
Ikram dan Ain buru-buru pergi ke Rumah Sakit untuk memastikan para korban. Dengan hati yang berkecamuk dan air mata yang berderai, Ain duduk di belakang sepeda motor yang dibawa Ikram. Ia meninggalkan Yuni sendirian di rumah. Wanita itu pun sempat terkejut saat mendengar peristiwa yang terjadi pada Ruby.
"Bi! Cepat, Bi! Umi mau melihat keadaan Ruby," ucap Ain menepuk-nepuk punggung Ikram tak sabar ingin segera sampai.
"Iya, Mi." Motor butut Ikram tidak bisa berlari seperti motor-motor keluaran terbaru. Ain semakin cemas. Terbersit rasa sesal di hati mereka saat mengingat Ruby yang tadi minta di antar ke tempat interview.
Terutama Ikram. Ia terus merutuki dirinya sendiri yang tidak mengantar Ruby. Padahal, anak itu memintanya untuk mengantar tadi. Ia tak henti mengumpat dalam hati. Lagi-lagi melakukan kebodohan yang sama.
Ia melintasi lokasi kejadian yang masih terdapat kerumunan warga. Kebanyakan mereka berdiri di tepi jurang melihat ke bawah. Desas-desus tak jelas pun terdengar bagai kerumunan tawon yang bergerombol.
Ikram tidak berminat bergabung bersama mereka. Ia melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit. Cukup jauh jarak yang harus mereka tempuh. Ikram segera memarkirkan motornya begitu sampai di parkiran Rumah Sakit.
Mereka dituntun seorang polisi, menuju ruang jenazah. Ain semakin menjadi, ia memegangi tangan Ikram. Menangis sedu sedan saat harus menerima kenyataan bahwa orang yang ditutupi kain putih itu adalah anaknya sendiri.
"Ada dua korban yang kami temukan di lokasi tersebut. Salah satunya kami menebak itu adalah supir pick up yang terlambat keluar sebelum ledakan terjadi. Dan yang satunya, kalian bisa melihatnya sendiri," ucap polisi tersebut seraya mendekati brangkar yang ditiduri oleh seseorang dengan seluruh tubuh tertutupi kain putih.
Polisi tersebut membuka sedikit kain yang menutupi wajah korban itu. Wajah yang sudah tak lagi berbentuk.
"Ruby!" jerit Ain yang terduduk di lantai saat melihat wajah itu tak dapat ia kenali lagi. Menangis kuat menumpahkan segala kesedihan yang mendatangi hatinya.
Ikram menelisik wajah itu, ia menurunkan sedikit lagi kain putih itu untuk melihat lebih jelas siapa yang sedang terbujur kaku di atas brangkar tersebut.
__ADS_1
"Dokter apa tidak ditemukan korban lain? Seharusnya ada tiga korban jika ditambah dengan supir itu. Anak kami, Dokter. Ini bukan anak kami," ucap Ikram begitu melihat pakaian yang dikenakan korban bukanlah pakaian yang dikenakan Ruby pada saat meminta izinnya.
"Maaf, Pak. Hanya ada dua orang korban saja di lokasi kejadian. Kami tidak menemukan siapa-siapa lagi di sana selain motor juga pick up yang hangus," jawab polisi tersebut membuat Ikram menjambak rambutnya sendiri.
Ain yang menangis kencang tadi, termangu mendengar pernyataan suaminya. Ia beranjak dibantu Ikram. Menatap laki-laki itu dengan pertanyaan.
"Apa yang Abi bilang itu benar, di-dia ... dia bukan Ruby, anak kita?" Matanya yang basah memancarkan sebuah harapan tentang putri sulungnya yang kemungkinan masih hidup.
Ikram menganggukkan kepalanya, wajahnya tak kalah kusut dari wajah Ain yang dipenuhi air mata juga keringat.
"Dari mana Abi tahu kalau dia bukan anak kita?" tanya Ain lain ingin memastikan hatinya tentang itu.
Ikram tidak menjawab, ia membuka kain putih tersebut di bagian tubuhnya. Ingin menunjukan pakaian yang dikenakan korban tersebut. Dari situ Ain tahu, korban itu adalah ustadz yang dimintanya untuk mengantar Ruby tadi pagi.
"Benar, Pak! Tolong lakukan pencarian untuk anak kami. Dia pasti masih di sana." Ikram ikut memohon sama seperti Ain. Keduanya menaruh harapan pada pihak kepolisian dan juga tim SAR andalan negeri ini.
"Baiklah kalau begitu, kami akan memulai pencarian malam ini juga," jawab polisi tersebut dengan pasti. Ain dan Ikram bernapas lega setelah mendengar itu. Mereka berniat membawa jenazah ustadz tersebut ke pondok karena bagaimanapun dia adalah salah satu keluarga pondok dan merupakan tanggung jawab mereka.
Namun, baru saja akan melakukan prosedur yang ada, orang tua dari korban mendatangi Rumah Sakit. Ain dan ibu ustadz tersebut sama-sama menangis. Mereka tidak saling menyalahkan, dan menganggap ini semua takdir yang tak terduga. Akhirnya keluarga dari ustadz tersebut membawa pulang jenazah korban.
Ain dan Ikram mengikuti polisi tersebut ke tempat kejadian perkara, dan ikut mencari bersama mereka. Ain tidak diizinkan pihak kepolisian untuk ikut turun ke jurang. Hanya Ikram seorang yang ikut membantu tim mencari keberadaan Ruby.
__ADS_1
Langit mendung malam itu, mulai menurunkan rintik air dari tempatnya. Gerimis yang turun tidak menyurutkan mereka untuk melakukan pencarian. Semua orang berpencar ke segala arah. Di dalam kegelapan malam, mereka terus saja mencari. Sayang, hingga larut malam sosok Ruby tak jua ditemukan.
Pihak kepolisian dan juga tim SAR terpaksa menghentikan pencarian, dan akan melanjutkan besok saat matahari memayungi bumi. Ikram dan Ain pun kembali ke rumah mereka dengan perasaan yang kacau.
"Bagaimana, Umi?" tanya Ibu yang sudah berdiri di teras rumah mereka menunggu kedatangannya bersama mang Sarif. Ada juga Yuni yang duduk di ruang tengah ikut menunggu.
"Itu bukan Ruby, tapi ustadz yang mengantarnya. Sedangkan Ruby masih belum ditemukan keberadaanya," jawab Ain dengan air mata yang berjatuhan. Ia tak lagi bicara, melainkan masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya diikuti Ikram yang harus bersiap menenangkan istrinya itu.
Ada perasaan lega bercampur cemas, juga sedikit harapan di hati Ibu dan mang Sarif. Jasad itu bukanlah Ruby, dan kemungkinan Ruby masih hidup hanya saja belum ditemukan titik keberadaannya. Mereka berdoa semoga saja Ruby bisa secepatnya ditemukan.
Keduanya kembali ke tempat masing-masing dengan pikiran yang dipenuhi oleh kejadian naas yang menimpa Ruby hari ini.
"Ibu, bagaimana keadaan Kakak?" tanya Bilal yang terbangun dari tidur dan duduk menunggu di dekat pintu. Mereka berdua menginap di yayasan.
"Kakak belum ditemukan. Yang di Rumah Sakit itu bukan Kakak, tapi ustadz yang mengantar Kakak," ucap Ibu ikut duduk di samping Bilal.
Anak laki-laki itu menunduk, menangis sedih. Satu-satunya keluarga yang selalu ada untuknya dan Nafisah kini hilang entah ke mana? Ke mana dia harus mencari? Apakah dia harus diam saja dan duduk menunggu kabar.
Ibu memeluk tubuh Bilal yang berguncang karena tangisnya. Ikut menangis mengingat mereka bertiga selalu terlihat kompak dan tak pernah berpisah. Kini Ruby hilang, entah kapan dia akan ditemukan. Semoga saja secepatnya, dan tidak terjadi hal buruk kepadanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang, sebaiknya Bilal tidur temani adik Nafisah. Nanti kalau dia bangun pasti akan mencari kakaknya," pinta Ibu seraya mengajak Bilal beranjak menuju kamarnya.
__ADS_1
Nafisah, gadis kecil itu sejak sore tadi terus menangis. Bertanya soal Ruby yang mengalami kecelakaan. Ia menangis sampai tertidur karena kelelahan. Lihat, di sudut matanya bahkan masih menyisakan air. Bilal mengusapnya pelan. Ia ikut merebahkan diri di sampingnya.
"Kakak! Kakak pulang?" Nafisah mengigau. Ia kembali mendengkur halus sambil menggeliat dan merubah posisi tidurnya. Bilal mengecup pelipis adiknya sebelum ikut terpejam.