
Pesta pernikahan yang tak pernah Ikram sangka-sangka berjalan dengan semestinya. Mempelai wanita terus tersenyum bangga seolah menjadi ratu di hati masyarakat karena telah menikah dengan Ikram.
Siapa yang tidak mengenal Ikram.
Ia terus tersenyum menyambut tamu yang datang silih berganti menyalami dan memberinya selamat. Bersama Ain yang berdiri di sampingnya, sedangkan Ikram lebih memilih duduk di bangku bersama masyarakat berbincang banyak hal tanpa terlihat menikmati pesta.
Malam yang selalu ditunggu Yuni pun datang, pesta bubar lebih cepat. Ikram bahkan tidak menginjakkan kakinya di rumah itu. Ia lebih memilih berdiam di mushola bersama para jamaahnya.
"Abi mau pulang, kalau Umi mau menginap di sini tidak apa-apa," ucap Ikram mendatangi kedua istrinya yang duduk menunggu di teras.
"Lho, Bi, kenapa pulang? Menginap di sini saja," sergah Ain menolak. Yuni berpura-pura menjadi kucing yang jinak.
"Kalau Umi mau di sini ya sudah, Abi tetap akan pulang kasihan anak-anak di rumah," sahut Ikram lagi tak mengindahkan penolakan Ain. Ia berbalik menuju mobil, tapi Ain kembali mencegah.
"Tunggu, Bi! Kita ikut," katanya seraya menarik Yuni masuk ke rumah dan kembali dengan satu buah tas besar di tangan Yuni. Ikram mengernyit tidak suka, tapi tak dapat mencegah.
Ketiganya meninggalkan kediaman Yuni, di dalam mobil Ikram sama sekali tidak menoleh pada keduanya. Ia fokus menyetir. Yuni sesekali akan mencuri pandang pada laki-laki yang baru hari ini menikahinya itu.
Mobil sampai di gerbang, seorang santri yang bertugas jaga malam membukakan gerbang. Ikram lantas keluar, ia berjalan tanpa menoleh lagi. Meninggalkan keduanya bukan rumah tujuannya, Ikram berbelok ke gerbang yayasan. Terus berjalan di bawah tatapan tajam Ain dan Yuni.
Rumah Nadia tujuannya.
Wanita itu tengah terlelap di depan televisi tatkala suara Ikram mengusik tidurnya.
"Wa'alaikumussalaam!" Ia beranjak dengan malas. Piyama panjang dan kerudung instan dikenakannya saat membukakan pintu untuk suaminya.
"Mas?" Nadia membelalak melihat Ikram dengan wajah kusut berdiri di depan rumahnya.
__ADS_1
Laki-laki itu tak menjawab, ia berhambur memeluk Nadia. Menangis sedih, kenapa hidupnya harus seperti ini.
"Mas, kenapa? Ada apa?" tanya Nadia sembari membalas pelukannya.
Kejadian langka itu diabadikan oleh indera penglihatan Ibu pengasuh di yayasan, juga beberapa santri yang tak sengaja melintas. Malam itu mereka tahu cinta Ikram untuk Nadia begitu besar.
"Maafkan Mas," katanya sembari mengeratkan pelukan pada tubuh Nadia. Entah apa yang terjadi Nadia tidak tahu apa-apa. Ia mengajak Ikram masuk dan menutup pintu.
"Apa anak-anak di sini?" tanyanya setelah melirik kamar Nadia yang ditiduri ketiga anaknya.
"Iya, Mas. Aku sudah menyuruh mereka untuk tidur di rumah, tapi tidak mau walaupun aku temani. Jadilah di sini semua," jawab Nadia memandangi kamarnya.
"Kamu tidur di mana?"
"Tuh!" Nadia menunjuk depan televisi. Di atas karpet bulu itu terdapat selimut, laptop dan berbagai macam benda yang biasa Nadia gunakan saat bekerja.
"Mas mau tidur di sini juga," ucap Ikram.
"Mas malas di rumah, Ain membawa Yuni ke rumah," jawab Ikram jujur. Ia merebahkan diri, menjatuhkan kepala di atas pangkuan Nadia dengan manja.
"Yuni?" ulang Nadia sembari mengusap-usap rambut kusut Ikram, sesekali menyisirnya menggunakan jari-jari.
"Iya, nama wanita itu. Mas tidak ingin di rumah karena ada dia. Apa kamu mengenalnya?" Ikram membuka mata dan menatap wajah Nadia yang sempat beriak.
"Ah ... tidak, Mas. Aku tidak mengenalnya," jawabnya gugup. Ikram kembali memejamkan mata, berbalik menghadap perut istri keduanya. Memeluk pinggang ramping itu bermanja-manja dengan Nadia.
Hanya di rumah Nadia, ia bisa mendapatkan ketenangan. Wajah cantik itu tak pernah terlihat masam, apa lagi marah dengan mata melotot. Ikram bisa mendapatkan kedamaian hatinya tatkala bersama Nadia.
__ADS_1
Nadia termenung. Yuni. Satu nama itu ia ingat. Adalah teman Ain yang diperkenalkan di Rumah Sakit saat menjenguk anak yayasan yang sakit. Nadia tahu wanita itu bukanlah jamaah suaminya.
Itu sahabat kak Ain, ada rencana apa menjadikannya istri ketiga mas Ikram. Hah~
"Mas, seperti apa wajah istri ketiga Mas?" tanya Nadia iseng. Ikram tidak menyahut. Ia malah menggesek-gesek wajahnya di perut Nadia.
"Mas tidak ingin membayangkannya, jangan bahas soal dia. Mas tidak suka," katanya dengan tegas. Nadia bungkam, dari garis wajah Ikram, ia tidak terlihat bahagia. Justru sebaliknya tersiksa dengan ini semua.
"Kenapa Mas ke sini? Bukankah mereka-"
"Lalu, Mas harus ke mana, Nadia? Apa Mas harus mencari tempat lain untuk mendapatkan ketenangan. Mas hanya ingin menenangkan diri. Mas lelah dengan semua ini, biarkan Mas di sini karena di sini Mas bisa mendapatkan ketenangan. Kalau kamu keberatan juga, dan tidak mau Mas di sini Mas akan mencari tempat lain saja," jawab Ikram menukas ucapan Nadia dengan cepat.
"Ah ... tidak! Di sini saja!" Nadia menarik wajah Ikram dan menekannya di perut. Ikram tersenyum penuh kemenangan.
"Tidur!" katanya seraya beranjak dan berbaring bersama Nadia.
Ia memeluk tubuh Nadia dari belakang. Menjadikan satu tangannya sebagai tumpuan kepala Nadia. Hanya ketenangan yang dia inginkan, dan Nadia bisa memberikan itu untuk hatinya.
"Mas lelah, Nadia. Ternyata memiliki istri lebih dari satu itu berat, ya." Ikram tertawa getir. Nadia mengusap-usap tangan Ikram yang melingkar di perutnya.
"Seharusnya jika bisa saling menerima, semua ini tak akan pernah terjadi. Bagi Mas, cukup kamu dan Ain saja yang menjadi istri Mas. Tidak yang lain," keluh Ikram lagi yang masih didengarkan Nadia.
Yah ... Nadia adalah sebaik-baik pendengar. Ia tak pernah menyela tatkala seseorang sedang bercerita. Akan mendengarkan dengan saksama sampai tuntas.
"Sabar, Mas. Semua ini ujian keimanan dari Allah. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, Mas. Jadikan ini semua untuk kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Mungkin ini disebabkan dari kurangnya rasa syukur kita selama ini," sahut Nadia dengan lirih pula.
Ikram benar-benar hanyut. Ia tak ingin ketenangan ini hilang begitu saja. Tanpa mereka sadari, Ruby yang terbangun menguping semuanya. Ia mendengar dengan jelas bahwa istri ketiga abinya disimpan di rumah. Keterlaluan!
__ADS_1
Ia melongo ke luar kamar, melihat Nadia dan Ikram yang tertidur sambil berpelukan. Ruby tak menyangka, Ain akan berbuat sejauh ini. Ia tidak sadar bukan hanya hatinya yang merasa sakit, tapi suaminya juga ikut tersakiti bahkan orang-orang di sekitarnya juga ikut merasakan hal yang sama.
Ia merebahkan diri kembali, memandangi wajah kedua adiknya yang terlelap bersama. Setetes air mata jatuh saat ia memejamkan mata.