
"Bagaimana kabar Bilal dan Nafisah? Apa Abi dan Umi sudah pulang?" tanya Nadia setelah membersihkan tangannya dengan tissue basah. Ayam yang dimasak Ruby ala kadarnya dihabiskannya seorang diri.
"Mereka sudah lebih tenang, Bunda, tapi selalu bertanya kapan Bunda akan pulang. Masalah Abi dan Umi ... mereka juga sudah pulang lebih cepat dari biasanya," jawab Ruby yang membantu Nadia membereskan bekas makannya.
Winda telah kembali ke pabrik, sore nanti ia akan datang bersama Sarah sekaligus akan mengantar Nadia pulang.
"Lho, kok, bisa? Kenapa cepat sekali?" Dahi Nadia berlipat saat mendengarnya.
"Iya, kata Umi ada kejadian aneh yang tiba-tiba terus mereka pulang," sahut Ruby yang sudah duduk kembali di kursi.
"Syukurlah kalau mereka sudah pulang. Jadi Bilal dan Nafisah ada yang mengurus," ujar Nadia merasa lega.
"Tapi, Bun mereka tetap ingin Bunda pulang. Umi jarang masak karena tidak punya uang. Toko Abi juga masih sepi, dan tante gatal itu tetap tenang tinggal di rumah. Entahlah, Bun. Aku sendiri tidak mengerti kenapa Umi menyimpan wanita itu di rumah. Apa Bunda tahu-"
"Abi berubah sejak pulang dari umrah. Abi lebih dekat dengan tante itu dan ... dan tidak pernah membahas soal Bunda. Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi," ungkap Ruby sembari berpikir.
"Bagaimana dengan Umi sendiri?" Nadia menatap dalam wajah remaja di depannya.
"Ya ... begitulah, Bun. Masih sama seperti dulu. Apa Bunda tahu, mobil sudah tidak ada. Aku dengar Umi menjualnya, entah untuk apa uangnya. Aku tidak tahu," lanjut Ruby lagi menceritakan apa yang terjadi di rumahnya.
Menjual mobil? Itu artinya uang dalam tabungan itu sudah habis.
"Lalu, kamu bisa masak ini dari mana uangnya?" tanya Nadia tak yakin.
"Ibu yang memberiku uang, lagi pula aku punya tabungan sendiri. Bunda tidak usah memikirkannya," ucapnya riang.
Nadia tersenyum, tapi menangis dalam hati. Seperti itukah saat ini keadaannya. Perbincangan mereka terhenti saat Sarah dan Winda datang. Ruby diantar pulang Winda dan Sarah yang menjaga Nadia.
__ADS_1
Satu Minggu berlalu, Nadia sudah diizinkan dokter pulang meskipun keadaanya masih sedikit lemah, tapi tak apa. Ia akan beristirahat di rumah saja.
Lagi-lagi Ruby berpenampilan rapi hari ini. Ikram mulai curiga padanya.
"Ruby, sebenarnya kamu pergi ke mana selama ini? Kenapa hampir setiap hari kamu pergi keluar?" tanya Ikram menghadang Ruby yang hendak pergi.
"Kemarin-kemarin aku ada tugas dari Bunda untuk belajar mengurus pabrik bersama sekretarisnya, tapi hari ini aku akan menjemput Bunda sama tante Winda. Jadi Abi ... tolong izinkan anakmu ini untuk pergi! Aku tidak ingin terlambat," jawab Ruby sambil tersenyum manis.
"Bunda lagi, Bunda lagi. Kenapa kamu begitu peduli padanya? Ini Umi kamu, Ruby. Umi yang melahirkan kamu dan juga adik-adik kamu. Bukan dia!" hardik Ain yang tak sengaja mendengar Ruby yang selalu membahas soal Nadia.
Yuni tersenyum miring menatap satu keluarga itu dari ruang makan.
"Kenapa? Karena selama ini yang peduli padaku dan Adik-adik adalah Bunda. Sementara Umi selalu sibuk dengan hati Umi hingga membuatku tak mengenali lagi sosok Umi. Sosok wanita yang telah melahirkan aku. Umi selama ini selalu peduli pada diri Umi sendiri hingga lupa mengurus Adik-adik. Kalau saja tidak ada Bunda, mungkin nasib kami akan sama seperti mereka yang tidak memiliki orang tua-"
"Ruby?" bentak Ikram naik pitam. Ruby menoleh dengan wajah terkejut saat Ikram membentaknya. Ikram sendiri tak percaya, ia mengusap wajahnya menyesal telah membentak putri sulungnya itu.
"Kenapa, Bi? Aku benar, bukan? Apa kesalahan Bunda selama ini? Cuma satu, yaitu jadi istri kedua Abi, tapi Bunda tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun. Bunda selalu berbuat baik pada kita. Bunda bahkan membantu anak-anak di yayasan, membantu sekolah mereka, membantu makan mereka. Apa lagi? Kalau saja Umi tidak disibukkan dengan sakit hatinya dan bisa menerima Bunda, aku yakin ... kehidupan kita tak akan berantakan seperti sekarang ini."
Ikram dan Ain terdiam. Ruby bukan lagi anak kecil yang tak tahu rasanya diabaikan.
"Coba buka pandangan Abi dan Umi, apakah selama ini Bunda pernah menyakiti kalian secara lisan maupun fisik? Tidak pernah, bukan? Aku yakin tidak pernah. Aku pergi, assalamu'alaikum!" Ruby berjalan cepat keluar rumah.
"Ruby!" lirih Ikram yang tak dapat mencegah anaknya untuk pergi. Ain menangis pilu, ia berhambur memeluk Ikram menumpahkan kesedihannya bukan karena apa yang dikatakan Ruby, tapi karena Nadia telah menjauhkan anak-anak darinya. Dia tak lagi mengenal Ruby.
"Kakak!" panggil Nafisah dan Bilal yang berdiri di dalam gerbang yayasan, "apa Kakak akan menjemput Bunda? Kami boleh ikut?" lanjut Bilal mengiba pada kakak mereka.
Ruby dilema. Jika keduanya ikut, maka mereka akan tahu kalau selama ini Nadia dirawat di Rumah Sakit. Namun, jika tak mengajak mereka lihat wajah memelas keduanya. Ruby tidak tega.
__ADS_1
Jadilah ia mengangguk. Ruby meyakinkan hatinya kalau Nadia tak akan marah bila ia mengajak kedua adiknya. Bilal dan Nafisah gegas berlari keluar gerbang mendekati kakak mereka. Ketiganya berjalan bersama menuju mobil Winda biasa menunggu.
Winda tidak bertanya meskipun ia tahu kedua anak itu tak tahu apa-apa soal Nadia dan penyakitnya.
"Ke mana kita akan menjemput Bunda? Ke bandara?"
"Mungkin ke pelabuhan? Atau terminal?"
Keduanya terkekeh senang karena hari ini Nadia akan pulang dan kembali bermain bersama mereka. Ruby hanya tersenyum tanpa membalas pertanyaan kedua adiknya.
Senyum ceria yang selama satu Minggu ini hilang, kini mencuat di bibir keduanya. Membuat Ruby tidak tega memudarkannya. Celoteh keduanya memenuhi seisi mobil, bernyanyi, bercerita, berencana saat Nadia pulang nanti.
Sementara di rumah, Ain masih saja menangis sambil memeluk Ikram. Mereka duduk bertiga di sofa dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa Ruby bisa seperti itu, Bi? Dia banyak berubah, Umi takut dia akan semakin jauh dari kita, Bi," rengek Ain masih membenamkan wajah di dada Ikram.
Tangan laki-laki itu pun tak henti mengusap-usap punggungnya yang berguncang karena isak tangis yang dikeluarkannya.
"Ini semua pasti ulah istri kedua Mas itu, dia mencuci otak anak-anak dan menjauhkan mereka dari orang tuanya-"
"Cukup! Berhenti menjelek-jelekkan Nadia, dia bukan orang seperti itu. Aku tahu itu," tukas Ikram dengan nada tinggi memangkas ucapan Yuni. Seketika wajah mencibir Yuni raib, ia menunduk dengan kesal karena tidak berhasil menghasut Ikram.
"Tapi memang benar, Bi. Bukankah semenjak Ruby dekat dengannya, dia dan anak-anak justru menjauh dari kita. Apa lagi?" timpal Ain yang mendongak menatap Ikram dengan matanya yang basah.
"Nadia tidak mungkin melakukan itu, dia sayang anak-anak dan dia tidak pernah mengajarkan anak-anak hal yang buruk," jawab Ikram yang justru menyulut emosi dalam diri Ain. Ia menjauh dari Ikram.
"Terus saja Abi membelanya. Terus saja salahkan Umi atas semua yang terjadi. Perlu Abi tahu, semua ini terjadi karena kehadiran wanita itu. Sebelumnya kehidupan kita baik-baik saja, harmonis tanpa ada pertengkaran. Sekarang, hanya karena wanita itu Abi terus-menerus menyalahkan Umi. Abi sudah berubah. Abi tidak seperti dulu lagi. Ke mana suami yang Umi kenal dulu? Ke mana sosok imam yang selama ini selalu mengayomi? Umi tidak percaya Abi lebih membelanya dari pada Umi," ungkap Ain dengan tangis yang semakin menjadi.
__ADS_1
Yuni tersenyum dalam hati mengompori keduanya untuk terus berdebat. Biarlah Nadia menjadi kambing hitamnya, tempat untuk disalahkan dari ini semua.
"Bukan begitu, Mi ... ah, sudahlah. Sebaiknya kita sama-sama introspeksi diri kita." Ikram beranjak meninggalkan mereka.