelilingi daerah tempat tinggal paman Harits sebentar saja. Setelah itu, memasuki gerbang rumah yang besar. Benar saja, rumah itu berada di samping kiri rumah paman Harits.
Nadia menggelengkan kepala. Ia turun dan segera disambut seruan anak-anak yang merindukannya.
"Anak-anakku!" Nadia berlari ke arah mereka diikuti semua anak yang ada termasuk dua anak Ikram dan Ain.
__ADS_1
"Bunda!" Keharuan terjadi manakala Nadia yang menangis sembari memeluk mereka. Ia menciumi dahi mereka satu per satu sebelum memberikan makanan dan mainan pada semua anak yang ia rindukan.
"Bagaimana kabar Mbak Nadia?" tanya Ibu. Wanita tua itu terlihat lebih bersinar sekarang. Mungkin saja dia merasa senang dan tenang tentunya.
"Alhamdulillah aku sudah lebih baik, Bu. Aku tidak mau terus berlarut dalam kejadian itu. Semoga saja pelan-pelan aku bisa melupakan semuanya," harap Nadia sembari tersenyum. Mereka berada di taman di belakang rumah. Ada banyak permainan yang aman untuk anak-anak di sana.
Senyum Nadia kembali seperti semula. Ia ikut bermain dengan mereka. Hilang sudah beban yang selama ini ia simpan dalam dada. Melihat senyum bahagia mereka, Nadia yakin mereka semua pasti merasakan kebahagiaan.
Di kejauhan ia melihat Ruby duduk termenung sendirian. Matanya menatap kosong ke depan tak ada minat sekali.
"Ada apa dengan Ruby?" tanya Nadia pada siapa saja yang ada di dekatnya.
"Dia tahu orang tuanya masuk penjara. Mungkin hanya merasa sedih saja. Sudah tiga hari lamanya, Ruby menjadi pendiam. Makan pun jarang," jawab Winda menjelaskan.
Nadia beranjak dari duduknya. Ia melangkah pelan menghampiri Ruby yang masih tidak menyadari kehadirannya terus menatap udara kosong di depan wajahnya.
"Ruby?" Nadia mengusap bahu gadis itu dengan lembut.
Namun, reaksi Ruby sungguh diluar dugaan. Ia menepis tangan Nadia yang masih menempel di bahunya. Nadia terkejut, ia mengepalkan tangannya dan menariknya pelan.
Yang membuat Nadia murung dan merasa sedih adalah Ruby yang tiba-tiba berdiri dan berbalik pergi tanpa menoleh sedikit pun pada Nadia. Jangankan itu, bertegur sapa pun Ruby seolah menghindar tak ingin bertemu dengan Nadia.
Ruby pergi masuk ke dalam rumah. Suara pintu yang dibanting menyentak tubuh Nadia. Ia memejamkan mata sembari meneguk air ludah. Sikap Ruby sungguh membuat Nadia dilema. Namun, nanti pelan-pelan dia akan kembali mengunjungi Ruby dan berbicara dengannya.
Untuk saat ini, Nadia akan membiarkan Ruby seperti itu. Nadia beranjak, ia melirik pintu di mana tadi Ruby memasukinya. Ia berjalan meninggalkan tempat itu dan kembali berkumpul bersama semua anak-anak asuhnya. Sesekali matanya melirik ke arah rumah berharap Ruby keluar dari rumah dan bisa memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Hari itu Nadia habiskan di rumah baru bersama semua anak-anak asuhnya.